
Pagi-pagi sekali, Ega tak henti-hentinya menghubungi tunangannya. Ia ingin mengajak Zahra untuk menjemput eyang utinya yang berada di Lawang.
Pagi tadi, Ega mendapatkan telepon dari omnya yang tinggal di sana dan memberitahunya bahwa eyang uti ingin kembali tinggal di Malang bersama dengan anak sulungnya, yang tak lain adalah Papa Ega.
Selama ini, eyang uti tinggal bersama anak keduanya yang berada di Lawang. Anak bungsunya tinggal di kota lain karena menikah dengan perempuan asli dari kota itu.
"Kamu kenapa gusar begitu, Ga?" tanya sang papa melihat anak lelakinya tampak mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Ini, Pa. Neleponin Zahra gak diangkat dari tadi. Mau aku ajak jemput uti rencananya," jawab lelaki itu.
"Semalam kamu tidak memberitahunya?"
"Lupa, hehehe," jawabnya dengan tertawa.
"Hem. Ya sudah langsung jemput saja, nanti sambil di hubungi lagi di jalan," usul Papa Adnan.
"Ya udah, Pa. Ayo," ajak Ega.
Dua anak dan ayah itu berjalan beriringan meninggalkan rumah megah mereka. Menuju mobil Ega yang telah terparkir di halaman rumah.
Ega duduk di kursi kemudi, di sampingnya sang papa duduk dengan nyaman. Lelaki itu melajukan mobilnya keluar dari komplek perumahan, menuju jalanan yang ramai di pagi hari oleh berbagai kendaraan yang berlalu-lalang.
Sepanjang perjalanan, banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk permintaan sang papa pada anaknya untuk segera menggatikan posisinya memimpin perusahaan mereka.
"Kan Papa bilang nanti kalau aku udah umur tiga puluh. Masih empat tahun lagi, Pa," jawab Ega.
"Papa yakin, promosi jabatan yang kamu agung-agungkan itu tidak akan pernah terwujud, Ga," ujar sang papa.
"Kenapa Papa yakin sekali? Apa Papa melakukan konspirasi dengan pimpinan perusaan tempatku bekerja?" tuduh Ega.
"Tanpa Papa melakukannya, cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi. Hitung saja sendiri seberapa sering kamu meninggalkan tanggungjawabmu di perusahaan itu?"
Ega termenung memikirkan kata-kata papanya. Kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan papanya. Sudah tak terhitung rasanya ia meninggalkan pekerjaannya demi mendapatkan gadisnya.
"Sudahlah, ikuti saja permintaan Papamu ini. Toh cepat atau lambat perusahaan Papa juga akan diwariskan padamu."
"Kalau kamu menyetujuinya. Papa akan buka satu cabang di Malang. Kita jadikan kantor di sini sebagai kantor pusat. Papa akan urus semua perpindahannya dari kantor pusat yang ada di Singapura. Bagaimana?"
"Aku pikirkan dulu tawaran Papa," jawabnya.
"Bahagiakanlah orang tua ini, Nak. Hanya kamu satu-satunya yang Papa punya saat ini."
__ADS_1
Keduanya terdiam di sisa perjalan menuju rumah Zahra. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai di rumah Zahra, hanya ada kedua orang tua gadis itu saja. Dua anak gadis mereka dan juga Zakia tengah berada di rumah Bibi Dewi.
"Loh, calon besan, Kesini kok gak ngabarin?" gurau Ayah Irawan dengan menyalami Papa Adnan.
"Tadi sudah menghubungi calon mantuku. Tapi sepertinya dia tidak tahu," jawab Papa Adnan.
"Ayo monggo masuk dulu," ajak Buda Ratih.
Keempat orang itu masuk ke dalam rumah. Tiga lelaki itu mengambil tempat duduk masing-masing di sofa ruang tamu. Sementara Bunga Ratih masuk ke dapur untuk membuat minuman.
"Jadi sebenarnya saya mau ngajak calon mantu ke Lawang, jemput utinya Ega. Dan kalau diperbolehkan, biar dia menginap beberapa hari di sana menemani utinya Ega."
"Hem. Begitu, ya. Saya sih silahkan saja. Tapi kalau untuk menginap saya masih bagaimana ya, Pak Adnan, mereka kan masih belum sah," jawab Ayah Irawan.
"Tenang saja, Pak Irawan. Saya akan menjaga anak bapak dari bujang lapukku ini. Di sana nanti juga ada utinya Ega. Jadi amanlah anak gadis Pak Ir di rumah saya. Bagaimana?"
"Itung-itung adaptasi, Pak Ir. Toh nanti kalau mereka menikah juga pasti Zahra ikut suaminya," lanjut Papa Adnan.
"Baiklah. Saya ijinkan, saya percaya anak gadis saya aman di rumah Pak Adnan," jawab Ayah Irawan akhirnya.
"Zahra akan segera pulang. Tunggu sebentar ya, Pak, Le," ucap Bunda Ratih lalu duduk di samping suaminya setelah menyuguhkan kue dan minuman.
Tak berselang lama, deru suara mobil terdengar dari luar. Setelah suara itu berhenti, muncul dua orang gadis dari balik pintu.
"Assalamualaikum," ucap keduanya serempak dan dijawab serempak pula oleh orang-orang yang berada di ruang tamu.
"Sini, Ra," panggil sang ayah.
Zahra duduk di samping bundanya setelah menyalami semua orang di sana.
"Ini loh, Ra. Papa Adnan sama Ega mau jemput kamu buat diajak ke Lawang," ucap sang ayah memberitahu.
"Hem?" jawabnya menolehkan pandangan penuh tanya pada sang ayah.
"Iya, Nduk. Papa sama Ega mau jemput utinya Ega di Lawang. Sekalian nanti beberapa hari ke depan kamu juga menginap di rumah Tidar," kata Papa Adnan menjelaskan.
"Sana, Nduk siap-siap. Jangan lupa kemasi beberapa baju buat meninap," perintah bunda.
Tanpa ada bantahan dari Zahra, gadis itu segera menaiki tangga menuju kamarnya. Berganti pakaian dan juga menyiapkan beberapa pakaian untuk dibawa menginap.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap gadis itu membawa dua tas di tangan kanan dan kirinya. Berjalan menghampiri semua orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.
Melihat Zahra yang sudah siap, Papa Adnan dan Ega memutuskan untuk segera berangkat. Karena hari mulai siang dan perjalanannya mereka sepertinya juga cukup memakan waktu.
Hampir dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Beberapa kali terjebak macet di daerah Karangploso, tepat di pintu masuk tol Malang - Surabaya. Juga di daerah pasar Singosari yang memang langganan macet.
Ega memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah dua tingkat di perumahan dekat dengan dengan pasar Lawang. Di sana terlihat seorang wanita tua sedang bermain dengan cucunya.
"Assalamualaikum," ucap Papa Adnan.
"Waalaikumsalam," jawab ibu tua itu dan melihat siapa yang datang.
"Masyaallah, anak lanangku. Aku lek ngenteni kaet maeng isuk, lagek teko saiki. Ayo melbu, Nak," ajak ibu tua itu yang tak lain adalah ibu dari Papa Adnan.
(Masyaallah, anak laki-lakiku. Aku dari tadi kalau menunggumu, baru datang sekarang. Ayo melbu, Nak.)
Zahra mengikuti langkah Papa Adnan dan Ega menyalaimi ibu itu.
"Sopo cah ayu kui? Ayu tenan kamu, Nduk. Sopo jenengmu? Uti kok ora tau eroh karo awakmu?" tanya ibu yang membahasakan dirinya sebagai 'uti' itu.
(Siapa gadis cantik ini? Cantik sekali kamu, Nduk. Siapa namamu? Uti sepertinya tidak pernah tahu sama kamu?)
"Zahra, Uti," jawab Zahra memperkenalkan dirinya.
"Ini calon mantuku, Bu. Cantik ya. Ndak salah pilih mantu anak lanangku itu, Bu," jawab Papa Adnan yang membuat Zahra tersipu.
Mereka semua masuk ke dalam rumah itu. Bertemu dengan sang pemilik rumah Tante Maya dan Om Hendra yang tak lain adalah adik dari Papa Adnan.
"Baju Ibu sudah di packing dari beberapa hati lalu, Mas. Tapi kami masih belum sempat mengantarkan Ibu ke rumah Mas Adnan," kata Tante Maya mulai bercerita.
"Maafkan aku ya, Bu. Aku sudah hampir sebulan kembali ke Malang tapi masih belum bisa menemani Ibu," ucap Papa Adnan meminta maaf pada sang ibu.
Suasana haru menyelimuti ruang keluarga Om Hendra dan Tante Maya. Papa Adnan berkali-kali meminta maaf karena merasa menjadi anak yang durhaka.
Uti Salma, memaklumi keadaan anaknya. Ia berbesar hati memaafkan anaknya. Dan meminta satu permainan yaitu tinggal bersama Papa Andan seterusnya.
Permintaan itu disanggupi oleh Papa Adnan Beliau bertekad akan melakukan apapun untuk membahagiakan satu-satunya orang tua yang ia miliki.
Seharian itu, dihabiskan Zahra bersama dengan keluarga Ega. Belajar memahami bagaimana sifat-sifat masing-masing dari mereka. Mencoba mengakrabkan diri dengan keluarga calon suaminya.
Hingga akhirnya, selepas salat maghrib mereka berpamitan untuk kembali ke Malang. Bersama dengan Uti Salma yang juga ikut bersama mereka.
__ADS_1