
Dua hari sudah Zahra terkurung di vila itu. Selama dua hari itu pula Bian ataupun Brian tak ada yang menemuinya. Gadis itu memikirkan bagaimana caranya agar bisa terbebas dari kurungan itu.
Beberapa kali gadis itu mencoba meminta bantuan pada penjaga yang setiap hari mengantarkan makanan dan pakaian untuknya. Namun, sayang orang itu tak berani karena ancaman majikannya.
Seorang gadis seusia dengan Zahra masuk ke kamar. Gadis itu berbeda dengan orang yang membawa makanannya kemarin. Saat gadis itu masuk, ia terkejut melihat penampilan Zahra yang sangat memprihatinkan.
"Mbak, monggo di mana Mbak," ucap gadis itu meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
(Mbak, silahkan dimakan dilu Mbak.)
Zahra menangis saat melihat perempuan itu. Hal itu membuat gadis tadi bingung.
"Mbak, wonten nopo? Mbak e nangis nopo o?" tanya gadis pembawa makanan itu.
(Mbak ada apa? Mbaknya nangis kenapa?)
"Aku wis di kurung ndek kene rong dino Mbak, aku pingin moleh. Tulungono aku Mbak," pinta Zahra pada gadis itu.
(Aku sudah di kurung di sini dua hari, Mbak, aku ingin pulang. Tolong aku Mbak)
"Kepiye caraku nulung sampean, Mbak? tanya gadis itu ikut bersedih melihat keadaan Zahra.
(Bagaimana caraku meolong kamu, Mbak?)
"Selangono aku HP Mbak, aku tak menghubungi keluargaku."
(Pinjami aku HP Mbak, Aku akan menghubungi keluargaku.)
Gadis membawa nampan itu mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya. Memberikannya pada Zahra yang sedang menangis. Gadis itu berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Ia juga takut jika tiba-tiba ada orang yang masuk.
Zahra menghentikan pesan singkat pada nomor ponsel Rio juga pada nomor ponsel Efelin. Ia hanya menuliskan pesan singkat yang bertuliskan Tolong aku, Brian dan Bian yang menculikku, jangan hubungi nomor ini. (Zahra).
"Mbak, mautur suwun aku wis di tulung. Lek ono sing telpon samean ojo di angkat. Cekne samean aman," ucap Zahra dengan mengulurkan ponsel itu.
(Mbak, terimakasih sudah menolongku. Kalau ada orang yang menelpon kamu, jangan di angkat, Agar kamu tetap aman.)
"Enggeh Mbak, sami-sami. Mulai dinten niki kulo tugas e ngeteraken maem e sampean. Kulo siap bantu sampean Mbak."
(Iya Mbak, sama-sama. Mulai hari ini aku bertugas mengangarkan makanan kamu. Aku siap bantu kamu Mbak.)
Zahra terharu dengan ucapan gadis pembawa makanan itu. Ia memeluk gadis itu dan membisikkan terima kasih berkali-kali. Gadis itupun membalas pelukan itu dan menepuk-nepuk punggung Zahra. Ia juga menangis di pelukan gadis itu.
__ADS_1
Keduanya melepaskan pelukan mereka. Zahra mengusap sisa air mata yang ada di pipinya. Ia tersenyum pada gadis itu.
"Jeneng e samean sopo Mbak? Aku Zahra."
(Nama kamu siapa Mbak? Aku Zahra.)
"Kulo Lina, Mbak."
( Aku Lina, Mbak)
"Ojo boso alus nang aku Mbak. Nggawe boso jowo biasa enggak popo. Utowo gawe boso Indonesia ae."
(Jangan pakai bahasa Jawa halus ke aku Mbak. Pakai bahasa jawa biasa gapapa. Atau pakai bahasa Indonesia saja.)
"Iya, Mbak. Di sini udah kebiasaan. Mbak Zahra jangan khawatir pokoknya. Sebisanya aku akan bantu Mbak keluar dari sini. Aku juga kecewa sama bapakku, Mbak. Dia mau saja membantu penculik Mbak itu. Apa dia gak mikir, seandainya aku yang di culik bagaimana," kata Lina dengan bahasa Indonesia yang sedikit terdengar medok di telinga Zahra.
"Makasih banyak ya, Lina. Kamu cepet keluar dari sini. Sebelum ada yang curiga," pinta Zahra.
"Iya, Mbak. Jangan lupa di makan. Biar Mbak punya tenaga buat melawan penculik itu," pesan Lina.
Zahra mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu lalu keluar. Mengunci pintu kamar itu dari luar.
Rio begitu heboh begitu mendapat pesan dari nomor tak dikenal yang mengaku Zahra. Begitu pula Efelin, gadis itu segera memberi tahu kedua orang tuanya.
Rio dan Ega bertemu di bengkel Ega. Rio telah memberi tahu Ega bahwa kakak sepupunya menghubunginya. Mereka berdua duduk di ruangan yang biasanya ditempati Zahra.
"Ini sms dari Zahra, aku gak nyangka Brian setega itu. Kita harus bergerak cepat," ujar Rio. Ega meneliti dengan seksama pesan itu.
"Kita minta om dan tante buat laporin ini ke polisi. Kita gerak cepat, aku punya teman yang bisa melacak tempat dari nomor ponsel. Ayo kita segera ke rumah temenku," kata Ega.
"Om sama tante udah laporan lagi. Efelin juga dapat pesan yang sama. Kita ke temapt temenmu sekarang aja."
Ega mengangguk setuju. Mereka berdua segera bergegas ke tempat teman yang di maksud Ega. Sebelumnya Rio menitipkan bengkelnya pada Dimas.
Meski sebenarnya Dimas ingin sekali ikut mencari Zahra, namun ia harus berbesar hati karena ia tau Rio dan Ega lebih berhak untuk menyelamatkan Zahra.
Kedua lelaki itu sampai di sebuah perumahan Elit di kawasan Dieng. Ega memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah mewah. Ia keluar mobil dan diikuti oleh Rio. Ia memencet bel yang ada di pagar rumah itu.
Seorang gadis seusia mereka keluar dan membukakan pintu untuk mereka dan mempersilakan mereka masuk.
"Fan, tolongin. Lacak nomer ini," pinta Ega to the point.
__ADS_1
"Masuk dulu lah, duduk dulu. Buru-buru banget sih," jawab gadis itu sedikit dengan nada genit menurut Rio.
"Aku buru-buru, Fan. Ayo lah. Tolongin," kata Ega lagi.
"Oke. Aku ambil laptop dulu, kalian tunggu dulu," gadis yang di panggil Fan itu masuk ke dalam rumahnya.
"Siapa kamu itu?" tanya Rio berbisik.
"Temen kuliah di Singapura," balas Ega berbisik pula.
"Sepertinya dia ada something sama kamu," tuduh Rio.
"Kamu tau sendiri lah, dari gelagat dia."
"Dasar! Kenapa minta bantuan dia?" Rio berbisik sedikit keras.
"Cuma dia yang bisa aku mintai tolong sekarang."
Gadis itu keluar membawa laptop dan beberapa kabel USB. Ia duduk di hadapan lelaki yang wajahnya sama-sama tegangnya.
"Mana nomernya?" tanya gadis itu.
Rio segera menyebutkan nomor yang tadi mengirimkan sms padanya. Gadis cantik itu mengutak-atik laptop di depannya beberapa saat.
"Pegunungan Tengger," ucap gadis itu.
"Kita ke sana sekarang. Tolong kirimkan alamat akuratnya ke aku," pinta Ega.
"Apa imbalan yang aku dapat?" tanya gadis itu pada Ega.
Rio jengah melihatnya, ia sudah menebak pasti akan ada sesuatu.
"Apapun yang kamu minta, Fani. Tolong segera kirimkan alamatnya," jawab Ega tanpa pikir panjang.
"Oke. Akan aku kirimkan," ucap gadis yang bernama Fani itu dengan senyum gembira.
Rio dan Ega segera pergi dari rumah itu begitu mendapatkan alamat yang mereka inginkan.
"Hubungi orang tua Zahra. Suruh mereka minta bantuan polisi," kata Ega dengan fokus menyetir.
Rio mengangguk, ia segera menghubungi orang tua Zahra. Ia juga mengirimkan alamat yang di dapat dari gadis tadi.
__ADS_1