
Zahra terbangun di sebuah kamar. Ia memperhatikan sekelilingnya. Merasa asing dengan tempat itu. Di bukanya tirai yang menutup Jendela. Ia yakin suasana di luar sudah malam. Ia juga merasakan udara yang sangat dingin menusuk hingga ke tulang.
Zahra kembali duduk di tepian tempat tidur itu. Mengingat-ingat kejadian tadi siang. Ia ingat kepalanya terasa pusing saat berjalan hendak ke tempat parkir, dan ia juga masih ingat mobilnya dikendarai oleh Brian.
Di mana Brian? Apa dia menculikku? batin Zahra.
Ia mulai merasa takut terjadi apa-apa pada dirinya. Di carinya tas yang tadi ia bawa. Gadis itu mengobrak-abrik isi tasnya mencari ponselnya. Sayangnya tak ditemukannya benda itu.
Ia mulai panik. Bagaimana ia mencari pertolongan. Air matanya begitu saja meluncur deras. Gadis itu bingung harus berbuat apa.
Dengan masih menangis ia mencoba membuka pintu kamar. Namun, sayangnya kamar itu terkunci dari luar. Dengan brutal Zahra menggedor pintu itu.
Bunyi kunci yang diputar membuat Zahra makin ketakutan. Bagaimana jika nanti penculik itu akan menganiayanya. Perlahan gadis itu mundur menjauhi daun pintu.
"Kamu sudah bangun rupanya. Bagaimana tidurmu sayang?" ujar lelaki yang baru saja membuka pintu.
"Kamu!" seru Zahra terkejut melihat Bian masuk ke dalam kamarnya.
"Mau apa kamu?! Pergi!!! Jangan dekati aku!!!" teriak Zahra ketakutan terus saja melangkah mundur hingga punggunggnya membentur jendela yang tadi ia lihat.
"Percuma saja kamu teriak. Nggak ada yang bakal denger!" Bian mendekat dengan senyum yang menakutkan di bibirnya.
"Tolong lepaskan aku!" pinta Zahra memohon.
"Hahaha. Kamu pikir buat apa aku membawamu ke sini jika akan kulepaskan, hem?" Bian mendekati Zahra dan menarik rambut panjang gadis itu hingga Zahra mendongak dibuatnya.
"Kamu tau? Dari awal kamu masuk kantor aku udah suka sama kamu. Tapi apa? Kamu pura-pura tidak melihat itu semua. Padahal jelas-jelas aku menunjukkan rasa suka itu padamu!" bisik Bian di telinga Zahra.
Zahra menangis dalam diam. Berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit di kepalanya akibat jambakan Bian.
"Hampir tiga tahun aku deketin kamu. Dan apa? Kamu selalu menghindari aku! Aku kecewa dengan sikapmu! Dasar murahan! Sok jual mahal!" desis Bian di telinga Zahra.
Lelaki itu menciumi leher Zahra. Gadis itu seketika meronta berusaha memukul dan mendorong Bian. Tapi sayangnya tenaganya tidak ada apa-apa dibandingkan Bian.
__ADS_1
"Tolooong!!!" teriak Zahra berusaha sekuat tenaga. Ia juga terus saja memukuli tubuh Bian sebisanya.
"Berteriaklah sekeras yang kamu mau. Di sini gak akan ada yang menolongmu. Karena kita berada di atas gunung." Bian tertawa mengejek.
Ia melepaskan genggamannya pada rambut Zahra. Mendorong gadis itu hingga terjatuh di kasur. Dengan penuh gairah ia menindih tubuh mungil Zahra. Gadis berusaha memberontak dan mendorong Bian.
"Ganok gunane awakmu nyurung aku. Tenagamu ganok apa-apane. Simpenen tenagamu gawe awak e bercinta ae," bisik Bian di telinga Zahra.
(Ngga ada gunanya kamu mendorongku. Tenagamu ngga ada apa-apanya. Simpan tenagamu itu untuk kita bercinta.)
Zahra semakin hitseris dan gencar mendorong Bian. Ia berteriak sekuat yang ia bisa. Kaki dan tangannya tidak tinggal diam untuk memukul dan menendang Bian yang ada di atasnya.
Bian mendekatkan wajahnya hendak mencium Zahra. Sekuat tenaga gadis itu menghidarinya. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. menutup mulutnya erat-erat dengan tangannya.
Bian yang emosi mendapat penolakan dari Zahra, refleks menampar pipi kiri Zahra. Gadis itu terdiam merasakan pipinya memanas.
"Ojo sok suci koen Ra. Lagakmu koyok arek meneng. Tapi koen yo gelem ae di ambung pacarmu iku. Wes gak suci koen iku. Lapo koen nolak tak ambung!"
(Jangan sok suci kamu Ra. Kamu berlagak seperti orang yang pendiam. Tapi kamu ya mau saja di cium pacarmu itu. Udah gak suci kamu itu. Kenala kamu menolak ku cium!)
*****
Hingga menjelang pagi kediaman Zahra masih di isi oleh orang-orang yang sama dengan kemarin. Mereka semua sengaja berjaga berharap Zahra segera pulang. Hanya Dimas yang tidak ikut di sana.
"Ayo, Mas kita laporkan ke polisi, Mas. Aku khawatir dengan keadaan Zahra," berkali-kali sang bunda meminta suaminya untuk melaporkan kejadian ini.
"Kita harus menunggu satu kali dua puluh empat jam baru bisa melaporkannya, Sayang. Kita hanya bisa menunggu semog Zahra segera pulang," lelaki paruh baya itu dengan setia memeluk dan menenangkan istrinya.
Ega dan Rio duduk berdampingan di sofa. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Om, apa Om ingat laki-laki yang beberapa hari lalu datang ke sini?" tanya Ega tiba-tiba. Rio yang duduk di sampingnya terkejut sekaligus penasaran siapa laki-laki yang di maksud Ega.
"Ya, saya ingat. Apa kamu mencurigai dia menculik putri saya?"
__ADS_1
"Hanya firasat saja, Om. Saat bertemu dia waktu itu saya ngerasa dia kecewa dan marah waktu oym bilang saya calon suami Zahra."
"Laki-laki siapa?" tanya Rio.
"Zahra bilang temen dia di kantor yang dulu. Dia keliatan suka banget sama dia. Sebelumnya mereka pernah ketemu di bengkelmu," Ega menjelaskan.
"Apa yang kamu maksud namanya Bian?" Rio memastikan.
"Ya. Dia yang kumaksud."
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Kita juga tidak punya bukti dia menculik Zahra."
"Besok pagi kita laporkan masalah ini ke polisi. Lebih baik kalian istirahat dulu di sini," ujar ayah Zahra.
Ia juga merasa sangat lelah. perjalanan Surabaya-Malang ia tempuh hanya dengan waktu tidak kurang dari dua jam. Sekarang pun jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Suami istri itu beranjak menuju kamar mereka. Meninggalkan Ega dan Rio yang masih duduk di ruang tamu.
"Setelah aku pikir-pikir bisa saja memang dia yang menculik Zahra. Aku tau dia menyukai Zahra. Tapi kita gak punya bukti buat tuduhan itu," kata Rio.
"Kita harus menyewa detektif. Menunggu polisi pasti akan sangat lama prosesnya."
"Ya aku setuju. Coba kamu cari detektif yang bisa diandalkan. Aku sangat khawatir dengan keadaan Zahra."
"Ya aku sedang menghubungi salah satu temanku yang mungkin bisa diandalkan," jawab Ega dengan masih mengutak-atik ponselnya.
Kedua lelaki itu itu sibuk dengan ponselnya masing-masing. Berusaha mencari cara agar cepat menemukan Zahra.
****
Aku kepengen banget rajin-rajin up gitu.. tapi apalah daya sekarang masih sibuk. wkwkwk
Semoga kalian senang dengan ceritaku. like komen rate jangan lupa ya.. Dukungan kalian tuh semangat buat aku..
__ADS_1
salam sanyang
kiki rizki