
Menunggu jam pulang kerja bagi Ega sangat lama. Ingin sekali rasanya ia membolos kerja. Apalagi pekerjaannya hari ini tidak begitu banyak. Membuatnya jenuh berada di dalam ruangannya.
Ia keluar dari ruangannya untuk menemui sekretarisnya.
"Dev, jadwal saya setelah makan siang?" tanyanya to the point.
"Tidak ada jadwal, Pak. Pertemuan dengan PT. Santoso yang seharusnya hari ini diundur minggu depan," jawab Devi, sekretaris Ega.
"Kalo gitu handle semuanya. Saya ada acara di luar setelah makan siang."
"Baik, Pak."
Ega kembali ke dalam ruangannya. Ia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada gadisnya. Memberitahunya jika nanti siang ia akan langsung ke sana.
Berkali-kali ia mengecek ponselnya tetapi tak ada satupun pesan yang dibaca. Ia mencoba menelpon nomor Zahra, tetapi tak ada jawaban.
Kok gak di angkat. Kemana ya dia? Ega bertanya-tanya.
Sayangnya tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Karena hanya dirinya yang berada di ruangan itu.
****
Di rumah Bibi Dewi terlihat ramai karena keluarga Zahra dari kota telah datang. Kedua orang tuanya dan sang adik telah menyusul ke desa.
Terlihat canda tawa yang mengisi ruang tamu rumah keluarga itu. Melepas kerinduan dengan orang tuanya, Zahra enggan untuk berpindah dari samping sang bunda.
"Mbak, sampean nginep kene sik ae sedino iki yo. Sesok ae pindah nang omah e samean dewe," ucap Bibi Dewi pada kakaknya.
(Mbak, nginep di sini dulu sehari ini ya. Besok saja pindah ke rumahnya, Mbak.)
"He em, kita di sini dulu, hari minggu aja pindahan," jawab Bu Ratih.
"Ya sudah, istirahat dulu, Mbak. Kamar mbak Ratih tetep ndak ada yang nempatin."
"Di sini rumahnya gede banget ya, Bun. Kamarnya banyak pula. Tapi nanti aku tidur sama Bunda aja, ya," ujar Efelin.
"Iya, nanti malam kita tidur sama Mbakmu juga. Kita tidur sama-sama ya," jawab sang bunda.
"Ayah nanti langsung balik ke Surabaya, ndak bisa lama-lama di sini," ucap sang ayah.
"Loh, ndak nginep, Mas?" tanya Bibi Dewi.
"Masmu udah keseringan ijin, Wi. Ndak enak sama karyawannya yang lain," jawab Bu Ratih.
"Ya sudah nanti siang aja setelah makan siang berangkatnya, tadi aku udah masak banyak loh," usul Zahra.
"Yakin kamu yang masak?" goda sang ayah.
"Beneran, yaa walaupun cuma satu menu," jawab Zahra.
Terdengar kumandang adzan dhuhur di musolla dekat rumah Bibi Dewi. Mereka semua menyudahi acara santainya dan bersiap untuk salat berjamaah ke musolla.
****
Tak mendapat balasan pesan dari Zahra membuat lelaki yang duduk di atas kursi putarnya itu semakin gusar.
Beberapa kali ia menghubungi gadisnya, tetapi tak ada jawaban. Puluhan pesan ia kirimkan tak satu pun yang mendapat balasan.
Begitu jam makan siang tiba. Ia langsung menuju parkiran dan mengendarai mobilnya menuju desa tempat Zahra tinggal.
__ADS_1
Hampir satu jam berkendara akhirnya ia telah sampai di depan halaman rumah Bibi Dewi. Ternyata di sana terparkir mobil ayah Zahra.
Pikiran lelaki itu kembali dilanda hal negatif. Takut terjadi apa-apa dengan pujaan hatinya. Ia segera turun dari mobilnya dan berjalan memasuki teras rumah.
"Assalamualaikum," ucapnya.
"Waalaikumsalam."
"Lho? Kak Ega? Ngapain?" tanya Efelin yang kebetulan sedang bermain ponsel di ruang tamu.
"Fel? Kakakmu ada?" tanya Ega.
"Masuk, Kak. Aku panggilkan sebentar."
"Aku tunggu di sini aja," jawabnya.
Ia mengambil tempat duduk di teras rumah. Tak lama terdengar langkah kaki mendekat. Ia reflek menolehkan kepala menghadap pintu.
Di sana gadisnya tengah berdiri dengan raut wajah terkejut.
"Kamu kok di sini?" tanyanya.
"Kamu gak bales chat sama teleponku sih," jawab lelaki itu.
"Hah? A-Aku enggak lihat HP dari tadi," jawab Zahra merasa tak enak.
"Iya, gak papa. Udah lega liat kamu baik-baik aja."
"Em. Aku buatkan minum dulu ya. Ayo masuk aja gak papa," ajak Zahra.
"Em. Ra. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Mau gak?"
"Nonton mungkin. Gimana?"
"Aku tanya sama bunda dulu ya?"
"Iya. Aku tunggu di sini."
Tak lama, bukan Zahra yang keluar untuk menemui Ega. Melainkan sang ayah dengan membawa cangkir berisi kopi di dalamnya.
"Om," sapa Ega dengan menyalami Om Irawan setelah beliau meletakkan cangkir kopinya.
"Mau ke mana?" tanya beliau.
"Jalan-jalan sebentar, Om. Boleh nggak Zahranya saya ajak?"
"Boleh. Jangan pulang larut malam ya. Di sini jam delapan sudah dikata malam. Beda sama kehidupan kita di kota."
"Iya, Om."
"Kalau kita di kota jam sepuluh pun masih dikata sore. Kalau di sini, jam sembilan udah gak ada orang lewat."
"Iya, Om," jawab lelaki muda itu dengan perasaan yang tak menentu.
"Saya harap, kamu sama Zahra segera menikah, kalau memang kamu sungguh-sungguh. Dan saya tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi."
"Maafkan saya, Om. Untuk kejadian yang kemarin. Saya benar-benar menyesal."
"Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya. Jangan sampai kamu mengecewakan kepercayaan saya, Nak."
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti saat Zahra keluar membawa minuman untuk Ega.
"Kok belum siap-siap, Nduk? Kalau memang mau keluar segera berangkat sana. Biar pulangnya gak kemalaman," ucap sang ayah.
"Iya, Yah. Aku siap-siap dulu." Gadis itu kembali ke dalam rumah.
Om Irawan juga berpamitan masuk karena beliau juga akan berangkat ke Surabaya. Tak menunggu waktu lama, Zahra telah siap untuk pergi.
Setelah berpamitan pada semua orang yang ada di rumah, mereka berdua berangkat menuju ke arah kota Malang.
Tak banyak obrolan yang mereka bicarakan. Sama halnya dengan saat bertelepon tadi pagi. Zahra hanya menjawab seperlunya saja.
Satu jam kemudian mereka telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan kota Malang, Malang Plaza.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju gedung bioskop di lantai paling atas. Ega merangkul erat pundak gadisnya. Terlihat sangat mesra bagi siapapun yang memperhatikan.
"Mau nonton apa sih?" tanya Zahra.
"Apa aja yang jam tayangnya sore ini."
Mereka memasuki gedung bioskop. Melihat deretan iklan film dan jam tayangnya. Hingga akhirnya mereka menemukan film yang tayang pukul 15.15 sore ini.
"Kita ambil film 'LADY MERMAR' aja ya," usul Ega.
"Ish. Itu kan tentang pembunuhan gitu. Psikopat gitu kan? Gak mau ah. Aku takut."
"Bagus ini, Sayang. Ini tuh diangkat dari novel karya anak bangsa yang karyanya dipublikasikan di Noveltoon. Nama authornya 'MARUTAMI'. Kita nonton ini aja ya," bujuk Ega.
"Nanti kalau ada pembunuhan, lihat darah gitu aku takut."
"Ngumpet di ketiak aku aja gapapa."
"Ih. Ngeselin."
Akhirnya mereka menonton Film yang berjudul 'LADY MERMAR' itu. Film itu menceritakan tentang seorang perempuan yang memiliki julukan LADY MERMAR, ia adalah seorang perempuan berdarah dingin. Menyiksa para lelaki yang dianggap tidak baik dengan cara yang sangat keji.
Kalau kalian penasaran juga sama cerita itu. Kalian bisa langsung searching di kolom pencarian di aplikasi Noveltoon/Mangatoon kalian dengan memasukkan tittle 'LADY MERMAR'.
Selama menonton film itu, berkali-kali Zahra menyembunyikan wajahnya di balik bahu Ega. Ia merasa ngeri melihat perempuan yang tengah menyiksa lelaki yang terikat di kursi. Kepalanya telah berlumuran darah. Dan penyiksaan itu masih terus dilakukan terhadapnya.
Setelah hampir dua jam berlalu, akhirnya film itu selesai diputar. Gadis itu buru-buru menarik Ega agar segera kluar dari ruang bioskop. Ia ngeri membayangkan dirinya yang ada di sana. Teringat akan penculikan yang dialaminya juga.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ega khawatir melihat wajah pucat Zahra.
"Cuma keinget waktu aku disekap. Enggak bisa bayangin kalau aku disiksa juga kayak gitu."
"Astaga, Sayang. Aku minta maaf. Enggak mikir sampai sejauh itu."
"Gak papa kok. Aku jadi mikir harusnya aku lebih bersyukur masih selamat tanpa ada luka."
"Kita cari tempat duduk dulu yuk. Kamu tenangin pikiran kamu dulu."
Ega membimbing Zahra menuju salah satu tempat duduk yang ada di dekatnya. Mengusap pundak gadis itu hingga ia merasa tenang.
Beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk mencari tempat makan karena bunyi perut Ega yang terdengar oleh Zahra. Ia baru ingat kalau tadi siang tidak sempat untuk makan siang.
*****
Nih cover novel yang tadi ditonton sama Zahra
__ADS_1