Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
99. Titik Terendah


__ADS_3

Mereka sampai di rumah megah Ega setelah menempuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari pemakaman. Di rumah itu masih terlihat ramai oleh pelayat yang berdatangan.


Ega membimbing Zahra untuk ikut masuk bersamanya menemaninya menemui para pelayat yang tak lain rekan bisnis papanya. Gadis itu duduk diam di samping Ega dan sesekali tersenyum saat tak sengaja bertemu tatap dengan mereka.


Berada di keramaian seperti ini membuat gadis itu dilanda keresahan dan kegelisahan. Ia tak mampu bersosialisasi dengan baik lantaran pendengarannya yang belum kembali.


Satu persatu para pelayat berpamitan pulang. Lalu datang lagi pelayat yang lainnya. Hingga malam hari barulah tidak ada pelayat yang datang.


"Kamu lelah?" tanya Ega pada Zahra yang seharian ini menemaninya. Meski banyak para pelayat yang memberikan tatapan sinis dan meremehkan padanya karena pendengarannya yang bermasalah ia tetap berusaha tegar dan menemani tunangannya.


"Ayo kita istirahat,"ajak Ega. Ia merangkul Zahra membawanya ke lantai dua tempat kamarnya berada.


"Ega. Bisakah aku beristirahat di kamarku yang biasanya aku tempati?" pintanya pada lelaki itu.


Ega mengangguk dan mengantarkan Zahra ke kamar yang dimaksud. Ia membukakan pintu untuk gadisnya.


"Istirahatlah. Aku akan kembali ke kamarku," ucap Ega sebelum meninggalkannya.


Diciumnya kening Zahra begitu lama. Membuat pipinya bersemu merah menerima perlakuan Ega. Setelah itu ia keluar dari kamar yang ditempati Zahra.


...****************...


Zahra POV


Kututup pintu kamarku setelah Ega pergi. Segera kukunci pintu itu sebelum ada orang yang masuk ke dalam kamar ini.


Aku tahu, dua hari ini adalah hari yang berat untuk Ega. Begitu juga denganku.


Pendengaranku yang tak kunjung membaik membuatku semakin tertekan dengan keadaan sekarang. Aku merasa setiap berpapasan dengan orang-orang yang berada di rumah ini mereka selalu memberikan pandangan merendahkan padaku.


Hati kecilku yakin, mereka jelas tidak menyukaiku. Mungkin juga karena aku sekarang seperti orang cacat. Tak bisa mendengar.


Sungguh, aku ingin sekali menangis setiap kali mereka memandangku seperti itu. Sering pula kujumpai mereka tengah berbicara dan terang-terangan memperhatikanku. Perasaanku mengatakan mereka sedang menggunjingku saat itu.


Aku nggak kuat dengan situasi saat ini. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa mendengar lagi?


Jika aku seperti ini terus. Apakah Ega akan tetap mencintaiku?


Rasa takut akan hal itu mulai muncul di hatiku. Bagaimana jika aku tak bisa mendengar selamanya? Bagaimana jika nanti suaraku akan menghilang juga jika aku tak bisa mendengar lagi?


Apa aku akan jadi orang bisu dan tuli?

__ADS_1


Membayangkannya sungguh membuatku tak sanggup membendung air mata yang tak pernah ada habisnya.


Bagaimana aku akan melanjutkan hidupku? Jika aku terus bersama Ega, bukan tidak mungkin dia akan malu memiliki calon istri tuli sepertiku.


Apa keluarga Ega akan menerimaku dengan baik jika keadaanku tetap seperti ini?


Ya Allah, apa yang harus aku perbuat?


Bagaimana aku menjalani hariku selanjutnya, Ya Allah?


Sungguh besar nikmatmu padaku selama ini. Sekarang Engkau hanya mengambil nikmat pendengaran yang Kau berikan padaku sudah membuatku seperti tak memiliki semangat untuk melanjutkan hari esok.


Ya Allah. Aku takut jika mereka akan pergi meninggalkan aku karena sekarang aku cacat.


Entah berapa lama aku duduk bersandar di balik daun pintu ini. Seluruh tubuhku terasa dingin dan membuatku sedikit tak enak badan.


Dan lagi-lagi kurasakan telingaku berdenging nyaring. Entah untuk yang keberapa kalinya aku merasakan hal seperti ini seharian ini.


Setiap telingaku berdenging, sungguh rasanya sakit sekali. Kepalaku ikut sakit juga rasa mual yang tiba-tiba datang.


Seharian ini aku bisa menyembunyikan rasa sakit di kepalaku dari orang-orang yang berada di rumah ini.


...****************...


"Udah siang loh ini, ke mana calon istrimu?" tanya salah satu tante dari Ega.


"Sebentar, Tante. Biar aku lihat dia di kamarnya. Silakan kalian sarapan dulu," jawab Ega.


Ia beranjak dari tempat duduknya di ruang makan. Melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar yang di tempat Zahra.


Sayup-sayup dari arah ruang makan ia masih mendengar sanak keluarganya tengah membicarakan calon istrinya.


Ia hanya mampu menghela napas kasar. Melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Zahra.


Diketuknya pintu berwarna biru muda yang di tempati Zahra dengan sesekali memanggil nama tunangannya. Ia lupa jika Zahra mungkin masih tak mendengar panggilannya.


Dicobanya memutar kenop pintu itu. Terkunci. Rasa cemas menyelinap dalam dirinya. Khawatir terjadi hal buruk pada Zahra.


Tanpa berpikir panjang, ia segera mendobrak pintu kamar itu. Hingga percobaan yang keempat akhirnya pintu itu terbuka.


"Zahra," panggil Ega.

__ADS_1


Ia berjalan cepat menuju tempat tidur. Di sana Zahra terlihat masih tertidur. Begitu ia berada beberapa langkah dari tempat tidur, ia melihat gadisnya dengan mata terpejam dan keringat membanjiri wajahnya.


"Ra!" Ia mengguncangkan sedikit tubuh Zahra. Tak ada respon. Dan justru ia dibuat terkejut karena badan tangan gadis itu dingin seperti es.


"Ra, kamu kenapa? Zahra!" Ega sedikit menggunakan tubuh Zahra.


Gadis itu sedikit menggerakkan kepalanya. Berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat. Bahkan kepalanya seperti tidak bisa bergerak.


"Bunda..." lirih gadis itu.


"Sayang, kamu kenapa? Kita ke rumah sakit ya," ajak Ega cemas.


"Bunda, kepalaku sakit. Dingin, Bun. Telinga aku juga sakit," keluhnya dengan suara serak menahan tangisnya.


Tanpa bertanya lagi, Ega segera mengangkat tubuh Zahra. Digendongnya tubuh lemah itu untuk di bawa ke rumah sakit.


"Pak Udin! Tolong siapkan mobil, Pak. Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Ega memanggil salah seorang sopirnya.


"Pak Udin! Siapa saja! Tolong siapkan mobil!" teriak lelaki itu karena tak ada jawaban dari Pak Udin.


Beberapa orang yang tengah sarapan di ruang makan segera menghampiri dan melihat apa yang terjadi.


"Kenapa dengan calon istrimu itu?" tanya salah seorang yang di sana dengan nada sinis.


"Nggak tahu, Tante. Tadi aku dobrak pintunya dia udah kayak gini," jawab Ega panik.


"Om tolong bantu aku bawa Zahra ke rumah sakit," pinta lelaki itu pada omnya.


Merasa iba beliau pun mau dan segera mengambil kunci mobilnya. Ega segera membawa Zahra mengikuti omya yang akan mengantarnya ke rumah sakit.


"Zahra, bangun, Sayang? Kamu baik-baik aja kan, Sayang? Kamu bisa denger suara aku kan, Sayang?" guman Ega di dekat kepala gadsinya yang sedang ia peluk.


"Om, tolong lebih cepat," pinta Ega tak sabaran.


"Bersabarlah. Ini jam berangkat kantor. jalanan sangat ramai," balas omnya.


Mengusap wajahnya dengan kasar Ega tak lagi berkata apapun.


"Tenanglah. Calon istrimu tidak akan mati. Dia tidak memiliki riwayat penyakit parah, bukan?" ucap lelaki paruh baya itu dengan nada yang sangat tidak enak.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2