Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
81. Tersesat


__ADS_3

Dengan kecepatan sedang, Zahra mengendarai mobilnya membelah jalanan pedesaan yang lengang. Hamparan sawah di kanan kiri jalan membuat gadis itu betah berlama-lama berada di jalanan.


Sampai di pertigaan dekat pasar yang dimaksud Efelin, gadis itu menanyakan kembali alamat rumah yang akan didatangi. Efelin membimbing sang kakak dengan mengarahkan jalan yang harus mereka lewati.


Hingga sampailah mereka di sebuah rumah minimalis khas komplek perumahan. Zahra memberhentikan mobilnya di depan rumah berpagar putih itu. Di halaman yang cukup luas itu ada seorang laki – laki muda yang tengah duduk santai di halaman.


“Itu kakaknya temen aku, Mbak,” ucap Efelin sebelum turun dari mobil.


“Dih! Udah tua gitu. Pasti umurnya gak beda jauh sama aku atau Ega,” balas Zahra.


“Yang penting kan ganteng, Mbak.”


“Ganteng itu kalau udah kerja mapan siap nikah, itu baru ganteng.”


“Dengan kata lain duitnya banyak?”


“Betul sekali,” jawab Zahra sambil tertawa.


“Iya-iya, mentang-mentang calon mantunya sultan. Yang duitnya gak berseri,” ejek Efelin.


“Emang. Udah sana turun! Nanti pulang sendiri atau di jemput?” tanya Zahra sebelum turun.


“Nanti aku WA deh, siapa tahu nanti diantar sama kakaknya temenku,” ucap Efelin sambil tertawa cekikikan.


“Dasar ABG labil,” ejek sang kakak.


Setelah sang adik turun, Zahra masih memperhatikan sang adik yang sedang berbasa-basi dengan laki-laki yang ia bicarakan tadi. Sungguh ia tak menyangka sang adik menyukai lelaki yang lebih dewasa dari usianya.


Sesaat ia sempat bersitatap dengan lelaki itu saat sang adik menunjuk ke arahnya diikuti oleh pandangan lelaki di depannya. Setelah menganggukkan kepala tanda sapaan, Zahra melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.


Mumpung keluar rumah, gadis itu memutuskan untuk berjalan-jalan sesaat menikmati suasana pedesaan di sana. Ia mengemudikan mobilnya menyusuri jalan-jalan tanpa tujuan yang pasti.


Berbekal cerita sang bunda tentang jalan-jalan desa yang saling berhubungan ia bertekad menjelajah pelosok-pelosok desa.


Hamparan sawah-sawah hijau membentang sepanjang jalan yang ia lewati. Hanya ada sedikit perkampungan yang berada di daerah yang ia lewati. Selebihnya hanya hamparan sawah padi yang membentang.

__ADS_1


Gadis itu menepikan mobilnya di sebuah gubuk kayu yang berada di tepi jalan. Di belakang gubuk itu ada sebuah sungai yang cukup lebar dan memiliki aliran sungai yang deras. Gemricik airnya sungguh menenangkan hati dan pikiran.


Zahra membuka sedikit kaca jendelanya. Menghirup udara segar yang disuguhkan tempat itu. Ingin sekali ia turun dan bermain air di sungai itu. Tetapi, ia mengurungkan niatnya lantaran di sana sepi tak ada orang.


Kembali gadis itu menjalankan mobilnya menyusuri jalanan. Hingga jauh ia berkendara, lama kelamaan ia mulai merasa was-was karena tidak juga menemukan jalan raya.


Ia memberhentikan mobilnya di dekat rumah warga. Ia segera turun dan menghampiri ibu-ibu yang sedang berkumpul di salah satu halaman rumah.


“Nuwun sewu, Bu, badhe tanget,” sapa Zahra pada mereka.


(Permisi, Bu, mau tanya.)


“Nggih, monggo,” jawab salah seorang dari mereka.


(Ya, silahkan.)


“Menawi badhe ten mergi ageng liwat pundi nggih?” tanya Zahra sopan menggunakan bahasa khas Jawa.


(Kalau mau ke jalan raya lewat mana ya?)


(Jauh, Mbak. Kamu dari sini lurus aja, nanti ada perempatan kamu belok kiri, kamu lurus kira-kira satu kiloan ada pertigaan kamu belok kanan, itu masih jauh, Mbak, nanti kamu tanya-tanya di sana saja. Kamu mau ke darah mana, Mbak?)


“Tebih sanget nggih, Bu? Kulo badhe ten desa Bokor Tumpang, Bu.”


(Jauh sekali ya, Bu? Saya mau ke desa Bokor Tumpang, Bu.)


“Lha iki deso Pulungdowo, Mbak. Wis samean tutno dalan iki ae, mengko samean takok maneh,” saran dari ibu yang lain.


(Lha ini desa Pulungdowo, Mbak. Kamu ikuti jalan ini saja, nanti kamu tanya-tanya lagi.)


“Enggeh, Bu, maturnuwun. Monggo.”


(Iya, Bu, terimakasih. Mari.)


Gadis itu kembali masuk ke dalam mobilnya. Kini ia mulai cemas membayangkan dirinya tidak dapat kembali ke rumah. Di sini ia tidak mempunyai teman yang bisa diminai tolong.

__ADS_1


Kini ia merutuki keb*dohannya kurang bergaul dengan para muda-muda sebayanya di desa tempatnya tinggal. Lalu sekarang ia bingung akan meminta bantuan pada siapa.


Menghubungi Ega jelas tidak mungkin dia akan sampai dalam waktu cepat, dan tidak mungkin juga ia tahu daerah di desa ini. Kini Zahra bingung harus meminta bantuan pada siapa.


Sambil mengemudikan mobilnya ia mncoba menghubungi adiknya. Pastinya gadis itu memiliki banyak teman di sekolahnya yang mungkin bisa membantunya.


“Fel, aku tersesat,” ucap Zahra begitu sambungan telepon tersambung.


“Kok bisa? Bukannya langsung pulang?” tanya adiknya di seberang sana.


Zahra menceritakan detail kronologi dirinya tersesat. Membuat gadis di seberang sana menghela nafas kesal. Zahra mendengar samar-samar sang adik berbicara dengan orang yang ada di dekatnya. Sepintas Zahra tahu sang adik menceritakan kecerobohannya pada orang yang ada di sana.


“Kirim sharelock. Aku sama Kak Rey mau jemput,” ucap Efelin kesal.


“Kak Rey siapa?”


“Kakaknya temen aku.” Setelah mengatakan itu, Efelin langsung memutus panggilan dengan sang kakak.


Dengan perasaan takut yang mendominasi pada dirinya saat ini, gadis itu segera mngirimkan lokasi terakhinyna pada sang adik. Di saat yang tidak tepat ia mulai merasakan tangannya mulai ngilu.


“Kenapa apes banget sih,” guman gadis itu dengan memijat-pijat tangannya.


Kini ia mulai bimbang, tidak ada orang yang bisa diajak bicara, gadis itu mulai ketakutan. Berkali-kali ia melihat ponselnya. Tidak ada notifikasi pesan dari siapapun.


Lama – kelamaan gadis itu menangis ketakutan. Dengan sesenggukan menahan sakit di tangannya dan juga ketakutannya, ia memberanikan diri menghubungi Ega. Setelah nada sambung pertama, panggilan itu diangkat oleh lelaki di ujung sana.


“Ga, aku takut,” ucap gadis itu sesenggukan.


“Sayang, kamu kenapa? Takut kenapa?” tanya Ega panik.


“Aku tersesat, nggak tahu ini di mana.”


Gadis itu menjelaskan kejadian sebelumnya pada lelaki itu. Ia juga mengatakan kalau Efelin dan temannya akan datang menjemput, tetapi, masih belum datang. Padahal ia menunggu hampir setengah jam.


Di sana Ega berusaha menenangkan Zahra yang ketakutan. Ia juga tidak mungkin datang ke tempat gadis itu dalam waktu dekat. Butuh waktu lebih dari satu jam jika tidak ada macet. Dan lagi, ia tidak tahu di daerah mana tunangannya tersesat.

__ADS_1


Dari luar mobil Zahra diketuk oleh seseorang. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya melihat ke arah ketukan itu berasal. Samar-samar terlihat Efelin berdiri di luar. Gadis itu buru-buru membuka pintu mobil dan segera keluar.


__ADS_2