Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
51. Kedatangan Tamu


__ADS_3

Jam di ponsel Zahra menunjukkan pukul enam sore. Ia mengajak Ega untuk segera kembali ke rumah Bibi Dewi. Ia yakin pasti bundanya merasa khawatir jika dirinya tidak segera pulang.


Sedan hitam milik Ega melaju dengan kecepatan sedang, membelah ramainya jalanan di Kota Malang.


Sepanjang perjalanan, hanya suara alunan musik yang sengaja diputar untuk menemani perjalanan mereka. Suasana di antara mereka seperti orang yang sedang saling mendiamkan.


Ega sendiri bingung, bagaimana memulai obrolan dengan gadisnya. Setiap kali ia bertanya selalu dijawab gadis itu dengan kalimat penyelesaian. Sehingga membuatnya kehabisan pertanyaan.


Zahra bersedekap menghangatkan tubuhnya yang mulai merasakan hawa dingin dari AC mobil, juga udara malam yang memang terasa dingin.


"Dingin ya. Di kursi belakang ada jaket," kata Ega yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya.


Gadis itu menengok ke belakang, menemukan jaket denim kepunyaan Ega. Diambilnya jaket itu. Sebelum memakainya, Zahra terlebih dahulu mencium baunya.


"Wangi kok. Masih bau parfum laundry."


"Iya."


Dipakainya jaket itu untuk menghangatkan tubuhnya. Tanpa diminta pun, Ega telah mematikan suhu AC mobilnya.


"Masih dingin?" tanyanya yang dijawab dengan gelengan kepala.


"Jangan diem aja dong," ucap Ega.


"Bingung mau ngomong apa," jawab gadis itu.


"Masih belum nyaman ya berdua sama aku?"


"Iya. Maafin aku," ucap Zahra menyesal.


"Dicoba pelan-pelan ya. Nanti juga terbiasa. Sepertinya kita harus sering-sering ketemu deh."


"Jangan!" seru Zahra.


"Loh? Kenapa?"


"Em. Kan tempat kita jauh. Juga di sini nggak kayak di kota."


"Iya, Sayang. Aku tahu. Tapi jangan ngeluh ya kalau tiap hari aku bakalan telepon kamu.'


"Iya."


Kembali terjadi keheningan di antara mereka berdua. Kecanggungan yang terasa menyiksa bagi Ega. Ia merasa masih ada sekat yang membatasinya dengan Zahra.


Mungkin Zahra masih butuh banyak waktu untuk kembali menemukan kepercayaan dirinya. Bayang-bayang penculikan yang dialaminya masih sangat membekas di dalam dirinya.


Sesekali Ega mencuri-curi pandang pada gadis di sampingnya. Ia merasa ada yang aneh dengan gadisnya.


Terlihat sangat jelas wajah cantik gadis itu semakin pucat. Sesekali ia memejamkan matanya seperti menahan rasa sakit.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Ega khawatir.


"Enggak papa kok," jawabnya dengan suara yang seperti orang kesakitan.


"Muka kamu makin pucat. Masih teringat film tadi?"


"Enggak. Aku gak papa kok."

__ADS_1


Ega menepikan mobilnya. Ia memegangi kening Zahra. Tidak panas, justru terasa dingin dan berkeringat.


"Ini kamu berkeringat. Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ega semakin panik.


"Kita ke rumah sakit dulu ya," lanjutnya.


"Enggak. Nggak perlu. Kita langsung pulang saja."


"Tapi, Ra."


"Tolong. Kita langsung pulang aja."


Akhirnya Ega kembali melajukan mobilnya. Kali ini ia mempercepat laju mobilnya. Masih harus menempuh hampir setengah perjalanan lagi agar sampai di rumah Bibi Dewi.


Berkali-kali lelaki itu menawarkan untuk ke rumah sakit. Kekhawatiran jelas terlihat terlihat di wajahnya.


Hampir lima belas menit berlalu sampailah mereka di rumah. Di halaman rumah terlihat Bu Ratih dan Bibi Dewi tengah bercengkrama.


Melihat kedatangan mobil Ega. Mereka berdua tersenyum dan memperhatikan lelaki itu yang turun dan mengitari mobilnya.


"Aku gendong ya." Ia meminta ijin.


"Jangan! Aku bisa sendiri," tolak gadis itu.


"Tapi kamu pucat, badan kamu dingin banget. Nanti kalau kamu jatuh gimana?"


"Aku gak papa. Hanya perutku sakit. Aku masih bisa jalan sendiri."


"Kenapa gak bilang dari tadi? Kita kan bisa ke rumah sakit atau ke klinik dulu."


Mengabaikan Ega yang mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Zahra sedikit mendorong lelaki itu agar bisa lewat.


Sang bunda dan sang bibi yang menunggu mereka di halaman segera menghampiri gadis itu.


"Nduk, kenapa?" tanya sang bunda.


"Kedatangan tamu, Bun. Aku masuk dulu. Tolong kasih tahu Ega ya. Aku baik-baik saja." Zahra segera memasuki rumah dan menuju kamarnya.


"Tante, Bulek," sapa Ega menyalami kedua wanita itu.


"Maaf, Tante. Sepertinya Zahra sedang tidak enak badan. Tadi saya ajak ke rumah sakit dia memaksa pulang."


"Ndak papa, Le. Dia cuma kedatangan tamu. Sudah biasa hari pertama memang begitu," jawab Bu Ratih.


"Ayo masuk dulu," ajak Bibi Dewi pada mereka berdua.


Ega mengikuti dua wanita itu masuk ke dalam rumah. Ia mengambil tempat duduk di samping Efelin yang sedang bermain ponsel di ruang tamu.


Gadis kecil itu memperhatikan lelaki di sampingnya. Terlihat jelas kekhawatiran pada raut wajahnya.


"Kak Ega kenapa?" tanya gadis kecil itu penasaran.


"Kakak kamu tadi pucat banget. Aku ajak ke rumah sakit enggak mau."


"Terus dia bilangnya apa?"


"Katanya perutnya sakit."

__ADS_1


"Oh."


Ega menolehkan kepalanya pada gadis kecil di sampingnya. Merasa heran dengan jawabannya.


Ega merasa calon adik iparnya itu angat terlihat jelas ketidak peduliannya pada sang kakak.


"Kakak kok ngelihatin aku kayak gitu?"


"Kamu gak khawatir gitu sama kakak kamu?" tanya Ega tak percaya.


"Lah. Kak Ega gak tau emang Mbak Zahra kenapa?"


Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Yang ia tahu Zahranya seperti sedang kesakitan.


"Mbak Zahra itu kedatangan tamu bulanan pasti. Soalnya aku udah minggu kemarin."


"Ngerti gak?" tanya gadis kecil itu.


Ega masih terdiam mencerna arti tamu bulanan yang dimaksud calon adik iparnya. Hingga akhirnya ia tahu maksudnya.


"Emang sakit gitu ya kalo kedatangan tamu gitu?" tanyanya.


"Tergantung sih. Tiap orang beda-beda bawaannya. Ada yang kayak orang ngidam, pengen makan apa gitu, ada juga yang sensian, salah dikit aja langsung marah-marah."


Dari arah dalam rumah Bu Ratih datang membawa minuman untuk lelaki itu.


"Zahra gimana, Tante?"


"Ndak papa. Tamu bulanannya datang. Nanti kalau sudah nikah jangan kaget ya kalau dia tiba-tiba sakit seperti itu lagi," jawab Bu Ratih.


"Tuh kan! Apa aku bilang. Kak Ega aja nih yang lebai," celatuk Efelin.


"Kenapa dianggap sepele gitu ya, Tan kedengarannya?" Ia merasa seperti penyakit itu disepelekan.


"Itu wajar, Nak. Setiap perempuan akan mengalami rasa nyeri saat haid. Coba nanti kamu cari penjelasan di internet."


Bu Ratih merasa senang karena lelaki di depannya itu benar-benar sangat memperhatikan anak gadisnya.


Jika suatu saat nanti Zahra dilamar olehnya, dengan ikhlas ia akan menyerahkan anak sulungnya pada lelaki itu. Karena sedari awal lelaki itu telah menunjukkan rasa cinta dan perhatiannya untuk Zahra.


Ega berpamitan untuk pulang. Ia teringat akan pesan dari calon ayah mertuanya jika di desa jam delapan malam sudah tidak ada orang keluar rumah.


Ia hanya menitipkan pesan untuk Zahra kepada calon ibu mertua, bahwa dirinya sudah pulang. Karena semenjak masuk rumah, gadis itu tidak keluar sama sekali.


Lelaki itu memacu mobil dengan kencang. Jalanan yang ia lewati sangat sepi. Bahkan ia tak satupun mendapati mobil atau motor yang melewati jalan itu.


Ia merasa ngeri membayangkan jika tiba-tiba ada yang menghadang dirinya di tengah jalan. Jalanan pedesaan benar-benar sangat sepi.


Setelah memasuki perbatasannya antara kabupaten dan kota, barulah terlihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Bahkan masih terlihat cukup ramai.


Lelaki itu memacu mobilnya menuju rumah kontrakannya. Ingin segera menghubungi gadisnya dan menanyakan keadaannya.


****


Kalau kupikir-pikir Ega kok pede banget ya. Udah menganggap orang tua Zahra calon mertuanya. Di lamar aja belom tuh Zahranya.


Enaknya kasih konflik dulu apa tunangan dulu ya?

__ADS_1


Kasih masukan dong...


Kutunggu sarannya di kolom komentar ...


__ADS_2