Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
58. Sekolah Baru


__ADS_3

Selesai acara kondangan, Zahra dan Ega langsung bertolak kembali ke Malang. Mengingat tak ada cuti untuk Ega di hari senin.


Lelaki itu sampai di kontrakan hampir tengah malam. Lantaran di rumah Zahra masih bertemu Ayah Irawan. Sekalian membahas rencana silaturahmi keluarga Ega.


Di teras kontrakannya terlihat lelaki yang tengah duduk di kursi yang ada. Terlihat sekali penampilannya sangat berantakan. Begitu Ega turun, ia segera menghampiri lelaki itu.


"Aku numpang tidur ya?" ucap lelaki itu tanpa basa basi.


"Kenapa?" tanya Ega menepuk pundaknya.


"Nanti aku ceritain. Buat sementara waktu aku numpang tinggal di sini dulu."


"Kamu hutang penjelasan sama aku. Ayo masuk," ajaknya pada lelaki itu.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah kontrakan Ega. Sang tuan rumah memilih segera masuk kamarnya dan membersihkan diri.


Urusan lelaki tadi bisa ia pending dulu. Yang penting dirinya ingin segera melepas penat. Menyegarkan dirinya dengan guyuran air hangat. Untuk merilekskan otot-ototnya yang terasa pegal.


Selesai dengan kegiatan mandinya, Ega keluar untuk mencari seseorang yang katanya mau menginap di rumah kontrakan sederhana itu.


Dilihatnya lelaki itu tengah tertidur pulas di sofa panjang ruang tamunya. Dengan tampilan yang masih sama seperti tadi pertama kali mereka bertemu di luar.


Ada apa dengannya? Tumben sekali dia penampilannya kayak preman jalanan, guman Ega dalam hatinya.


Membiarkan lelaki itu tidur di rumahnya. Dari pada ia tidur di emperan toko. Akan terlihat jelas jika dirinya seorang gelandang.


Ia kembali ke dalam kamarnya. Mengambil ponsel yang terselip di dalam tas. Mengecek puluhan pesan masuk.


Dua hari full dengan Zahra membuatnya melupakan benda pipih itu. Tak menghiraukannya karena ia bisa menatap wajah sang pujaan hati dan tak membutuhan lagi ponsel itu.


Kali ini ia membutuhkan lagi benda pipih itu. Tanpanya, mana mungkin ia bisa menghubungi pujaan hatinya.


Mengabaikan pesan-pesan yang menurutnya tidak penting, Ega mencoba menghubungi Zahra. Mungkin saja ia belum tidur.


Sayangnya, panggilannya dialihkan. Menandakan nomor gadis itu kemungkinan belum aktif.


Lelaki itu pun memilih untuk beristirahat. Hari esok telah menanti dengan sejuta pekerjaan.


*****


Senin pagi, di rumah Zahra tengah terjadi keributan kecil. Hari pertama masuk di sekolah baru membuat Efelin malas untuk berangkat.


Dengan berbagai alasan gadis kecil itu merengek untuk menunda masuk sekolahnya hari ini. Sang bunda yang biasanya sabar menghadapi sang anak mulai kehabisan kesabaran.


"Terserah! Bunda nggak akan menyuruh kamu buat berangkat sekolah. Terserah kamu mau apa," ucap sang bunda sebelum meninggalkan meja makan.


"Mbak," rengek gadis itu.

__ADS_1


"Salahmu sendiri," jawab sang kakak.


"Anterin, Mbak,"pinta gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ya udah cepetan."


Zahra segera menyelesaikan sarapannya. Diikuti sang adik yang terlihat ogah-ogahan melanjutkan sarapan.


Keduanya berjalan keluar rumah. Menuju mobil jazz Zahra yang terparkir rapi di dalam garasi.


Efelin membantu membukakan pintu gerbang. Begitu mobil kesayangan sang kakak keluar, ia kembali menutup garasinya dan segera masuk ke dalam mobil.


Perjalanan ke sekolah baru Efelin tak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar sepuluh menit dari rumah.


Zahra memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar sekolah. Mau tak mau gadis itu ikut turun dan mengantarkan sang adik ke dalam.


Di depan gerbang ada guru piket yang menyambut kedatangan para siswa. Ada juga beberapa murid yang membantu guru itu. Tugas mereka mengecek kelengkapan atribut sekolah satu persatu satu murid yang datang.


Zahra menghampiri guru di sana. Guru muda yang tampan dan berwibawa. Sesaat gadis itu merasa terpesona akan wibawanya.


"Permisi, Pak," ucap Zahra segan kepada guru itu.


"Iya, Ibu. Ada yang bisa dibantu?" tanya bapak guru tampan itu.


"Ini, Pak. Saya mengantarkan adik saya yang baru masuk hari ini. Dia pindahan dari kota. Kira-kira saya harus menemui siapa dulu ya?"


"Oh mari silahkan, Ibu. Saya antarkan ke kantor."


Mereka sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan 'Ruang Guru'. Mempersilahkan kakak beradik itu masuk.


Zahra dan Efelin mengambil duduk di kursi tamu yang disediakan. Pak guru tadi menemui seorang guru lain dan berbicara sebentar.


Guru perempuan yang diajak bicara itu lalu berdiri dan menemui Zahra dan Efelin.


"Selamat pagi," ucap guru perempuan itu mengalami keduanya.


"Jadi ini yang namanya Mbak Efelin?" tanya guru itu tersenyum hangat.


"Iya, Bu," jawab Efelin.


"Perkenalkan, Saya Bu Sofia. Wali kelas kamu di kelas 10-1 MIPA," ucap guru itu memperkenalkan diri.


"Titip adik saya ya, Bu," ucap Zahra.


"Kalau boleh tahu kenapa pindah sekolah dipertengahan akhir semester, Bu. Sayang sekali padahal. Beberapa bulan lagi sudah kenaikan kelas."


"Orang tua pindah tugas, Bu. Dari sini ke sekolah lama sangat jauh. Tidak memungkinkan kalau harus pulang-pergi dari sini," ucap Zahra memberi alasan.

__ADS_1


"Begitu ya. Baiklah. Mbak Efelin, kamu tunggu saja di sini ya. Nanti masuk kelas barengan sama saya," ucap Bu Sofia.


"Iya, Bu," jawab Efelin.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Saya titip adik saya. Terima kasih banyak," ucap Zahra sambil berdiri.


Bu Sofia ikut berdiri dan menyalami Zahra. Mengantarkan gadis itu hingga ke luar kantor. Gadis itu berjalan keluar sekolah. Bertemu lagi dengan pak guru ganteng yang masih stay di depan pintu gerbang.


Gadis itu berjalan menuju mobilnya. Menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan roda empat itu kembali ke rumahnya.


Bel tanda masuk telah berbunyi sangat nyaring seantero sekolah. Para siswa berbondong-bondong memenuhi lapangan.


Hari Senin, layaknya sekolah pada umumnya. Semua siswa dan guru wajib mengikuti upacara bendera.


Bersama Bu Sofia, Efelin berjalan menuju kerumunan siswa yang telah rapi berbaris. Menuju salah satu barisan. Dan memanggil seseorang yang dianggap Efelin ketua kelas di sana.


"Hanif, dia murid baru di kelas kita. Karena kita upacara terlebih dahulu, saya minta kamu atur barisan dan biarkan dia ikut upacara di barisan kelas kita," perintah Bu Sofia.


"Baik, Bu," jawab laki-laki yang di panggil Hanif itu.


Efelin dibimbing masuk ke dalam barisan belakang. Menempati barisan yang kosong. Di sebelahnya, lelaki yang bernama Hanif itu juga ikut berbaris.


Terdengar bisik-bisik di antara teman barunya. Jelas sekali membicarakan Efelin yang ikut masuk dalam barisan mereka.


Upacara berjalan lancar seperti biasanya di sekolah itu. Begitu upacara selesai, semua murid membubarkan diri dan memasuki kelas masing-masing.


Efelin yang masih belum mengetahui di mana letak kelasnya harus kembali ke kantor. Mengambil tas dan juga menanyakan di mana kelas barunya.


Ia dan Bu Sofia berjalan beriringan menuju salah satu kelas di lantai satu. Memasuki ruangan yang bertuliskan '10-1 MIPA'.


Suasana yang riuh seketika hening saat Bu Sofia masuk. Meminta perhatian mereka semua dan mengumumkan bahwa ada siswi baru di kelas mereka.


"Silahkan perkenalkan dirimu," ucap beliau pada Efelin.


"Pagi semua. Perkenalkan, saya Efelin pindahan dari SMANESA Malang," ucap gadis itu singkat.


Riuh para siswa siswi kembali memenuhi ruangan. Para siswa laki-laki saling sahut menyahut menanyakan hal-hal yang tidak penting.


"Sudah-sudah! Kalian bisa kenalan nanti saat jam istirahat. Silahkan Efelin. Ambil tempat duduk yang masih kosong," perintah Bu Sofia.


Gadis kecil itu berjalan menuju satu-satunya bangku yang kosong di antara para lelaki. Karena hanya itu satu-satunya bangku yang tersisa.


Matilah aku. Kenapa harus di sini bangku yang masih kosong, batin gadis itu.


Mau tak mau ia menduduki kursi di sana. Mengikuti pelajaran pertama di sekolah barunya.


Semoga aku betah. Melihat wajah para perempuan di sini membuatku harus tahan emosi sepertinya, batin gadis itu memperhatikan wajah-wajah yang terlihat sinis menatapnya.

__ADS_1


Ia menolehkan lagi pandangan ke sekitar tempat duduknya. Melihat para siswa laki-laki yang hampir semuanya bibit bibit cowok ganteng.


******


__ADS_2