Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
88. Undangan Rapat


__ADS_3

Sekembalinya dari menjenguk sepupu tunangannya, Zahra kembali berkutat dengan kebosanan rutinitasnya. Setiap hari yang ia lakukan di rumah seperti para pengangguran pada umumnya.


"Ra, kamu itu mbok ya keluar sana. Sosialisasi sama temen-temen sebayamu di sini. Jangan ndekem aja di rumah," tegur sang bunda saat mereka berdua tengah duduk santai di ruang tamu.


"Malu, Bun. Gak ada yang kenal."


"Ya mangkanya kenalan. Kapan hari dapat undangan karang taruna kamu juga gak dateng. Gimana mau kenal?"


"Ya kan sendirian gak ada temennya gak enak, Bun."


"Kamu itu ya, gimana mau punya temen kalau kayak gini? Kamu itu jadi bahan omongan tetangga. Dibilang sombong, gak mau kenal sama warga. Bunda yang gak enak sama mereka."


Gadis itu terdiam mendengar omelan dari sang bunda. Dalam hatinya ia juga membenarkan kalau dirinya itu tidak memiliki teman di sekitaran rumahnya.


"Pokoknya Bunda gak mau tahu ya. Nanti malem kamu harus datang itu ke undangan anaknya Pak RT. Nih undangannya. Awas kalau kamu gak dateng. Jangan jadi anak Bunda lagi mulai besok," ancam Bunda Ratih.


"Ancemannya kok gitu sih, Bun?"


"Terserah Bunda dong. Kamunya aja gak bisa jaga nama baik keluarga. Digosipin mulu sama tetangga, pusing Bunda dengernya bikin sakit hati juga."


Zahra sedikit tersentak dengan ucapan bundanya. Apa sebegitunya yang dialami bundanya di lingkungan rumahnya? Pikir gadis itu.


Lalu Zahra mengambil kertas undangan yang diletakkan sang bunda di atas meja. Dilihatnya isi surat itu yang akan membahas acara kegiatan memperingati hari kemerdekaan Indonesia.


"Biasanya acaranya ngapain aja, Bun?" tanya Zahra.


"Ya makanya dateng. Bunda mana tahu."


"Biasa aja dong, Bun. Jangan ngegas gitu. Nanti cepet tua loh."


Tak menggubris omongan anak gadisnya. Bunda Ratih memilih memainkan ponsel yang sedang ia pegang.


*****


Dengan berat hati, selepas salat isya, Zahra bersiap menghadiri undangan rapat yang diberikan bundanya tadi siang. Ia mengenakan pakaian yang cukup tebal mengingat cuaca di luar cukup dingin.


Dengan berbekal arahan dari sang bunda untuk menuju tempat acara diselenggarakan, ia mengendarai motor matic milik adiknya melintasi jalanan komplek yang sepi.

__ADS_1


Terlihat ada rumah yang cukup ramai oleh pemuda-pemuda yang ia yakini adalah tempat acara rapat. Ia segera mendatangi tempat itu meski ia sangat enggan melakukannya.


"Permisi, apa ini betul rumah Pak RT?" tanya Zahra pada salah seorang yang ada di sana dengan menunjukkan undangan rapat yang ia bawa.


"Iya betul. Silahkan masuk. Kita tunggu yang lain dulu ya," jawab orang yang ditanyai.


"Sopo iku?"


"Ora eroh."


"Arek anyar a? Lumayan yo."


"Gak kenal aku. Ora tau tumon. Paling arek sing ndek omah ngarep sing aban-abane ora gelem srawung ikuloh."


Terdengar jelas bisik-bisik yang membuat Zahra tidak nyaman. Ia memilih diam tanpa mau menjawab rasa penasaran dari orang-orang yang melihatnya dengan penuh rasa penasaran.


Di situasi seperti ini yang membuat Zahra enggan untuk berkumpul dengan orang-orang baru. Ia dipaksa untuk bersosialisasi dengan mereka yang kadang membuatnya risih dan tak nyaman.


Gadis itu memilih duduk di pojokan dan memainkan ponselnya. Menghubungi Ega dan mencurahkan segala perasaan tak nyaman yang ia rasakan saat ini melalui pesan yang ia tulis.


"Oke, semuanya. Beruhubung udah banyak yang kumpul jadi kita mulai aja ya acaranya. Kita bikin ngobrol santai aja. Diskusi untuk acara peringatan HUT RI ke 75," ucap salah seorang laki-laki yang diyakini Zahra sebagai ketua pelaksana.


Zahra yang merasa dirinya yang disinggung reflek menegakkan duduknya dengan menunjuk dirinya sendiri dengan pandangan bertanya dan bingung.


"Ya, betul. Kenalan dulu, Mbak. Kalau tak kenal maka tak sayang katanya pepatah. Aku mulai dari diriku sendiri deh. Aku Adam, dan kamu bisa berkenalan dengan yang lainnya setelah memperkenalkan siapa namamu."


Zahra merasa kecil melihat orang-orang yang tengah fokus menatap dirinya. Sekuat tenaga ia berusaha terlihat biasa saja tanpa.


"Em. Oke, kenalkan aku Zahra. Maaf enggak pernah ikut gabung atau kumpul dengan kalian semua, karena aku baru beberapa waktu lalu pindahan. Salam kenal semua," ucap Zahra dengan memberikan senyum canggung di akhir kalimatnya.


"Noted, oke Zahra, selamat bergabung di karang taruna Pandawa, harus aktif ya. Dan jangan lupa sumbangkan ide-ide kamu untuk komunitas kita."


Setelah itu acara kembali dilanjutkan dengan diskusi-diskusi mengembangkan ide-ide yang sudah didapat dari pertemanan sebelumnya. Gadis yang duduk di pojok itu hanya memperhatikan jalannya diskusi.


Sesekali ia diminta untuk memberikan masukan untuk rencana kegiatan yang dibahas. Tetapi, ia selalu tersenyum canggung dan menggelengkan kepalanya.


Meski di dalam kepalanya banyak sekali ide-ide dan ketidaksetujuannya dengan beberapa rencana, ia memilih diam. Karena ia juga masih baru pertama kali mengikuti rapat.

__ADS_1


Hingga akhirnya pukul sebelas malam diskusi ditutup dan akan dilanjutkan di pertemuan berikutnya mengingat waktu yang sudah larut malam.


Setelah menyalami beberapa orang yang berada di dekatnya, Zahra berpamitan pulang bersama dengan yang lain. Saat hendak melewati pintu ia dipanggil oleh laki-laki yang memintanya memperkenalkan diri.


"Mbak Zahra, makasi kehadiranmu. Besok datang lagi ya, Mbak," ucap Adam dengan mengulurkan tangan mengajak Zahra bersalaman.


"Insyaallah," jawab Zaha membalas uluran tangan itu.


"Harus, Mbak. Biar akrab sama yang lain. Oh iya, minta nomor hpnya ya. Nanti aku masukkan grup," pinta Adam.


Meski berat ia mengangguk dan menyebutkan nomor kontaknya. Setelah itu ponsel yang ia genggam bergetar dan menampilkan panggilan dari nomor tidak di kenal.


"Save ya. Itu nomor aku. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan bisa langsung kontak aku."


"Iya. Makasih. Aku balik duluan ya," jawab Zahra mulai tak nyaman.


Ia segera meninggalkan Adam dan beberapa laki-laki yang sedari tadi memperhatikannya mengobrol dengan lelaki itu.


"Tunggu, bareng aku yuk. Udah malem jalanan sepi," ucap Adam menghentikan Zahra yang hendak melajukan motornya.


"Rumahku deket kok. Kompleknya aman kan," ucap Zahra.


"Sekalian jalan. Kayaknya rumah kita searah kan. Daripada kamu jalan sendirian. Tunggu bentar."


Dari dalam rumah beberapa laki-laki yang tersisa meneriaki mereka berdua melontarkan kata-kata yang membuat Zahra risih. Sebenarnya ia paham sekali kalau laki-laki bernama Adam itu tengah modus padanya.


Untuk saat ini ia membiarkannya terlebih dahulu. karena ia juga tidak mau lagi dicap sebagai orang sombong dan membuat sedih kedua orangtuanya.


Motor Zahra dan Adam berjalan beriringan melewati jalan komplek yang sangat sepi. Gadis itu bersyukur ada Adam yang menemaninya. Meski tetap saja rasa takut dan was-was mendominasi dirinya.


Begitu rumahnya terlihat, ia merasa sangat lega. Adam ikut berhenti saat Zahra berhenti di depan rumahnya.


"Makasih ya," ucap Zahra tulus.


"Sama-sama. Aku duluan ya," jawab Adam membalas senyum yang diberikan gadis itu.


Zahra segera membawa motornya masuk ke halaman. Lelaki tadi dengan setia menunggu hingga gadis itu memasuki rumahnya.

__ADS_1


********


Halooo.. setelah sekian lama akhirnya aku update.. semoga kalian suka..


__ADS_2