
Matahari pagi tengah malu-malu menampakkan sinarnya. Dinginnya embun pagi pun tak membuat orang-orang merasa enggan keluar rumah.
Meski sang surya belum menampakkan wujudnya dengan sempurna, para penduduk yang berprofesi sebagai petani telah siap untuk menggarap sawah mereka.
Di sebuah kayu di bawah pohon ceri, duduk seorang gadis menikmati pemandangan itu. Sesekali ia mengambil gambar para petani yang tengah bekerja.
Sambil menikmati sejuknya udara pagi di pedesaan. Bersih tanpa polusi. Dinginnya udara yang menusuk tulang diterpa cahaya matahari menjadikan sensasi hangat di kulit.
Setelah puas menikmati indahnya ciptaan yang Maha Kuasa, gadis itu kembali ke dalam rumah untuk membantu bibinya memasak.
Tadi pagi, Bibi Dewi mengajaknya lagi untuk berbelanja di warung kampung sebelah. Namun, dengan halus gadis itu menolak. Ia tak ingin obrolan kapan hari terulang kembali.
Dan beberapa saat yang lalu ia mendengar suara bibinya di dalam dapur, yang menandakan beliau telah kembali dari berbelanja.
"Bulek, saya bantu apa?" tanya gadis itu.
"Tolong, itu kamu bisa memasak ayam kecap?"
"Bisa, Bulek."
Gadis itu mulai berkutat dengan daging ayam. Membersihkannya terlebih dahulu, dan mempersiapkan semua bumbu yang dibutuhkan.
Sesekali dua orang itu saling melempar pertanyaan saat memasak. Bibi Dewi menceritakan banyak hal tentang kehidupan di desa. Zahra sesekali menimpali dan lebih sering tersenyum menanggapinya.
Zahra terlihat sangat cekatan dalam urusan dapur. memang sedari kecil ia dibiasakan oleh sang bunda untuk belajar memasak. Sebagai bekal jika nanti ia menikah tidak harus mengandalkan jasa pembantu, begitu kata sang bunda.
Memang dasarnya dia suka dengan kegiatan memasak. Sejak SMP ia sering membantu sang bunda saat memasak. Terkadang ia juga bereksperimen sendiri membuat makanannya sendiri.
Tak terasa jam di ponsel Zahra sudah menunjukkan jam tujuh pagi saat ia melihatnya. Ia segera membawa makanannya ke meja makan sederhana yang ada di salah satu sudut dapur.
Tidak seperti meja makan di rumahnya di kota dulu, yang dilengkapi meja dan kursi makan. Di rumah ini hanya sebuah meja besar tanpa dilengkapi kursinya. Mejanya pun terbilang kuno tanpa model.
Sebuah kesederhanaan yang sangat dijaga di tempat ini. Bibi Dewi bilang, hampir semua benda yang ada di rumah ini adalah peninggalan almarhum kakek dan nenek Zahra. Hanya bagian teras rumah yang sengaja direnovasi.
Itu artinya hampir semua benda yang ada di rumah ini lebih tua umurnya dibandingkan dengan umur Zahra sendiri.
"Sampun, Bulek," ucap Zahra begitu selesai menghidangkan masakan yang dibuatnya bersama sang bibi.
(Sudah, Bulek.)
"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu, setelah itu sarapan bareng, sambil nunggu paklek-mu datang," jawab Bibi Dewi.
Gadis itu mencuci tangannya. Mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja dan pamit ke kamar pada bibinya.
"Ndang adus, Nduk. Terus sarapan," ucap Bibi Dewi.
"Enggeh, Bulek."
(Iya, Bulek.)
Di dalam kamar ia mengecek beberapa pesan yang masuk. Ada banyak pesan dari lelaki yang semalam ia hubungi. Ia tersenyum membaca beberapa rentetan pesan yang dikirim sejak subuh tadi.
Ega:
Morning, Sayang (04.27)
Sudah bangun? (05.36)
Ra (05.00)
Sayang (06.41)
__ADS_1
Ia tersenyum membacanya. Segera ia mengetikkan pesan balasan pada lelaki itu.
Zahra:
Morning too.
Aku baru selesai masak. Maaf baru balas. (07.03)
Tanda centang biru dua langsung terlihat begitu pesan terkirim. Tak lama kemudian panggilan video masuk dari nomor Ega.
Zahra tak langsung menjawab panggilan itu. Ia merasa gugup. Hingga akhirnya dering ponselnya mati, membuat status panggilan dari Ega 'tak terjawab'.
Sekali lagi, ponselnya berdering dan menampakkan panggilan video dari nomor yang sama.
Dengan mengumpulkan keberanian. Dipencetlah tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu. Muncul wajah segar lelaki tampannya memenuhi layar ponsel Zahra.
"Kok lama?" tanya Ega begitu melihat wajah Zahra.
"Apanya?" Zahra bertanya balik.
"Angkat teleponnya."
"Maaf."
"Gapapa."
"Iya."
"Em, lagi apa?"
"Habis masak. Mau mandi."
"Oh. Masak apa?"
"Ayam kecap."
"Ada tumis kangkung, bakwan jagung sama tempe goreng. Tapi bukan aku yang masak."
"Katanya habis masak, kok bukan kamu yang masak? Bohong yaa?" goda Ega di ujung sana.
"Tadi masak bareng bulek."
"Oh. Ya udah sana sarapan."
"Iya mau mandi dulu."
"Ya udah sana mandi."
"Iya."
"Singkat terus jawabnya. Kenapa sih?" tanya Ega mulai kehabisan pertanyaan. Karena sedari tadi gadis yang ia telepon hanya menjawab tanpa balik bertanya.
"Bingung mau jawab apa," jawab Zahra akhirnya. Ia sengaja menggerakkan ponselnya sehingga menghadap ke langit-langit kamarnya.
"Kok keliatan atap? Ra?"
"Apa?"
"Ngapain dilihatin ke atap sih?" gerutu Ega.
"Malu."
"Teleponan dari tadi kenapa malunya sekarang? Coba lihat, aku mau lihat wajah malu itu kayak gimana sih?" pinta Ega.
"Jadi pengen bolos kerja terus nyamperin kamu," lanjut lelaki itu.
"Jangan! Udah sana kamu kerja. Ini udah siang loh! Nanti kamu telat."
"Lihatin ke kamu dulu dong, baru setelah itu aku matiin teleponnya," pinta lelaki itu.
__ADS_1
"Kamu jadi banyak omongnya sekarang," kata Zahra.
"Cuma sama kamu aku bisa banyak omong."
"Bohong."
"Enggak! Ayo dong, Sayang. Masa dari tadi aku lihat atap sih?"
Zahra kembali menggerakkan ponselnya menghadap padanya.
"Nah gitu dong. Orang belum mandi juga tetep cantik kok. Udah pernah juga aku liat kamu belum mandi," ucap lelaki itu tersenyum aneh.
"Kapan?" tanya Zahra.
"Mau aku ingetin?"
"Kamu mah suka bohong."
"Nih aku ingetin. Waktu itu hari Minggu, aku main ke rumah kamu, pas itu awal-awal kita ketemu lagi, kamu nemuin aku pake baju tidur kurang bahan-"
"Stop! Stop! Udah jangan diingat lagi. Dasar ya kamu pikirannya jelek!"
"Apa itu pikiran jelek? Aku hanya ingatkan kamu kok," bantah Ega.
"Udah sana kerja. Udah siang." Ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya udah aku siap-siap dulu. Nanti aku pulang kerja mau ke sana. Jaga hati, ya. Jangan sampai kepincut cowok di sana."
"Iya."
"Ra."
"Hem?"
"Love you."
"Aku juga."
"Ih gak romantis. Ya udah aku kesiangan. Hehehe. Aku matiin ya, Sayang."
"Iya. Hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut meski udah telat."
"Iya Sayang. Bye. See you."
Sambungan telepon itu terputus setelah Ega berpamitan. Hanya bertelepon saja sudah membuat Zahra berdebar dan salah tingkah sendiri. Lalu bagaimana jika ia bertemu langsung dengan lelaki itu?
Ia harus mempersiapkan dirinya. Mengingat kemarin-kemarin banyak terjadi salah paham. Pasti suasananya tidak akan sama dengan saat mereka mengobrol melalui sambungan telepon.
"Nduk! Kenapa belum keluar kamar?" Dari luar kamar Zahra suara bibinya membuyarkan semua hal yang bercokol dalam pikiran gadis itu.
"Sebentar, Bulek," jawab gadis itu.
Buru-buru ia meletakkan ponselnya dan mengambil peralatan mandinya dan bergegas membuka pintu kamar.
"Lhoalah. Sik gurung adus ta? Yowis kono, batan ndang adus. Paklikmu wes ate sarapn iko," ucap Bibi Dewi saat melihat Zahra keluar membawa peralatan mandi.
(Oalah. Masih belum mandi? Ya sudah sana, buruan mandi. Paklik-mu udah mau sarapan itu.)
"Maaf, Bulek. Tadi ada telepon. Bulek sama paklik sarapan duluan ndak papa. Saya mau mandi dulu," ucap gadis itu merasa sungkan.
Zahra berlalu meninggalkan Bibi Dewi setelah berpamitan hendak mandi. Gadis itu segera menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur.
Dengan cepat ia melakukan ritual mandinya. Karena pasti paman dan bibinya menunggu untuk sarapan bersama.
Selesai mandi yang tak sampai lima belas menit itu, Zahra segera bergabung dengan paman dan bibinya. Mereka hanya sarapan bertiga saja. Karena anak tunggal paman dan bibinya tidak berada di rumah.
Selesai sarapan gadis itu membantu Bibi Dewi membersihkan peralatan masak dan makan. Mencuci semuanya dan meletakkan kembali pada tempatnya.
Setelah itu ia berpamitan untuk kembali ke kamar. Dengan alasan ingin menghubungi sang bunda yang katanya akan pindahan hari ini.
__ADS_1