
Setelah makan malam, Zahra membantu Bibi Dewi membersihkan perkakas sisa makan malam. Rio dan Ega tengah duduk di halaman rumah menikmati dinginnya malam yang menusuk tulang. Memang, desa yang ditinggali Zahra sekarang daerah dataran tinggi yang dekat dengan lereng Gunung Bromo.
Jika pagi menyongsong dibagian timur desa akan terlihat jelas tingginya Gunung Semeru, dan dibagian utara akan terlihat Gunung Bromo dan pegunungan yang saling menghubungkan dua gunung aktif itu.
Setelah membantu Bibi Dewi, Zahra keluar menemui dua lelaki yang tengah sibuk dengan dunia mereka dengan membawa dua gelas berisi teh dan kopi panas.
“Baik bener deh, Mbak aku ini,” ucap Rio.
“Makasih, ya,” ucap Ega.
Zahra hanya mengangguk menjawab mereka berdua. Ia hendak masuk rumah kembali. Namun dengan cepat Rio menghentikannya.
“Sini aja sebentar, temenin Ega,” pinta adik sepupunya itu.
Rio berdiri dari tempatnya duduk dan mempersilahkan Zahra menduduki kursinya. Karena memang hanya ada dua kursi di halaman rumah itu. Tanpa menjawab Zahra duduk di kursi itu. Rio berpamitan masuk kamar dengan alasan ingin menelpon Zakia.
“Ra,” panggil Ega.
Zahra hanya menolehkan sekilas pandangannya lalu menunduk lagi.
“Kenapa nggak pamit aku? Apa kamu nggak mikirin perasaan aku juga? Jauh-jauh aku ke sini, kamu cuma mau nunduk aja?” ucap Ega lemah, penuh dengan rasa kecewa terhadap sikap Zahra.
”Maaf,” ucap Zahra lirih, makin menundukkan pandangannya.
“Apa sakit gini yang kamu rasain waktu aku ninggalin kamu dulu?” tanya Ega, pandangannya lurus ke depan, menatap jalan depan rumah yang sepi. Zahra seketika menolehkan pandangannya mentap wajah Ega dari samping.
“Rasanya susah dijelaskan, Ra. Aku takut kehilangan kamu, nggak bisa nemuin kamu lagi. Beneran aku bisa gila kalau sampai nggak bisa ketemu kamu lagi,” ucap lelaki itu, lalu menolehkan pandanannya pada gadis yang duduk di sampingnya yang terhalang oleh meja.
“Seandainya waktu bisa diputar lagi, aku nggak akan ninggalin kamu waktu itu. Dan semua kejadian yang kamu alami nggak akan pernah terjadi.”
“Semuanya udah terjadi. Ngga mungkin bisa diulang kembali,” balas Zahra.
"Ra, jangan tinggalin aku lagi ya. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Ra," Ega berpindah dari tempatnya duduk menjadi jongkok di hadapan Zahra. Lelaki itu memegang kedua tangan Zahra.
"Maaf," hanya itu yang diucapkan Zahra.
"Janji sama aku, jangan pergi lagi. Apapun yang terjadi jangan sampai kamu ninggalin aku."
"Bisa kan, Ra?" tanya Ega penuh harap.
"Aku gak bisa janji. Aku sendiri nggak bisa nerima keadaan aku yang kayak gini. Apa lagi orang lain?" ucap Zahra lemah.
"Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Aku nggak suka. Rasanya sakit Ra. Aku juga ngerasain sakitnya, aku nggak bisa liat kamu kayak gini," Ega memeluk Zahra. Sekuat tenaga Zahra menahan agar tak menangis.
"Bantu aku," ucap Zahra pelan.
"Pasti. Pasti sayang. Asalkan kamu berusaha pasti kamu bisa lepas dari bayang-bayang buruk itu. Aku akan selalu ada buat kamu."
__ADS_1
"Makasih," jawab Zahra. Ia membalas pelukan Ega. Lelaki itu makin mengeratkan pelukannya. Menciumi pucuk kepala gadis yang sangat ia cintai.
***
Pagi itu udara sejuk hawa pedesaan sangat terasa. Ega yang biasa hidup di kota mengalami flu akibat udara yang terlalu dingin. Semenjak salat subuh tadi, lelaki itu tak henti-hentinya bersin.
"Owala, Le. Howone adem ngene male pilek awakmu. Ra! Age, Ra! Gawekno jahe anget kancamu iki!" perintah Bibi Dewi yang kasihan melihat Ega.
(Owala, Le. Hawanya dingin begunu kamu jadi pilek ya. Ra! Cepat, Ra! Buatkan jahe hangat untuk temanmu ini!)
"Maaf, Bulek. Saya ndak papa. Memang kalo asrep ngeten saya pilek, alergi udara dingin," jawab Ega sungkan.
(Maaf, Bulek. Saya tidak papa. Memang kalau dingin begini saya pilek, alergi udara dingin.)
"Oala ngunu a? Yowes, kono caring o. Mumpung srengenge entas munggah. Ndek mburi omah kono loh,"
(Oala begitu ya? Ya sudah, sana berjemur. Mumpung mataharinya sudah naik. Di belakang rumah sana loh.)
"Iya, Bulek."
"Yowes. Aku tak nang pawon. Entenono Zahra mariki cek dijak caring ndek mburi,"
(Ya sudah. Aku mau ke dapur dulu. Tunggu Zahra, setelah itu biar diajak berjemur di belakang.)
Bibi Dewi masuk ke dalam melewati kelambu yang menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang dalam. Tak berapa lama Zahra keluar membawa jahe hangat untuk Ega. Ia mengangsurkan gelas yang dibawanya pada lelaki yang duduk di kursi rotan itu.
"Mau berjemur ke belakang?" tanya Zahra setelah Ega menghabiskan setengah isi dari gelas tersebut.
"Ayo," ucap Ega berdiri. Zahra masuk ke dalam rumah diikuti Ega. Mereka berdua melewati dapur untuk sampai di belakang rumah.
Bentangan sawah yang sangat luas dan pemandangan Gunung Semeru yang berselimut awan menyambut mereka begitu Zahra membuka pintu. Ega dibuat takjub akan sejuk dan indahnya pemandangan dihadapannya. Kedua insan itu melangkah keluar rumah. Mengambil duduk di bawah pohon ceri yang terdapat bongkahan kayu yang memang sengaja diletakkan di situ.
"Indah banget, kamu betah di sini?" tanya Ega.
"Betah," jawab Zahra.
"Di sini ada tepat rekreasi?" tanya Ega.
"Ada."
"Di mana? Jauh dari sini?"
"Enggak. Sekitar sepuluh menit dari sini."
"Namanya tempatnya?"
"Lembah Tumpang."
__ADS_1
"Tempat apa itu?"
"Tempat rekreasi keluarga. Ada resortnya juga. Ada pemandiannya juga. Seperti di candi gitu suasananya. Banyak patung-patung dan tamannya."
"Kamu udah pernah ke sana?" tanya Ega.
"Belum."
"Kalau hari ini kita ke sana, bagaimana? Kamu mau?"
"Aku ingin di rumah saja," tolah Zahra.
"Apa kamu tega? Aku jauh-jauh dari Malang ke sini kamu nggak mau temenin? Katanya mau kubantu?" bujuk Ega.
"Apa harus dengan keluar rumah?" tanya Zahra ragu.
"Tentu. Kamu juga butuh liburan. Mumpung aku di sini, ayo kita liburan," ajak Ega.
"Liburan kemana?" tanya Rio dari belakang mereka.
"Lembah Tumpang," jawab Ega.
"Oke tuh. Mumpung di sini. Berangkat sekarang?" tanya Rio semangat.
"Ya gak sekarang juga kali. Siap-siap dulu lah. Ntaran lah jam sembilan atau sepuluhan," jawab Ega.
"Okelah," Rio mendekati mereka berdua. Ikut duduk di samping Ega. Ikut menikmati hangatnya sinar matahari yang baru terbit yang menyapu kulit mereka.
"Di kota mana ada macam gini. Tau ku cuma kota Batu aja yang punya pemandangan kayak gini," ucap Ega.
"Kadoan nang Batu. Mbayar larang pisan. Mrene penak. Nginep gak mbayar. Gratis pisan pemandangan e," jawab Rio.
(Kejauhan ke Batu. Bayar mahal pula. Ke sini haja enak. Nginep gak pake bayar. Gratis pula pemandangannya.)
"Aku ke dalam bantu Bulek masak ya," pamit Zahra pada kedua lelaki itu.
Gadis itu berdiri, mengibaskan rok yang ia kenakan, dan berjalan memasuki rumah. Meninggalkan dua lelaki yang tengah asik menikmati sajian alam yang indah.
***
Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir & batin.
Semoga kita kembali fitri dan kembali suci. Dan dapat bertemu dengan bulan Ramadhan dan lebaran tahun depan
Dan semoga setelah ini wabah yang tengah menyerang negeri kita tercinta segera berakhir. Agar kita bisa kembali merasakan suasana yang kita rindukan selama beberapa bulan ini.
__ADS_1
sekali lagi aku pribadi mohon maaf yang sebar-besarnya 🙏🏻🙏🏻