Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
28. Beraksi


__ADS_3

Dari kejauhan seseorang yang misterius tengah memperhatikan gadis yang sedang asik memilih belanjaan di salah satu super market. Gadis itu tak menyadari dirinya tengah di ikuti.


Saat dirasa aman, lelaki misterius itu perlahan mendekati Zahra. Memperhatikan gadis itu lebih dekat dengan alibi memilih-milih belanjaan seperti orang berbelanja pada umumnya.


''Pantesan arek gendeng iku nguber-guber Zahra. Lah arek e tambah sip ae. Masio aku yo gelem ambe arek iki," batin lelaki itu.


(Pantas saja orang gila itu mengejar-ngejar Zahra. Gadis itu tambah cantik seperti ini. Aku juga mau lah dengannya.)


Zahra membawa semua belanjaannya ke kasir. Ia mengantri untuk membayar belanjaannya. Lelaki itu pun mengikuti targetnya. Berdiri tepat di belakang gadis itu. Dengan tetap mengawasi gerak geriknya.


Setelah membayar semua belanjaannya, Zahra membawa beberapa plastik besar untuk belanjaannya. Di belakangnya, lelaki itu mengikutinya dengan mengambil jarak aman yang sekiranya gadis itu tidak melihatnya.


Ponsel di tas Zahra berbunyi, membuatnya harus berhenti untuk mengambil benda pipih itu. Ia menepi di dekat toko yang sedang tutup, lalu mengambil ponselnya.


Di lihatnya riwayat panggilan dari Ega yang barusan meneleponnya. Segera gadis itu mengubungi kembali pria yang telah mencuri hatinya itu.


"Halo, kenapa, Ga?" tanya Zahra begitu nada sambung berganti suara Ega.


"Lagi di mana? Aku ke bengkel kok kamu ngga ada?"


"Oh. Aku tadi pamit sama Rio mau belanja bulanan, mumpung bengkel ngga begitu rame."


"Belanja di mana? Aku jemput ya?"


"Ngga usah, Ga. Aku bawa mobil kok. Kamu emang ga ada kerjaan gitu kok bisa keluyuran?"


"Aku kangen kamu."


Gadis itu tersenyum malu-malu mendengar ucapan lawan bicaranya. Pipi putihnya pun memerah tanpa disadarinya.


"Ih, gombal. Padahal juga hampir tiap hari ketemu," jawab Zahra.


"Aku serius. Mana bisa aku gombal-gombal gitu. Ya udah kamu hati-hati di jalan. Aku mau balik ke kantor kalo gitu," pamit lelaki di seberang sana.


Setelah panggilan terputus, Senyum di bibir Zahra masih tetap terukir. Ia mengambil barang belanjaannya dan membawanya ke basemen tempat ia memarkirkan mobilnya.


Lelaki yang sedari tadi mengikuti Zahra berjalan cepat dan sengaja menabrak gadis itu hingga ia terhuyung dan nyaris terjatuh. Hampir semua belanjannya tercecer kemana-mana.


"Aduh! Kalau jalan hati-hati dong!" seru Zahra dengan memunguti belanjaannya yang berceceran.


"Maaf mbak, tidak sengaja," ucap lelaki itu dan ikut berjongkok membantu Zahra memunguti belanjaannya.


"Tidak perlu! Aku bisa sendiri," ujar Zahra ketus.

__ADS_1


"Seperti pernah tahu," kata lelaki itu pura-pura dengan memperhatikan wajah Zahra.


"Kamu Zahra?" lanjut lelaki itu tetap berpura-pura.


Zahra memperhatikan lelaki yang ada di sampingnya itu. Lelaki itu membuka topinya. Memperlihatkan wajahnya.


"Brian bukan?" tanya Zahra memastikan.


"Iya. Kamu ingat aku?" tanya Brian balik.


"Kamu temen SMK aku kan?" Zahra memastikan.


"Iya. Sorry ya. Aku gak sengaja nabrak kamu," ujar lelaki itu.


Mereka berdua berdiri setelah semua barang-barang Zahra kembali masuk ke dalam kantong.


"Gimana kabarnya? Udah lama kayaknya kita ngga ketemu," kata Brian basa-basi.


"Baik," jawab Zahra seadanya.


"Ngobrol-ngobrol di kafe itu dulu mau ngga? Mumpung kita ketemu," tawar Brian menunjuk salah satu kafe yang ada di dekatnya.


"Ehm. Gimana ya. Aku harus balik kerja," tolak Zahra halus.


"Bentar aja mumpung kita ketemu. Gimana?" Brian sedikit memaksa.


Merek berdua berjalan menuju salah satu kafe yang ada di sana. Mereka memilih tempat duduk di dekat kaca besar yang memperlihatkan pemandangan jalanan kota Malang dan perkampungan yang ada di dekat pusat perbelanjaan itu.


Salah satu karyawan kafe menghampiri mereka membawa buku menu. Zahra memesan jus alpukat untuk dirinya, sedangkan Brian memesan expresso dingin.


"Aku denger Ega udah balik ke sini ya," ucap Brian memulai obrolan sambil menunggu pesanan mereka.


"Iya."


"Gimana kabar dia. Aku belum sempat bertemu dengannya. Jahat sekali dia ngga menemuiku."


"Dia baik kok."


"Gimana hubungan kalian? Tetap seperti dulu?" Zahra mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu dari dulu ga berubah ya, Ra. Tetep aja minim jawab kalo ditanyain."


"Aku harus gimana?" tanya Zahra bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Ya apa kek, Tanya apa gitu. Jangan kaku kaya gitu. Aku ga bakal makan kamu kok."


Tapi aku akan membawamu pergi dari Ega. batin Brian dengan menyeringai.


Zahra mendadak takut melihat seringaian itu.


Seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Membuat obrolan yang monoton itu berhenti. Zahra yang gugup segera meminum jus yang ada di hadapannya. Mengaduk-aduk isi gelas itu dengan sedotan.


Brian terdiam memperhatikan gelagat Zahra yang terlihat gelisah.


"Kamu kenapa? Kaya gelisah gitu?" pancing Brian.


"Engga papa. Aku ke toilet dulu, ya. Nitip belanjaan," Zahra berdiri membawa tas selempangnya berjalan menuju toilet yang ada di ujung kafe.


Kesempatan itu digunakan Brian untuk memasukkan sesuatu ke dalam minuman Zahra. Diaduk-aduk minuman itu agar tercampur dengan sesuatu yang ia masukkan tadi.


Tak berapa lama, Zahra kembali dan duduk di Hadapan Brian.


"Yan. Aku balik dulu ya," pamit Zahra. Ia sudah benar-benar tak nyaman dengan hanya berdua saja dengan Brian.


"Kenapa keburu-buru? Habiskan dulu lah minumannya," kata Brian berharap Zahra meminumnya.


Tanpa rasa curiga Zahra meminum jusnya yang masih banyak itu. Brian tersenyum penuh kemenangan melihat Zahra hampir menghabiskannya.


Perlahan Brian juga meminum minuman miliknya. Membiarkan Zahra menghabiskan jus yang telah ia campur dengan obat tidur dosis tinggi.


"Ya udah, ayo aku antar balik," lelaki itu menawarkan diri.


"Ngga perlu, Yan. Aku bawa mobil," tolak Zahra.


"Oh. Oke. Kalau gitu aku temenin sampai bawah. Kita pisah di bawah aja," lelaki itu berjalan di sisi Zahra.


Belum sampai di basemen Zahra sudah berjalan sempoyongan. Dengan sigap Brian memegang pundak Zahra, Berpura-pura terkejut melihat Zahra yang hampir pingsan.


"Kamu kenapa? Ayo lebih baik aku antarkan. Kunci mobilmu mana?"


"Tas." jawab Zahra lemah.


Brian segera membimbing Zahra mendekati mobilnya. Mengambil kunci mobil yang ada di dalam tas Zahra.


Ia segera memasukkan tubuh Zahra yang sudah lemas ke dalam. Memasangkan sabuk pengaman. Ia berputar mengitari mobil itu dan duduk di kursi kemudi.


"Hahaha. Tibak e segampang iki nggowo awakmu. Lumayan aku oleh duek akeh," kata Brian dengan tertawa mengejek melihat Zahra yang tak berdaya di sampingnya.

__ADS_1


(Hahaha. Ternyata semudah ini membawamu. Lumayan aku dapat uang banyak karenamu.)


Lelaki itu mengemudikan mobil Zahra dengan kecepatan kencang menuju arah timur kota Malang. Di tengah perjalanan ia menepikan mobil yang dikendarainya. Ia mengambil ponsel gadis di sampingnya. Mengambil kartu chip-nya dan membuangnya. Lalu ia kembali melajukan mobil itu.


__ADS_2