
Sesuai rencana Zahra dan Keyla beberapa hari lalu. Hari Minggu ini, mereka akan berangkat untuk jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat wisata di Malang.
Sedari pagi, Keyla sudah terlihat antusias dan paling semangat. Ia sudah tidak sabar menunggu para kakaknya untuk berkumpul.
Dengan pakaian kasual ala anak remaja seusianya, ditambah topi pantai yang membuatnya terkesan imut, ia tengah duduk manis di ruang tamu sambil menunggu Rio, Zakia dan Efelin datang ke rumah sepupunya ini.
"Aduh, cucu Uti semangat sekali ya, padahal kakak kamu masih mendekam di kamarnya," kata Uti Salma saat melihat cucu kecilnya. sedang duduk sendiri.
"Oh, Nenek. Iya, Nek. Kan ini pertama kalinya aku liburan di sini bisa jalan-jalan," jawab Keyla.
"Pesan Uti, sebaiknya kamu bawa jaket, di Batu udaranya bisa dingin sekali," pesan Uti.
"Gak keren dong, Nek, kalau pakai jaket," keluh Keyla.
"Key, udah siap?" tanya Zahra saat ia ikut bergabung bersama dengan Uti Salma dan Keyla.
"Udah, Kak. Kita jadi ke taman labirin yang kemarin kan, Kak?" tanyanya.
"Iya, habis ini yang lain datang kita langsung berangkat," ucap Zahra memberi tahu.
"Hati-hati ya, Nduk. Dijaga baik-baik adiknya. Jangan sampai hilang di sana," pesan Uti untuk Zahra.
"Enggeh, (iya) Uti," jawab Zahra.
Tak berapa lama Ega menuruni tangga dengan setelan kasual kaos pendek yang sepertinya couple dengan Zahra dipadukan dengan celana pendek warna cokelat.
"Cie, bajunya couple," tunjuk Keyla pada Zahra dan Ega.
"Iya dong," jawab Ega.
Mereka yang di tunggu akhirnya datang juga. Rio, Zakia, dan Efelin berjalan menghampiri Uti Salma dan menyalaminya.
Mereka langsung berpamitan untuk berangkat, karena matahari sudah mulai terasa panas di kulit.
Dengan mengendarai mobil Ega Mitsubishi Xpander mereka melaju menuju kota Batu. Tujuan awal mereka yaitu taman labirin sesuai permintaan Keyla.
Perjalan mereka melewati hutan-hutan pinus dan jalan berkelok dan menanjak. Tak jarang di salah satu sisi jalanan itu adalah jurang yang cukup dalam.
Hingga akhirnya setelah menempuh lebih dari satu jam mereka sampai di tempat tujuan. Ega memarkirkan mobilnya di area parkir tempat wisata.
Mereka semua turun dari mobil, sebelum masuk ke area labirin yang dipenuhi tanaman hijau dan bunga-bunga indah, mereka terlebih dahulu mengambil foto selfie di depan mobil.
(Sumber : Internet)
"Wow, keren! Ayo kita masuk, Kak!" seru Keyla tak sabar.
"Anak kecil jangan ngawur. Entar nyasar tau rasa!" peringat Ega pada adik sepupunya.
"Ih, orang tamannya gak gede loh. Gak mungkin lah kita nyasar," ucap Keyla.
"Kita lihat pos pantau dulu, kita cari rute dari sana. Nanti kita bagi dua kelompok ya. Kita main cepet-cepetan siapa yang bisa menemukan jalan keluar duluan," ajak Rio.
"Boleh." Ega menerima tantangan Rio.
Mereka mengantri untuk menaiki pos pantau dan melihat rute yang akan lewati nanti. Setelah merasa telah menemukan jalan yang tepat, mereka bergegas untuk masuk ke dalam labirin.
Keyla ikut dengan Zahra dan Ega, sedangkan Efelin ikut dengan Rio dan Zakia. Kelompok Rio lebih dulu masuk, diikuti oleh kelompok Ega setelah lima menit terlewati.
Ternyata apa yang mereka bayangkan tidaklah sesuai dengan apa yang mereka alami saat ini. Labirin itu cukup sulit untuk menemukan jalan keluar. Bahkan mereka beberapa kali berputar-putar di tempat yang sama.
"Kak Ega gimana sih? Masak dari tadi kita muter - muter di sini loh. Ini yang kelima kalinya," gerutu Keyla kesal.
"Santai aja, kita nikmati prosesnya. Emang kamu mau kemana keburu-buru pengen keluar?" tanya Ega.
__ADS_1
"Ya gak mau ke mana gitu, Kak. Kan udah bosen di sini," keluh Keyla.
"Ya udah, ayo. Jangan ngambekan. Nanti makin jelek," goda Ega.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka bisa keluar dari tembok-tembok labirin itu tanpa tersesat. Ternyata saat mereka keluar, kelompok Rio masih belum terlihat.
Mereka memutuskan untuk mencari tempat duduk sambil menunggu mereka. Keyla asik memperhatikan keadaan sekitarnya. Hal itu tak luput dari perhatian Zahra.
Zahra tiba-tiba melihat Keyla yang sepertinya sedang berbisik dengan ekspresi terkejut.
"Key, kenapa?" tanya Zahra mulai khawatir.
"Oh, enggak papa kok, Kak. Itu temenku ngikut kita ke sini," kata Keyla pelan.
"Siapa? Esteh?" celatuk Ega.
"Iya. Dia bilang aku payah gak bisa sekali coba langsung bisa keluar labirin. Katanya dia bisa keluar labirin hanya dengan sekali coba," kata Keyla menjelaskan.
Obrolan mereka teralihkan dari teman gaib Keyla saat kelompok Rio keluar dari mulut labirin. Di sana terlihat jelas Efelin yang cemberut.
"Kak Efel kenapa?" tanya Keyla penasaran.
"Kesel sama mereka! Dikacangin mulu, jadi obat nyamuk," ocehnya.
"Berisik, ayo kita lanjut. Key mau ke mana lagi?" tanya Ega.
"Taman langit, Kak. Jauh gak dari sini?" tanya Keyla.
"Enggak. Ayo berangkat," ajak Ega.
Mereka semua bergegas menuju mobil, setelah semua siap, Ega menjalankan mobilnya menuju tempat wisata "Taman Langit Gunung Banyak" yang tempatnya cukup dekat dari lokasi taman labirin.
Sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka sampai di tempat tujuan. Keyla dibuat takjub akan tempat itu yang menurutnya sangat keren.
(Sumber: internet)
(Sumber: internet)
(Sumber: internet)
(Anggap aja itu Keyla sama Efelin pura-puranya ðŸ¤)
(Sumber: internet)
(Sumber: internet)
(Anggap saja itu Ega atau RioðŸ¤ðŸ¤)
Hari itu benar-benar dinikmati dua gadis remaja yang baru saja saling mengenal itu. Mereka terlihat sangat akrab dan kompak.
Dua pasang kekasih yang menemani mereka hanya menghabiskan waktu dengan duduk di bangku-bangku yang tersedia. Sambil sesekali melihat adik-adik mereka.
"Dulu kamu gak se ekspresif Efelin gitu ya, Ra," ucap Ega tiba-tiba mengingat masa remaja mereka.
"Iya, sifat kami berbeda," jawab gadis itu.
__ADS_1
Menjelang sore, Keyla dan Efelin yang telah lelah mengelilingi taman mengajak untuk pulang.
"Yakin mau pulang? Padahal kalau malem di alun-alun Batu bagus banget loh, Ada bianglala pula," ucap Ega.
"Ayo ke sana!" seru Keyla kembali bersemangat.
"Okelah, tapi kita cari makan dulu, sekalian nunggu agak malam," kata Ega.
"Kafe sawah," ajak Rio.
"Kamu yang nyetir," ucap Ega.
Ia mengeluarkan kunci mobilnya dan melemparkannya pada Rio yang dapat menangkapnya dengan baik.
Mobil berjalan menembus jalan lika-liku kota Batu hingga akhirnya mereka sampai di "Kafe Sawah Pujon Kidul", salah satu kafe yang juga menawarkan pemandangan persawahan dan disediakan pula spot foto yang keren dan banyak.
(Sumber: internet)
(Sumber: internet)
Mereka mengambil makanan yang tersaji sesuai dengan keinginan mereka. Karena pengambilan menu makanan dengan sistem prasmanan, mereka dapat memilih sesuai dengan selera.
Setelah itu mereka menuju gazebo dan makan bersama. Semuanya sangat menikmati kegiatan makannya dengan penuh keceriaan. Melupakan sejenak masalah yang baru saja kemarin terjadi.
Setelah selesai makan mereka menyempatkan diri untuk mengambil foto di sama. Mengabadikan kenangan mereka pernah berkunjung ke sana.
Lanjut ke tujuan terakhir, mereka menuju alun-alun Kota Batu. Pemandangan malam di sana memang sangat indah. Di tambah lagi ada wisata kuliner yang dapat dinikmati saat bersantai.
(Sumber : Internet)
"Wow, keren, Kak! Nanti kita naik bianglala ya," ajak Keyla pada Efelin. Keduanya setuju dan langsung menuju antrian pembelian tiket.
"Mau naik juga?" tanya Rio pada Zakia.
"Nggak mau, kita cari tempat duduk aja, capek," jawab Zakia.
"Kamu mau naik, Sayang?" tanya Ega pada Zahra.
"Hah? Apa?" tanya Zahra yang sedari tadi ternyata tidak memperhatikan.
"Kamu ngeliatin apa sih? Kok kayak gimana gitu," tanya Ega.
"Nggak lihat apa-apa kok," jawab gadis itu.
"Ya udah ayo, cari tempat duduk yang nyaman," ajak Ega.
Rio dan Zakia berjalan lebih dulu di depan Ega dan Zahra. Menuju salah satu bangku yang disediakan di sana.
"Zakia! Awas!" Teriak Zahra berlari ke arah Zakia.
"Aaaww!"
"Zahra!"
"Zakia!"
Dua lelaki itu terkejut saat tiba-tiba ada orang yang menyerang Zakia. Orang itu segera lari meninggalkan tempat sebelum Ega maupun Rio bisa sadar akan keterkejutannya.
"Astaghfirullah! Darah! Sayang!"
__ADS_1
*****
Aduh siapa yang kena pisau 🥺🥺🥺