Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
26. Pulang


__ADS_3

Pencet jempol dulu ya sebelum baca.. tinggalin jejak yaa biar aku bisa feedback 🤗🤗


Selamat membaca...


****


Keluarga kecil Zahra hari ini terlihat lengkap menikmati makan malam mereka. Suasana seperti ini yang selalu mereka rindukan. Saling bertukar cerita, saling mendengarkan dan tertawa bersama.


Setelah makan malam Zahra dan Efelin membantu sang bunda membersihkan peralatan makan. Sedangkan ayah dan bunda mereka tengah bercengkrama di ruang tengah. Menunggu dua anak gadis mereka selesai beres-beres.


"Cie ayah bunda pacaran mulu nih dari tadi," goda Efelin melihat kedua orang tuanya duduk bersebelahan.


"Udah tua gini kok masih pacaran aja," lanjutnya.


Lalu gadis itu duduk di tengah ayah bundanya. Membuat dua orang paruh baya itu tertawa dengan sikap anak bungsunya.


Zahra sendiri memilih duduk di sebelah sang bunda. Ikut tersenyum menyaksikan tingkah adiknya.


"Dengerin nih Bunda mau ngomong. Pacaran itu lebih nikmat kalau udah nikah. Dan juga halal di mata agama. Jadi, anak-anak Bunda, sebaiknya jangan pacaran sebelum nikah. Berteman dengan laki-laki boleh. Tapi harus mengerti batasannya," tutur sang bunda.


"Mbak Zahra noh, Bun, pacaran tuh dia sama Kak Ega."


"Siapa juga yang pacaran," gerutu Zahra.


"Jangan bohong deh, Mbak. Aku tau ya kalian tuh pacaran," tuduh Efelin dengan senyum mengejek di bibirnya.


"Sudah-sudah. Kalian ini kapan bisa akur," ucap ayah melerai kedua anak gadisnya.


Ia merangkul pundak Efelin. Membuat gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu sang ayah.


"Emangnya kalau Mbakmu pacaran sama Ega kenapa, Fel?" tanya ayah.


"Ya berarti kan gak boleh, Yah. Nikahin aja udah. Biar Mbak juga ga galau-galau terus," jawab Efelin dengan memandang Zahra dan menampilkan senyum mengejek lagi.


Zahra yang malu dan gemas dengan ucapan adiknya berusaha membalas sang adik dengan memukulnya. Sang bunda yang ada di antara kedua anaknya itu tertawa dan memundurkan badannya karena Zahra membungkuk di depannya. Kedua gadis itu saling membalas membuat sang bunda kuwalahan karena terjepit.


"Sudah-sudah! Lihat Bunda kalian kejepit itu. Efel, jangan suka gangguin kakakmu, Nduk," ucap ayah kembali memegang pundak Efelin.


"Kalian itu ya, udah segede gini masih aja suka berantem. Gitu kok ngomongin nikah," ujar sang bunda geleng-geleng.


Keluarga kecil itu melanjutkan obrolan mereka. Menikmati kebersamaan dengan sang ayah. Menghabiskan waktu mereka hingga larut malam.


****


Malam itu, di ibu kota negara Indonesia. Lelaki yang dua minggu ini meninggalkan kota kelahirannya tengah bersiap untuk kembali ke kota asalnya. Ia tak sabar untuk menunggu besok pagi. Namun, sayang penerbangan menuju kota Malang hanya sampai jam delapan malam. Mau tak mau ia harus menunggu penerbangan besok pagi.

__ADS_1


Pagi ini Ega tengah menunggu jam keberangkatannya di terminal bandara Soekarno-Hatta. Tiga puluh menit menunggu, akhirnya sebentar lagi ia akan terbang kembali ke kotanya.


Kurang lebih hampir satu setengah jam ia mengudara. Tibalah ia di bandara Abdul Rahman Saleh kota Malang. Ia segera keluar dari bandara dan mencari taksi online untuk segera pulang.


Bukan rumah kontrakannya yang ia tuju, melainkan rumah Zahra. Ia sudah tak sabar ingin segera menemui gadis itu. Sampai di halaman rumah Zahra, Ia segera turun setelah membayar ongkos taksi.


Ia sedikit heran ada mobil selain mobil Zahra di halaman rumah itu, dan juga sepertinya bukan mobil Rio. Sedikit ragu ia melangkahkan kaki menuju rumah itu.


"Assalamualaikum," ucap Ega. Ia melihat ada laki-laki seumurannya duduk di ruang tamu membelakangi pintu.


"Waalaikumsalam," jawab lelaki itu menoleh ke belakangnya.


Ega langsung saja masuk rumah, sedikit mengangguk menyapa lelaki itu. Dari arah dalam ia melihat Zahra berjalan membawa nampan minuman. Gadis itu menghentikan langkahnya melihat Ega yang berdiri di ruang tamunya.


Ega yang melihat itu segera menghampiri gadis itu. Mengambil nampan yang di pegang Zahra, meletakkannya di meja ruang tengah.


Gadis itu masih terlalu terkejut dengan apa yang di lihatnya sekarang.


"Aku pulang," ucap Ega memeluk Zahra.


Zahra segera memeluk lelaki itu. Merasakan kehangatan yang nyata dari pelukan itu. Ia tak menyadari di ruang tamu ada seseorang yang melihatnya dengan mengepalkan tangannya.


"Ehm," suara deheman itu membuat mereka terkejut dan segera melepaskan pelukannya.


"Om," sapa Ega gugup melihat ayah Zahra ada di depannya. Ega menghampiri lelaki paruh baya itu dan menyalaminya.


"Iya, Om. Dari bandara langsung ke sini," jawab Ega.


Zahra terlihat bahagia melihat Ega yang telah pulang. Ia melupakan seseorang yang ada di ruang tamu.


"Nduk, temenmu yang tadi, minumnya belum berikan?" tanya sang ayah pada anak gadisnya.


"Astaghfirullah, aku lupa."


Zahra buru-buru, mengambil nampan yang tadi diambil Ega. Membawanya ke ruang tamu. Ega dan Ayah Zahra mengikuti dari belakang.


"Maaf ya," ucap Zahra pada lelaki yang duduk diam di sana.


Zahra duduk di sofa panjang di hadapan lelaki itu, Ega ikut duduk di sampingnya. Meletakkan ranselnya di samping kursi. Menunjukkan raut wajah penuh tanya dan menahan kesal pada Zahra. Ayah Zahra memilih sofa single di samping lelaki teman Zahra itu.


"Kalian berdua kenapa wajahnya tegang seperti itu?"


"Dia ini calon suaminya Zahra," lanjut Ayah Zahra memperkenalkan Ega pada lelaki itu.


Tanpa mereka tau, lelaki itu mengepalkan erat kedua tangannya.

__ADS_1


Ega yang diperkenalkan seperti itu tersenyum puas memandang lelaki itu. Merasa sudah mendapatkan restu sebelum ia meminta pada orang tua Zahra.


Zahra sendiri tersipu malu mendengar penuturan ayahnya.


Sekuat tenaga lelaki itu menahan emosinya. Bersikap biasa saja. Lalu ia berpamitan pada semua yang ada di situ.


"Sepertinya saya bertemu di waktu yang tidak tepat, Ra, aku balik dulu ya. Om, saya pamit dulu," lelaki itu menyalami Ayah Zahra yang belum sempat menjawab. Mengabaikan Ega yang ada di situ. Dan keluar dari rumah.


"Ayah tinggal dulu ke belakang. Ra, ajak Ega sarapan dulu, Ayah yakin dia ambil penerbangan paling pagi dan belum sarapan," ucap sang ayah tersenyum pada lelaki muda itu.


Setelah lelaki itu pergi dan sang ayah juga menghilang di balik ruang tamu, Ega segera meminta penjelasan pada gadisnya. Siapa lelaki itu?


"Sarapan dulu ayo, tadi aku masak," ajak Zahra.


"Masak buat makan laki-laki tadi?" tanya Ega ketus.


"Kamu cemburu?"


"Sangat! Dua minggu kita ngga ketemu, saat aku pulang, ingin kasih kamu kejutan, malah aku yang dapat kejutan. Siapa dia?" tanya Ega dengan nada marah. Ia cukup lelah hingga tak bisa mengontrol emosinya.


Tanpa malu-malu Zahra memeluk Ega yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Meletakkan kepalanya di dada Ega, mendengarkan degup jantung Ega yang berirama cepat.


"Aku mau cerita. Tapi kamu marah. Aku takut kamu makin marah dan ninggalin aku," ucap Zahra pelan.


Ega berusaha meredam amarahnya. Ia balik memeluk Zahra. mendekapnya dengan erat. Menyalurkan rasa rindunya. Mengesampingkan rasa penasarannya pada lelaki tadi.


"Ra."


"Hem?" Zahra mendongak agar bisa melihat wajah Ega.


"Pengen cium."


"..."


****


Ada yang menunggu Zahra up?


Maaf yaa lama up nya.. hampir seminggu ngga up..


Kemarin-kemarin engga bisa bagi waktu buat lanjutin tulisan. Lembur terus sampe tengah malam 🙈


Komennya kutunggu yaa...


Terima kasih banyak sudah menunggu..

__ADS_1


Salam sayang


kiki rizki


__ADS_2