
"Yo, Zahra opo wis moleh? Aku ndek RS iki kok ruangane wis kosong."
(Yo, Zahra apa sudah pulang? Aku di RS ini kok ruangannya sudah kosong.)
"Gak eroh, Ga. Aku gorong mrono. Sek ndek bengkel iki. Coba umak telpon Efelin. Umak due nomer e kan?"
(Gak tau, Ga. aku belum pulang. Masih di bengkel ini. Coba kamu telepon Efelin. Kamu punya nomornya kan?)
"Oke oke tak telpon e."
(Oke oke aku telpon dia.)
Ega mematikan sambungan teleponnya dengan Rio. Lalu ia menghubungi Efelin untuk menanyakan keberadaan Zahra. Saat ini ia duduk di kursi depan ruang rawat Zahra.
"Halo, Fel," ucap Ega begitu sambungan telepon terhubung.
"Ya, Kak. Ada apa?" balas Efelin.
"Zahra sudah pulang? Aku sekarang lagi di rumah sakit ruangannya kosong."
"Ya ampun Kakak, maaf. Aku lupa mau ngasih tahu Kakak kalau Mbak Zahra udah pulang. Kak Ega langsung ke rumah aja nggak papa."
"Oke, thanks."
Ega mematikan sambungan teleponnya. Ia bergegas meninggalkan ruangan itu dan kembali ke parkiran. Ia sangat lega ternyata Zahra sudah diperbolehkan pulang. Ia memacu mobil sedannya menuju rumah Zahra.
Begitu sampai di halaman, lelaki itu bergegas masuk rumah. Suasana sepi terasa di rumah itu. Ia mengetuk pintu perlahan dan menunggu seseorang membukakannya.
"Assalamualaikum," ucap Ega.
"Waalaikumsalam," dari dalam rumah terdengar jawaban dengan suara berat. Setelah pintu terbuka terlihat sesosok lelaki paruh baya yang tak lain adalah Ayah Zahra.
"Sore, Om," Ega menyalami Ayah Zahra.
"Iya. Masuk, Le. Zahra di dalam," ucap Irawan, Ayah Zahra mengajak Ega masuk.
"Tadi dari kantor langsung ke sini?" tanya Irawan. Irawan duduk di sofa diikuti Ega.
"Tadi langsung ke rumah sakit, Om. Ternyata Zahra udah pulang," jawab Ega.
"Lho. Efelin gak ngasih tahu kamu?"
"Tidak, Om. Tadi telepon Rio ternyata dia juga nggak tahu kalau Zahra udah pulang."
"Oalah, gimana toh Efelin wong tadi sudah dipesenin suruh ngasih tahu kamu sama Rio."
"Iya, Om. Gak papa. Aku udah kasih tau Rio kalau Zahra sudah pulang."
"Sebentar, saya panggilkan Zahra dulu," lelaki itu beranjak masuk ke dalam.
Sebelum ke kamar Zahra ia terlebih dahulu memasuki dapur untuk menemui istrinya dan mengatakan jika ada Ega di depan.
__ADS_1
Tak berselang lama, Bu Ratih keluar membawakan minuman hangat untuk Ega.
"Tante, jadi ngerepotin," kata Ega lalu menyalami Bu Ratih.
"Endak. Minum dulu mumpung masih hangat," jawabnya.
Di dalam kamar Zahra terlihat tidur sangat pulas. Ayahnya tak tega untuk membangunkan gadis itu. Ia pun kembali menutup pintu kamar dan meninggalkan kamar anak gadisnya. Om Irawan menuruni tangga kembali lagi ke ruang tamu untuk menemui Ega.
"Nak Ega. Zahranya tidur. Saya nggak tega buat membangunkannya," kata lelaki itu.
"Iya, Om. Gak papa. Saya cuma ingin tahu keadaan Zahra saja. Syukurlah kalau dia sudah kembali sehat."
"Ya. Saya sangat berterima kasih padamu, Nak. Berkat bantuan kamu juga Zahra terselamatkan. Saya sangat merestui jika memang kamu serius dengan anak Saya."
"Terimakasih, Om. Saya masih harus meyakinkan Zahra untuk hal itu, Om."
"Kemarin dia menolak kehadiran saya di rumah sakit. Dia bilang dirinya tidak pantas untuk saya karena sudah dikotori orang yang sudah menculiknya itu. Saya ingin Om membantu saya untuk meyakinkan Zahra, Om," lanjut Ega
"Saya akan bicara dengannya nanti."
"Sekali lagi terima kasih Om sudah mengizinkan saya untuk menjalin hubungan dengan anak Om. Jika memang Zahra sudah mau menerima saya, saya akan segera mengajak Papa untuk melamar Zahra kepada, Om."
Ayah Zahra tersenyum bangga menatap lelaki muda di depannya. Ia merasa tak salah pilih dengan pilihannya untuk menyerahkan Zahra kepada Ega nantinya.
"Saya ingin memberitahumu satu hal. Selama Zahra belum menikah denganmu, dia akan tinggal di desa bersama bundanya dan Efelin."
"Ke rumah neneknya?" tanya Ega memastikan.
"Ya. Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk lagi pada mereka bertiga. Maka dari itu Saya dan bundanya akan meninggalkan kota ini sejenak demi kebaikan anak-anak saya."
"Belum. Kita akan membicarakannya nanti."
"Jika memang itu yang terbaik saya juga akan mendukung, Om."
Obrolan mereka terhenti ketika ada ucapan salam dan ketukan pintu dari luar rumah. Sang tuan rumah berdiri dan menyambut tamunya.
"Mas, gimana keadaan Zahra?" tanya perempuan hampir seusia Bu Ratih.
"Dia sudah lebih baik. Kamu dikasih tau Rio ya?" tanya Ayah Zahra.
"Iya. Anak bandel itu baru ngasih tau aku. Boleh aku menengok keponakanku?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Mama Rio adik dari Bu Ratih
"Masuk saja, dia ada di kamarnya," ucap Om Irawan mempersilahkan adik iparnya masuk.
Di belakang wanita itu Rio berjalan masuk ke dalam rumah. Lelaki itu ikut duduk di samping Ega.
"Ya sudah saya pamit ke belakang dulu ya," pamit Ayah Zahra kepada dua lelaki itu.
"Iya, Om," jawab mereka serempak.
"Umak nang RS opo langsung mrene?" tanya Ega pada Rio.
__ADS_1
(kamu tadi ke RS dulu apa langsung ke sini?)
"Untung mbok kandani. Aku mang wes setengah perjalanan kate nang RS trus langsung puter balik mrene."
(Untung kamu kasih tahu. Aku tadi sudah setengah perjalanan menuju RS langsung putar balik menuju ke sini.)
"Ngelamak ancene Efelin iku. Ora ngomongi lek Zahra wis moleh. Untung aku durung tekok kono. Yok opo umak mang ndek kono Zahra ganok?"
(Kurang ajar memang Efelin itu. Tidak memberitahu kalau Zahra sudah pulang. Untung aku belum sampai sana. Bagaimana kamu tadi di sana Zahra ndak ada?)
"Yo bingung aku. Lah kamar e kosong. Takok perawat sing liwat wong e gak eroh. Aku di kongkon mudun takok nang informasi."
(Ya bingung lah aku. Kamarnya udah kosong. Tanya sama perawat yang lewat dia tidak tahu. Aku disuruh turun untuk tanya ke informasi.)
"Terus?"
"Yo terus aku telpon umak iku. Marunu telpon Efelin. Yowes langsung mrene wes."
(Ya terus aku telepon kamu itu. Setelah itu telepon Efelin. Ya sudah terus aku ke sini.)
"Wes ndelok Zahra mendukur?"
(Sudah lihat suara di atas?)
"Gurung. Jare Om arek e turu."
(Belum. Om bilang dia tidur.)
"Alasan paling iku umak cek gak melbu kamar e Zahra. Hahaha," ucap Rio mengejek Ega.
(Alasan saja itu biar kamu tidak masuk kamarnya Zahra. Hahaha.)
"Hahaha. Iyo paling yo."
(Hahaha. Iya mungkin ya.)
"Ayo munggah. Ndek ndukur ono Mamaku."
(Ayo naik. Di atas ada Mamaku.)
Kedua lelaki itu berdiri dan berjalan masuk untuk ke kamar Zahra. Di ruang tengah mereka berpapasan dengan Efelin yang baru saja menuruni tangga.
"Lha iki arek e. Gara-gara umak aku mbe Ega kecelek. Ega marani Mbakmu nang RS. Aku ndek embong puter balik langsung mrene. Gara-gara umak gak ngandani." Rio menegur Efelin.
(Lah ini anaknya. Gara-gara kamu aku sama Ega tidak tahu info. Ega nyamperin Mbakmu ke RS. Aku di jalan puter balik langsung ke sini. gara-gara kamu nggak ngasih tahu.)
"Sory. Lah aku lali kok. Wong lali iku gak iso disalahno. Yo berarti guduk salahku." Efelin mengelak.
(Sorry. lah Aku lupa loh. Orang lupa kan nggak bisa disalahkan. Ya berarti bukan salahku.)
"Wes ayo. Sido munggah opo ora?" tanya Ega pada Rio.
__ADS_1
(Sudah ayo. Jadi naik apa tidak?)
Akhirnya mereka berdua meninggalkan Efelin yang cemberut.