Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
37. Menagih Janji


__ADS_3

Dering ponsel Ega membuat lelaki itu mengalihkan fokusnya dari berkas yang sedang ia pelajari. Ia langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo," sapa Ega.


"Halo, Ga," sapa suara perempuan di ujung sana.


Ega melihat siapa yang menelpon karena merasa itu bukan suara Zahra. Fani, nama yang tertera di ponselnya.


"Ada apa, Fan?" tanya Ega.


"Ih, kok ada apa sih? Kamu kan masih punya hutang sama aku. Jangan bilang kamu lupa," suara di ujung sana terdengar merajuk.


"Hutang apa, Fan?"


"Kamu lupa? Beberapa hari lalu kan kamu bilang bakalan kasih apapun yang aku mau kalo aku mau nolongin kamu."


Ega menghela nafasnya kasar.


"Oke. Kamu minta apa? Bayaran? Okelah. Kirim nomor rekening kamu aja."


"Idih. Aku gak minta uang ya. Gajiku udah banyak. Aku mau minta kamu jadi pasangan aku di acara nikahan temen aku."


"Sorry, Aku gak bisa Fan. Aku sibuk," Ega beralasan. Ia tak mau salah paham dengan Zahra nantinya.


"Yaelah. Kamu kan udah janji. Pokoknya harus mau, atau aku bakal gangguin kamu terus," ancam Fani di sebelah sana.


"Oke, oke, kapan acaranya?"


"Hari Minggu."


"Oke."


Ega mematikan sambungan teleponnya dengan Fani. Ia meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera menemui Zahra.


****


"Sore ini Nona Zahra bisa pulang, keadaanya sudah stabil," kata dokter yang memeriksa Zahra.


"Terima kasih, Dok," ucap Ibu Ratih.


Dokter itu tersenyum dan mengangguk.


"Sama-sama. Jaga kesehatannya ya," pesan dokter itu sebelum keluar dari ruangan Zahra.

__ADS_1


"Akhirnya nanti malam bisa tidur di kasur," seru Efelin senang.


Memang semenjak tiga hari lalu, gadis kecil itu ikut tidur di rumah sakit, mengingat tidak ada orang di rumah. Karena ayah dan bundanya berada di rumah sakit semua.


"Iya, Bunda juga seneng kamu udah boleh pulang."


"Setelah ini jaga kesehatan, Nduk. Ayah ndak mau kamu sakit lagi."


"Iya, Yah. Aku juga gak mau di sini lagi."


Keluarga kecil itu bersenda gurau. Menikmati kebersamaan mereka. Melupakan sejenak musibah yang baru saja menimpa mereka.


****


Efelin buru-buru turun dari mobil begitu sampai di halaman rumahnya. Gadis itu segera membuka pintu dengan kunci yang ia pegang dan berlari menuju kamarnya.


Di halaman Zahra yang badannya masih lemas berjalan perlahan bersama sang bunda. Sedangkan ayahnya sibuk mengeluarkan barang bawaan dari dalam bagasi.


"Langsung ke kamar apa duduk di sini dulu? tanya Bu Ratih pada Zahra.


"Langsung ke kamar aja, Bun. Aku pengen rebahan lagi," jawab Zahra.


Mereka berdua melanjutkan langkah memasuki ruang tengah. Berjalan perlahan menaiki tangga dan akhirnya sampai di depan pintu kamar Zahra.


"Kok pintu kamar aku ganti, Bun?" tanya Zahra.


"Sampe harus ganti pintu gini ya, Bun?"


"Udah gapapa. Demi keamanan kamu," ujar bunda, menuntun Zahra masuk ke dalam kamarnya dan membantu gadis itu berbaring.


"Jangan lupa kasih tau Ega kalo kamu udah di rumah, kasian dia tiap hari jenguk kamu keliatan wajahnya sangat lelah," ujar bunda.


"Aku nggak punya ponsel, Bun. Tolong bilang sama Efel, dia sepertinya menyimpan nomor Ega," jawab Zahra.


"Ya sudah, kamu istirahat aja, nanti Bunda suruh Efel," bunda merapikan selimut yang di pakai Zahra.


Bu Ratih meninggalkan Zahra di kamarnya. Beliau mengetuk pintu kamar lain yang bersisian dengan kamar anak sulungnya.


"Nduk, Efel," panggilnya.


"Ya, Bun?" jawab Efelin dari dalam kamarnya.


"Tolong hubungi Rio sama Ega, bilangin kalo mbakmu udah pulang, kasian nanti kalo nyusulin ke rumah sakit."

__ADS_1


"Iya, Bun."


Kemudian Bu Ratih meninggalkan kamar kedua anaknya. Beliau menuruni tangga kembali ke ruang tengah. Di sana suaminya tengah duduk bersandar di sofa.


"Mas, mau kubuatkan teh hangat?" tanya Bu Ratih pada suaminya yang dijawab dengan anggukan kepala.


Segera ibu paruh baya itu berjalan menuju dapur. Membuatkan teh hangat untuk suaminya. Setelah itu membawanya ke tempat suaminya.


"Ini, Mas," Bu Ratih mengulurkan teh hangat yang dibawanya.


"Dek. Aku ora penak pikirku lek ninggal samean ambe arek-arek ndek kene. Menowo misal e awak e pindah melok aku kabeh yok opo?"


(Dek, pikiranku tidak tenang meninggalkan kamu, dan anak-anak di sini. Kalau misalnya kita pindah ikut aku bagaimana?


"Enggeh, Mas. Aku yo kepikiran sing uwes-uwes. Aku ora iso njogo anak-anak e awak e dewean, Mas. Menowo tumut samean niku sing sae aku manut, Mas."


(Iya, Mas. Aku juga kepikiran sama yang sudah-sudah. Aku tidak bisa menjaga anak-anak kita sendirian, Mas. Kalau memang ikut sama kamu memang yang terbaik aku nurut, Mas.)


"Mas kepikiran samean karo arek-arek mending muleh nang deso ae, Dek. Yok opo?"


(Mas kepikiran kamu dan anak-anak lebih baik pulang ke desa saja, Dek. Bagaimana?)


"Enggak popo, Mas. Aku setuju, ndek deso akeh dulur-dulur pisan, kayak e luweh aman ndek kono.)


(Tidak papa, Mas. Aku setuju, di desa banyak saudara-saudara juga, sepertinya lebih aman di sana.)


"Yowes. Engkok lek Zahra wis penak tenan dijak ngomong masalah iki. Samean ndang ngomong nang Efel pisan. Ngurus pindah sekolah e Efel koyok e rodok angel mengko."


(Ya sudah. Nanti kalau Zahra sudah benar-benar sehat kita ajak bicara masalah ini. Kamu segera bicarakan dengan Efel juga. Mengurus pindah sekolahnya Efel sepertinya sedikit rumit nanti.)


"Enggeh, Mas."


(Iya, Mas.)


Irawan mengeratkan pelukannya pada istrinya. Memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk isterinya itu. Ratih pun membalas pelukan suaminya dengan memeluk erat pinggang suaminya dan bersandar di dada bidang suaminya.


"Mas. Aku mau masak buat makan malam," kata Ratih.


"Begini saja sebentar. Mas masih kangen, Dek. Mas pulang bolak balik dan lumayan lama tapi nggak ada waktu buat pacaran sama kamu," ujar Irawan dengan menciumi pucuk kepala Ratih.


"Inget umur, Mas! Malu sama anak-anak. Udah tua juga kok masih mikirin pacaran," Ratih memukul dada bidang suaminya pelan karena ucapannya.


"Emangnya kamu nggak kangen sama Mas? Muka udah merah gitu, kamu udah tua gini kok masih gemesin sih, Dek. Mas jadi kangen waktu kita pacaran dulu."

__ADS_1


"Udah, Mas. Aku mau masak. Kasian nanti anak-anak telat makan kalo aku gak buruan masak," Ratih mencoba lagi untuk lepas dari pelukan suaminya.


Irawan tertawa melihat tingkah istrinya. Ia makin mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk kepala istrinya sebelum akhirnya membiarkan istrinya pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.


__ADS_2