
"Jangan bercanda dengan keadaan papa saya, Dok!" teriak Ega di hadapan dokter.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha semampu kami. Tuhan berkehendak lain," ujar dokter itu juga dengan suara serak menahan kesedihan.
Gagalnya seorang dokter dalam membantu menyembuhkan pasiennya juga menjadi beban mental tersendiri bagi dokter tersebut. Meninggalnya Papa Ega juga menjadi beban mental bagi dokter yang menanganinya.
"Waktu meninggalnya hari ini, Minggu, 6 September 2020 jam 14.17 WIB," ucap dokter dengan menepuk pundak Ega.
"Nggak mungkin! Papa masih hidup kan, Dokter!" teriak Ega.
Lelaki itu terduduk lemah saat tak ada jawaban dari dokter. Tangisannya pecah tak terbendung lagi. Lelaki itu duduk bersandar di tembok dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
"Ega," panggil Zahra yang juga ikut menangis. Meski ia tak bisa mendengar. Ia dapat merasakan bahwa hal buruk telah terjadi kepada Papa Adnan.
Gadis itu memberanikan diri memeluk tunangannya. Membiarkan lelaki itu menangis dalam dekapannya.
"Papa masih hidup kan, Ra. Papa belum meninggal," rancau lelaki itu.
Bu Ratih dan Pak Irawan hanya mampu terdiam ikut merasakan kesedihan calon menantunya.
"Ikhlaskan, Nak. Agar papamu tenang di sana," ucap Ayah Zahra ikut berjongkok di hadapan Ega.
"Nggak, Yah. Papa masih hidup. Papa nggak mungkin ninggalin aku sendirian." Tangisan lelaki itu membuat siapapun yang mendengar ikut merasakan kepedihan.
Kini ia hidup sendirian tanpa ada kedua orang tuanya. Satu-satunya orang tua yang ia miliki sekarang telah di ambil Tuhan dengan cara yang sungguh tak pernah ia bayangkan.
*****
Di rumahnya, semua keluarga telah berkumpul menunggu kedatangan jenazah. Bu Salma sempat tak sadarkan diri saat mendapat berita bahwa anak sulungnya telah meninggal.
Begitu sadar, nenek Ega itu tak kuasa menahan kesedihannya. Ia mendekap foto anaknya dan menggumankan kata maaf terus menerus. Semua anggota keluarga berkumpul menemani Nenek Salma yang terlihat sangat terpukul.
Suara ambulance di luar mengalihkan fokus mereka yang berada di dalam rumah. Semua orang yang berada di dalam segera keluar untuk menyambut jenazah.
Ega keluar dari mobil ambulance dengan wajah sembabnya. Nenek Salma yang melihat itu langsung memeluk cucunya dengan penuh kasih. Meski ia juga terpukul atas kepergian anaknya, ia harus kuat demi cucunya.
"Uti, Papa, Uti," adu lelaki itu terlihat sangat rapuh.
__ADS_1
"Ikhlaskan ya, Nak. Papamu akan bahagia di sana. Kamu masih memiliki uti dan keluarga yang lain," ucap Nenek Salma menguatkan cucunya.
Para pelayat dan keluarga membantu petugas rumah sakit membawa jenazah menuju tempat persemayamannya di dalam rumah, sebelum nantinya akan dimakamkan besok pagi.
Suara sanak saudara dan para pelayat yang membacakan surat Yaa Sin untuk almarhum semalaman tak terputus. Mereka silih berganti membacakan doa untuk almarhum Papa Adnan.
Zahra dan kedua orangtuanya juga memutuskan untuk menginap dan membantu proses pemakaman besok pagi. Mereka menginap di rumah Rio yang cukup dekat dengan rumah Ega.
"Nak, kami akan menginap di rumah Rio malam ini. Besok pagi-pagi sekali kami akan kembali ke sini," pamit ayah Zahra.
"Menginaplah di sini, Yah, Bun, di sini banyak kamar," pinta Ega.
"Bukannya kami tidak mau menginap di sini. Alangkah baiknya kami menginap di rumah Rio. Mengingat kalian belum resmi menikah."
"Kalau saya minta Zahra menginap di sini boleh kan, Ayah?"
"Baiklah, biar Zahra di sini menemanimu."
Setelah berpamitan dengan beberapa keluarga Ega, kedua orang tua Zahra meninggalkan rumah duka. Zahra terdiam di halaman setelah mengantar kedua orang tuanya ke mobil.
"Ra," panggil Ega dari belakang. Gadis itu tetap diam di tempatnya tak mendengar panggilan itu.
"Orang tua kamu ke mana, Nduk?" tanya salah seorang saudara Ega.
Zahra terdiam, tidak menyadari jika orang itu berbicara dengannya. Sementara Ega pergi entah ke mana setelah mengajak gadis itu bergabung dengan keluarganya.
Beberapa orang yang berada di situ memperhatikannya yang sedang menunduk. Menunggu jawaban darinya.
"Arek iku kok gak semaur sih ditakok i? Gak krungu tah macak gak krungu?" bisik salah seorang ibu.
(Dia itu kok tidak menjawab sih ditanyain? Gak dengar atau pura-pura gak denger?)
Perempuan yang di sampingnya menjawabnya pertanyaan itu dengan mengangkat bahunya.
Seorang bapak-bapak yang duduk di samping Zahra menepuk pundak gadis itu. Memberi isyarat mengarahkan dagunya pada wanita yang melontarkan pertanyaan.
"Maaf, Om, ada apa?" tanya Zahra dengan perasaan tak enak.
__ADS_1
"Kamu di tanyain, ke mana orang tuamu?" Bapak itu mengulangi pertanyaan tadi.
Zahra dengan serius melihat pergerakan bibir orang yang berbicara itu. Memahami dan menebak apa yang dibicarakan orang itu.
"Maaf, Om, saya tidak bisa mendengar suara, Om, Bisakah Om menuliskan apa yang baru saja diucapkan?" kata gadis itu dengan perasaan malu dan tidak enak hati ia mengulurkan ponselnya pada pria itu.
Semua yang berada di ruangan itu terkejut dengan apa yang dikatakan Zahra.
"Kok iso gak krungu tapi iso ngomong?" celetuk salah seorang di sana.
(Kok bisa gak dengar tapi bisa berbicara?)
"Mosok bakal bojone Ega cacat ngene? Sak aken temen arek iku. Dijebak opo yok opo seh ponakanku iku kok katene ngerabi arek cacat ngene?"
(Masak calon istri Ega cacat gini? Kasihan sekali dia. Dijebak apa gimana sih keponakanku itu, kok mau menikah dengan gadis cacat seperti dia?)
Zahra tahu, mereka yang di sana tengah membicarakannya. Dari mimik wajah mereka jelas mereka terkejut dengan apa yang ia ucapkan. Ia sangat nelangsa tak dapat mendengar ataupun menebak apa yang sedang mereka bicarakan.
Tatapan sinis dan merendahkan ia dapatkan dari mereka. Sekuat hati ia menahan agar tidak menangis di hadapan mereka. Ia memilih menunduk tak berani memandang wajah mereka satu persatu.
"Om, Tante, Zahra baru saja mengalami musibah. Dia gadis normal. Sebelumnya dia juga bisa mendengar sama seperti kita. Tolong jangan menggunjing atau merendahkan dia," kata Ega begitu ia datang dan mendengar sedikit pembicaraan mereka.
"Hati-hati kamu, Ga. Bisa saja dia berpura-pura seperti itu untuk memeras hartamu. Kamu harus memilih calon istri yang setara dengan keluargamu," nasihat salah seorang tantenya.
"Tolong, Tante, saya sedang berduka. Jangan membawa-bawa masalah lain yang tidak ada hubungannya dengan keadaan sekarang," jawab lelaki itu.
"Kamu ini, Tante hanya mengingatkan. Kamu ini kaya raya. Papamu meninggalkan warisan yang sangat banyak. Dan kamu jiga tidak memiliki saudara. Kamu harus lebih berhati-hati mencari pasangan."
Tak menggubris perkataan Tantenya, ia menarik lengan tunangannya untuk meninggalkan ruangan.
"Ga, mereka ngomongin aku jelek-jelek ya?" tanya gadis itu.
"Sudah, Sayang. Aku bersyukur kamu tidak mendengar perkataan mereka," bisik Ega.
Ia mengetikkan kata-kata di ponselnya untuk di baca Zahra.
Mereka menyuruh kita istirahat. Ayo ke kamarku. Temani aku. Aku butuh kamu malam ini.
__ADS_1
...****************...