
Semenjak gadis itu masuk dalam grup chat karang taruna Pandawa, ponselnya hampir tak pernah berhenti berbunyi. Kebanyakan notifikasi pesan dari nomor-nomor baru yang mengaku anggota grup Pandawa.
Semua pesan itu sangat mengganggunya. Semua itu berawal dari dirinya yang memperkenalkan diri dalam ruang obrolan grup. Hingga akhirnya mendapatkan banyak respon dari anggota grup laki-laki.
Sepertinya hal itu memicu kecemburuan sosial, lantaran pada saat ada yang menanyakan hal penting di grup tidak ada yang merespon dan lebih melanjutkan berkenalan dengan Zahra.
Beberapa pesan yang masuk pada ponselnya berisi makian yang menurut Zahra sama sekali ia tidak melakukan hal itu. Ia tidak pernah merasa menggoda siapapun di dalam grup, atau bahkan menjadikan salah seorang dari mereka menjadi pacarnya.
Banyak lagi tuduhan-tuduhan yang membuatnya merasa sedih dan berat untuk mengenal mereka dengan baik. Bahkan ia dengan sengaja tidak menghadiri pertemuan berikutnya setelah yang diagendakan sebelumnya.
"Mbak, ada tamu nyariin," ujar Efelin menghampiri kakaknya yang tengah bersantai di ruang tengah dengan sang bunda.
"Siapa?" tanyanya.
"Dari karang taruna katanya. Sana gih, lihat sendiri."
Dengan malas ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju ruang tamu dengan perasaan ogah-ogahan.
"Oh, Adam ya?" sapa Zahra pada salah satu lelaki yang dikenalinya.
"Iya. Maaf malam-malam kita mengganggu," jawab Adam sedikit sungkan.
"Santai aja. Ada apa ya? Maaf kemarin aku gak bisa dateng. Ada acara sama calon suami aku," ucap Zahra beralasan.
"Eh. Udah punya orang ternyata. Kirain masih single, Mbak," ucap salah seorang lainnya yang datang bersama Adam.
Gadis itu hanya menanggapi dengan senyuman. Ia kembali menanyakan maksud kedatangan dari mereka berdua.
"Jadi gini, kemarin kan pembagian panitia lomba, dan maaf sebelumnya kita cantumkan kamu sebagai panitia lomba juga. Kamu bersedia kan?" tanya Adam.
"Duh. Gimana ya..., aku gak pernah terlibat urusan organisasi dan kepanitiaan gitu. Mending jangan aku deh," tolak gadis itu halus.
"Aku minta tolong banget, Mbak. Nanti Mbak Zahra kebagian sie dokumentasi aja kok, sama bantu-bantu yg lain kalau emang mendesak," bujuk Adam.
Dari dalam, sang bunda yang kebetulan tengah membawa minuman untuk tamu anaknya mendengar permintaan dari dua lelaki itu. Dengan semangat ia segera ikut nimbrung sebelum anak gadisnya menolaknya lagi.
__ADS_1
"Repotin jadinya, ngapunten nggih, Bu, (maaf, ya, Bu)," ujar teman Adam.
"Ndak papa. Saya senang sekali anak saya dilibatkan di acara kampung sini. Pasti dia mau kok bantu-bantu acara kalian. Nanti kalau dia nolak biar saya yang paksa," ujar Bu Ratih yang mendapat lirikan kesal dari anak gadisnya.
"Terimakasih loh, Bu. Sudah diijinkan. Karena nantinya akan sering-sering pertemuan sampai kegiatan lomba selesai," ucap Adam.
"Iya. Ndak papa. Kalau butuh tempat ngumpul di sini juga boleh. Lumayan luas kalau buat rapat-rapat bisa dipakai," imbuh Bu Ratih.
"Wah beneran, Bu? Kita memang sebernernya cari tempat yang luas gitu Bu. Kalau diijinkan kita boleh menempati ya, Bu?" sahut teman Adam.
Zahra menahan kekesalannya atas tindakan sang bunda yang dirasa sangat menyudutkan dirinya. Bahkan sang bunda tidak mengetahui bahwa dirinya sudah tidak disukai oleh kaum perempuan di grup karang taruna itu.
Ia tak tahu lagi bagaimana nanti kelanjutannya. Apakah ia bisa beradaptasi dengan lingkungan yang menurutnya tidak sehat itu. Atau nanti ia akan dikucilkan dan mendapatkan bully-an.
Setelah berbicara banyak menyampaikan apa saja yang harus dia lakukan dan berbahaya hal lainnya, Adam dan temannya pamit undur diri pada Zahra.
******
"Kamu kenapa sih? Masak aku jauh-jauh ke sini manyun gitu?" tanya Ega heran dengan mood kekasihnya yang terlihat tidak bagus.
"Akutuh kesel, tahu!" serunya membalas pertanyaan Ega.
"Nih ya, aku dari kemarin-kemarin tuh dapet chat dari anak-anak komplek setelah di masukin grup karang taruna. Udah gitu aku ditunjuk jadi salah satu panita. Mana sebelumnya itu aku udah gak disukai sama penghuni grup terutama cewek-ceweknya."
"Gak disukai karena apa?"
"Ya karena banyak cowok yang terang-terangan godain aku."
"Dan kamu tergoda?"
"Ya enggak lah!" jawab Zahra dengan emosi.
"Ya udah sih, Yang. Cuek aja. Gak usah peduliin yang kayak gitu," nasehat Ega.
"Enak kamu kalo ngomong! Coba kamu tuker posisi sama aku. Kamu dikata-katain di gosipin sana sini. Tekanan batin tahu!"
__ADS_1
"Sabar, Sayang," ucap Ega membawa gadis itu dalam pelukannya.
Gadis itu tiba-tiba menangis saat berada dalam dekapan kekasihnya. Menangis sesenggukan yang membuat lelaki itu bingung harus melakukan apa.
"Udah, Sayang. Jangan dimasukkan hati. Anggap aja mereka itu kurang kerjaan. Udah ya," bujuk Ega.
"Rasanya nggak enak, Ga. Di WA dikata-katain, ketemu pas papasan juga pada bisik-bisik. Aku jadi makin merasa nggak enak buat ikut gabung sama mereka. Di awal aja mereka udah nggak nerima aku."
"Iya, Sayang, aku ngerti. Kamu harus bisa menghadapi yang seperti itu. Kita udah dewasa. Palingan yang ngatain kamu, gosipin kamu itu anak-anak kecil yang masih SMA. Udah kamu cuek aja. Pasti nanti juga ketemu sama orang baik yang bisa jadi temen kamu di sini," ucap Ega menyemangati.
Gadis itu masih sesenggukan dalam pelukan Ega. Lelaki itu juga membiarkannya hingga gadisnya merasa baikan. Sambil terus mengusap-usap punggung gadisnya, dan sesekali menciumi pucuk kepalanya.
Zahra mengangkat kepalanya, sedikit mendongak untuk bisa melihat wajah tunangannya. Yang dipandang pun tersenyum seraya mendekatkan wajahnya pada wajah sembab Zahra.
"Kamu jelek kalau habis nangis gini," ujarnya.
"Gak peduli," jawab Zahra.
"Kalau aku bilang gitu kamu gak peduli. Tapi kenapa kalau orang lain yang bilang kamu peduli?" bisik Ega tepat di hadapan wajah Zahra, kening mereka saling bersentuhan.
"Rasanya beda. Kalau kamu yang ngomong pasti bukan dari hati. Sedangkan, mereka pasti bicaranya dari hati. Nyesek banget kalau tahu digosipin yang jelek-jelek itu."
"Iya, Sayang. Ngerti. Makanya sekarang kamu buktiin ke mereka. Kalau kamu itu bisa diandalkan. Bisa mendukung acara yang mereka buat. Kalau perlu sumbangan ngomong aja sama aku. Nanti aku sponsori."
"Huh! Kumat sombongnya,", gerutu Zahra memalingkan wajahnya.
"Aku serius. Dengan syarat proposal dan imbal balik yang menguntungkan buat aku," imbuh Ega.
"Males ah mau ngomong masalah duit sama mereka. Aku masih baru di lingkungan ini."
"Bukan kamu yang baru. Kamu udah hampir lima bulan di sini. Mana ada segitu lamanya kamu gak tahu orang sini sama sekali," ucap Ega yang juga sedikit tak percaya dengan tunangannya itu.
"Sayang," panggil Ega yang dibalas dengan deheman.
"Kangen," bisiknya di telinga Zahra.
__ADS_1
"Geli, ih, kamu kumisan."
Ega tertawa dan semakin menggoda Zahra dengan sengaja menghujaninya dengan kecupan-kecupan dan menggesekkan kumis tipisnya pada leher dan pipi Zahra.