Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
57. Kondangan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali setelah selesai salat subuh, Ega sudah berdiri di depan pintu kamar hotel Zahra. Berkali-kali ia mengetuk pintu kamar gadis itu. Namun, hampir sepuluh menit ia berdiri di sana pintu kamar tak kunjung terbuka.


Kembali lelaki itu mengetuk pintu kamar. Juga berusaha menelepon Zahra yang sayangnya tidak mendapatkan jawaban.


Karena kesal ia bersandar di daun pintu. Nyaris saja ia terjengkang saat pintu terbuka dari dalam.


"Ya Allah. Kamu itu ngapain pagi-pagi udah ada di sini?" omelnya begitu mendapati lelaki itu berdiri cengar-cengir di hadapan.


"Mau siap-siap dong," jawabnya tanpa dosa.


"Di kamarmu sendiri kan bisa!" Zahra yang kesal hendak menutup pintu kamarnya.


Dengan sigap Ega menghadang dan menyelinap masuk ke dalam kamar. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di kasur yang telah dirapikan Zahra.


"Kok lama buka pintunya?" tanya Ega mengabaikan Zahra yang kesal padanya.


"Mandi," jawab gadis itu singkat.


"Acaranya jam berapa?" tanyanya masih dengan perasaan dongkol.


"Kalau gak salah akadnya jam delapan resepsinya jam sebelas. Kita disuruh datang pas akadnya sih."


"Terus kita dateng jam berapa?"


"Sebelum akad."


"Ya udah mau siap-siap dulu." Zahra berbalik meninggalkan Ega yang kembali terlelap di atas kasurnya.


Gadis itu mengambil sarimbit yang memiliki motif batik sama dengan kemeja Ega. Membawanya ke kamar mandi dan berganti di sana.


Gadis itu keluar lagi dengan memakai kebaya berwarna pink yang melekat indah di tubuhnya. Ia kembali mengambil koper yang tergeletak di samping tempat tidur. Mengeluarkan peralatan make up-nya dan menatanya di atas kasur di samping lelakinya.


Ega yang sedari tadi diam-diam memperhatikan gadisnya itu seketika membuka mata saat Zahra mulai menyapukan pelembap pada wajahnya. Dan hal itu mendapat protes dari Ega.


"Pake gituan biar apa?" tanya Ega memperhatikan Zahra yang masih menekuni alat make up-nya.


"Ya biar cantik. Masak mau kondangan gak pake make up," balas gadis itu acuh.


"Udah cantik gak usah (tidak perlu) pake begituan," tutur Ega.


"Berisik ah. Jangan ganggu. Sana kamu mandi terus siap-siap," perintah Zahra.


Gadis itu fokus dengan dirinya dan sama sekali tidak memperdulikan Ega yang mulai was-was. Takut banyak yang melirik pujaan hatinya.


Merasa tak dipedulikan, akhirnya lelaki itu bangun dari rebahannya. Mengambil kemeja batik yang sama persis dengan batik yang dipakai Zahra.


Sampai Ega selesai mandi, Zahra masih berkutat memoles wajahnya. Mengabaikan lelaki yang tengah cemberut padanya.


"Ya Allah. Kamu pasang make up aja hampir sejam, Yang. Kita belum sarapan juga," gerutu Ega yang mulai tak sabar menunggu gadisnya.


"Service room aja. Gak keburu juga kita cari makan," jawab Zahra tanpa memandang lawan bicaranya. Membuat Ega semakin kesal.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun, lelaki itu keluar kamar. Zahra melihatnya dengan heran.


Kenapa jadi dia yang marah? Padahal dia yang menggangguku pagi-pagi, batin Zahra.


Gadis itu mengedikkan bahu menjawab pertanyaannya sendiri. Lalu merapikan peralatan make up kembali ke tempatnya.


Mengambil pasmina yang senada dengan bajunya di dalam koper, lalu memakainya. Ia melihat pantulan dirinya di depan cermin untuk mengecek penampilannya sendiri.


Perfect, nggak akan malu-maluin Ega juga dirinya sendiri nanti, batinnya.


Tak berselang lama, Ega kembali ke dalam kamar membawa bungkusan makanan cepat saji. Sejenak ia terpana melihat gadis berjilbab di depannya.


"Ga! Kok lihatinnya gitu? Aneh ya? Gimana dong? Aku cuma bawa baju satu ini aja buat acara. Ini kan juga kamu yang milih waktu beli."


"Eh? Apa? Kamu cantik banget, Sayang. Lebih cantik dari yang aku bayangin," puji Ega begitu sadar.


"Ayo sarapan dulu, lalu berangkat," ajaknya.


Mereka berdua segera membuka menu sarapannya. Memakannya tanpa suara. berkali-kali ia memandang wajah teduh Zahra yang membuatnya makin terpesona.


Selesai makan, ternyata jam di ponsel Ega telah menunjukkan jam delapan kurang sepuluh menit.


Ia bergegas menuju telepon yang ada di meja nakas dan menghubungi service room untuk merapikan kamar mereka. Ia merapikan baju dan rambutnya sebelum keluar dari kamar hotel.


"Ayo berangkat," ajaknya pada gadis berjilbab di depannya.


Zahra mengangguk dan berdiri menyambut uluran tangan Ega.


"Dengerin aku baik-baik ya, Sayang. Inget! Jangan sampai kamu pisah dari aku. Aku gak mau kamu dilirik orang lain," peringat Ega sungguh-sungguh.


"Iya."


"Iya."


"Gak boleh lepas gandengan tangan aku.*


"Iya."


"Jangan tebar pesona!"


"Iya."


"Sayang, aku serius!" ucap Ega mulai gusar karena hanya mendapatkan jawaban 'iya'.


"Kamu kalau ngomel terus kita enggak bakal berangkat, Ega!" Zahra pun mulai gusar melihat tingkah Ega yang tiba-tiba menjadi aneh.



(baju couple yang dipakai Zahra sama Ega. Sumber internet)


Akhirnya setelah melewati perdebatan panjang, mereka berdua sampai di rumah Tria. Tempat acara akad dan resepsi dilaksanakan.

__ADS_1


Sayangnya saat mereka datang prosesi akad telah selesai dilaksanakan.


"Astaga! Zahra, Ega! Aku gak nyangka kalian datang," ucap Tria memeluk Zahra.


"Selamat ya, Tria. Akhinya kalian nikah. Semoga jadi keluarga yang samawa (sakinah, mawadah, warahmah)," ucap Zahra balas memeluk Tria.


"Thanks, Bro. Jauh-jauh dari Malang datang di hari bahagiaku," ucap Rio memeluk Ega.


"Semoga kalian cepet nyusul ya, Ra," ucap Tria lagi.


"Aamiin. Kalian harus datang kalau aku nikah," jawab Ega.


"Mana sodara kembarku Rio? Dia gak ikut?" tanya Rio yang sekarang sudah sah menjadi suami Tria menanyakan Rio sepupu Zahra.


"Dia nitip salam buat kamu. Maaf dia gak bisa datang," jawab Zahra.


"Ra, kamu cantik banget kalau berjilbab gitu. Pantesan Ega enggak lepasin gandengannya ke kamu," puji Tria.


"Kamu ratunya hari ini. Kamu yang paling cantik," balas Zahra dengan senyum indahnya.


"Kita samperin anak-anak dulu ya," pamit Ega pada Rio.


Keduanya meninggalkan pelaminan, menghampiri teman-temannya yang tengah duduk berkumpul di salah satu meja tamu yang disediakan.


"Zahra?" tanya Rosa memastikan. Gadis berjilbab itu mengangguk sebagai jawaban.


"Yaampun, cantik banget, pangling loh aku kamu pakai jilbab," ucap Rosa dengan memeluk Zahra.


"Kamu juga makin cantik, Ros. Ku dengar kamu udah tunangan ya. Selamat ya. Segera nyusul Tria deh," ucap Zahra.


Lalu Zahra menyalami semua teman-temannya. Ralat, sebagian besar adalah teman Ega. Ia hanya mengenal Rosa dan Dion yang bucinnya sama seperti Ega.


"Kapan kamu nikah, Ra? Nanti aku datang ke nikahanmu," tanya Rosa.


"Kamu dulu lah. Yang udah tunangan. Aku sama Ega masih gini-gini aja. Kamu tuh gimana ceritanya bisa tunangan sama Dion?" Zahra balik bertanya.


"Kamu mah pasti udah tahu cerita aku gimana sama Dion. Kamu kan ikutin terus itu novelnya Adelkha Depe : Tentang Hati. Itu author pinter banget bikin cerita Dion bucin sama Aku. Ya, jadinya luluh juga dong aku," jawab Rosa malu-malu.


"Iya tuh. Gara-gara Dion, itu Ega jadi ketularan bucin. Kebanyakan baca cerita bucinnya Dion sama kamu itu laki satu jadi ketularan," ucap Zahra malu-malu.


"Aku kasih tau ya, Ra. Kamu tuh harus hati-hati. Jangan langsung percaya gitu aja sama Ega. Yang aku tahu kamu selama ini kan polos banget gitu ya. Pokoknya pesen aku jangan terlalu percaya sama laki-laki," kata Rosa menepuk bahu Zahra.


Mereka berdua terlarut dalam obrolan. Ikut bergabung bersama teman-teman yang lain membicarakan banyak hal. Lebih sering mereka meledek Dion yang benar-benar mencintai Rosa sejak mereka masih memakai seragam putih abu-abu.


*****


Hola, ketemu lagi sama Rosa sama Dion. Yang belum intip ceritanya cus lah datangin.


Langsung searching aja Adelkha Depe atau Tentang Hati. Pasti langsung ketemu.


Terima kasih buat semuanya yang udah suport aku. Aku hanya bisa bilang terimakasih dan saling support sama kalian sesama author.. 🥰🥰🥰🤗🤗🤗

__ADS_1


salam sayang


♥️kiki rizki♥️


__ADS_2