
Setelah kepergian Mila dari ruang rawat Zahra, gadis itu tak kunjung berhenti menangis. Membuat sang bunda khawatir kepadanya.
"Kamu kenapa, Nak? Apa ada yang sakit?" tanya Bu Ratih mengusap pucuk kepalanya.
"Bunda, apa aku bisa mendengar lagi?" tanya gadis itu.
"Pasti bisa, Sayang. Ayahmu sudah mencarikan dokter THT yang bagus di Surabaya. Kita akan berobat ke sana setelah kamu sembuh, Sayang," jawab Bu Ratih.
"Bunda, bisakah Bunda menuliskan apa yang Bunda katakan?" tanya gadis itu parau. Bu Ratih segera mengambil ponselnya dan mengetikkan apa yang baru saja ia katakan dan menyerahkan ponsel itu pada putrinya.
"Bunda, jika aku ke Surabaya, tolong bilang ke Ega, untuk tidak mencariku."
Apa maksudmu, Nak? Apa yang dj katakan temanmu tadi benar, Nak? Bu Ratih kembali mengetikkan di ponselnya.
"Bunda, aku malu dengan keadaanku. Aku takut jika aku meneruskan hubunganku dengan Ega, dia akan malu memiliki istri cacat seperti aku," ucap gadis itu. Air mata yang baru saja surut kembali mengalir dari mata sembabnya.
Bunda tahu, dia sangat mencintaimu. Apa terjadi sesuatu pada kalian?
"Nggak, Bunda. Tapi dengan keadaanku yang seperti ini. Aku akan menjadi beban untuknya. Dan juga... dan juga aku yang sering sekali jatuh sakit, pasti akan merepotkannya. Aku nggak mau jadi beban untuknya, Bunda. Dia pasti akan menemukan perempuan yang lebih baik dari aku."
Jangan gegabah mengambil keputusan, Nak. Pikirkanlah. Kamu telah menunggunya hingga lebih dari lima tahun. Sekarang kenapa kamu tiba-tiba pesimis seperti ini?"
"Bunda, aku sudah yakin dengan keputusan ini. Aku mohon Bunda. Sampaikan padanya. Untuk tidak mencariku lagi kalau kita pindah."
Zahra, bunda sangat mengenalmu. Bunda yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Jangan kamu pendam sendiri, Nak. ceritakan pada bunda. Bunda selalu ada untukmu.
Bu Ratih memeluk erat tubuh putrinya. Ikut menangis bersama dengan Zahra. Sesekali ia menciumi pucuk kepala putrinya.
...****************...
Malam itu, ayah Zahra datang ke rumah sakit tempat Zahra di rawat. Ia baru bisa pulang lantaran banyak pekerjaan di kantornya yang tidak bisa ia tinggalkan.
Bu Ratih telah menceritakan apa yang diinginkan oleh putrinya. Tentang permintaan mengakhiri hubungan pertunangan dengan Ega.
Saat ini Ayah Irawan tengah menunggui putrinya. Zahra tengah tertidur pulas setelah beberapa saat yang lalu mendapat suntikan obat dari selang infusnya.
"Ayah ingin kamu bahagia, Nak. Sudah cukup kamu merasa sedih selama ini. Ayah pikir bersama Ega kamu telah mendapatkan kebahagiaanmu," ucap pria paruh baya itu lirih.
"Mas," panggil istrinya dengan menepuk pundak pria itu pelan.
__ADS_1
"Aku merasa gagal membahagiakan putriku, Dek," ucap Ayah Irawan.
"Aku juga merasa begitu, Mas. Dia anak kita yang pendiam dan penurut. Kenapa Allah membuatnya terus bersedih seperti ini."
"Dek, jangan menyalakan Allah. Dia Maha Tahu apa yang terbaik untuk putri kita."
Pria itu membawa istrinya ke dalam dekapannya. Membiarkan ibu dari anak-anaknya itu menangis dalam pelukannya.
"Besok pagi kita pindahkan dia langsung ke rumah sakit di Surabaya. Aku sudah mengurus perpindahannya. Nanti biar Efelin biar bersama Dewi dulu sampai dia kenaikan kelas."
"Iya, Mas. Lalu gimana kamu akan berbicara dengan Ega Mas?"
"Tenanglah. Aku akan memberi dia pengertian. Dia pasti mengerti karena ini juga untuk kebaikan Zahra."
"Aku takut, Mas. Tadi juga Zahra ndak mau menemui Ega. Dia seperti tertekan dan banyak pikiran. Aku khawatir akan kesehatan psikisnya."
"Kita doakan yang terbaik untuk anak-anak kita, Dek. Lebih baik istirahatlah. Aku akan menghubungi Dewi untuk menitipkan Efelin."
...****************...
Kondisi Zahra kian menurun, rencana semula mereka akan ke Surabaya dengan mobil pribadi harus diurungkan dan menggantinya dengan ambulance rumah sakit. Di dalam sana ada dua perawat yang menemani dan juga Bu Ratih yang tak henti-hentinya menitikkan air mata.
"Karena pengaruh obat penenang, Bu. Ibu tenang saja. Jangan terlalu khawatir," jawab salah satu suster dengan senyum menenangkan.
Memandangi putrinya dengan keadaan pucat membuatnya merasa pilu. Tak menyangka takdir putrinya seberat ini.
Dalam diamnya ia terus memikirkan keputusan anaknya itu. Sebagai seorang ibu ia merasakan jika putrinya telah menyembunyikan sesuatu darinya. Hingga membuat kondisi kesehatannya kian menurun.
Di tempat lain, kini Ayah Irawan tengah berada di ruang kantor calon anak menantunya.
"Ayah, apa terjadi sesuatu dengan Zahra?" tanya lelaki yang duduk di sofa berhadapan dengan calon ayah mertuanya.
"Tidak, Nak. Tapi ada hal penting yang harus ayah sampaikan padamu. Dan ini menyangkut putriku."
"Ada apa, Ayah?"
"Maafkan, Ayah sebelumnya, ini tentang hubungan kalian," ucap lelaki paruh baya itu yang merasa sulit untuk mengatakan keinginan putrinya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Ega mulai gelisah.
__ADS_1
"Zahra ingin ... mengakhiri pertunangannya denganmu."
Lelaki itu diam membeku di tempatnya. Pandangannya seketika kosong setelah mendengar pernyataan dari pria dihadapannya.
"Ayah mohon, meski kamu mampu mencarinya, jangan lakukan itu. Semata-mata ini demi kebaikan kalian."
"Kenapa, Yah? Kenapa dia meninggalkanku juga?" Tak terasa bulir-bulir bening menetes dari kedua matanya. Lelaki itu menangis dalam diamnya. Memandang ayah dari tunangannya.
"Alasannya pasti kamu sudah bisa menebaknya. Ayah gak bisa memaksanya untuk tetap bersamamu."
"Nggak mungkin hanya karena itu, Yah. Nggak mungkin hanya karena pendengarannya dia pergi ninggalin aku, Yah," suara Ega meninggi.
"Maafkan Ayah, nak. Ayah percaya, jika kalian berjodoh tanpa kamu mencarinya dia akan kembali padamu. Ayah akan selalu menjadi ayahmu. Dan ayah berpesan kepadamu. Jika suatu hari nanti kamu menemukan wanita lain, kamu tetap anak Ayah."
Ayah Irawan menepuk pundak lelaki itu. Dan meninggalkannya sendiri dalam ruangannya. Ia juga merasakan kesedihan melihat lelaki di hadapannya terlihat rapuh.
...****************...
Tak ada yang lebih menyakitkan selain ditinggalkan orang yang kita cintai. Dulu memang kesalahanku meninggalkanmu tanpa kabar. Apa kamu membalasku dengan cara yang sama? Aku mencintaimu. Aku akan selalu menantimu kembali. Sampai matipun aku akan tetap menunggumu kembali, Cintaku.
~Ega~
Maafkan aku, meninggalkanmu di saat dirimu terpuruk. Tapi kamu telah memiliki wanita lain yang telah menemanimu. Dia lebih baik dariku yang cacati ini. Aku melepas kebahagiaanku untukmu. Semoga kamu bahagia bersamanya. Aku mencintaimu. Dulu, sekarang, hingga nanti. Jika Tuhan menakdirkan kita berjodoh, aku percaya Tuhan akan mengembalikanmu padaku.
~Zahra~
Cinta memang butuh pengorbanan dan perjuangan. Perjuanganku mendapatkan Zakia kembali adalah sebuah anugerah terindah yang di berikan Tuhan padaku.
~Rio~
Terimakasih, telah memperjuangkanku. Menerimaku dalam keadaan buruk sekalipun. Aku mencintaimu.
~Zakia~
Cinta itu terlalu rumit. Serumit kisah cinta Mbak Zahra dan Mas Ega. Juga kisah cinta Kak Rio dan Kak Kia. Aku Berharap mereka akan berbahagai kelak. Juga denganku, Aku berharap Kak Rey lah jodohku.
~Efelin~
......~END~......
__ADS_1