Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
69. Girls Time yang ...


__ADS_3

Setelah kegiatan pagi di rumah Ega selesai, Zahra berpamitan pada Uti Salma dan Keyla serta ibunya untuk pergi menengok adiknya di rumah Rio.


Gadis kecil itu lebih tertarik berada di rumah dan terlihat sering memperhatikan bangunan terbengkalai di belakang komplek. Saat diajak ke rumah Rio dia pun menolak dan berkata ingin menghabiskan waktu di rumah saja.


Zahra menuju ke rumah Rio dengan diantarkan oleh Ega. Tunangannya itu berjanji akan menjemput saat pulang kerja nanti. Dengan senang hati gadis itu mengiyakan.


"Hati-hati ya," ucap Zahra sebelum Ega berangkat.


"Iya. Inget, jangan ke mana-mana, di rumah saja, nanti covid di dunia nyata ngikut ke novel kita bahaya!" pesan Ega untuk tunangannya.


"Bahaya kenapa, Kak? Takut nikah gak boleh resepsi ya?" tanya Efelin yang juga berada di luar saat mengetahui kedatangan kakaknya.


"Iya, nanti temen-temen Kakak yang pengusaha-pengusaha dan milyarder gak mau datang ke nikahan Kakak," jawab Ega.


"Udah sana berangkat!" kata Zahra dengan mendorong Ega masuk ke dalam mobilnya.


Setelah mobil Ega tak terlihat, kakak beradik itu masuk ke dalam rumah tante mereka.


Di sana terlihat Zakia dan Tante Rossa yang tengah duduk santai di ruang tamu.


"Assalamualaikum," ucap Zahra yang dijawab oleh mereka yang berada di dalam rumah.


Mereka berjalan mendekati sang tuan rumah dan mendudukkan diri di sofa yang masih kosong.


"Gimana, Ra? Betah di rumah calon mertua?" tanya Tante Rossa.


"Lebih enak di rumah sendiri, Tan," jawab Zahra.


"Kalau kamu gimana, Kia? Jawabannya sama kayak Zahra juga?" tanya Tante Rossa pada calon mantunya. Yang ditanya hanya tersenyum pada calon ibu mertua.


"Ditanyain kok malah senyum, Mama tinggal dulu ya. Hari ini sama Zahra dulu. Mama ada acara arisan sebenernya. Kok ya pas ini Zahra ke sini. Soalnya Mama gak tenang kalau ninggal Zakia di rumah," kata Tante Rossa.


"Iya, Ma. Makasih banyak ya, Ma," ucap Zakia merasa sungkan dengan perhatian yang diberikan calon ibu mertuanya.


"Aku pengen jalan-jalan sebenernya, Kia," kata Zahra.


"Mau ke mana, Mbak. Aku takut mau keluar-keluar," jawab Zakia.


"Ya ke mall mungkin. Udah lama banget sejak kejadian itu aku juga gak keluar main. Apalagi ke mall," ucap Zahra.


"Mbak takut?"


"Awalnya takut, tapi lama kelamaan juga jenuh gak keluar rumah. Apalagi lama di desa, jauh dari keramaian kota, rindu keramaian rasanya. Kamu kan tahu sebelumnya aku kerja. Jadi rasa jenuh itu sering dateng. Pengen sesekali aku jalan-jalan gitu," keluh Zahra.


"Ijin dulu gak ini kalau kita keluar?" tanya Zakia.


"Jangan. Diem-diem aja, entar malah gak boleh," larang Zahra.

__ADS_1


"Aku yang akan ngomong sama para pacar kalian," ucap Efelin yang sedari tadi diabaikan.


"Berani ngomong? Tak pulangin kamu ke bunda!" ancam Zahra.


"Ya aku diajak dong makanya, masak aku di rumah sendirian," rajuknya.


"Iya, bawel," ketus Zahra.


"Ya udah pesen taksi online aja. Aku pesen sekarang ya?" tanya Zahra.


"Bentar, aku ambil tas dulu." Zakia berjalan ke arah kamarnya ke dalam kamarnya untuk bersiap ikut dengan para kakaknya. Setelah semua siap, Zahra meminta adiknya untuk memesan taksi online.


Tak menunggu lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Setelah mencocokkan dengan plat nomor dan bertanya pada pengemudi mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke salah satu pusat perbelanjaan di kota Malang.


Sesampainya di sana, Mereka memutuskan untuk menonton di bioskop. Mereka menaiki lift menuju lantai teratas gedung mall itu.


"Nonton apa?" tanya Efelin.


"Terserah asal bukan horor," jawa. kakaknya.


"Nonton ini aja ya?" tunjuk Efelin pada salah satu iklan film.


"Oke. Sana antre tiket, deretan tengah deket jalan!" perintah Zahra dengan mengulurkan dua lembar uang seratus ribuan.


"Mbak, kita balik aja yuk. Jangan nonton di sini," ucap Zakia tiba-tiba.


"Mereka, Mbak. Ada di sana," tunjuk Zakia pada gerombolan anak muda yang beberapa diantaranya memakai jas almamater.


"Mereka? Yang nyelakain kamu?" tanya Zahra memastikan.


"Iya. Please, Mbak. Kita pindah aja ya," pinta Zakia. Wajahnya mulai memucat. Ketakutan jelas terlihat di wajahnya.


"Oke, aku panggil Efelin dulu," pamit Zahra segera menghampiri adiknya yang berada di antrian.


"Ayo, kita pindah mall." Zahra langsung saja menarik adiknya.


"Zakia! Tunggu!" seru seseorang dari gerombolan tadi.


Benar dugaan Zakia. Di sana ada laki-laki itu, dan sialnya dia sempat bertemu pandang dengannya.


Laki-laki itu berhasil mengejar Zakia yang berlari menghindarinya.


"Kia, tunggu, Kia!" Lelaki itu mencekal pergelangan lengan Zakia.


"Lepas!"


"Kia, tolong, kasih aku kesempatan buat tanggung jawab sama kamu," mohon laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku gak kenal kamu! Lepas!" ucap Zakia hampir berteriak.


"Tolong, jangan memancing keributan. Kita jadi perhatian orang lewat," ucap Zahra pada laki-laki itu.


"Oke-oke. Tapi, please, kasih aku waktu ngomong sama Zakia," pinta lelaki itu.


Tak disangka-sangka seseorang menarik pundak lelaki itu hingga ia menghadap ke belakang. Satu pukulan keras tepat mendarat di wajahnya.


"B*ngs*t!" umpat Rio.


"Rio!" seru Zakia dan Zahra bersamaan setelah mengetahui siapa laki-laki itu.


Kembali Rio melayangkan pukulan pada laki-laki itu.


"Rio, stop!" Zakia menghambur memeluk Rio sambil menangis.


"Sayang, kamu gak papa kan?" tanyanya begitu sadar Zakia menangis.


"Kia, Sayang. Apa kamu disakiti lagi sama b*jing*n itu?" tanya Rio dengan melihat wajah Zakia.


Gadis itu menggeleng dan kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang Rio. Melupakan bahwa dirinya tengah menjadi perhatian pengunjung mall.


"Ada apa ini?" tanya sekuriti gedung memecah kerumunan.


Zahra yang cepat tanggap segera menjawab pertanyaan pihak keamanan itu.


"Maaf, Pak. Tadi ada salah paham sedikit, tapi sudah selesai kok," ucap Zahra. Berharap sekuriti itu percaya.


"Apa benar begitu?" tanya sekuriti itu lagi.


"Iya, Pak," jawab laki-laki yang dipukul Rio. Ia tak mau sampai dibawa ke pos keamanan.


"Ya sudah! Tolong bubar. Jangan membuat kerumunan!"


Para pengunjung yang penasaran pun terpaksa membubarkan diri. Laki-laki yang sempat dipukuli Rio pun juga ditarik oleh salah satu temannya untuk meninggalkan kerumunan.


"Ayo pulang!" ajak Rio.


Masih dengan memeluk kekasihnya, Rio berjalan mendahului Zahra dan Efelin.


Efelin berjalan menunduk di samping kakaknya. Merasa bersalah atas kejadian yang baru saja terjadi.


"Pasti kamu kan yang ngasih tahu Rio? Jangan bilang kamu juga ngomong sama Ega?" tandas Zahra dengan nada geram.


Gadis itu diam tak mau menjawab tuduhan kakaknya. Zahra menghela nafas kasar. Pasti sebentar lagi Ega akan marah besar padanya.


Akhirnya mereka berempat pulang dengan menggunakan mobil Rio. Sepanjang perjalanan lelaki itu diam tanpa sepatah kata pun. Membuat suasana di dalam mobil terasa sangat canggung dan sunyi.

__ADS_1


__ADS_2