
Zahra termenung di atas tempat tidurnya. Efelin sedang duduk di kursi yang berada sedikit jauh dari tempat tidur Zahra. Gadis remaja itu sedang fokus pada ponsel pintarnya. Mengabaikan kakaknya yang sedang melamun. Sedang kedua orangtuanya berpamitan untuk mencari sarapan untuk mereka.
Ya. Sejak semalam Irawan, Ayah Zahra telah tiba dari Surabaya begitu mengetahui anaknya dilarikan ke rumah sakit.
Suara ketukan pintu dari luar dan masuknya dokter dan perawat mengusik keheningan yang tengah tercipta.
"Selamat pagi," sapa dokter itu ramah.
"Pagi juga, Dok," jawab Zahra.
"Bagaimana perasaan kamu hari ini?" tanya dokter itu.
"Lebih baik, Dok," jawab Zahra tersenyum tipis.
"Kita lakukan pemeriksaan dulu ya," ujar dokter itu.
Dokter itu memeriksa Zahra. Sedangkan suster di sampingnya mencatat semua hasil pemeriksaan. Efelin dari tempatnya duduk memperhatikan kegiatan itu.
"Perkembangannya sangat bagus. Jika terus membaik besok kemungkinan sudah bisa pulang," kata dokter itu tersenyum ramah.
"Terima kasih banyak, Dok," kata Zahra.
"Suster, apa ada lagi pasien yang harus saya kunjungi? Kalau tidak ada anda bisa kembali lebih dulu, saya ingin berbincang sebentar dengan teman saya ini," kata dokter itu.
"Nona Zahra pasien terakhir anda, Dok. Saya permisi dulu," suster itu meninggalkan ruang rawat Zahra.
"Maaf, Dok, kenapa ya dengan kakak saya?" tanya Efelin yang tiba-tiba berdiri di samping dokter itu.
"Emm. Tidak ada. Aku hanya ingin menyapa Zahra sebagai teman," jawabnya.
"Maksud Dokter?" tanya Zahra.
"Apa kamu tidak mengenaliku? Aku Arga. Temen kamu waktu SMP dulu."
"Arga?" tanya Zahra seakan tak percaya bahwa lelaki di depannya ini adalah temannya.
"Iya. Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" tanya Dokter Arga kecewa.
"Maafkan aku tidak mengenalimu. Kamu benar-benar berbeda dengan yang dulu," kata Zahra. Ia merasa tidak enak karena tidak mengenali teman kecilnya.
"Tidak masalah. Memang aku udah berubah. Seperti yang kamu lihat sekarang," kata Dokter Arga tersenyum pongah memamerkan dirinya.
Zahra terkejut dengan sikap laki-laki itu. Seingatnya dulu Arga adalah anak yang pendiam, ia sangat sulit bergaul dengan teman-temannya. Dan lagi banyak teman-teman yang mem-bully-nya saat itu.
__ADS_1
"Apa benar kamu akan segera menikah dengan Ega?" tanya Dokter Arga mulai serius.
Zahra yang sedang terbaring seketika menegakkan tubuhnya. Namun, karena masih pusing ia hampir saja terguling karena mendadak bangun dari posisi tidurnya.
"Hati-hati! Kamu ngga perlu sampai bangun seperti ini," kata Dokter Arga mambantu Zahra memposisikan dirinya agar merasa nyaman.
"Aku ingin duduk. Punggungku panas," kilah Zahra.
"Emhm, Dokter gak ada kerjaan lain ya? Kok bisa enak-enakan ngobrol di sini sama kakak aku?" tanya Efelin yang lama-lama risih melihat laki-laki itu.
"Ehm, ya. Sebentar lagi aku ada kunjungan pasien lagi," jawab Dokter Arga.
"Oh yaudah, silahkan, Dok. Nanti pasiennya nunggu loh. Kalo ntar pasiennya sekarat nungguin Dokter gimana?" lanjut Efelin.
Dokter Arga merasa sangat tersinggung atas pengusiran yang dilakukan Efelin. Ia benar-benar ingin sekali menjitak bocah ingusan itu.
"Em, Ra. Aku lanjut kerja dulu ya. Nanti pasti aku sempetin buat nemenin kamu," pamit Dokter Arga.
"Gak usah repot-repot, Dok. Udah banyak yang nemenin kakak aku kok. Nanti kamarnya penuh kalo Dokter ikutan juga," celatuk Efelin.
Dokter Arga menghembuskan nafas kasar untuk meredam emosinya. Ia segera keluar ruangan itu sebelum kesabarannya pada anak kecil songong itu habis.
"Makasih ya, Fel," kata Zahra begitu Dokter Arga keluar ruangan.
"Capek, Fel. Tolong benerin bantal ini biar aku bisa bersandar."
Efelin menata bantal di belakang punggung Zahra agar gadis itu bisa duduk bersandar.
"Ayah sama Bunda lama banget sih. Aku udah laper ini," gerutu Efelin yang kembali duduk di tempatnya.
"Mungkin bentar lagi dateng."
"Hem."
"Fel, ambilin novel dong, aku jenuh banget ini," pinta Zahra.
Gadis itu kembali berdiri mengambilkan sang kakak sebuah novel dari dalam loker yang berada di samping tempat tidur.
"Nih," gadis itu menyodorkan sebuah novel yang masih belum selesai Zahra baca.
Sebelumnya gadis itu minta pada sang adik untuk membawakan novel untuk membunuh waktu saat ia belum diperbolehkan pulang.
*****
__ADS_1
Kedua orang tua Zahra, kini tengah duduk di hadapan seorang polisi, ditemani juga dengan Rio. Tujuan mereka hanya satu, meminta keadilan untuk anak sulungnya.
"Saya mau penjahat itu mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya!" kata Ayah Zahra tegas.
"Baik, Pak. Kami akan segera memproses laporan Bapak dan Ibu," ujar polisi itu.
"Saya ulangi tuduhan saya. Pertama, penculikan atas anak saya. Dan yang kedua, tidakan asusila yang dilakukan terhadap anak saya!" tegas lelaki paruh baya itu.
"Baik, Pak. Kami akan segera memberi kabar untuk proses persidangan penjatuhan hukuman."
"Ya. Saya tunggu secepatnya."
Polisi itu mengangguk. Ayah Zahra berdiri diikuti sang istri dan Rio. Beliau menjabat tangan polisi itu dan pamit pergi.
****
"Ayah sama Bunda lama bener sih, aku laper banget nungguin." Efelin menggerutu begitu kedua orang tuanya masuk kamar rawat Zahra.
"Maaf, Sayang, tadi Ayah sama Bunda ke kantor polisi dulu," jawab bunda, sembari mengulurkan bungkus makanan pada anak keduanya.
Efelin menikmati sarapannya yang terlambat. Sesekali ia memainkan ponselnya dan mendapat teguran dari sang bunda.
"Fel, hari ini kan bukan hari Minggu, kok kamu di sini?" tanya Zahra saat sadar adiknya tidak bersekolah.
"Sama Bunda gapapa kok aku ijin gak masuk," jawab gadis kecil itu tanpa memandang lawan bicaranya.
"Bun, aku bosen. Mau pulang aja," kata Zahra yang duduk di atas tempat tidurnya.
"Ya nanti kalo dokter udah ngebolehin kamu pulang ya kita pulang," jawab Bunda.
"Sekarang aja, Bun. Tadi dokternya bilang aku udah sembuh kok," kata Zahra lagi.
"Bohong, Bun. Tadi gak ada dokter ngomong gitu. Waktu Mbak diperiksa aku di sini kok. Malah tuh dokter ngomongnya tuh ya dia tuh temennya Mbak waktu sekolah dulu," kata Efelin menimpali ucapan kakaknya.
"Beneran? Baik nggak dokternya? Bunda jadi takut sama temen-temen Mbakmu," kata Bunda.
"Jangan berpikiran negatif sama orang, Bun. Ndak baik," Ayah menginginkan.
"Ya gimana, Mas. Anak kita jadi korban penculikan karena ulah teman barunya, bahkan teman sekolahnya sendiri juga ikut terlibat," jawab bunda.
"Sudah-sudah. Yang lalu biarkan berlalu. Mereka sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Kita harus lebih menjaga anak-anak kita," ujar Ayah.
Terjadi keheningan setelah Ayah Zahra berkata seperti itu. Bunda lebih memilih mendekati Zahra dan membetulkan selimut gadis itu.
__ADS_1
Efelin kembali melanjutkan sarapannya. Ayah menyandarkan tubuhnya pada kursi yang berada di ruangan itu. Zahra hanya kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.