Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
42. Menyusul Zahra


__ADS_3

Rio ditemani Ega di dalam mobilnya melaju menuju ke arah Tumpang, salah satu kecamatan di Kabupaten Malang. Disalah satu desa di sana Zahra sekarang tinggal. Selama perjalanan mereka melewati jalanan yang masih asri. Banyak pohon rindang di kanan kiri jalan, tak jarang mereka juga melewati jurang kecil.


“Umak gurung tau nang daerah kene a?” tanya Rio mengisi perjalanan mereka.


(Kamu belum pernah ke daerah sini ya?)


“Gurung. Sing wingenane iko nggolek i Zahra awak e gak liwat kene ya?” tanya Ega.


(Belum. Yang kapan hari kita mencari Zahra tidak lewat sini?)


“Ora lah. Wingenane awak lewat Pakis. Saiki liwat Bululawang, Cedek an liwat kene aslinya,” kata Rio.


(Tidak lah. Waktu itu kita lewat Pakis. Sekarang kita lewat Bululawang, lebih dekat lewat sini sebenernya.)


“Apalno dalan e. Ngkok lek umak mrene dewe marani Zahra gak usah ngejak aku maneh. Ngene iki malem mingguku ambe Zakia male gak sido gara-gara aku ngeterno umak,” gerutu Rio.


(Hafalkan jalan ini. Nanti kalau ke sini sendiri jenguk Zahra jangan mengajak aku lagi. Gini ini malam mingguku sama Zakia jadi gara-gara aku ngantar kamu.)


“Iyo-iyo. Saiki tok aku njaluk terno umak. Mene ora maneh,”


(Iya-iya. Sekarang saja aku minta antar kamu. Besok tidak lagi.)


Tak terasa perjalanan yang mereka tempuh hampir satu jam itu telah sampai. Rio memarkirkan mobilnya di sebuah halama rumah yang sangat luas. Halaman rumah itu ada taman kecil yang indah dan tertata rapi.


Rio dan Ega turun dari mobil membawa tas mereka untuk perlengkapan menginap semalam. Ya, mereka berencana pulang besok sore. Rio mengucapkan salam di depan rumah besar itu. Dari dalam rumah suara seorang perempuan yang sangat mereka kenal menjawab salam itu.


“Halo, Ra,” sapa Rio cengengesan menyapa kakak sepupunya yang terkejut.


“Kok? Katanya Bulek kamu sama temen-temen?” tanya Zahra.


“Lah kan dia juga temenku,” jawab Rio sampbil merangkul pundak Ega.


“Sopo, Nduk dayo e?” tanya Bulek Dewi dari dalam rumah.


(Siapa, Nduk tamunya?)


“Rio , Bulek,” jawab Zahra.


“Masuk aja,” ucap Zahra mempersilahkan dua lelaki itu masuk. Mereka berua mengikuti Zahra masuk dan duduk di ruang tamu. Di sana terdapat *amben yang tertata di ujung ruang tamu. Rio segera menuju ke tempat *amben itu dan merebahkan dirinya di sana.

__ADS_1


Ega mendudukkan dirinya di kursi rotan di ruang tamu itu. Segala macam perabotan di rumah ini msih terkesan kuno. Meski tatanan luar rumahnya telah tersentuh gaya modern tetapi, isinya hampir semuanya barang- barang lama dan mungkin tidak akan ditemukan di kota.


Tak berapa lama Zahra dan Bibi Dewi keluar dari balik kelambu yang membatasi ruang tamu degan ruang tengah. Rio bankit dari rebahannya dan meyalami Bibi Dewi, begitupun dengan Ega yang ikut menyalami Bibi Dewi.


“Lha endi kancane? Jare ambek kancane, kok mek wong loroan tok?” tanya Bibi Dewi.


(Lha mana temannya? Katanya sama temannya, kok Cuma berdua saja?)


“Lha niki lak rencang kulo, Bulek. Niki Ega, bakal e Mbak Zahra, Bulek.


(Lha ini kan teman saya, Bulek. Ini Ega, calonnya Mbak Zahra, Bulek.)


Ega yang diperkenalkan begitu merasa tidak enak. Dan Zahra sendiri memilih menundukkan kepalanya. Ia ingat saat hendak berangat ke sini ia sngaja tidak memberi tahu Ega, dan hal itu sekarang membuatnya merasa sangat tidak enak pada Ega.


“Oalah, Le. Tak kiro koncomua keh. Ikimang aku masak akeh ambe Zahra,” ujar Bibi Dewi dengan nada kecewa.


(Oalah, Le. Ini tadi aku masak banyak bersama Zahra.)


“Mben – mben mawon, Bulek mriki male rame-rame. Niki saking ndandak, male lintune mboten saged tumut,” jawab Rio.


(Kapan – kapan saja, Bulek ke sin lagi rame –rame. Ini karena mendadak, jadi yang lainnya tidak bisa ikut.)


(Ya sudah. Sana ke kamar kalau mau istirahat. Balik Besok kan?)


“Enggeh, Bulek.”


(Iya, Bulek.)


“Terno nang kamar e, Ra. Iku bakalmu pisan terno nang kamar. Openono butuh e. Belajar dadi bojo sing apik,”


(Antarkan ke kamarnya, Ra. Itu calonmu juga antar ke kamar. Penuhi kebutuhannya. Belajar jadi istri yang baik.)


Bibi Dewi kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Rio tanpa diantar Zahra pun sudah tahu letak kamarnya, karena memang ia memiliki satu kamar sendiri di rumah ini.


“Ayo, aku antar ke kamar,” kata Zahra dengan menunduk tanpa mau memandang Ega. Gadis itu masuk terlebih dahulu di ikuti Ega di belakangnya.


Zahra membuka salah satu pintu kamar. Mempersilahkan Ega masuk.


”Di sini kamar mandinya jadi satu semua di belakang. Maaf ya kalo nggak seperti rumah kamu di kota,” kata Zahra.

__ADS_1


“Aku ke belakang dulu bantu Bulek. Kalo ada apa – apa kamu bisa tanya Rio aja,” Zahra berbalik hendak keluar dari kamar itu. Namun langkahnya terhenti karena Ega memegang pergelangan tangannya.


“Ra,” sebelum Zahra memaksa keluar, Ega lebih dulu menutup pintu kamar dan menguncinya.


“Kamu mau apa? Ada Bulek sama Rio di rumah ini,” kata Zahra panik.


“Jangan takut, aku gak akan ngapa-ngapain kamu,” kata Ega menenangkan.


Zahra berubah ketakutan. Ia menangis, berjalan mundur menjauhi Ega. Ia teringat kejadian itu. Di mana ia disekap dan diperakukan tidak baik. Ega yang terkejut dengan tingkah Zahra segera menyadari kesalahannya. Buru – buru ia membuka pintu lebar – lebar dan segera menghampiri Zahra yang ketakutan.


“Maaf, Sayang. Maaf. Aku gak ada maksud buat kamu takut, “ kata Ega berusaha menangkan Zahra.


“Sayang, lihat aku. Aku Ega, aku nggak akan apa-apin kamu. Aku udah buka pintunya, ayo kita keluar, ya. Sayang? Kamu denger aku kan? Ra?” Ega berusaha memeluk Zaha yang menangis dan memberontak.


Dari luar kamar Rio datang tergesa karena mendengar suara Ega. Ia mendekati dua orang yang sedang berjongkok di dekat tempat tidur.


“Ada apa? Kenapa Zahra?” tanya Rio ikut panik.


Tak mendapat jawaban dari Ega. Lelaki itu sibuk menenangkan Zahra dalam pelukannya. Hingga akhirnya usahanya berhasil. Zahra telah membalas pelukannya dan menanis dalam pelukannya.


Ega membawa Zahra berdiri dan mendudukkannya di tepi ranjang. Masih dengan tetap memeluk gadis itu Ega tak henti-hentinya menggumankan kata maaf.


“Ga, ada apa?” tanya Rio lagi. Melihat Zahra yang menangis tiba- tiba mmbuatnya khawatir.


Zahra melepas pelukannya. Mengusap pipinya yang basah. Ega membantu mengusap pipi Zahra. “ Sudah lebih baik?” tanyanya yang dijawab Zahra dengan anggukan kepala.


“Gak e ono opo seh? Lapo Zahra nangis? Mbok kapakno arek iku?” tanya Rio mulai emosi.


(Sebenarnya ada apa? Kenapa Zahra menangis? Kamu apakan dia?)


”Aku tadi nutup pintu, maksudku mau ngajak dia ngobrol sebentar, gak taunya dia tiba-tiba nangis histeris ketakutan gitu. Aku rasa dia masih trauma dengan itu,” Ega menjelaskan.


Rio mengusap wajahnya kasar. Tak menyangka kakaknya begitu menderita akibat penculikan itu.


“Tolong jangan kasih tahu siapa – siapa. Terutma bunda sama ayah,” pinta Zahra lirih. Ia masih berada dalam pelukan Ega. Rio dan Ega saling berpandangan. Merasa permintaan Zahra tidak bisa disetujui.


“Tolong, aku mohon,” inta Zahra lirih.


“Baiklah. Dengan satu syarat. Kamu harus belajar mengatasi traumanu itu,” kata Ega akhirnya dan diangguki oleh Zahra.

__ADS_1


Ketiga orang itu berdiam di dalam kamar. Hingga Bibi Dewi mencari mereka untuk menyuruh mereka segera membersihkan diri dan mnunaikan ibadah salat ashar yang hampir habis waktunya.


__ADS_2