
Setelah mengantarkan Zahra kembali ke rumah Bibi Dewi, Rio dan Ega berpamitan untuk kembali ke kota. Mereka sengaja tidak berpamitan pada gadis itu, dan hanya menitipkan pesan pada Bibi Dewi.
"Ada apa lagi?" tanya Rio saat mereka dalam perjalanan.
"Entah. kalau kamu di posisiku, apa yang kamu lakukan? Menyerah?" balas Ega mengajukan pertanyaan.
"Seberat apapun, kalau aku mencintainya ya ku perjuangkan. Perempuan memang sulit ditebak."
"Kamu tau sendiri, selama ini aku hanya dekat dengannya, bahkan saat kuliah di Singapura, aku tak pernah berpacaran."
"Kau serius? Gak mungkin cowok seperti dirimu yang selalu jadi most wanted gak pernah pacaran," ejek Rio tak percaya.
"Demi apapun yang kamu percaya. Aku jujur. Aku gak punya pengalaman dengan perempuan selain Zahra. Itupun dulu hanya sebatas teman."
"Mengenaskan sekali nasibmu. Kalau kamu memang mencintai Mbak Zahra, perjuangan. Om Irawan sama Tante Ratih juga merestui bukan? Hanya tinggal meyakinkan kakakku."
"Aku minta bantuanmu untuk meyakinkan dia," pinta Ega.
"Asal kamu tak akan membuatnya kecewa."
"Aku tak bisa menjanjikan itu. Aku, kamu, bukanlah orang yang sempurna. Kamu menuntutku untuk tidak mengecewakan kakakmu. Lalu, apa kamu sendiri udah bisa seperti itu pada kekasihmu?"
"Pastinya akan kulakukan yang terbaik untuk dia. Kita sesama laki-laki. Pasti kamu juga akan melakukan yang terbaik untuk Zakia, bukan?"
"Ya."
Tak ada percakapan lagi setelah itu. Merek berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.
******
Rio mengatakan Ega sampai ke rumah kontrakannya. Di teras sana terparkir mobil yang membuat Ega penasaran, lantaran belum pernah melihatnya.
"Ada siapa?" tanya Rio.
"Gak tahu. Kayak bukan mobil temen kerjaku."
"Sana turun. Lihat dulu, siapa tahu rentenir yang menagih hutang padamu."
"Ya kali aku punya hutang sama rentenir. Itu gak masuk akal."
"Ya bisa aja lah. Udah sana! Aku mau numpang ke kamar mandi."
Kedua lelaki itu akhirnya turun bersamaan. Melewati mobil itu dan mendapati seorang perempuan yang duduk di kursi teras.
"Fani? Ngapain?" tanya Ega begitu mengenali perempuan itu.
"Kamu gimana sih! Ke mana saja? Dari kemarin aku ke sini kamu gak ada! Aku telepon juga gak pernah diangkat," gerutu gadis itu.
"Sorry. Aku ada acara. Ini juga baru pulang,"
jawab Ega.
"Ga, kunci! Udah gak tahan, nih!" ucap Rio mengabaikan mereka berdua. Yang terpenting sekarang panggilan alamnya segera tersampaikan.
Ega mengulurkan kunci rumahnya. Membiarkan sahabatnya memasuki rumah kontrakannya.
"Ga! Buruan, ayo kita fitting baju," kata Fani.
"Buat apa? Cuma mau kondangan aja ngapain fitting segala?"
"Ya biar couple dong. Masa dateng barengan baju gak sama."
"Terserah kamu lah itu, aku capek, bawa aja udah baju yang kamu mau ke sini, aku ngikut aja," ucap Ega dengan memasuki rumahnya.
__ADS_1
"Ega!" seru Fani karena ditinggalkan.
"Sana kamu balik aja, paketin ke sini baju yang mau aku pake," kata Ega.
"Kamu ngusir aku? Hampir sejam loh aku nunggu kamu di sini!"
"Aku gak nyuruh kamu nunggu. Salah kamu sendiri."
Awas aja kamu, Ega. Aku akan balas perlakuan kamu ke aku, batin Fani.
Tanpa mengatakan apapun perempuan itu pergi meninggalkan rumah kontrakan Ega.
Saat Rio kembali ke depan, ia tak mendapati siapapun di sana. Mobil yang tadi terparkir di halaman juga sudah tidak ada.
"Ga!" panggil Rio pada sang pemilik rumah.
"Di kamar!"
"Tuh cewek kemana?"
"Kaga tahu."
"Kepo nih. Ngapa itu cewek bisa kemari?"
"Ngajakin kondangan."
"Kamu mau?"
"Terpaksa."
"Hadeh! Sama Zahra belom kelar mau nyari masalah lagi."
"Aku enggak cari masalah. Dia minta imbalan buat yang kemaren nolongin kita. Dan imbalannya itu nemenin dia kondangan."
"Ada-ada aja. Imbalan kok begituan. Minta emas, kek, duit, kek, berlian, kek, tekek (binatang tokek), kek."
"Astagaa!! Kenapa kamu jadi **** sih?" Rio menggeplak kepala Ega yang sedang tiduran.
"Aduh! Sakit, beg*! Main tabok aja!" Ega mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Lagian, orang lagi serius malah tanya tekek (binatang tokek)."
"Lah kamu mah yang ngomong kok. Ngapain ngomong bawa-bawa tekek (binatang tokek)?"
"Tau ah! Susah ngomong sama orang beg*. Udah cinta beg*, sekarang makin beg* gara-gara ditolak kakakku."
"Terserah! Pulang sana! Tutup pintunya jangan lupa!"
Ega kembali membaringkan dirinya di atas kasur.
"Aku diusir? Oke, fine. Kita putus!"
"Rio! Astaga! Jijik tahu, gak!"
Rio tertawa mengejek. Dengan gerakan cepat Ega melempar bantal pada wajah lelaki itu dan berhasil mendarat dengan mulus sesuai target.
"Si*l! Tepat sasar juga hantamanmu."
Rio mengambil bantal yang terjatuh. Memungutnya dan membawanya keluar dari kamar Ega.
"Woy! Mau dibawa kemana bantalku?"
"Pulang!"
__ADS_1
"Balikin!" teriak Ega dari dalam kamar.
"Pinjem bentar. Capek juga aku. Mau tidur di depan," jawab Rio.
Lelaki itu membawa bantal yang ia pegang ke ruang tamu, mengambil tempat di kuris yang paling panjang. Menata bantal-bantal sofa untuk alas kepalanya. Sedangkan bantal yang ia bawa dari dalam kamar dijadikannya sebagai guling.
****
Di dalam kamarnya Zahra merenungi kejadian hari ini. Tidak, ia tidak sedang menangis. Dengan ditemani udara sore hari yang masuk dari jendela kamarnya yang terbuka, gadis itu berdiri menghadap pepohonan yang tertiup angin.
Zahra sudah mengetahui jika kedua lelaki yang sedari kemarin menginap di rumah Bibi Dewi telah kembali ke kota. Salahnya sendiri memang mengabaikan mereka berdua. Hingga mereka kembali pun tak pamit padanya.
Menyesal? Iya, dia menyesali apa yang telah ia alami hari ini. Dalam lubuk hati terdalamnya, ia juga tak rela jika Ega harus dengan orang lain.
Aku harus memantaskan diri untuk Ega. Aku harus memberi diriku dan dia kesempatan menjalin hubungan mulai dari awal lagi, batinnya.
Dering ponsel yang ia genggam membuyarkan lamunannya. Sang ibunda tercinta menelfonnya. Rencananya, hari ini bundanya dan Efelin akan pindahan, tapi sampai sekarang mereka belum juga datang.
"Assalamualaikum, Bun," sapa Zahra.
"Waalaikumsalam. Gimana, Nduk di sana? Kamu baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah, sehat, Bun. Bunda kapan dateng? Katanya hari ini?"
"Maaf, Nduk. Bunda ndak jadi ke sana hari ini. Ayahmu masih harus menghadiri undangan perinkahan anak teman kerjanya."
"Bunda ikut?"
"Iya. Bunda menemani ayahmu nanti malam."
"Iya, Bunda."
"Rio masih di sana, Nduk?"
"Bunda tahu Rio main ke sini?"
"Ya tahu, Nduk. Sudah ngobrol sama Ega?"
Zahra tak langsung menjawab pertanyaan sang bunda. Matanya berkaca-kaca.
"Kenapa, Nduk?" tanya bunda khawatir.
"Aku takut dia ninggalin aku lagi, Bun," ucap Zahra terisak.
"Cerita sama Bunda. Ada apa?"
"Tadi aku gak sengaja lihat ada perempuan telepon dia, Bun."
"Terus?"
"Dia bilang itu cewek yang bantu dia melacak keberadaan aku waktu diculik. Terus itu cewek minta imbalan buat jasanya. Yang dia minta bukan uang, Bun."
"Dia minta apa?"
"Minta ditemani kondangan nanti malam di acara nikahan temen cewek itu, Bun."
"Lalu, kamu bagaimana, Nduk?"
"Gak rela, Bun. Tadi sempet bertengkar masalah itu. Aku ngerasa gak pantas, Bun, buat dia. Tapi aku juga gak rela kalau dia sama perempuan lain. Sekarang Ega kecewa sama aku, Bun." Zahra terisak saat menceritakannya.
"Dia jujur sama kamu. Kenapa kamu tidak memberinya kesempatan? Apa salahnya, Nduk? Sebelum kamu kehilangan dia untuk kedua kalinya. Cobalah meminta maaf. Kamu pantas untuknya, Nak."
"Iya, Bun."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu istirahat. Jangan lupa bantu bulekmu. Jangan di kamar saja," pesan sang bunda sebelum mengakhiri panggilannya.
Zahra mencerna baik-baik nasehat dari bundanya. Kali ini ia bertekad untuk memperbaiki dirinya dan kembali membuka hatinya untuk Ega.