Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
76. Mencari Tahu


__ADS_3

Selamat membaca readersku β™₯️β™₯️😘 Yang mau numpang promo saya persilahkan untuk promo di gc saya. Promo di kolom komentar yang sewjarnya saja ya.. dan jangan lupa pencet like dong, jangan cuma numpang promo🀭🀭


mohon maaf dan terimakasih πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ€—πŸ€—πŸ€—


********


Rio tengah duduk bersama dua orang teman Zakia, yang tak lain adalah Raka dan Devan. Mereka berdua sengaja diundang Rio ke bengkelnya untuk dimintai bantuan.


Dua lelaki itu bersedia karena juga merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Zakia. Karena mereka berdua yang mengajaknya untuk ke acara itu.


"Aku ngundang kalian ke sini sebenernya masih ada hubungannya dengan masalah kemarin. Karena cewekku baru saja mendapatkan teror," ucap Rio mengawali.


"Maksudnya? Ada yang meneror Zakia?" tanya Devan.


"Ya. Dan aku curiga dia orang yang sama dengan pelaku yang kemarin. Karena kakakku sempat melihat pelaku yang nyerang Zakia. Dan karena melindungi Zakia, kakakku terluka dan di rawat di RS."


Raka mengusap wajahnya dengan kasar. Tak menyangka salah satu temannya ada yang berbuat kriminal.


"Apa yang bisa kita bantu, Bang?" tanya Raka.


"Awasi teman-temanmu. Dan satu lagi, ada dua orang berbeda yang meneror. Satu mengancam karena Haikal dan satunya karena diriku sendiri. Makanya aku minta bantuan sama kalian untuk masalah cowok br*ngsek itu."


"Baiklah, Bang. Kita siap membantu, nanti kita coba ngomong juga sama Alan sama Arya," ucap Devan.


"Jangan! Jangan sampai mereka tahu. Cukup kalian saja. Aku kurang percaya dengan mereka. Apalagi Arya, aku merasa dia juga terlibat."


"Kenapa sama Arya?" tanya Devan.


"Apa kamu gak tahu? Ada rasa sama Zakia," tutur Raka.


"Ternyata kamu juga tahu, Rak?" tanya Rio.


"Tahu, Bang. Dia sering cerita. Tapi ya itu, Zakia udah sama Abang," jawab Raka.


"Aku minta bantuan kalian berdua deh pokoknya. Aku tunggu secepatnya kabar dari kalian," kata Rio.


"Oke, Bang. Kita balik dulu lah kalau gitu," pamit Raka.


Mereka saling bersalaman dengan Rio sebelum meninggalkan bengkel.


*****


Raka langsung menjalankan amanah dari Rio untuk membantunya. Begitu meninggalkannya bengkel, ia dan Devan langsung menuju tempat tongkrongan mereka yang tak lain adalah halaman rumah kontrakan mereka berempat.


Di sana, juga ada beberapa anak yang lain, termasuk Alan, Arya dan Alena. Melihat hal itu, Raka merasa Arya bukan lagi temannya yang dulu.


"Ar, mau ngomong bentar deh. Melok (ikut) aku ayo!" ajak Raka.

__ADS_1


"Nandi?" (Ke mana?) tanya Arya.


"Ayo diluk!" (Ayo sebentar!) Raka sedikit memaksa.


Arya berpamitan pada kekasihnya untuk pergi sebentar. Ia dan Raka menuju ke dalam rumah kontrakan dan duduk di Ruang tamu.


"Apa?" tanya Arya.


"Sorry sebelumnya, bukannya aku mau ikut campur masalah pribadimu. Setelah kejadian kemarin, kenapa kamu masih sama Alena?" tanya Raka.


"Apa urusannya sama kamu?" Arya balik bertanya.


"Logikanya, Ar. Aku tahu kamu suka sama Zakia. Dan kemarin cewekmu itu nyelakain orang yang kamu suka. Tapi kenapa kamu justru tetap bersama dia?"


"Itu urusanku, Rak! Jangan ikuti campur!"


"Sebagai temen aku ngingetin kamu, Ar! Jangan sampai kamu salah langkah!" peringat Raka.


"Urus aja urusanmu! Aku juga tahu kamu suka sama Kia!"


Raka terdiam. Tak disangka ternyata Arya tahu perasaannya pada teman perempuan mereka.


"Gak bisa jawab kan? Jangan pikir aku gak tahu, Rak. Jangan bodoh mau disuruh-suruh sama Bang Rio buat bantuin dia. Kesempatanmu sama Kia akan semakin menipis. Karena aku juga sainganmu," desis Arya di telinga Raka.


Setelah itu, ia meninggalkan Raka yang berdiri mematung di tempatnya. Sepeninggal Arya, ia terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada temannya itu.


Ia memutuskan untuk kembali bergabung dengan yang lainnya. Lelaki itu duduk di dekat Devan. Ikut menyandarkannya tubuhnya pada punggung kursi.


"Gak papa," jawab Raka.


Arya kembali duduk di samping Alena. Bermesraan dengannya tanpa tahu malu dengan orang-orang di sampingnya.


Raka memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka.


"Mau ke mana?" tanya salah satu temannya.


"Warung depan, cari makan," jawab Raka.


"Oke," kata orang yang tadi bertanya.


"Rak, ikut," kata Devan ikut berdiri.


"Kalian itu kembar apa pasangan sejenis sih? Ke mana-mana selalu berdua tak terpisahkan," ejek Alan yang juga ada di sana.


Tak ada yang menjawabnya. Mereka berdua memilih berjalan kaki menuju warung depan yang dimaksud Raka.


"Tadi ngomong apa sama Arya?" tanya Devan begitu jarak mereka sedikit jauh dari mereka semua.

__ADS_1


"Bener kata Bang Rio, sepertinya Arya terlibat," ucap Raka.


"Maksudmu?"


Raka menceritakan apa yang dia bicarakan di dalam rumah bersama Arya. Devan mendengarkan dengan seksama.


"Iya juga ya. Kalau Arya emang serius temenan sama Kia, pasti dia bakal ngebelain Kia dan ninggalin nenek lampir wajah barbie itu. Logikanya kayak gitu ya," ucap Devan.


"Nah. Makanya aku yakin banget kalau dia ada kaitannya sama teror-teror itu."


"Coba deh, Rak, kita pancing dia," usul Devan.


"Pancing gimana? Dia orang, Dev, bukan ikan," celatuk Raka.


"Ya ngerti dia orang, Rak. Awakmu kok megelno e. Ngeneiki aku pinter titik mbok ece-ece," ucap Devan kesal.


(Kamu kok ngeselin sih. Sekarang aku sedikit pintar kamu ejek.)


"Oke-oke, serius. Pancing gimana maksudnya?"


"Kayaknya dia gak tahu deh, kalau ada yang neror Kia sampai dilukai. Nah, coba tuh kita pura-pura ngomongin Kia di depan dia. Kita lihat responnya dia gimana," usul Devan.


"Tumben pinter," ejek Raka.


"Iya, Tadi sarapan sama tahu di warungnya Mak Ti. Kayaknya tahu yang aku makan bikin aku pinter," jawab Devan asal.


"Ya udah kalau kayak gitu kamu harus cari tahu, bukan tempe kalau cari lauk ya," balas Raka semakin ngasal.


"Oke. Cari tahu bukan tempe." Devan mengulangi kata-kata Raka.


"Ogeb kok dipelihara sih, Dev, Dev," ucap Raka terkekeh melihat ekspresi konyol Devan


"Ogeb emang apaan?"


"Astaghfirullah, umak iki arek Ngalam tapi ra ngerti boso walikan. Dolenmu kurang adoh, Dev, Dev. Cocok e umak iku diceluk Devi ae. Cocok iku. Arek wedok lek dolen lak gak oleh adoh-adoh. Gak oleh moleh bengi, jam songo kudu wis moleh," ejek Raka.


(Astaghfirullah. kamu ini anak Malang tapi gak mengerti bahasa yang dibalik. Mainmu kurang jauh, Dev, Dev. Cocoknya kamu itu dipanggil Devi saja. Cocok itu. Anak perempuan kalau main gak boleh jauh-jauh. Gak boleh pulang larut nalam, jam sembilan harus sudah pulang.)


"Iyo, terosno wes, terosno lek ngece-ece aku. Kuwalat awakmu ngilokno sing luweh tuwek tekan awakmu," ucap Devan mulai kesal.


(Iya. lanjutkan deh, lanjutkan kalau mengejekku. Kualat kamu nanti mengatai orang yang lebih tua darimu.)


"Eh iya. Jadi lupa. Ini kita jalan kenapa jauh banget deh, Rak. Kamu jadi beli makan nggak? Warungnya udah kelewat," kata Devan begitu sadar.


"Ah. Ngapa jadi ogeb begini ya, balik ayok. Laper padahal ini aku," keluh Raka.


"Rak. Tadi aku denger Alena ngobrol sama si Vina, dan aku denger dia nyebut nama Kia," kata Devan saat ingat dengan hal penting itu.

__ADS_1


"Serius? Dia ngomong apaan?"


"Tadi dia ngomong ... "


__ADS_2