
Beberapa hari ini Ega sibuk dengan persiapan perjalanan dinasnya. Hingga beberapa hari itu pula ia juga tidak sempat menghubungi Zahra.
Rencananya, besok siang ia akan berangkat ke Jakarta. Hari ini ia akan menemui gadis untuk berpamitan. Maka ia menyelesaikan semua pekerjaannya secepat mungkin agar memiliki banyak waktu dengan gadisnya.
Ega menemui Zahra di bengkel Rio tepat setelah jam makan siang selesai. Ternyata gadis itu baru saja kembali dari makan siang bersama Rio dan Dimas, di warung seberang bengkel.
Ega datang dan menyapa beberapa karyawan yang sedang bekerja. Setelah itu berjalan ke ruangan Zahra. Di sana ada Rio yang sedang mengobrol serius dengan Zahra.
"Assalamualaikum," ucap Ega sebelum masuk ruangan.
"Waalaikumsalam," keduanya menjawab salam serempak dan melihat siapa yang datang.
"Sibuk nih?" tanya Ega menghampiri keduanya.
"Lumayan. Tumben ke sini. Katanya sibuk?" tanya balik Rio.
"Mau ngajak Zahra keluar bentar boleh ngga?" Ega meminta ijin pada Rio.
"Boleh aja sih. Tapi kamu tunggu bentaran, ya," jawab Rio.
"Oke. Aku tunggu di depan aja kalo gitu," kata Ega dan memberi kode bahwa ia menunggu di luar dengan gerakan tangan pada Zahra yang sedang memperhatikannya sedari tadi.
Ega memilih menunggu di deretan kursi tunggu pelanggan bengkel. Ia duduk bersandar dan memainkan ponselnya sambil menunggu mereka berdua selesai.
Dimas yang kebetulan sedang tidak ada pekerjaan datang menghampiri Ega yang duduk sendirian.
"Mau ngajak Zahra keluar?" tanya Dimas memulai obrolan.
"He em," jawab Ega sedikit menolehkan kepalanya menghadap Dimas.
"Aku seneng, Zahra uda kembali ceria. Ngedeketin dia susah banget," kata Dimas memandang jalan raya.
Ega sepenuhnya memperhatikan Dimas. Menunggu kelanjutan dari kata-kata Dimas yang tiba-tiba mengganggunya.
"Aku pernah mendekatinya, saat kamu nggak ada. Tapi nyatanya nggak pernah berhasil. Dia bener-bener menutup dirinya untuk di dekati laki-laki."
"Maksud kamu?" tanya Ega.
"Aku menyukai Zahra. Nggak tau mulai dari kapan. Semenjak dulu kalian selalu dekat. Ngga ada kesempatan buatku mendekatinya. Ternyata saat kamu ngga ada pun aku tetep nggak punya kesempatan buat deketin dia. Sebegitu cintanya dia sama kamu."
"Jaga dia baik-baik. Kalo kamu bikin dia terluka lagi. Aku nggak akan tinggal diam. Aku akan merebutnya darimu." Dimas menepuk pundak Ega sebelum meninggalkannya.
Tak berapa lama Rio dan Zahra keluar menghampiri Ega.
"Mau ke mana sih?" tanya Rio.
"Jalan sebentar," jawab Ega.
"Tsk. Kan bisa nanti sore. Mentang-mentang Zahra kerja sama aku kamu samperin mulu, ajakin keluar mulu," omel Rio.
__ADS_1
"Gak ikhlas nih ngasih ijin?" tanya Ega.
"Lagian kamu tuh katanya mau naik jabatan kok malah suka *ngelimput," ujar Rio.
"Udah-udah. Kalo kamu ngga ngebolehin aku nggak akan keluar Yo. Ega maaf ya, nanti sore aja kalo gitu keluarnya, gapapa kan?" Zahra menengahi.
Ia pun merasa tidak enak dengan Rio jika harus pergi saat jam kerja seperti ini.
"Untung dia kakakku. Udah sana buruan pergi, jaga baik-baik kakakku," ucap Rio sambil menepuk pundak Ega dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Aku ambil tas dulu kalo gitu," pamit Zahra kemudian berdiri dan kembali ke ruangannya mengambil tas dan ponselnya.
"Udah? Ngga ada yang ketinggalan?" tanya Ega memastikan.
"Udah semua. Ayo," ajak Zahra.
Mereka berdua memasuki mobil sedan hitam Ega. Lelaki itu membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mau kemana?" tanya Zahra.
"Jalan-jalan."
"Aku kerja kamu jemput cuma mau ngajakin jalan-jalan aja?" tanya Zahra sedikit tinggi nada suaranya.
"Hari ini aku pengen sama kamu. Dua minggu ke depan aku ada perjalanan dinas ke Jakarta. Besok aku berangkat," ucap Ega sesekali menoleh pada Zahra.
Raut wajah Zahra tiba-tiba berubah mendung. Ia tak menjawab perkataan Ega barusan. Ia memilih diam dan menghadap jendela.
Ega kembali mengemudikan mobilnya saat lampu kuning berganti hijau. Ia menyetir dengan satu tangan. Satu tangannya lagi menggenggam tangan Zahra. Ia mengemudikan mobilnya ke arah kota Batu.
Tujuannya wisata Omah Kayu Gunung Banyak di kota Batu. Sepanjang perjalan Zahra tak berbicara sedikitpun. Ia memilih melihat pepohonan sepanjang perjalanan.
Sampai di area parkiran wisata Ega memarkirkan mobilnya. Mengajak Zahra turun.
Pemandangan di area parkiran cukup indah. Banyak tanaman bunga dan rumput-rumput yang tertata dengan rapi, ada jalan setapak yang bisa di lewati untuk mengelilingi taman bunga itu.
Ega menggenggam tangan Zahra, mengajaknya berjalan menuju loket tiket wisata. Ia membeli dua tiket untuk mereka berdua. Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya adalah tebing dan jurang dengan hati-hati. Suasana di situ cukup sepi karena hari ini bukan hari libur.
Ega menuntun Zahra menuju salah satu omah kayu yang ada di sana. Menyaksikan pemandangan kota Batu dan Malang dari atas sana.
Zahra menikmati udara sejuk di tempat itu. Menenangkan pikirannya. Ia menumpukan kedua tangannya di tepian pagar omah kayu. Dari belakang Ega memasangkan jasnya untuk Zahra.
"Dingin di sini. Kamu ga bawa jaket," ucapnya.
"Makasih," jawab Zahra.
__ADS_1
Ega memeluk Zahra dari belakang. Merapatkan tubuhnya pada Zahra. Menumpukan kepalanya di pundak Zahra.
"Ra."
"Hem?"
"Hanya dua minggu, kamu bisa kan menungguku?"
"Entah. Aku takut."
"Aku pasti kembali, Ra. Ini juga bagian dari promosi jabatan aku. Kamu bisa kan ngertiin?"
Zahra membalikkan badannya. Sekarang keduanya berhadapan. Saling berpandangan. ia menumpukan kedua tangannya di dada Ega. Lelaki itu memeluk erat pinggang Zahra.
"Aku nggak mau egois. Aku cuma minta kamu tetep ngasih kabar sama aku," ucap Zahra menundukkan kepala.
"Pasti, Sayang. Jujur saja aku juga berat buat berangkat. Sementara hubungan kita baru saja membaik. Kamu bisa percaya kan sama aku?"
Zahra berusaha meyakinkan dirinya. Dan akhirnya mengangguk. Ega mengangkat dagu Zahra agar bisa melihat wajahnya.
"Ra, boleh nggak?" tanya Ega mengusap bibir tipis Zahra dengan ibu jarinya.
Zahra memejamkan mata sebagai jawaban. Tanpa menunggu waktu lama, lelaki itu mendaratkan bibirnya di atas bibir gadisnya. ********** dengan penuh perasaan.
Zahra membalas ciuman Ega membuka sedikit bibirnya memberi akses agar Ega memperdalam ciumannya.
Ega melepaskan pagutannya. Mengusap bibir Zahra dengan ibu jarinya.
"Makasih," ucap Ega lalu mengecup kening Zahra.
Zahra menunduk malu menyembunyikan pipinya yang merona. Merasakan jantungnya yang berdegup kencang.
Mereka berdua menikmati suasana sore hari di sana. Menghabiskan sisa hari ini berdua saja.
******
*ngelimput dalam bahasa Indonesia itu semacam membolos.. hehehe
Jadi, itu Ega bolos dari kantor cuma buat ngajak Zahra jalan
adakah yang menunggu?
terima kasih sudah mendukungku
kasih jempol, komen dan vote ya,
terima kasih banyaak.
salam sayang
__ADS_1
kiki rizki