Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
93. Can't Hear


__ADS_3

"Bunda," panggil Zahra yang tengah duduk bersandar di ranjang rumah sakit.


"Ya, Sayang?" ucap Bu Ratih mendekat.


"Bunda, suara Bunda nggak kedengeran di telinga kiri aku," ucap gadis itu dengan berkaca-kaca.


"Tenanglah, Nak. Kamu masih bisa mendengar dengan telinga kananmu kan, Nak?"


"Suara Bunda terdengar pelan dan jauh."


"Jangan menangis, Nak. Sebentar lagi kamu akan sembuh. Sabar ya Sanyang." Bu Ratih membawa anaknya dalam pelukannya. Ia tak sanggup membendung kesedihannya dan ikut menangis bersama dengan anak sulungnya.


Dokter yang akan melakukan pemeriksaan telah datang. Dokter itu masuk mendekati mereka dan meminta ijin untuk melakukan permeriksaan.Ia menanyakan keluhan apa yang dirasakan oleh gadis itu.


"Dokter, saya sering tiba-tiba merasa pusing dan telinga saya sangat sakit. Dan saya merasa telinga kiri saya tidak dapat mendengar apapun. Udah saya coba menutup bagian telinga kanan saya, dan memang seperti tidak ada suara yang saya dengar di bagian kiri."


"Baik. Apa suara yang ditangkap telinga bagian kanan masih jelas?"


"Suaranya terdengar kecil dan jauh. Setiap suara yang DOkter ucapkan terasa seperti sangat jauh dan sangat pelan."


"Apa saya bisa mendengar dengan jelas lagi, Dokter?"


"Kami akan melakukan yang terbaik untukmu. Jangan berhenti berdoa dan meminta pada Tuhan untuk kesembuhanmu.'


"Terima kasih, Dok."


"Baik, selamat sore, istirahat yang cukup ya. Bersemangatlah untuk sembuh." Dokter paruh baya itu bergegas melanjutkan pekerjaannya mengunjungi pasien yang lainnya.


*******


Dua hari sudah Zahra di rawat di rumah sakit, Namun, tak ada kemajuan yang berarti yang dialaminya. Setiap saat ia mengeluh tak mendengar suara apapun. Bahkan ia merasa telinga kanannya juga mulai bermasalah.


Sepanjang hari gadis itu selalu menangis tak henti-hentinya. Sang bunda dan adiknya yang menemani tak tega melihatnya seperti kehilangan semangat untuk sembuh.


Sang ayah yang dinas di luar kota tak dapat segera pulang karena banyak pekerjaan dan janji dengan klien-klien di sana. Tunangannya juga sedari kemarin tidak datang menjenguk. Membuat gadis itu makin kecewa dan berpikiran yang buruk.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang di balik pintu, Muncullah seorang lelaki yang beberapa waktu lalu selalu mendatangi Zahra ke rumahnya.


"Waalaikumsalam, Kak Rey?" balas Efelin.


"Silahkan masuk, Kak. Kak Rey ke sini jenguk nyari aku?" tanya Efelin bersemangat.


"Em, itu, aku ke sini jenguk kakak kamu, Dek," jawab lelaki itu yang mematahkan hati gadis kecil itu untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Oh. Dia udah sehat kok. Kenapa Kak Rey repot-repot jenguk kakak aku segala. Dan lagi, dari mana Kak Rey tahu Mbak Zahra di sini?"


"Dari anak-anak komplek kamu.. Aku ada beberapa teman di sana."


"Oh.:


"Siang, Tante, siang, Ra," sapa Rey dengan menyalami tangan Bu Ratih dan memberikan paresel yang ada di tangannya.


"Nak Rey, nggak perlu repot-repot begini. Tante senang ada teman Zahra yang datang menjenguk."


"Tidak seberapa, Tante. Bagaimana keadaan ZAhra? Sudah lebih baik?" tanya lelaki itu,


"Hai, Ra. Gimana, sudah baikan?" tanya Rey langsung pada Zahra.


Gadis itu terdiam memandang wajah lelaki yang ada di hadapannya. Matanya berkaca-kaca, tetapi tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Ra? Ada yang sakit? Kenapa menangis?" tanya Rey khawatir. Begitu juga bu Ratiih yang segera mendekat dan menghampiri anak gadisnya.


"Kenapa, Nak? Apanya yang sakit?" tanyannya terlihat sangat cemas.


"Bunda, aku gak dengar apa-apa," ucap gadis itu menangis sesenggukan.


"Efelin yang sedari tadi memperhatikan sang kakak walau dengan perasaan yang campur aduk segera mendekat dan menekan tombol daurat. Tak berselang lama, seorang dokter datang menghampiri.


"Dokter! Anak saya mengeluh tidak mendengar apapun. Tolong, Dokter! Tolong!"


"Saya akan periksa terlebih dahulu," jawab dokter itu tenang.


Bu Ratih dan Rey sedikit mundur memberikan ruang pada dokter untuk memeriksa keadaan Zahra. Dokter itu menyalakan senter kecil menuju ke arah telinga bagian kiri gasi itu.


"Sakit?" tanyanya saat merasaan Zahra gelisah.


"Di dalam telinganya ada cairan, Kita harus mengeluarkan ciran itu dan melakukan tes laboraturium. Dikhawatirkan cairan tersebut menyebabkan infeski bagian yang terluka. Dan secepatnya dilakukan tes audiometri untuk mengetahui kepekaan pendengaran pasien," ucap dokter menjelaskan.


"Lakukan yang terbaik, Dok. Berapapun biayanya saya akan bayar!" ucap Bu Ratih dengan nada tinggi.


"Bunda, sabar ya, Bun. Mbak Zahra pasti sembuh," bisik Efelin memeluk sang bunda.


Dokter itu keluar sebentar untuk memanggil suster yang akan membantunya melakukan pemeriksaan. Selang beberapa menit ia kembali dengan membawa alat-alat yang dibutuhkan dan didampingi dua orang perawat. Mereka segera melakukan pemeriksaan dengan telti dan serius.


Hingga beberapa puluh menit kemudian salah satu perawat menyimpan kantong berisi cairan yang dikeluarka dari telinga bagian kiri Zahra. Sekarang gadis itu terlihat lemas dan berbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Kami akan malakukan tes lab, kemungkinan hasilnya segera keluar paling cepat besok pagi. Mohon bersabar menunggu hasilnya."

__ADS_1


"Terimakasih,Dok," ucap Bu Ratih.


Setelah dokter dan perawat pergi meninggalkan ruangan, Rey berpamitan untuk pulang pada mereka semua. Efelin meminta ijin pada sang bunda untuk mengantarkan Rey ke depan.


"Makasih ya, Kak," ucap Efelin memulai berbasa-basi.


"Sama-sama. Sebaiknya kamu kembali ke dalam. Aku akan ke luar sendiri tak apa."


"Aku akan antar sampai halaman."


"Baiklah."


"Apa Kakak nggak kerja hari ini?" tanya Efelin mencari obrolan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Rey.


"Kerjaku santai, bisa ku kerjakan di mana saja," jawab Rey.


"Kalau boleh tahu kakak kerja apa?"


"Desainer freelance."


"Wow, Kakak bisa bikin desain-desain kayak di baju, stiker, gitu dong."


"Yaaa, semacam itulah."


"Aku mau dong dibuatkan desain wajah aku terus di cetak di pigura git, Bisa kan kak?"


"Bisa. Kamu main ke rumah nanti aku ajarin kamu bikin desain."


"Kakak serius?" tany Efelin tak percaya.


"Ya." Rey berhenti diikuti oleh gadis kecil yang terlihat berseri-seri. Lelaki itu tersenyum dan mengacak ujung kepala teman dari adiknya.


"Sampai sini saja. Segera kembali. Kakak dan bundamu pasti sedang menunggu."


"Iya, Kak, Kakak hati-hati di jalan."


Dengan hati gembira dan tersenyum sepanjang lorong rumah sakit Efelin berjalan dengan sesekali bersorak kecil. Meluapkan kegembiraannya mendapat perhatia yang tak pernah ia duga sebelumnya. Ia tak menyangka bisa mengobrol dengan Kak Reynya sekrab itu, Ini baru pertama kalinya.


***********


Halo readres... selamat bermalam minggu. Di sini aku mau mau minta maap sebelumnya kalau dalam cerita ini mungkin ada kalimat atau narasi yang kurang tepat dalam menggambarkan keadaan Zahra.


Cerita ini murni aku baca artikel - artikel di internet tentang kondisi yang dialami Zahra. Jadi aku mohon maaf banget kalau kalaian menemukan kalimat-kalimat yang kurang tepat.

__ADS_1


Terima kasih banyak buat yang selalu mendukung dan memberikan like vote dan komen di cerita Zahra. I love you semuanya.


__ADS_2