
Hari Minggu ini, pagi-pagi sekali Ega datang ke rumah Zahra. Menjemput gadis itu untuk diajak ke bandara, menjemput papanya.
Sesuai dengan rencana minggu lalu kalau hari ini Papa Ega datang dari Singapura. maka dari itu, Ega mengajak kekasihnya untuk menjemput beliau.
Sampai di rumah Bibi Dewi, ternyata Zahra sudah pindah rumah. Bibi Dewi bilang, kemarin sore Zahra, bundanya dan juga Efelin menempati rumah mereka yang berada di kampung sebelah.
Bibi Dewi menawarkan pada lelaki itu untuk mengantarkan ke rumah Zahra. Bibi Dewi ikut dengan mobil Ega, menunjukkan arah pada lelaki itu untuk sampai di rumah baru Zahra.
"Di desa gini ada komplek perumahan juga ya, Bulek?" tanya Ega saat memasuki gapura perumahan.
Ternyata rumah baru Zahra berada di perumahan seperti yang pada umumnya perumahan di kota kota. Ia pikir rumahnya akan sejenis dengan rumah pedesaan. Seperti halnya rumah Bibi Dewi.
"Ini ke mana, Bulek?" tanyanya begitu memasuki komplek.
"Blok C-2, nanti masuk situ."
Mobil itu berjalan perlahan menyusuri jalan perumahan yang berpaving. Sambil sesekali melihat tiap papan yang menunjukkan plakat yang di maksud Bibi Dewi.
Ega membelokkan mobilnya ke arah kiri. Mengikuti lagi arahan Bibi Dewi hingga sampai di depan rumah Zahra.
Rumah dua lantai yang besar dan halaman yang asri. Membuat siapa saja akan langsung merasa nyaman di sana.
Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan masuk ke teras rumah. Bibi Dewi memencet tombol bel pintu rumah yang kalau di pencet bunyinya Assalamualaikum.
Dari dalam rumah terdengar suara orang menjawab salam itu. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan sosok gadis kecil dengan wajah bangun tidurnya.
"Masuk, Bulek, Kak." Ia mempersilakan dua orang tamunya untuk masuk rumah.
"Bunda sama mbakmu mana, Nduk?" tanya Bibi Dewi begitu memasuki rumah.
"Di dapur, Bulek. Sebentar tak (saya) panggilkan."
Gadis kecil yang masih lengkap dengan piyama bermotif hello kitty itu masuk ke dalam rumah memanggil dua orang yang sedang mereka cari.
Bu Ratih keluar terlebih dahulu meninggalkan anak sulungnya yang masih melanjutkan kegiatannya di dapur.
"Lho, ada Ega," sapa Bu Ratih.
"Iya, Tante," jawab lelaki itu sambil berdiri dan menyalami Bu Ratih.
"Bentar ya. Zahra masih masak di dapur. Mau ke mana?" tanya beliau.
"Mau ngajak Zahra jemput papa, Tante. Boleh nggak?"
"Waduh. Mau lamaran ini papamu sudah ke sini," goda Bibi Dewi yang juga ikut mendengarkan.
"Insyaallah, Bulek," jawab lelaki itu dengan senyuman yang memikat bagi siapa saja yang melihatnya.
"Doanya ya, Wi. Biar ponakanmu ndang (segera) nyusul temen-temennya yang lain," ujar Bu Ratih.
Zahra keluar dengan membawa nampan minuman untuk dua tamunya. Ia menyuguhkannya di atas meja.
"Sana, Ra. Ndang (segera) siap-siap. Sama Ega mau diajak jemput papanya," ucap Bu Ratih pada anaknya.
"Iya, Bun. Sebentar ya." Gadis itu berpamitan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
__ADS_1
"Le, sebentar ya, Bunda tinggal ke belakang dulu. Wi, ayo ikut sebentar mumpung kamu di sini aku mau ngomong," ucap Bu Ratih.
"Iya, Tante," jawab Ega.
"Bunda saja ya. Belajar manggil Bunda. Bentar lagi jadi anak Bunda juga kamu," kata Bu Ratih lagi.
"I-iya, Bunda," ucap Ega canggung.
"Ayo, Wi," ajak Bu Ratih pada adiknya.
"Ono opo toh, Mbak?"
(Ada apa sih, Mbak?)
Dua ibu-ibu itu memasuki ruangan lain di dalam rumah. Meninggalkan satu lelaki yang paling tampan di dalam rumah itu duduk sendirian di ruang tamu.
Cukup lama lelaki itu menunggu sang pujaan hati. Selagi menunggu ia sedari tadi juga tengah asik memainkan game online yang saat ini sedang digandrungi para kaum muda, khususnya lagi para lelaki.
Sedang serunya game yang ia mainkan, Zahra datang dan mengatakan jika dirinya siap untuk berangkat.
"Bentar ya. Nanggung nih," ucap Ega tanpa melihat Zahra yang berdiri di sampingnya.
Gadis itu mengambil tempat duduk di sofa dekat dengan lelaki itu. Mengintip dari samping apa yang membuat fokus lelaki di samping itu tak bisa teralihkan.
Zahra menghitung menit demi menit pada jam digital di ponselnya. Mulai dari saat lelaki itu bilang sebentar lagi.
"Lima menit," ucap Zahra yang dijawab hanya dengan deheman.
Sesekali Ega menggeram gara-gara permainan itu. Sesekali juga berteriak tidak jelas membuat Zahra yang duduk di sampingnya terkejut.
"Udah sepuluh menit. Aku gak jadi ikut," ucap gadis itu akhirnya.
"Ya sudah." Zahra beranjak dari tempat duduknya.
"Loh, mau ke mana?" tanya Ega sekilas melihat pergerakan gadisnya melangkah di depannya.
"Masuk," jawab Zahra sedikit dengan nada ketus.
"Dikit lagi, Yang. Habis itu berangkat."
"Dari tadi bilangnya gitu tapi gak selesai-selesai."
"Nanggung, Sayang. Udah mau menang ini. Lima menit lagi."
Ega sama sekali tak menghiraukan Zahra yang tengah kesal padanya. Kembali fokus pada game online-nya hingga tak menyadari jika Zahra meninggalkannya sendirian di ruang tamu.
Sampai permainannya selesai barulah lelaki itu menyadari kalau Zahra sudah tidak berada di sampingnya.
Lelaki itu mencoba menghubungi nomor ponsel Zahra. Tidak memungkinkan baginya untuk langsung masuk dan mencari Zahra di dalam.
Sayangnya, gadis itu menolak panggilannya. Membuat lelaki itu frustasi dibuatnya. Berkali-kali ia terus menghubungi kekasihnya.
Sepertinya gadis itu merajuk karena merasa diabaikan. Hanya karena game dirinya tak dihiraukan sama sekali. Menunggui lelaki itu lebih dari sepuluh menit.
"Lho? Kalian belum berangkat? Papamu landing jam berapa, Ga?
"Anu, Tante. Zahra masih di dalam," ucap Ega menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Lho? Masih belum keluar juga dari tadi? Ya Allah. Itu anak ngapain aja di dalam?" gerutu sang Bu Ratih.
"Sebentar, Bunda panggilkan dulu."
Kembali sang bunda masuk ke dalam. Memanggil anak sulungnya dengan mengomel. Ega jadi semakin merasa tidak enak, lantaran salahnya sendiri, tetapi justru Zahra yang kena omelan Bu Ratih.
Dengan wajah bete, Zahra kembali menemui Ega yang masih duduk di tempatnya semula. Buru-buru lelaki itu berdiri dan menghampirinya.
"Ayo," ajaknya.
"Hm."
"Tante, berangkat dulu," pamitnya pada calon ibu mertua.
"Tante lagi, Bunda!" Bu Ratih mengingatkan.
"Hehehe. Nanti dibiasain manggil Bunda," jawab Ega setelah menyalami tangan beliau.
"Jalan dulu, Bun. Assalamualaikum," pamit Zahra juga mencium tangan bundanya.
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan," pesan sang bunda.
Ega membukakan pintu mobil untuk Zahra. Ia masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan apapun, bahkan memandang wajah lelaki itu pun tidak.
Membuat lelaki itu merasa gusar. Baru beberapa hari ini gadisnya mulai banyak bicara. Sekarang kembali lagi pada mode es batu, dingin. Begitu kata Ega.
"Sayang, maaf," ucap Ega begitu ia masuk mobil juga.
"Udah siang. Jalan aja. Kasian papa kamu nanti nunggu lama," jawabnya mengabaikan permintaan maaf Ega.
"Papa masih nanti jam sebelas landing. Tadi tuh kamu lama, Sayang jadi aku main gemol, maafin ya," bujuk Ega.
"Oh. Gemol namanya. Pantesan betah," jawab Zahra makin ketus dan sewot.
"Astaga. Gemol itu game online, Sayang. Kamu cemburu sama game?"
"Dih! Ngapain? Ya kamu aja coba nungguin aku sambil diem gak ngapa-ngapain."
"Iya-iya, Sayang maaf."
Sepanjang perjalanan menuju bandara Abd. Rahman Saleh suasana mobil terasa mencekam bagi Ega. Ia terus mencoba membujuk gadisnya dan meminta maaf.
Gadis itu lebih memilih diam tanpa menjawabnya. Berpura-pura tidak mendengar dan melihat jalan dari kaca lebih menyenangkan baginya.
Biarlah ia mendiamkan lelaki di sampingnya itu. Beberapa saat setidaknya sebelum mereka bertemu Papa Ega.
****
Entah.. tetiba aku inget ada yang bilang *gemol* waktu dia main game. 😅😅😅
Aku juga gak ngeh, apaan tuh gemol. Ku kira malah makanan ..🙄🙄🙄🙄
gataunya ternyata game online 🧐🧐
terima kasih udah membaca karya remahan akuh 🥰🥰😘😘😘
salam sayang
__ADS_1
kiki rizki 🥰🥰🥰