Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
70. Nomor Tidak Dikenal


__ADS_3

Suasana tegang di rumah Rio benar-benar terlihat jelas. Dua orang gadis duduk berdampingan dan salah salah satunya masih terlihat jelas sisa-sisa air matanya. Rasa takut masih tergambar jelas di wajahnya.


Gadis satunya lagi memeluk gadis di sebelahnya, dengan perasaan bersalah yang amat besar, membuat gadis itu terdiam pasrah. Siap menerima amukan dari saudaranya.


"Kenapa kalian pergi sendirian?" tanya Rio mengusap wajahnya kasar.


"Maaf, aku yang ngajak mereka," jawab Zahra mengakui kesalahannya.


"Apa susahnya sih, Mbak, buat ngomong sama aku atau Ega? Kita bisa nganter kalian ke manapun kalian mau! Jagain kalian!"


"Kalau ada apa-apa kayak tadi gimana? Mbak gak inget setelah dari mall, kamu diculik orang? Tolong jangan egois dong, Mbak! Kita semua khawatir sama keselamatan kamu dan Zakia," ucap Rio menumpahkan kekesalannya.


"Bukan salah Mbak Zahra sepenuhnya, Rio. Aku juga bersalah," ucap Zakia kembali terisak.


"Kalau misalnya tadi aku gak dateng, gak bisa bayangin aku gimana tadi kalau aku gak tepat waktu datangnya." Rio menghela napas kasar.


Melihat dua orang tersayangnya terdiam takut di hadapannya juga membuatnya tidak tega. Di sisi lain ia hanya ingin mengingatkan mereka berdua.


"Aku harap kalian gak mengulangi kesalahan kalian lagi. Aku nggak akan bilang ke mama atau Tante Ratih. Tapi Ega udah tahu. Tunggu dia pulang," kata Rio.


Lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah luar. Meninggalkan dua orang tersayangnya di ruang tamu. Zakia berdiri dan berjalan mengikutinya. Dilihatnya Rio telah duduk di atas motor sport-nya.


"Mau ke mana?" tanya Zakia.


"Bengkel," jawab Rio dingin.


"Jangan pergi," ucap Zakia lirih, kristal-kristal bening mulai menumpuk di pelupuk matanya.


Akhirnya lelaki itu tidak jadi melajukan motornya. Ia turun dan menghampiri Zakia yang menangis.


"Maaf," lirih Rio membawa gadis itu dalam pelukannya.


"Maafin aku, Rio," ucap Zakia lirih.


"Sudah. Jangan diulangi lagi, aku gak mau kamu kenapa-napa."


Mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah. Zahra masih terlihat duduk di ruang tamu. Gadis itu bersandar pada punggung sofa dan memejamkan matanya.


"Istirahat di kamar sana, Mbak," ucap Rio yang membuatnya sedikit terkejut.


"Ehm? Iya," jawabnya.


"Ajak Mbak Zahra istirahat di kamar, Yang," pintanya pada Zakia.


"Nanti kamu pergi kalau aku tinggal masuk?" ucap Zakia setengah bertanya.


"Enggak. Aku di rumah."


"Janji?"

__ADS_1


"Iya, janji. Apa aku temani kamu istirahat di kamar? Biar kamu percaya?" tawar Rio.


"Nggak! Aku percaya. Janji ya jangan ditinggal."


"Iya, Sayang," ucap Rio sambil mencium pucuk kepala Zakia.


*****


Setelah makan malam, Zakia berpamitan pada Rio dan mamanya untuk istirahat. Ternyata Rio menepati janjinya untuk tidak memberitahukan kejadian tadi siang pada sang mama.


Zakia masuk kamar dan mengecek ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Terdapat banyak sekali panggilan masuk dan pesan dari nomor tidak di kenal.


Karena penasaran ia membuka pesan WA dan menemukan beberapa nomor baru di sana. Dan beberapa pesan diantaranya berupa ancaman.


+6281x xxxx xxxx


JAUHI HAIKAL!!


JAUHI HAIKAL****!!


INGAT BAIK-BAIK ATAU KAMU BAKAL MENDERITA!!!


Dan masih banyak lagi pesan-pesan yang berisi ancaman.


Zakia bingung, ia merasa tak mengenal Haikal. Namun ingatannya kembali pada beberapa hari lalu saat keluarga Alena dan laki-laki yang telah menodainya datang ke rumah ini.


Kembali ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Dari nomor tak dikenal tetapi beda dengan nomor yang tadi. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung saja mengangkatnya.


"Halo," sapanya.


"Akhirnya, halo. Zakia?" ucap penelepon di seberang sana.


"Iya."


"Sorry. Ini aku Haikal. Masih ingat?"


"Kamu!"


"Please, jangan dimatikan dulu. Tolong dengarkan penjelasan aku, aku mohon. Jujur aku benar menyesal atas kejadian itu. Aku juga tertipu oleh Alena. Tolong beri aku kesempatan menjelaskan," pinta si penelepon.


Zakia diam tak menjawab. Ingatannya kembali pada saat ia bertemu dengan laki-laki itu.


"Alena bilang, kamu udah biasa main gituan. Dan dia nyuruh aku ngasih minuman itu ke kamu karena dia bilang kamu suka yang panas-panas. Kamu paham kan maksudku? Yah, dari situ aku tertarik buat coba sama kamu."


Zakia membekap mulutnya sendiri agar tak mengeluarkan suara isakannya. Ia tak menyangka Alena sejahat itu.


"Saat aku mendekatimu, aku makin tertarik karena kamu jual mahal. Jujur, aku tidak menyangka kamu masih virgin. Saat aku tahu, aku benar-benar menyesal. Aku siap bertanggung jawab atas kesalahanku."


Si penelepon memberi jeda pada ceritanya. Di seberang sana ia mendengar isakan kecil dari Zakia.

__ADS_1


"Tolong, beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab. Aku bukan cowok b*jing*an yang tega merusak perempuan. Memang aku juga bukan cowok baik-baik. Aku pernah beberapa kali main dengan cewek, itupun mereka yang sudah tidak virgin lagi," lanjut laki-laki itu.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Zakia buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia mengusap sisa-sisa air mata yang berlinangan di pipinya.


Dibukanya pintu kamar yang ia tempati, terlihat Mama Rossa berada di depan pintu.


"Oh, ada apa, Ma?" tanya Zakia dengan suara yang sedikit serak.


"Sayang? Kamu nangis?" tanya Mama Rossa khawatir.


"Enggak, Ma," jawabnya.


"Kia, kalau mau cerita gak papa cerita sama Mama, jangan disimpan sendiri, Nak."


"Iya, Ma. Mama tadi mau ngapain?" jawab Zakia mengalihkan perhatian calon mama mertuanya.


"Oh iya. Lupa Mama jadinya mau ngomong apa. Ya sudah, kamu istirahat saja. Jangan terlalu banyak pikiran ya."


"Iya, Ma."


Zakia kembali menutup pintu setelah Mama Rossa meninggalkan kamarnya. Gadis itu kembali melihat ponselnya dan mendapati banyak panggilan masuk dan banyak pesan.


Dibiarkannya ponsel itu tanpa melihat isi pesannya. Ingatannya kembali terngiang pada kejadian itu.


Kalau saja ia tak termakan bujuk rayu Raka dan Devan, pastilah ia tidak akan mengalami kejadian mengerikan yang merenggut mahkotanya.


Kembali ponselnya berbunyi, ia sedikit mengintip panggilan yang masuk, kembali ia menemukan nomor tak dikenal menghubunginya.


Namun, nomor itu berbeda dengan dua nomor sebelumnya. Rasa penasarannya muncul saat nomor itu kembali melakukan panggilan.


Gadis itu mulai bimbang dengan pikirannya. Antara ingin menerima atau membiarkannya.


Sekali lagi ponselnya kembali berdering, akhirnya dengan rasa kesal dan penasaran yang bercokol di pikirannya ia memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo," ucap gadis itu sedikit takut.


"Besar juga nyalimu mengangkat panggilanku," ucap orang di seberang sana. Suaranya terdengar seperti dibuat-buat menyeramkan.


"Apa maksudmu?"


"Jauhi Rio dan keluarganya, atau keluargamu yang akan mendapatkan masalah!"


Sambungan telepon langsung terputus begitu orang itu menyelesaikan kalimatnya.


"Halo!" seru Zakia.


Ia mencoba menghubungi kembali nomor itu, tapi sayangnya sudah tidak aktif.

__ADS_1


__ADS_2