Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
91. Lomba Tarik Ulur Hati


__ADS_3

MInggu pagi yang cukup cerah di daerah tempat tinggal Zahra. Gadis cantik itu tengah sibuk di daur bersama dengan sang bunda menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarganya.


"Bau masakannya kecium sampai kamar," ucap lelaki muda yang baru saja memasuki area dapur.


"Waduh, udah cakep aja kamu, Le? Mau balik ke Malang sekarang?" tanya Bu Ratih.


"Nggak, Bun. Aku mau ikut Zahra ke acara lomba," jawab lelaki itu yang tak lain adalah Ega.


"Hem. Emang top mah kalau anak lelaki Bunda yang satu ini. Jangan kayak Zahra, udah berbulan-bulan di sini tapi nggak ada satupun kenal sama anak komplek. Menyedihkan sekali hari-harinya," celoteh Bu Ratih sengaja menyindir anak gadisnya.


"Serius, Bun?" tanya Ega tak percaya.


"Ya iya. Sampai heran Bunda sama dia. Dulu waktu Bunda masih muda itu aktif banget di organisasi. Eh, malah anak Bunda nggak ada yang meniru. Yang satu enggan kenal orang, yang satunya lagi sibuk sama dunianya sendiri."


"Ada ya sekarang lagi ghibahin orang tepat di depannya seolah-olah yang dighibahin nggak ada," komentar Zahra yang sedari tadi hanya diam.


"Ya biar jatuhnya bukan ghibah. Kan di depan kamu jadi ya nggak dosa."


"Pinter deh Bundaku kalau ngeles," ucap Zahra dengan memeluk sang bunda.


"Panggil adikmu gih, kita saraan bareng-bareng," perintah Bu Ratih.


"Males ah. Palingan dia juga masih tidur." Ia duduk di seberang tunangannnya yang sedari tadi memandangnya dengan senyum yang tak lepas dari kedua sudut bibirnya.


*********


Lapangan komplek tempat diadakannya lomba telah dipadati oleh anak-anak dan warga komplek yang ingin menyaksikan. Ega memarkirkan motor yang dikendarainya di tempat parkir dadakan yang ada di sana. Zahra berdiri tak jauh darinya menunggu lelaki itu selesai dengan motornya.


"Ayo," ajak Ega. Ia meragkul pundak tunangannya dengan wajah cerahnya. Mereka berdua berjalan mendatangi kerumunan panitia yang menggunkan dress code kaus biru di sudut lapangan.


"Maaf agak telat," sapa Zahra pada mereka.


"Iya gak papa, Mbak. Kita belum mulai kok," jawab Adam dengan tersenyum.


"Aku ikut bantu kalian boleh kan?" tanya Ega pada mereka.


"Boleh, Mas. Makin banyak yang bantuin makin ringan kerja kita," sambut Adam.


"Oke. Saya mulai ya teman-teman. Seperti yang kita bahas tadi malam. Lila, Maya, bagian pendataan peserta lomba. Yang mau daftar tetep kita perbolehkan selama lomba belum di mulai. Paham?" lanjut ketua pelaksana itu.

__ADS_1


"Paham, Mas Adam," jawab kedua gadis seusia Efelin itu kompak.


"Aku, Iqbal, Roni, Adit, yang bakal prepre buat alat-alat lomba pertama."


"Mas Satrio, Dinda, yang jadi pembawa acara dan pemandu lomba."


"Mbak Zahra, Mbak yang back up kalau anak-anak yang menangani pendaftaran lomba butuh bantuan, bisa?"


"Oke."


"Sama yang bagian pencatat hasil lombanya ya? Nanti yang dokumentasi biar Masnya Mbak Zahra."


"Oke. Hehe, dia bukan Mas aku sih. Panggil aja Ega, biar akrab," ucap Zahra mengulum senyum karena melihat ekspresi kecut dari Ega.


"Oke, Sudah siap semua? Mohon kerja samanya ya teman-teman. Sebelum kita mulai acara, mari kita baca surat Al Fatihah, semoga acara kita berjalan lancar."


Semua pantia yang bertugas mengambil tempat masing-masing sesuai dengan tugasnya. Zahra mau ta mau harus membantu dua gadis remaja yang saat ini tengah menunjukan raut tidak suka kepada dirinya.


Gadis tu berusaha cuek dan tetap profesional meski kegiatan ini bukanlah acara yang besar. Mengabaikan sikap sinis dua gadis itu, ia melayani setiap anak-anak yang mendaftarkan dirinya di acara lomba.


Zahra terlihat sibuk ke sana - kemari memenuhi panggilan - panggilan dari panitia lain yang meminta bantuannya. Meski ia tahu mereka sengaja melakukan itu padanya, ia tetap diam dan datang membantu.


Gadis itu menyerahkan catatannya pada Dinda. Baru saja ia hendak mngistirahatkan tubuhnya sebentar, Lila datang membawa buku catatan peseta lomba.


"Nih, Mbak, lanjutin. Aku capek," ucap gadis itu tanpa adanya sikap sopan pada orang yang lebih tua.


Menghela napas kasar, gadis itu menerima buku itu dan berdiri menghampiri Maya yang sedang dikerumuni oleh anak-anak peserta lomba.


Dari kejauhan gadis itu melihat Ega yang sedari tadi sama sekali tidak mendekat padanya. Ia sibuk mengabadikan setiap momen dalam lomba itu. Sering kali ia didekati oleh gadis-gadis yang tertarik padanya. Dengan alasan mencoba mengambil gambar dan meminta diajari menggunakan kamera lelaki itu, ia tak henti-hentinya terlihat akrab dengan beberapa perempuan. Membuat sesuatu di dalam diri Zahra melihat pemandangan seperti itu.


Tak jaran lelaki itu terlihat mesrah mnurut pandangan Zahra yang hatinya memanas karena ulah gadis-gadis yang mendekati tunangannya. Ingin sekali gadis itu mendatangi mereka saat bersaa kekasihnya dan memaki mereka yang tidak tahu malu itu.


"Mbak," tegur Iqbal yang berada di sampingnya.


"Eh, sorry - sorry. Kenapa?" ucap gadis itu terkejut.


"Lihat apa sih?" tanya lelaki itu kepo.


"Nggak ada. Sorry, kamu ngomong apa barusan?" tanya Zahra.

__ADS_1


"Ikut aku sebentar bisa nggak? Kita butuh bola plastik. Kelupaan belum beli ternyata."


"Bentar ya, May, aku tinggal dulu. Udah nggak ada yang daftar lagi kan?" tanya Zahra memastikan sebelum ia pergi.


"Iya, Mbak. Aku tinggal bagi pesertanya aja kok," jawab Maya.


Setelah mendapat persetujuan dari Maya. Zahra berjalan mengikuti Iqbal yang berada di depannya. Gadis itu tidak menyadari di kejauhan ada sepasang mata yang menatap setiap langkahnya dengan perasaan marah.


"Mas Ega, ini aku yang foto gak papa ya?" ujar perempuan yang berdiri di depannya dengan memegang kameranya.


"Iya silahkan," jawab lelaki itu.


Ia kembali mengawasi ke mana Zahra pergi dengan lelaki tadi. Terlihat olehnya tunangannya itu menaiki boncengan motor sport milik lelaki tadi. Hatinya bergemuruh melihat pujaan hatinya terlihat memegang kedua sisi tubuh lelaki tadi.


"Mas Ega, ajarin biar jepretannya bagus kayak punya Mas dong," pinta perempuan itu menarik perhatian Ega. Tetapi, lelaki itu sama sekali tidak menanggapinya. Pikirannya melayang menerka-nerka ke mana mereka berdua pergi.


"Oke teman-teman semua. Sepuluh menit lagi kita akan mulai lomba terakhir untuk siang ini. Buat adik-adik yang belum daftar lomba sepak bola terong buruan segera daftar ke Mbak Lila atau Mbak Maya, ya. Nanti setelah lomba ini selesai, kita break dulu dan lanjut lagi jam tiga sore nanti. Masih banyak lomba-lomba yang pastinya tak kalah seru dengan lomba siang ini," ucap Dinda mmberikan pengumuman pada slurauh orang yang berada di lapangan itu.


Tak berapa lama, Iqqbal yag berboncegan dengan Zahra di belakangnya membawa beberapa bola plastik akhirnya sampai di lokasi lomba. Zahra segera menghampiri panitia yang lainnya dan menyerahkan bola yang sedang mereka tunggu. Di belakangnya Iqbal berjalan ikut menghampiri yang lain.


Lomba terakhir akhirnya berjalan dengan lanar dan seru. Setelah lomba selesai semua panitia berkumpul dan bergotong royong membereskan sisa-sisa perlengkapan yang mereka gunakan. Juga membersihkan sampah-sampah bekas wadah makanan yang berceceran di sana.


"Aawaass!!!" teriak seseorang entah pada siapa hingga akhirnya terdengar suara benturan yang cukup keras dan teriakan yang lainnya.


Sebuah bola volley yang ditendang cukup keras mengenai kepala bagian samping Zahra yang saat itu tengah membantu yang lainnya bersih-bersih. Ia langsung tak sadarkan diri dan membuat riuh suasana.


Dengan sigap Adam yang kebetulan berdiri tak jauh dari gadis itu segera menangkapnya sehingga Zahra tidak sampai terjatuh ke tanah.


"Mbak, bangun, Mbak. Mbak Zahra bisa denger aku kan?" Adam berusaha membangunkan Zahra yang tak sadarkan diri.


"Mas Adam, ada adarah di telinga Mbaknya!" seru salah seorang kerumunan.


Tak memperdulikan apapun Adam segera mengangkat tubuh lemas gadis itu.


"Biar aku aja!" Ega datang dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan. Dengan terpaksa Adam membiarkan Ega mengambil alih tubuh Zahra.


"Aku antar ke rumah sakit," tawar Adam.


"Gak perlu. Antar kami pulang, Aku akan ke rumah sakit membawa mobil. Gak mungkin dia harus di gendong seperti ini," ucap Ega dengan nada cukup tinggi.

__ADS_1


Adam yang paham situasi segera menuju motornya dan mengantarkan Ega ke rumah Zahra.


__ADS_2