Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
52. Tangisan Seorang Ibu


__ADS_3

Belum sampai lelaki itu di tempat tujuan, ponsel yang ia letakkan di dashboard berbunyi nyaring. Ia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. Memperlihatkan nama 'Go Rio Rio' di sana.


Di angkatnya panggilan itu dan ditekannya tombol loadspeaker.


"Di mana?" tanya Rio.


"Jalan."


"Kutunggu di tempat Doni."


"Ok."


Sambungan telepon terputus setelah ia mengatakan oke. Lelaki itu menggerutu sepanjang jalan. Karena ia harus putar balik. Padahal di tikungan depan sudah terlihat gang masuk rumah kontrakannya.


Ia terus melajukan mobilnya mencari tempat putar balik. Dan melajukan sedan hitamnya ke arah kafe Doni.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di kafe Doni yang terletak di kawasan jalan Sukarno - Hatta. Jalanan yang cukup ramai membuat Ega tak bisa memacu kendaraanya dengan cepat.


Ia tiba di pelataran kafe dan memarkirkan mobilnya. Ega memasuki kafe masih dengan memakai seragam kantornya.


Ia mencari-cari Rio yang tadi meneleponnya. Dilihatnya lelaki itu duduk di meja paling ujung bersama teman-temannya yang lain.


Ia berjalan menghampiri meja itu. Menyalami mereka satu persatu. Ia mengambil tempat duduk di sisi Edo.


"Baru balik dari kantor?" tanya salah satu dari mereka.


"Enggak. Dari Zahra."


"Cie ngapel terus nih."


"Habis gimana. Kangen soalnya."


"Adau. Kangen jare (katanya)," goda mereka.


"Lah Rio mana? Tadi dia yang menelepon aku disuruh ke sini," tanya Ega.


"Lagi galau dia. Ceweknya gak bisa dihubungi," jawab salah seorang dari mereka.


"Samperin lah. Kayak gak tau rumahnya aja," celatuk Ega.


Edo yang duduk di samping Ega membisikkan sesuatu padanya. Setelah itu mereka mengalihkan obrolan tanpa membahas Rio.


Mereka bercengkrama mengenang masa-masa sekolah dengan kenakalan yang mereka perbuat. Saling mengejek satu sama lain saat menemukan ingatan memalukan di masa sekolah mereka.


Sampai tengah malam mereka masih betah duduk manis ditemani secangkir kopi. Juga telah berbatang-batang rokok mereka habiskan.


Meski kafe sudah tutup, tak membuat mereka ikut bergegas pulang. Justru sang pemilik kafe juga ikut dalam obrolan dan gurauan bersama teman-temannya.


Pukul dua belas lewat sedikit Ega memutuskan untuk kembali ke kontrakannya. Beberapa dari mereka masih bertahan dan melanjutkan obrolan.


Kalau dipikir-pikir sebenarnya para kaum adam juga suka sekali berkumpul dan mengghibah. Dan topik pembahasan yang mereka bahas juga hampir sama dengan para perempuan.


Jika para kaum hawa suka membahas laki-laki tampan dan kaya, tak jauh beda. Laki-laki jika berkumpul yang mereka bahas juga perempuan. Intinya laki-laki ataupun perempuan itu sama. Sama-sama tukang ghibah, begitu menurut Ega.

__ADS_1


Lelaki itu telah sampai di rumah kontrakannya. Ia memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


Ia bergegas masuk ke dalam rumah. Satu tujuannya saat ini yaitu mandi air hangat. Seharian ini ia terlalu banyak aktifitas yang membuat badannya lengket. Ditambah lagi dengan bau asap rokok.


Seusai membersihkan dirinya. Ia melihat ponselnya yang ternyata mati kehabisan daya. Ia mencolokkan ponselnya pada kabel pengisi daya. Membiarkannya terisi hingga penuh.


Selagi ponselnya diisi daya, yang dilakukan pria itu juga membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Bersiap menjemput mimpi. Barang kali nanti di sana bertemu dengan gadisnya yang ceria.


Sepertinya PR lelaki itu dari sang ayah pujaannya masih belum terselesaikan, yaitu membuat Zahra bahagia. Ya. Dia harus berusaha ekstra untuk mengembalikan keceriaan gadisnya.


*****


Pagi-pagi sekali, setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, lelaki yang masih memakai sarung itu telah berkutat dengan ponselnya.


Mengirimkan pesan panjang untuk menanyakan keadaan pujaan hatinya. Semalam ia terlalu letih untuk menanyakannya keadaan sang gadis yang ia cintai.


Sembari menunggu ia juga mengirimkan pesan pada seseorang yang lain. Tujuannya sama, menanyakannya keadaan sang pujaan hati.


Tak ada respon dari keduanya membuat lelaki itu frustasi. Ingin menghampiri, tapi jauh. Bagaimana dengan nasib pekerjaannya jika ia sering membolos demi menemui pujaan hatinya yang jauh di sana.


Ia kembali menghubungi nomor lain. Ia pikir, sudah waktunya ia mengikat gadis itu, agar segera bisa hidup bersama.


Baru berpisah beberapa hari saja membuatnya sering frustrasi karena sulit mendapatkan kabar. Ya. Ia memang harus segera menikahi gadisnya.


Toh, restu kedua orang tuanya sudah ia kantongi sejak lama. Seiring berjalannya waktu pasti ia bisa mendapatkan kembali hati Zahra secara utuh.


Ega bangun dari rebahannya. Meletakkan ponselnya dan bersiap untuk ke kantor. Sepertinya hari ini ia harus menahan dirinya agar tidak membolos lagi.


Dering ponsel yang begitu nyaring membuatnya segera mengecek benda pipih itu. Tertera nama sang papa di sana. Langsung saja ia menjawab panggilan itu.


Terjadi perbincangan selayaknya orang tua dan anak yang lama tidak bertemu. Saling menanyakan kabar kesehatan di antara mereka beruda.


"Minggu depan papa ada dinas di Indonesia selama dua bulan ke depan. Papa usahakan bisa mengunjungimu," ucap sang papa di seberang sana.


"Di Malang, Pa?" tanya Ega.


"Tidak. Di Surabaya. Papa bisa saja nanti berangkat dan pulang dari Malang."


"Apa tidak terlalu jauh, Pa?"


"Kita bicarakan nanti saja. Jangan lupa jemput Papa di bandara. Hati-hati, jaga dirimu baik-baik, Nak," pesan sang papa.


Setelah mengucap salam sambungan telepon itu terputus. Ia kembali meletakkannya ponselnya dan melanjutkan kegiatannya.


******


Di sebuah rumah di kawasan Elit kota Malang pagi-pagi sekali tengah terjadi keributan. Sang ibu yang marah-marah kepada anak lelakinya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.


Dengan bau alkohol yang menyengat di seluruh tubuhnya. Ia berdiri dengan sedikit sempoyongan.


Tidak memperdulikan kemarahan dan kekecewaan sang ibu padanya. Lelaki muda itu berjalan sempoyongan menuju kamarnya di lantai atas.


Sang ibu terduduk di sofa ruang tamu. Menangisi anaknya yang pulang dengan keadaan mabuk.

__ADS_1


Entah beban apa yang sedang dipikul anak semata wayangnya itu. Hingga ia melakukan perbuatan yang sangat dilarang agama.


Ibu itu merasa gagal menjadi orang tua. Melihat anaknya akhir-akhir ini pulang dengan keadaan mabuk. Bingung harus bagaimana mengingatkan anaknya.


Ia berdiri sambil menangis. Memasuki kamarnya yang ada di lantai bawah. Perempuan itu mengambil ponselnya. Melakukan panggilan dengan orang yang sangat ia butuhkan.


"Kak!" ucap perempuan itu kembali menangis saat sambungan telepon terangkat.


"Ada apa, Dek? Kenapa menangis?" tanya orang di seberang sana.


"Dia lagi-lagi pulang sambil mabuk, Kak. Apa yang harus aku lakukan? Aku gak tau masalah apa yang dia alami. Dia gak pernah mau cerita sama aku, Kak," adu perempuan itu.


"Aku harus gimana, Kak? Hancur hatiku melihat anakku salah jalan seperti ini. Aku gagal menjaga titipan Allah, Kak. Aku takut dia akan seperti papanya, Kak," ucap perempuan itu dengan derai air mata.


Di luar kamar, sang anak yang kesadarannya yang tidak seratus persen karena pengaruh alkohol itu terdiam di ujung tangga. Mendengarkan sayup-sayup suara isak tangis sang ibu di dalam kamar.


Hatinya juga ikut menangis. Ia menyesal telah membuat satu-satunya orang tua yang ia miliki menangis karenanya.


Ia memilih pergi dari rumah itu tanpa berpamitan. Membuka pintu rumah dan menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman rumah.


Deru suara mobil yang sangat dikenal ibu itu kembali terdengar. Namun suaranya bukan mendekat justru semakin menjauh.


Sang ibu buru-buru keluar dengan ponsel yang masih bertengger di telinganya. Ia melihat mobil anaknya telah jauh di ujung jalan.


"Dia pergi lagi, Kak. Aku harus bagaimana?" perempuan tua itu kembali menangis.


Orang yang ada di ujung sana mendengar tangisan ibu itu dari suara panggilan yang masih terhubung.


Tak henti-hentinya sang ibu menangisi anaknya yang baru saja pergi. Menyesali dirinya yang tak becus menjadi ibu yang baik untuk anaknya.


*****


heemmm...


Ada yang tau gak itu siapaaa...


Kira-kira udah pas belum aku bikin kata-kata yang scene ibu nangis...


yang kepo tetep stay yaa.. 😍😍😍


dan jangan lupa pencet jempol doong... kasih vote juga mauu banget akunya 😍😍😍


yah ngelujak diriku... Di like aja aku bahagiaa.. apalagi di vote.. bahagia pake bangeet ngeet ngeet lah pokonya.


aku juga mau bilang makasihh banyak buat semua reader yang udah suport aku sampai di sini. Tanpa kalian para reader aku mah apa atuh.. hanya kalian semangat ku menulis..


aku berharap kalian selalu menunggu updatean cerita remahanku ini..


sekali lagi terima kasih ... 🙏🏻🙏🏻😱😍😍😍🥰🥰🥰


salam sayang


kiki rizki 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2