Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
40. Dukungan


__ADS_3

Setelah semalam kedua orang tuanya meminta untuk pindah ke kampung halaman sang bunda, kini gadis berambut panjang itu tengah mengemasi barang-barangnya. Ia akan pergi ke sana besok.


"Sudah dikemas semua, Nduk?" tanya sang bunda yang tengah membantunya berkemas.


"Udah, Bun," jawab Zahra dengan meregangkan badannya yang terasa kaku.


"Sudah bilang ke Ega kalo mau pindahan?" tanya perempuan paruh baya itu menatap anak gadisnya.


Gadis itu menggeleng sebagai jawaban. Membuat raut wajah sang bunda berubah penuh tanya.


"Nanti aku kasih tahu, Bun," kata Zahra seolah tahu apa yang ditanyakan wanita itu.


"Secepatnya beri tahu dia ya, Nak," pesan sang bunda yang dijawab anggukan kepala oleh Zahra.


"Oh iya, tadi Rio telpon, katanya dia mau ke sini sama pacarnya. Siapa itu namanya?"


"Zakia?" tanya Zahra seolah memastikan.


"Ah, iya. Sama Zakia. Langgeng ya mereka. Kata Tantemu Si Rio udah ngeyel minta dilamarin itu anak orang," celoteh sang Bunda.


"Zakianya belum mau, Bun. dia masih kuliah belum lulus," jawab Zahra.


"Sama kayak kamu. Kapan kamu mau dilamar Ega. Kamu tau nggak kemarin ayahmu ngobrol sama Ega?" Zahra menjawab pertanyaan bundanya dengan gelengan kepala.


"Hem. Bunda ceritain ya. Kata ayahmu itu kemarin Ega meminta restu buat ngelamar kamu."


"Bunda mengada-ada ini mah. Supaya aku cepet nikah kan?"


"Beneran. Buat apa Bunda mengada-ada? Ayahmu sendiri ini yang bilang. Laki-laki macam Ega sekarang susah di cari, Nduk. Banyak-banyak bersyukur kamu harusnya, punya calon suami seperti Ega."


"Bunda mulai lagi, kan," kata Zahra lemah. Merasa tak mampu menuruti permintaan sang bunda.


"Nduk, banyak di luar sana yang nasibnya ndak seberuntung kamu. Banyak juga perempuan-perempuan dan bahkan anak-anak mendapat pelecehan sepertimu. Dibandingkan kamu, mereka mengalami yang lebih parah dari kamu, Nak. Banyak-banyak bersyukur ya, Nak. Bunda sangat yakin. Kamu masih suci, Nak. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi padamu. Kita ambil hikmahnya, ya," kata bunda memberikan semangat untuk anaknya.


Zahra diam menundukkan kepala, mencerna setiap perkataan sang bunda. Ya. Dia tidak memikirkan semua itu. Orang-orang yang nasibnya lebih buruk darinya.


"Pikirkan baik-baik ya, Nak. lihatlah laki-laki yang sampai saat ini masih di sampingmu. Dia dikirimkan Allah untuk menjagamu, agar tak terulang lagi hal-hal buruk yang menimpamu."


Sang bunda meninggalkan putrinya termenung sendiri di kamarnya. Membiarkan gadis itu memikirkan segala kata-kata yang ia ucapkan. Wanita paruh baya itu berharap semoga anaknya bisa menerima dan mengikhlaskan keadaan.

__ADS_1


****


Deru mobil di luar rumah membuat gadis belia yang tengah duduk di ruang tamu itu bergegas membuka pintu. Di lihatnya mobil kakak sepupunya terparkir di halaman rumahnya. Dari sisi penumpang turun seorang gadis cantik yang menenteng buku dan tas selempangnya. Gadis itu berjalan menghampiri Efelin yang berdiri di depan pintu.


"Assalamualaikum," ucap gadis itu yang tak lain adalah Zakia.


"Waalaikumsalam, Kakak makin cantik aja sih," puji Efelin setelah bersalaman dengan Zakia.


"Kamu juga, makin cantik. udah gede ya sekarang," balas Zakia.


"Masuk aja yuk, Kak. Pasti mau ketemu sama Mbak Zahra ya?" tanya Efelin yang dijawab anggukan kepala oleh Zahra.


"Aku panggilin dulu. Kakak mau minum apa?"


"Seadanya aja. Kalau gak ngerepotin jus mangga yang ada di depan gang sana ya," kata Zakia menahan tawa.


"Itu mah memberatkan banget. Gak jadi nawarin deh aku. Bye!" Efelin melengos dan meninggalkan Zakia dan Rio yang duduk di sofa ruang tamu.


"Yang, kamu bisa kan bantuin Mbak Zahra?" tanya Rio memastikan.


"Aku usahakan ya. Kamu kan tahu sendiri aku masih semester berapa, belum ada pengalaman buat nanganin orang punya trauma juga," jawab Zakia.


"Lebih baik dibawa ke psikolog aja Yang, biar lebih baik penanganannya," kata Zakia.


"Kita tuh takutnya dia nolak dan justru makin tertekan. Coba lewat kamu dulu makanya."


Obrolan mereka terhenti saat Bu Ratih datang menyuguhkan minuman untuk mereka berdua. Keduanya menyalami ibu dari Zahra itu.


"Kalian masuk aja ke kamarnya Zahra, dia nggak mau turun," kata Bu Ratih.


"Iya, Tante," jawab keduanya serempak.


Keduanya berjalan mengikuti Bu Ratih menuju ke kamar Zahra.


"Tadi Tante udah bilang kalau kalian mau ke sini. Udah naik saja nggak papa. Tante mau ke dapur," kata Bu Ratih saat mereka berada di depan anak tangga.


Bu Ratih berjalan menuju dapur, sedangkan Zakia dan Rio menaiki tangga menuju kamar Zahra. Di dalam kamarnya Zahra tengah termenung memandang keluar jendela. Pintu yang tidak terkunci terbuka dari luar.


"Mbak, Zahra?" sapa Zakia.

__ADS_1


Gadis yang dipanggil namanya itupun menolehkan kepalanya. Melihat Zakia berdiri di belakangnya.


"Maaf ya Mbak. Aku masuk, tadi aku ketuk pintu ngga ada jawaban," kata Zakia merasa bersalah.


"Iya, gak papa," jawab Zahra tersenyum seadanya.


"Yang, aku keluar dulu ya, tadi Ega nelpon dia lagi di bengkel," kata Rio berpamitan pada Zakia.


Setelah lelaki itu keluar kamar Zakia duduk berselonjor di karpet kamar Zahra. Zahra pun ikut duduk disampingnya.


"Kia," panggil Zahra tapi tidak memandang lawan bicaranya.


"Iya, Mbak?" tanya Zakia.


"Aku harus gimana? Kamu pasti udah tau apa yang aku alami, kan?" Zakia mengangguk sebagai jawaban.


"Iya, Mbak aku tau. Mbak boleh cerita sama aku, ungkapin semua yang mengganjal di hati Mbak," Zakia tersenyum dan menggenggam tangan Zahra.


Zahra menceritakan semuanya. Kejadian yang ia alami, Mulai Bian yang melakukan kekerasan fisik padanya, menamparnya, menjambak rambutnya hingga kejadian Bian berusaha menciumnya tapi dia berhasil mengelak meski mendapatkan tamparan.


"Mbak tau? Mbak sangat beruntung. Mbak itu kuat," Zakia menggenggam tangan Zahra lebih erat.


"Mbak masih bisa melawan orang itu. Mbak masih bisa mempertahankan kehormatan Mbak. Mbak harus banyak bersyukur, ya," kata Zakia lembut.


"Yang harus Mbak ingat, Mbak Zahra kuat dia gak mengambil apapun yang Mbak miliki, karena Mbak sendiri yang mempertahankannya,"


Zakia mengulang beberapa kali kalimatnya.


"Mbak harus bahagia. Tunjukkan sama orang itu Mbak bisa bahagia tanpa bayang-bayang kelam yang dia torehkan," Zakia terus memberikan kata-kata positif untuk Zahra.


Zahra memandang Zakia yang memberikan senyum menenangkan untuknya. Memberinya semangat lewat tatapan mata dan genggaman tangan mereka.


"Kalau Mbak enggan berbicara sama Tante, atau yang lainnya. Aku siap dengerin cerita Mbak. Atau mungkin Mbak bisa menuliskan isi hati Mbak di buku harian. Setidaknya jangan pendam apapun yang membuat pikiran dan hati Mbak Zahra tidak tenang."


"Makasih banyak, Kia," Zahra merasa bebannya sedikit terangkat.


"Jangan sungkan-sungkan buat cerita sama aku. Apapun itu, kita saudara, Mbak."


Zahra mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Ada sedikit senyuman di bibir indahnya. Membuat hati Zakia menghangat dan berharap senyuman itu semakin lebar memancarkan kebahagian di wajah ayu Zahra.

__ADS_1


__ADS_2