Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
47. Kondangan


__ADS_3

Malam itu, Ega menemani Fani ke acara kondangan yang diadakan di gedung Graha Cakrawala. Pesta yang mereka hadiri sungguh meriah. Ada beberapa artis ibukota yang meramaikannya.


Dekorasi gedung juga sangat elegan. Dengan nuansa warna soft.


Mereka berdua mengenakan baju dengan motif batik yang senada. Fani terlihat sangat cantik dengan riasan dan kebaya yang ia kenakan.


Bagi orang yang tidak tahu, pasti akan mengira mereka berdua adalah pasangan yang cocok dan serasi.


Dengan gayanya yang elegan, Fani mengaitkan tangannya pada siku Ega. Tanpa komentar apapun lelaki itu membiarkannya. Menghadapi perempuan di sampingnya itu memerlukan kesabaran yang sangat tinggi.


Beberapa kali ia ditarik paksa untuk bertemu dengan teman-teman Fani. Perempuan itu mengenalkan dirinya sebagai pasangannya malam ini. Banyak teman perempuan itu mendoakan semoga lekas menyusul ke pelaminan.


Dengan bahagia Fani mengamini doa-doa mereka. Berharap doa mereka terkabulkan.


"Buruan ke temanmu yang nikah, setelah itu langsung balik," bisik Ega.


"Ngapain sih, buru-buru banget? Baru juga datang," balas Fani juga berbisik.


"Kalo kamu gak cepetan aku tinggal di sini," ancam Ega.


"Sabar dong."


"Fani!" seru seorang perempuan berpakaian kurang bahan.


Mereka berdua berpelukan dan cipika cipiki. Beberapa perempuan lain datang menghampiri dan melakukan hal yang sama.


"Cie, udah ada cowok nih. Ah, kalah nih aku. Gila emang kamu, Fan. Cepet banget dapat mangsa baru," bisik salah satu temannya.


Ega hanya diam memperhatikan mereka. Tak peduli dengan pembicaraan mereka.


Getaran ponsel di dalam saku celananya mengalihkan fokusnya dari acara itu. Dilihatnya nama yang tertera pada ponselnya.


Melihat nama Zahra di sana membuatnya lupa dengan semua hal. Tanpa berpamitan pada Fani ia bergegas keluar dari tempat acara itu. Ia memilih masuk ke dalam mobil agar dapat mendengar suara Zahra dengan jelas.


Kebahagiaan yang ia rasakan membuatnya lupa jika tadi siang mereka baru saja bertengkar. Mengingat ini pertama kalinya Zahra menghubunginya.


"Halo," sapa Ega dengan bahagia.


"Halo," jawab Zahra dengan pelan.


"Ra, ada apa?" tanya Ega mulai khawatir.


Teringat bahwa Zahra sedang berada di desa sendirian.


"Ga."


"Iya, Ra? Kenapa? Ada apa?"

__ADS_1


"A-aku minta maaf, Ga. Buat yang tadi siang."


"Sayang. Astaga. Tidak-tidak! Aku yang harusnya minta maaf sama kamu," balas Ega.


Ia merasa bahagia. Sebuah kemajuan yang sangat pesat baginya.


"Aku minta maaf, udah bentak kamu tadi siang, aku nyesel banget, Sayang."


"Aku juga, bisakah semuanya kita mulai dari awal lagi?" ucap Zahra nyaris tak terdengar lagi.


"Tunggu-tunggu! Kamu ngomong apa? Aku gak salah dengar kan?" tanya Ega memastikan.


"Aku, aku ingin memulai semuanya dari awal, hubungan kita, bantu aku memantaskan diri buat kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu lagi."


"Tidak. Aku akan selalu bersamamu. Seberapa sering kamu menolakku, aku enggak akan menyerah buat dapatin cinta kamu lagi. I love you, Sayang. Love you so much. Tunggu aku ke sana sekarang. Aku bahagia banget kamu mau kasih aku kesempatan, Sayang."


"Sudah malam. Di sini gak kayak di kota. Besok saja ya ke sininya."


"Astaga. Aku lupa. Makasih, Sayang. Gak sabar nunggu besok. Aku akan ke sana. Jaga hati kamu buat aku, jangan sampai kamu berpaling sama laki-laki di sana."


"Iya."


Mereka berdua terdiam. Masih dengan telepon yang masih tersambung.


Di luar sana, Fani sibuk mencari dan memanggil nama Ega. Ia tak dapat menemukan lelaki itu di mana - mana.


"Gimana, Fan?" tanya salah seorang temannya saat ia kembali ke dalam gedung.


"Berita heboh, nih! Princess kita ditingalin cowok pujaannya."


" Diem deh kalian!" desis Fani marah.


"Coba kamu telepon," usul salah satu temannya.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mencari nomor kontak Ega dan meneleponnya.


Bukan nada sambung yang terdengar, melainkan suara operator yang mengatakan nomor yang dituju sedang dalam panggilan lain.


"Sibuk," ucap Fani semakin murka.


"Terus nanti kamu pulangnya gimana, Fan?" tanya temannya.


"Berisik kalian!" ujar Fani yang semakin gusar.


Ia kembali berjalan keluar diikuti beberapa temannya. Beberapa diantaranya berusaha menenangkan perempuan itu agar tidak semakin emosi.


Di dalam mobilnya. Ega melihat Fani yang sedang marah-marah. Namun, ia enggan untuk mengakhiri panggilannya dengan kekasihnya.

__ADS_1


Mulai malam ini ia menganggap dirinya telah resmi berpacaran dengan gadis pujaan hatinya. Terserah meski tidak romantis saat menyatakan cinta, baginya kesediaan Zahra menerima dan memberi kesempatan untuknya itu lebih penting.


Nanti ia akan siapkan kejutan untuk gadisnya. Sebagai tanda resminya mereka menjadi sepasang kekasih.


"Ya udah, selamat beristirahat, Sayang, love you," ucap Ega mengakhiri panggilannya.


"Iya. Kamu hati-hati, ya," pesan Zahra.


Sekarang, lelaki itu dilema. Mau kembali masuk ke dalam atau memilih pulang. Kalau ia pulang dan meninggalkan Fani, ia terlihat seperti lelaki yang tidak bertanggungjawab. Kalau kembali menemui perempuan itu, ia sudah kehilangan mood untuk itu.


Setelah menimbang cukup lama, akhirnya ia keluar dari mobil dan berjalan menemui Fani.


"Kamu dari mana sih? Aku nyariin kamu ke mana-mana enggak ada. Aku telepon enggak nyambung. Telepon sibuk terus. Kamu bikin aku malu tahu gak!" cerca Fani begitu Ega menghampirinya.


"Sakit mata lihat teman-teman kamu pake baju kurang bahan semua. Jadi aku ke mobil," jawab Ega cuek. Tak memperdulikan Fani yang sudah sangat emosi.


"Udah selesai kan? Ayo balik," ajak Ega.


Lelaki itu berbalik hendak kembali ke parkiran.


"Kamu mau ke mana lagi? Aku belum selesai!" seru Fani.


"Pulang. Kan, kamu udah di luar, berarti udah selesai,", jawab Ega enteng.


"Aku keluar nyariin kamu!" teriak Fani yang sudah emosi


"Kamu gak malu dari tadi ngomong teriak-teriak gitu? Lihat tuh teman-temanmu."


Ega mengedikkan dagu mengarah pada teman-teman Fani yang berada di belakang perempuan itu.


"Apa lihat-lihat! Pergi sana!" serunya pada teman-temannya.


"Sorry, Fan," ucap salah seorang dari mereka dengan suara dan mimik wajah yang memancarkan ketakutan.


"Kita, masuk dulu ya. Bye bye," ucap temannya yang lain.


Mereka saling dorong mendorong untuk segera meninggalkan Fani yang sedang marah.


"Mau balik atau masih di sini? Gak malu emang mau balik lagi?" tanya Ega.


"Aku belum ketemu sama temen aku. Kita masuk lagi," ucap Fani.


Perempuan itu kembali memasuki gedung. Di belakangnya Ega mengikuti. Meski sebenarnya lelaki itu enggan untuk melangkah.


"Silvia, selamat ya. Happy wedding, Say," ucap Fani, begitu sampai di pelaminan. Di belakangnya Ega mengikuti dan menyalami mempelai laki-laki.


"Thank you, Fani. Foto dulu yuk. Itu calon kamu ajak juga," ucap mempelai wanita.

__ADS_1


"Ayok. Ayo kita foto dulu," ajak Fani pada Ega.


Dengan terpaksa lelaki itu ikut berfoto. Ia berdiri di samping mempelai laki-laki. Mengikuti arahan dari fotografer yang menata pose mereka.


__ADS_2