
Di depan pintu kamar sang adik, Zahra masih berusaha mengetuk pintu. Sang bunda menyuruhnya untuk turun bersama sang adik.
"Ini anak tidur apa tenggelam di kamar mandi sih," guman gadis itu yang mulai kesal.
Akhirnya dengan perasaan kesal yang tergambar jelas di paras ayunya ia meninggalkan kamar sang adik. Ia berjalan menghampiri sang bunda yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Adikmu mana, Nduk?" tanya beliau.
"Gak tahu deh, Bun. Aku ngetuk pintu dari tadi nggak dibukain. Tenggelam di kamar mandi kali," jawab sang kakak kesal.
"Hus! Kalau ngomong hati-hati. Ndak boleh ngomong kayak gitu," nasihat Bunda Ratih pada anak sulungnya.
Zahra hanya mengeram kesal. Lalu ia duduk di dekat sang bunda. Memfokuskan dirinya pada layar televisi yang menampilkan animasi Indonesia di salah satu channel televisi.
"Nduk, kamu diminta nginep di rumah Ega lagi sama utinya," ujar Bunda Ratih memberi tahu.
"Terus Bunda ngijinin?" tanya Zahra.
"Ya awalnya enggak. Tapi beliau maksa. Yaa ... terus Bunda bilang terserah kamunya gimana. Kalau kamu mau ya gak papa."
"Enaknya gimana, Bun?"
"Ya Bunda sih terserah kamu. Oh iya, sama uti katanya mau ngajak kamu ke rumahnya Keyla yang kemarin liburan ke sini. Katanya waktu pulang ke kotanya keretanya mengalami kecelakaan."
"Hah? Serius, Bun?"
"Iya. Beberapa waktu lalu kan ada berita tabrakan kereta, kayaknya itu deh. Utinya Ega udah nggak sabar mau jengukin Keyla, sekalian ngajak kamu."
"Ya udah deh, Bun. Aku mau."
"Bilang sama Ega suruh jemput ke sini."
"Ega masih marah, Bun. Gara-gara kakaknya temennya Efel yang kemarin itu."
"Itu artinya dia takut kehilangan kamu. Bujuk dong. Obrolin pelan-pelan, kamunya jangan keburu nyerah juga. Gak inget bertahun-tahun nungguin? Masak gitu aja udah ngeluh?"
******
Rio sampai di kota Solo menjelang dini hari. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan menginap di salah satu hotel yang ia temui di sepanjang jalan. Ia sudah tak mampu mengendarai mobilnya lagi lantaran rasa kantuk yang menyerang.
Demi menjaga keselamatannya dan juga harapannya untuk bertemu dengan Zakia, maka dari itu ia memutuskan untuk beristirahat. Tidur dua atau tiga jam setidaknya bisa mengembalikan tenaganya yang terkuras habis.
Pagi itu, setelah beristirahat sejenak dan sarapan di restoran hotel ia bergegas melanjutkan perjalanan. Sebelumnya ia telah bertanya pada resepsionis hotel tentang alamat yang diberikan oleh Alfan.
__ADS_1
Berbekal arahan dari resepsionis hotel dan juga GPS, ia membawa mobilnya membelah kota Solo. Menempuh perjalanan sekitar satu jam dari hotel ia sampai di sebuah desa sesuai dengan alamat.
Sebelum memasuki perkampungan ia kembali bertanya pada orang-orang yang berlalu-lalang di pinggir jalan raya.
"Permisi, Bu. Mau tanya. Alamat ini di mana ya?" tanya Rio dengan menunjukkan secarik kertas yang ia pegang.
"Oh, ini rumahnya keluarga Pak Rahman ya? Masnya masuk gang yang sebelah sana, rumah paling ujung sebelah kiri jalan." Ibu itu memberikan petunjuk arah pada Rio.
Wajah Rio berubah cerah mendapati tujuannya sudah di depan mata. Setelah mengucap terimakasih ia segera beranjak dan mengikuti arahan tadi.
Tak sampai lima menit ia telah sampai di rumah paling ujung yang dimaksud. Rumah itu terlihat sepi tak berpenghuni. Ia memberanikan diri untuk turun dan masuk ke halaman rumah yang dipenuhi tanaman hias.
Ia memencet bel yang tertempel di dekat pintu. Sebentar ia menunggu orang yang membukakan pintu untuknya.
"Assalamualaikum," ucap Rio sopan.
"Waalaikumsalam, cari siapa ya?" tanya ibu paruh baya yang membukakan pintu.
"Maaf, Bu, sebelumnya saya mau tanya. Apa betul keluarganya Zakia tinggal di sini?" tanya Rio sopan.
"Iya betul."
"Alhamdulillah," ucap Rio lirih penuh kelegaan.
"Sebentar ya, Mas. Silahkan duduk dulu," ucap ibu itu mempersilahkan Rio duduk di kursi santai yang tertata rapi dekat pintu.
Sepeninggal ibu itu, Rio mendudukkan dirinya di kursi itu. Debaran jantungnya kian menggila membayangkan sesaat lagi ia akan bertemu dengan gadis yang selama ini ia rindukan.
"Nak Rio?" lirih ibu Zakia yang baru saja keluar dari rumah untuk melihat tamu yang disebutkan oleh asisten rumah yang tadi membukakan pintu.
"Tante." Rio segera berdiri dan menghampiri ibu dari Zakia.
"Ini benar kamu, Nak? Bagaimana bisa kamu sampai sini?" tanya Mamanya Zakia.
"Itu semua karena cinta saya untuk Kia, Tante, yang membawa saya sampai di sini," jawab Rio mantap.
Mamanya Zakia menangis terharu melihat kegigihan lelaki di hadapannya. Ia berkali-kali menggumankan kata maaf untuk Rio. Ia menyesal telah memisahkan mereka berdua.
"Masuklah, Zakia ada di dalam," ajak ibu paruh baya itu.
Rio dibimbing masuk langsung ke dalam kamar Zakia. Setelah membukakan pintu, sang ibu mengangguk pada lelaki itu dan menyuruhnya masuk.
Dengan sedikit keraguan, ia melangkahkan kakinya. Dilihatnya gadis yang beberapa hari ini ia cari-cari tengah berbaring membelakanginya.
__ADS_1
"Kia," panggil lelaki itu lirih.
Gadis yang merasa familiar dengan suara itu segera membalikkan tubuhnya. Dilihatnya lelaki yang selalu dalam pikirannya tengah berdiri di dekat tempat tidurnya.
Zakia memejamkan matanya, lalu membukanya lagi. Keyakinan dirinya bahwa sosok di depannya bukanlah halusinasi.
"Sayang," panggil lelaki dengan suara serak. Berusaha menahan gejolak emosinya. Menunggu respon dari gadisnya.
Perlahan gadis itu hendak berdiri, belum sampai melangkahkan kakinya, hampir saja ia terjatuh. Dengan segera Rio menghampiri dan membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Apa aku mimpi?" lirih Zakia.
Rio semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasakan cairan hangat membasahi dada bidangnya. Ia pun juga tak kuasa lagi menahan cairan bening di pelupuk matanya.
Untuk pertama kalinya ia menangis bahagia karena cinta. Berkali-kali ia menciumi pucuk kepala Zakia. Menyalurkan rasa rindu yang kelegaan hatinya.
"Rio," panggil Zakia.
Ia meregangkan pelukannya. Melihat wajah pucat gadisnya yang berurai air mata. Gadis itu terlihat semakin kurus dan pucat.
"Kamu kenapa semakin kurus?" tanya Rio prihatin.
"Maafkan aku, maafkan aku meninggalkan kamu tanpa kabar," ucap Zakia.
Rio menganggukkan kepalanya. Saat ini ia hanya ingin melepas rindu. Masalah alasan meninggalkan setidaknya ia sudah tahu dan sudah membereskannya.
"Jangan pergi lagi. Aku gak bisa kehilangan kamu lagi. Rasanya mau mati," ucap Rio memandang manik mata Zakia.
"Aku juga mau mati rasanya. Aku cinta kamu. Maafkan aku," jawab Zakia mencurahkan isi hatinya.
"Kita mulai lagi dari awal ya, jangan pernah tinggalkan aku," pinta Rio sungguh-sungguh.
Zakia mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia menunjukkan cincin itu pada Rio yang terlihat bahagia.
"Kamu ..." ucap rio menggantung.
"Aku terima lamaran kamu waktu itu," ucap Zakia yakin.
"Makasih, Sayang," ucap Rio bahagia.
Ia kembali mendekap Zakia dalam pelukannya. Setelah puas memeluknya, ia merenggangkan dan memandang wajah cantik Zakia yang terlihat pucat.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada gadisnya. Zakia memejamkan matanya menanti hal yang akan dilakukan Rio padanya.
__ADS_1