Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
90. Gosip


__ADS_3

Malam ini, pertemuan panitia khusus lomba diadakan di rumah Zahra. Selepas isya tadi sudah ada beberapa orang yang datang.


Sebagai tuan rumah yang baik Zahra menyambut mereka dengan baik. Menyalami Setiap orang yang datang dan menyuguhkan camilan untuk mereka yang datang.


Hal itu tak luput dari netizen-netizen yang ikut datang dan menyebarkan gosip yang beberapa waktu ini sangat menggangu hari-hari gadis itu.


Mereka tak lain adalah para remaja yang masih bersekolah dan hobinya menilai orang yang tidak mereka sukai. Mereka terlihat duduk berkelompok di salah satu sudut rumah Zahra. Memperhatikan setiap tingkah yang dilakukan oleh gadis itu.


"Mas Adam ambe mas Iqbal gurung ketok ya?" tanya salah satu gadis di sudut itu.


(Mas Adam dan mas Iqbal belum kelihatan ya?)


"Ndek ngarep ikumau aku ketok Mas Adam ambe tuan rumah. Aku sempet salaman sedurung e melbu rene," jawab salah seorang yang baru saja ikut duduk di sana.


(Di depan barusan aku lihat Mas Adam sama tuan rumah. Aku sempet bersalaman sebelum masuk kemari.)


"Tenan a Mas Adam mbe Mas Iqbal podo nyedek i arek iku?"


(Apa benar Mas Adam dan Mas Iqbal lagi deketin anak itu)


"Arek iku sopo?"


(Anak itu siapa?)


"Yo iku, sing due omah iki. Sopo iku, Sarah a?"


(Ya itu, yang punya rumah ini. Siapa itu, Sarah bukan?)


"Sarah sopo maneh? Zahra a maksudmu, La?"


(Sarah siapa lagi? Zahra bukan maksud kamu, La?)


"Lah, iyo iku maksudku. Jeneng e angel temen. Tak delok arek e yo biasa ae. Sok-sokan macak kalem."


(Lah, iya itu maksudku. Namanya susah sekali. Aku lihat dia ya biasa aja. Sok-sokan bertingkah kalem.)


"Iyo. Opo coba sing garai arek loro iku kecantol nang arek sok polos ngunuiku. Sepisan teko nang rapat ae moro langsung dipepet arek-arek. Gak mek Mas Adam mbe Mas Iqbal."


(Iya. Apa coba yang membuat mereka berdua itu kecantol sama anak sok polos kayak gitu. Sekali datang ke rapat aja langsung dipepet anak-anak. Gak cums Mas Adam sama Mas Iqbal.)


"Iyo a? Mosok e?"


(Iya kah? Masak sih)

__ADS_1


"Lho, awakmu iki gak moco grup a? Ndek grup lak rame lek arek iku komen sepisan ngunu lak akeh sing nanggepi. Aku takon masalah lomba ora ono sing nanggepi. Lak siyalan a."


(Lho, kamu ini gak baca grup kah? Di grup kan ramai kalau dia komen sekali saja kan banyak yang nanggepin. Aku tanya masalah lomba gak ada yang nanggepin. Kan siyalan memang.)


Obrolan bisik-bisik itu masih tetap berlanjut hingga salah seorang pemuda menginterupsi dan memulai acara.


*******


Acara pemantapan tugas panitia yang dilakukan di rumah Zahra telah selesai. Masih ada beberapa orang yang belum beranjak dari tempat itu. Mereka tak lain adalah para pengurus inti termasuk Zahra karena kebetulan ia sebagai tuan rumah.


"Kita ngobrol santai aja ya. Ini khusus buat pengurus inti aja. Aku setuju sama usulan Zahra soal penanggung jawab untuk acara pentas seni seharusnya memang ada penanggung jawab khususnya," ucap Adam memulai obrolan dalam lingkungan kecil beranggotakan enam orang itu.


"Gini aja. Pentas kan masih akhir bulan. Sorry aku usul lagi ya, gimana kalau kalian cari orang yang sekiranya bener-bener kalian percaya buat kalian bentuk lagi jadi pengurus pensi. Nanti setelah kegiatan lomba selesai. Seluruh panitia kita oper tugasnya dengan sie yang sama untuk membantu penanggung jawab pensi. Bagaimana?" usul Zahra.


"Masuk juga sih idenya. Kenapa nggak kamu aja yang jadi ketuanya. Kamu lebih paham masalah organisasi kayaknya ya?" timpal Lisa, sekretaris dari karang taruna itu.


Zahra tersenyum pada Lisa yang tepat di hadapannya dan menjawab, "Jangan aku. Aku masih baru di sini. Aku nggak enak sama yang lain juga. Mending aku bantu kalian sebisaku aja. Untuk jadi pengurus masih harus kalian pikirkan lagi."


"Kenapa gak dari dulu sih Mbak gabung di komunitas?" tanya Iqbal.


"Jujur aku sulit untuk bersosialisasi. Aku susah nyaman dengan orang lain. Apalagi gosip tentang aku sungguh jelek, itu membuatku minder," tutur Zahra pada mereka.


"Kalau sama kita santai aja, Mbak. Kita mah woles. Emang anak-anak sini pada gitu tabiatnya. Jangan masukin hati. Sama kita kamu nyaman kan, Mbak?" tanya Lisa.


Suara mobil berhenti di depan rumah Zahra membuat mereka yang tengah asik mengobrol menghentikan sejenak kegiatannya.


"Assalamualaikum," ucap seseorang yang baru saja turun dari mobil sedan hitam yang berhenti di halaman rumah. Semua orang yang berada di dalam rumah menjawab salam itu dengan serentak.


"Loh, kok kamu ke sini?" tanya Zahra mendapati tunangannya berjalan menyalami beberapa orang yang ada di situ.


"Aku telepon kamu gak diangkat-angkat sampai ratusan kali. Ya udah aku ke sini aja," jawab lelaki itu.


Zahra menerima uluran tangan Ega dan mencium tangan lelaki itu seperti yang biasa ia lakukan.


"Iya masih ada rapat tadi, hpnya di kamar. Masuk dulu atau mau gabung di sini?" ucap gadis itu.


"Gabung sini aja gapapa. Biar kenal sama temen-temen kamu juga."


"Kenalin, aku Ega, calonnya Zahra," ucap lelaki berkumis tipis itu memperkenalkan dirinya.


Tampak jelas wajah kecewa dari beberapa lelaki yang ada di sana. Hal itu tak luput dari pandangan Ega.


"Ya udah, Mbak. Kita lanjutkan di grup aja. Nanti aku buat grup khusus pengurus kayak yang Mbak Zahra saranin," ucap Adam.

__ADS_1


"Kita balik dulu ya, Mbak," pamit mereka.


Tanpa dikomando, satu persatu mereka berpamitan pulang pada tuan rumah dan mengucapkan terimakasih atas banyak saran yang diberikan serta tempat yang telah disediakan.


"Aku beres-beres dulu ya," pamit Zahra.


Ia lalu mengamambili beberapa bekas gelas minuman yang tercecer di karpet, menumpuk piring-piring kotor dan membawanya ke dapur.


Tanpa diminta lelaki itu membantu membersihkan karpet dan melihatnya. Saat Zahra kembali ia mendapati tunanngannya tengah sibuk melipat karpet yang lumayan lebar itu. Ia tersenyum senang melihat hal itu.


"Makasih, Mas," ucap Zahra.


Lelaki itu tersenyum dan mengangguk. Melanjutkan kegiatannya yang tinggal sedikit lagi selesai.


Mereka berdua duduk di ruang tamu dengan Zahra yang menselonjorkan kakinya di sofa panjang. Menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Ega.


"Kayaknya acaranya bakal gede nih?" tanya Ega.


"Lumayan. Besok mulai ada lomba untuk anak-anak. Dari pagi sampai malem kayaknya. Dan sepertinya aku balapan sibuk."


"Mau aku bantu?" tawar lelaki itu dengan mendekap gadisnya. Mengarahkan wajah gadis itu agar menghadapnya.


"Hem. Boleh. Kamu nginep sini ya?"


"Iyalah. Capek tahu mau balik ke Malang. Ini aja udah jam sebelas malem. Tega kamu nyuruh aku pulang?"


"Ya kalau bunda nyuruh kamu pulang gimana?"


"Ya gak mungkin itu. Aku udah bilang bunda kalau mau nginep."


"Ih ngeselin. Istirahat ayok. Aku capek."


"Tidur di kamarmu ya?" Ega memainkan alisnya.


"Boleh. Kebetulan Efel nginep di rumah temennya. Jadi aku bisa tidur di kamar Efel."


"Ish. Kirain mau tidur berdua sama aku," ucap Ega dengan mimik kesal.


"Belum sah, Mas. Gak boleh."


"Kamu diajak nikah masih aja gak mau. Gimana mau sah, Sayang," keluh Ega memelas.


"Sabar, Sayang," ucap Zahra dan sedikit mengecup dagu lelaki itu. Setelah itu ia buru-buru kabur dari pelukan lelaki itu sebelum lelaki itu meminta lebih dari itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2