
Siang itu, Zahra tengah menyiapkan bekal untuk acara liburan mereka. Ia menata banyak makanan di dalam rantang dengan di bantu Bibi Dewi.
"Wes, Nduk. Kono adus o, tak tutukne iki noto e. Iko arek loro iku wes ngenteni awakmu," ucap Bibi Dewi.
(Sudah, Nduk. Sana kamu mandi, biar Bulek yang melanjutkan menata ini. Itu mereka berdua sudah menunggumu.)
"Enggeh, Bulek," jawab Zahra.
(Iya, Bulek.)
Zahra mencuci tangannya sebelum meninggalkan dapur. Gadis itu lalu masuk ke dalam kamarnya, mengambil handuk dan baju ganti. Lalu keluar lagi membawa peralatan mandinya menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Dua lelaki sebaya itu tengah duduk di kursi rotan di ruang tamu. Saling tak peduli karena fokus dengan ponsel mereka masing-masing. Hingga salah satu dari mereka menggerutu tidak jelas karena mendapat panggilan telepon.
"Duh. Lali aku due janji ambe arek iki," kata Ega. Ia sengaja tidak mengangkat panggilan itu.
(Duh. Lupa aku punya janji dengan anak ini.)
Tak henti-hentinya telepon itu berbunyi membuat Rio yang fokus dengan ponselnya menjadi terusik. Berkali-kali ia melirik Ega yang mendiamkan ponselnya.
"Duh! Angkaten talah. Mbribeni ae," omel Rio karena merasa terganggu.
(Duh! Angkat saja. Bikin berisik sekali.)
"Gah. Jarno. Lek tak angkat tambah ruwet engkok," jawab Ega.
(Gak mau. Biarkan saja. Kalau kuangkat makin ruwet nanti.)
"Mbuh kah!"
(Tau ah!)
Dari balik kelambu Zahra muncul dengan menenteng dua rantang di tangan kanan dan kirinya. Ia meletakkan bawaannya di meja ruang tamu. Lalu masuk lagi untuk mengambil barang bawaannya sendiri.
"Iki awak e kate nandi seh? Wong telu tok gowo panganan sak mene akeh e," tanya Rio yang tak mendapat jawaban dari siapapun.
(Ini kita mau ke mana sih? Orang bertiga saja bawa makanan segini banyaknya,)
"Ayo, udah siang banget loh ini," ajak Zahra begitu ia siap.
"Lha ini makanan mau di bawa ke mana?" tanya Ega.
"Ya buat kita nanti. Di sana nggak ada orang jual makanan. Jadi kita bawa sendiri dari rumah. Kayak piknik gitu," jawab Zahra.
Dua lelaki itu serempak mengangguk tanda memahami ucapan Zahra.
"Yo, ambil tikarnya di Bulek. Tadi mau di siapin katanya," kata Zahra saat Rio hendak keluar rumah.
"Oke."
"Biar aku aja yang bawa ini," kata Ega mengambil alih rantang yang ada di tangan Zahra.
Mereka beruda berjalan beriringan menuju mobil Rio yang terparkir di halaman rumah Bibi Dewi.
__ADS_1
"Kunci mobilnya dibawa Rio," kata Ega.
"Iya kita tunggu aja, gapapa."
"Kamu cantik banget," ucap Ega intens menatap Zahra.
Gadis itu tersipu. Memilih menundukkan kepala daripada menjawab ucapan Ega.
"Kamu kenapa sih jadi suka nunduk gitu?"
"Aku gak pede," jawab Zahra pelan.
Ega meletakkan bawaannya di dekat ban mobil. Ia memegang dagu Zahra dan mengangkatnya. Hingga pandangan mereka bertemu.
"Kamu cantik. Kenapa gak pede?"
Zahra menepis pelan tangan Ega dan kembali menundukkan kepalanya. Ada rona merah di pipinya yang membuat Ega tersenyum.
"Woy! Ngapain tuh?" seru Rio begitu keluar dari dalam rumah.
Mereka beruda serempak menoleh ke sumber suara. Di sana Rio bersama dengan seorang lelaki seumuran mereka. Dua lelaki itu berjalan menghampiri mereka.
"Ra, eleng ora ambe aku?" tanya pemuda itu. Zahra menjawab dengan gelengan kepala.
(Ra, ingat tidak sama aku?)
"Sing sabar yo. Eleng kan biyen pas cilik Zahra gak gelem dulinan ambe awak e. Iki Aldi, Ra," kata Rio menepuk-nepuk pundak Aldi.
(Yang sabar ya. Ingat kan dulu waktu kecil Zahra gak mau main sama kita. Ini Aldi, Ra.)
(Oh iya. Kenalan dulu, Ga. Ini temanku kalau aku main ke sini. Aku ajak sekalian gak papa ya?)
"Ega."
"Aldi."
Mereka berdua saling berjabat tangan memperkenalkan diri. Setelah itu dengan canggung Zahra juga membalas uluran tangan Aldi.
"Ya uda, ayo berangkat," ajak Rio.
Ia mengulurkan kunci mobil pada Ega. Setelah kunci pintu terbuka, Zahra memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.
Ega memacu mobil yang dikendarainya. Di sampingnya Zahra duduk diam memandangi pepohonan dari dalam mobil. Di kursi belakang Rio dan Aldi tak henti-hentinya bercanda. Sesekali Ega ikut juga dalam obrolan mereka.
Tak sampai sepuluh menit mereka telah sampai di wisata Lembah Tumpang. Ega memarkirkan mobil Rio di parkiran yang tersedia. Mereka semua turun dan mengeluarkan semua barang bawaan.
Ega berjalan menuju loket tiket diikuti Zahra di belakangnya. Mereka membeli empat tiket. Saat Zahra hendak mengeluarkan dompet untuk mengambil uang dengan cepat Ega menahannya dan memberikan uang dua ratus ribu kepada penjaga loket.
Mereka memasuki pintu masuk dan di sambut pemandangan indah pepohonan yang tertata rapi di kanan kiri jalan. Mereka menyusuri jalan dengan perlahan dan sesekali Rio dan Aldi berhenti saat menemukan spot foto yang bagus.
"Ra, kamu gak renang?" tanya Ega saat mereka sampai di kolam renang.
"Gak bisa renang," jawab gadis itu.
__ADS_1
"Sama aku. Udah sana ganti baju kamu."
Para laki-laki meletakkan barang bawaan mereka. Tanpa malu melepas pakaian mereka menyisakan boxer yang sudah mereka persiapkan dari rumah. Sambil menunggu Zahra mereka melakukan pemanasan sebelum masuk air.
Zahra keluar menenteng tasnya. Karena tidak membawa baju renang dari rumah lama ia mengenakan hot pants di atas paha dan kaos pendek oblong. Ega yang melihat itu mendadak salah tingkah.
"Astaghfirullah, Mbak! Gak ada celana yang lebih pendek emang? Sekalian aja gak usah pake celana. Celana kurang bahan gitu dipake," omel Rio.
"Ini udah yang paling panjang, masak renang mau pake jubah?" balas gadis itu.
Menurut Zahra yang ia kenakan masih wajar. panjang celananya hanya lima centi di atas lutut. Mengabaikan protes adiknya ia melakukan pemanasan dan langsung masuk kolam renang. Ega yang melihat itu segera menyusul Zahra ke dalam kolam.
"Jangan ke tengah," peringat Ega.
"Enggak. Di sini aja kok, malu aku udah gede gini gak bisa renang," kata gadis itu saat melihat anak kecil yang pandai berenang.
"Aku ajarin ayo," ajak Ega mengulurkan tangannya pada Zahra.
Ega memeluk Zahra di dalam kolam. Tanpa disadari, Zahra yang takut tenggelam mengalungkan tangannya pada leher Ega. Mereka beruda terlihat romantis di dalam kolam.
Ega menuntun Zahra ke tepian. Meminta gadis itu meluncur ke arahnya. Ia mundur beberapa langkah yang sekiranya Zahra dapat menggapainya.
Dengan ragu-ragu Zahra melakukannya. Percobaan pertama ia hampir tenggelam kalau saja Ega tidak cepat menggenggam tangannya. Ega mengurung kembali Zahra dalam pelukannya.
"Ga, jangan gini. Aku gak nyaman," pinta Zahra berusaha melepas pelukannya.
"Gini aja. Aku gak rela tubuh kamu dilihat laki-laki lain," jawab Ega.
Zahra mendadak tegang saat mendengar ucapan Ega.
"Coba nunduk," perintah Ega. Zahra segera menundukkan kepalanya. Dan melihat baju yang ia kenakan membentuk lekuk dadanya, dan parahnya lagi warna pakaian dalamnya juga terlihat jelas.
Gadis itu sangat malu. ia membenamkan wajahnya di dada Ega. Sontak Ega memeluk erat gadisnya itu. Membuatnya tersenyum bahagia.
"Jangan sekali-kali kamu berenang kalau gak sama aku," bisik Ega.
Zahra menggelengkan kepalanya di dalam dada polos Ega. Membuat lelaki itu nyaris kehilangan akal karena ulah gadis itu.
"Sayang, jangan gerak-gerak," peringat Ega.
"Aku malu."
"Serius. Kamu diem ya, ada yang bangun kalo kamu gerak terus," akhirnya Ega mengungkapkan masalahnya.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Ega penuh tanda tanya.
"Kamu mau tau?" tanya Ega.
Sedikit ragu Zahra mengangguk. Memperlihatkan kepolosannya pada lelaki itu. Hal itu membuat Ega tak kuasa untuk tidak menghujani Zahra dengan ciuman. Namun sayangnya mereka sedang berada di tempat umum. Sehingga sekuat hati Ega harus menahannya.
Ega mengeratkan pelukannya pada Zahra. Gadis itu terkejut dibuatnya.
"Coba rasakan sesuatu di bawah sana, dia bangun karena kamu gerak terus. kamu bikin dia bangun," bisik Ega.
__ADS_1
Zahra mengikuti instruksi Ega. Dan ya, ia merasakan sesuatu yang menonjol di bawah sana. Gadis itu memukuli dada bidang Ega karena malu. Bisa-bisanya laki-laki itu berkata dan membuatnya merasakan sesuatu yang tak seharusnya.
Kemesraan mereka tak luput dari pengamatan Rio. Lelaki itu dan Aldi memilih menjauh dari mereka berdua. Memberi kesempatan untuk mereka memiliki waktu berdua.