
Masih duduk berdua di ruang tamu. Dua insan yang sedang dimabuk cinta itu saling mendengarkan cerita rutinitas keduanya selama tidak bertemu.
"Kamu nggak mau cerita laki-laki tadi siapa?" tanya Ega akhirnya.
"Apa kalo aku cerita kamu akan marah?"
Bukannya menjawab justru Zahra bertanya balik pada lelaki yang tengah mengusap pucuk rambutnya.
"Enggak. Aku hanya ingin tau," jawabnya, meskipun sebenarnya ia merasa sangat cemburu pada lelaki itu.
"Dia temen aku di kantor yang dulu. Bukan temen deket juga sih. Cuma sekedar kenal aja."
"Terus ngapain dia ke sini?"
"Nggak tau. Dia baru aja dateng kok. Terus aku tinggal bikin minum kamu datang."
"Apa kamu tau dia suka sama kamu?"
"Tau."
"Terus kamu gimana?"
"Ya gak gimana-gimana. Aku ga suka sama dia. Dari dulu aku menghindar dari dia. Kemarin aku gak sengaja ketemu dia, itu aja kebetulan dia servis di bengkel. Karena Rio lagi makan siang di luar jadi aku gantiin dia ngurusi pelanggan yang mau bayar. Dan ya udah, ternyata pelanggannya dia."
"Kamu hati-hati ya. Perasaanku ga enak. Kayaknya dia bukan laki-laki yang baik."
"Ih. Kamu jangan sok tau gitu," kata Zahra dengan memukul dada Ega.
"Kok aku dipukul sih! Sakit tahu!" Ega balas mencubit hidung Zahra.
Mereka berdua tertawa bersama. Saling membalas untuk mencubit dan memukul. Menyalurkan rasa rindu mereka dua minggu tidak bertemu.
****
Di sebuah rumah kontrakan di perkampungan kumuh, Ada beberapa anak muda yang sedang berkumpul. Salah satunya, Bian. Lelaki yang tadi pagi berkunjung ke rumah Zahra. Di sana ia tengah melihat teman-temannya yang sedang berpesta narkoba.
"Umak gak melok a, Bro?" tanya salah seorang dari mereka.
(Kamu gak ikut, Bro?)
"Nggak," jawab Bian.
"Raimu ketok sumpek. Opo o? Ono masalah opo?" tanya lelaki lain dengan suara yang sedikit tidak jelas karena pengaruh barang haram itu.
(Mukamu terlihat banyak masalah. Kenapa? Ada masalah apa?)
"Umak eleng a, aku tau cerito due konco jeneng e Zahra. Arek sing tak senengi ndek kantor?" Bian bertanya pada teman-temamannya.
(Kamu ingat gak, aku pernah cerita punya teman namanya Zahra. Anak yang aku sukai di kantor?)
"Iyo eleng. lek gak salah iku koncone Brian sekolah jare. Opo o ambe arek wedok iku?"
__ADS_1
(Iya ingat. Kalau tidak salah itu temannya Brian. Ada apa dengan perempuan itu?)
"Arek e wes due pacar. Due bakal bojo. Atiku loroh, Bro. Aku pingin misahno arek e ambe bakal bojone," ujar Brian.
(Dia sudah punya pacar. Sudah punya calon suami. Aku ingin memisahkan dia dengan calon suaminya.)
"Ngomong o nang Brian. Koyok e arek iku kenal apik ambe arek wedok sing umak omongno. Wedine engkok arek e gak setuju ambe rencanamu," kata salah seorang dari mereka.
(Katakan pada Brian. Sepertinya dia kenal baik dengan perempuan yang kamu bicarakan. Takutnya nanti dia tidak setuju dengan rencanamu.)
"Gampang iku Opo jare aku. Aku kepingin nggowo Zahra mlayu. Umak-umak iso kan ngewangi aku?"
(Gampang itu. Nanti jadi urusanku. Aku ingin membawa Zahra kabur. Kalian bisa kan membantuku?)
"Oyi. gampang lek ambe awak e. Pokok ono imbalan e."
(Oke. gampang kalau masalah itu dengan kami. Asal ada imbalannya.)
"Masalah gampang iku. Yowes engkok tak hubungi maneh. Aku ate metu."
(Masalah gampang itu. Ya sudah nanti aku hubungi lagi. Aku mau keluar dulu.)
Bian menyalami semua orang yang ada di situ. Meninggalkan mereka yang melanjutkan kegiatannya.
Bian mengendarai mobilnya keluar dari perkampungan itu. Tempat tujuannya kali ini kembali ke rumahnya.
Hari minggu yang sangat memuakkan baginya. Mendapati kenyataan wanita yang selama ini di sukainya, dan beberapa bulan ini ia cari ternyata telah memiliki calon suami.
****
"Ya elah. Lagi asik pacaran nih orang berdua," ucap Efelin begitu memasuki ruang tamu mendapati kakaknya sedang bersama dengan lelaki yang dia panggil kak Ega.
"Sirik aja," balas Zahra.
"Inget! Semalem bunda bilang apa. Nikah dulu baru pacaran biar gak dosa."
"Iya inget. Udah sana keluar kalo mau keluar. Ganggu aja," Zahra mengusir sang adik.
"Biar Efel di sini. Aku jadi keinget sama Raissa. Pasti kalo dia masih ada aku juga mungkin seperti kalian," ujar Ega yang teringat dengan mendiang adiknya.
"Kamu kangen sama dia ya?" tanya Zahra mengusap pundak Ega.
"Selalu. Aku sangat menyesal. belum pernah membahagiakannya. Liat mungkin juga dia sekarang seumuran Efelin."
"Kalian ngomongin siapa sih?" tanya Efelin penasaran.
"Adik aku," jawab Ega.
"Ehm. Sorry aku ga tau. Ya udah aku mau pergi dulu," Efelin berjalan keluar rumah.
"Fel! Kamu mau kemana?" teriak Zahra karena sang adik sudah berada di luar rumah.
__ADS_1
"Ke rumah Zena bentar!" balas sang adik berteriak balik.
"Ish. Dasar anak itu. Bilangnya bentar pasti nanti gak balik-balik."
"Udah biarin. Udah gede juga. Tau jalan pulang dia," jawab Ega.
"Dia tuh kalo main suka lupa waktu."
"Ra. Aku laper."
"Laper banget gak? Mau aku masakin apa?"
"Apa aja yang penting makan."
"Ya udah aku liat di kulkas dulu ada apa aja yang di masak."
Zahra berdiri dari duduknya di ikuti Ega di belakangnya. Mereka berdua menuju dapur. Zahra membuka pintu kulkas untuk melihat isinya. Sedangkan Ega menarik salah satu kursi di dekatnya.
"Adanya ini. Bingung mau masak apa yang cepet," kata Zahra membuka pintu kulkas lebar-lebar.
"Itu aja bungkulnya (bunga kol) di goreng pake tepung. Sama bikinin telor dadar," kata Ega setelah memilih.
"Siap pak bos. Silahkan di tunggu."
"Kalo aku pak bos berarti kamu bu bosnya ya," goda Ega.
"Emang mau siapa kalo bukan aku?"
"Em.. siapa ya? Nggak ada sih. Aku sukanya sama kamu aja sih. Nggak ada yang lain."
"Yakin itu bener?"
"Iya bener."
Keduanya saling bertukar argumen sembari menunggu masakan sederhana Zahra selesai. Ega benar-benar menikmati kebersamaannya hari ini. Mereka berdua menikmati makan siangnya dengan di iringi canda tawa.
****
Ada yang menunggu Ega up?
Ada yang mengerti bahasa Jawa?
Sebenernya bahasa harianku seperti itu. Banyak bahasa di daerahku yang di bolak balik, di sini di sebutnya boso walik an.. hehe..
pengen nanti bikin part yang banyak bahasa daerahku.
terimakasih sudah membaca
mohon dukungannya. tinggalkan like, rate, dan komen. Vote juga sangat berarti untukku.
salam sayang
__ADS_1
kiki rizki