
Aku bukanlah anak orang kaya. Keluargaku termasuk kalangan menengah ke atas. Aku berasal dari salah satu desa yang terletak di kabupaten Malang.
Pengalaman pertama hidup dikos-kosan lantaran diriku diterima menjadi mahasiswi di salah satu universitas negeri di kota Malang. Hidup jauh dari orang tua telah kujalani lebih dari dua tahun.
Mengenal banyak mahasiswa dari berbagai jurusan, karena aku sering mengikuti organisasi. Mungkin, berawal dari sana, aku mengenal banyak teman-teman laki-laki. Hanya sebatas teman.
Banyak dari mereka adalah most wanted di jurusannya. Penampilan yang modis, wajah yang rupawan, anak orang kaya, kendaraanya mobil atau motor sport, mengikuti kegiatan di mana-mana, pastilah banyak menarik perhatian mahasiswi.
Devan, Alan, Arya, Raka, adalah beberapa dari mereka. Mereka semua adalah teman-temanku dari SMA. Mereka juga adalah para laki-laki yang banyak penggemarnya.
Beberapa kali aku bertemu dengan mereka di acara organisasi yang aku ikuti. Bercanda, bergurau, tak jarang mereka selalu memberi tumpangan aku pulang kalau Rio tidak menjemput.
Arya, dia memiliki seorang pacar yang sama tenarnya seperti dirinya. Namanya, Alena. Dia sering terlihat sinis saat aku berkumpul dengan mereka berempat. Terutama jika dengan Arya.
Alena juga pernah mengancamku tanpa sepengetahuan Arya.
Saat itu, kami, aku dan empat sekawan itu, juga Alena sedang berkumpul di salah satu kafe. Beberapa kali Arya melontarkan guyonan padaku, juga yang lainnya.
Aku dapat melihat wajah sinis Alena kepadaku. Aku tahu, sedari awal memang dia tidak menyukaiku, apalagi kedekatanku dengan Arya.
Aku masih ingat betul, waktu itu dia meminta ijin pada teman-teman yang lain dan memintaku menemani ke toilet. Kebiasaan para perempuan, ke toilet saja ngajak temen.
Aku ikut masuk ke dalam toilet. Merapikan sedikit penampilan yang menurutku berantakan.
Tak lama, Alena keluar dengan wajah sinisnya. Berdiri di sampingku dan ikut menghadap cermin besar yang tertempel di dinding.
"Mengacalah! Lihat dirimu! Apa kamu gak malu dengan penampilanmu yang seperti itu duduk bersama Arya dan lainnya?" tanya Alena waktu itu.
Aku memandangnya sesaat melalui pantulan kaca. Sedikit banyak juga melakukan apa yang dia suruh. Memang, penampilanku tak semodis dirinya.
"Sebaiknya kamu jauhi mereka. Terutama Arya. Apa kamu gak mikir? Mereka malu punya temen jelek kayak kamu! Tampang pas-pasan aja kok belagu. Sok-sok an berteman sama cowok most wanted," ujarnya lagi.
"Dan satu lagi! Jangan main-main denganku, aku bisa melakukan apapun untuk menjauhkanmu dari Arya," bisiknya tepat di telingaku sebelum dia keluar dari toilet.
__ADS_1
Dia keluar meninggalkan aku sendiri di dalam toilet. Aku menyusulnya, dan kembali menemui yang lainnya.
Aku kembali duduk di tempatku. Mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Kuketik pesan singkat untuk Rio, aku memintanya menjemputku di kafe.
"Aku balik duluan ya," pamitku pada mereka.
"Kenapa? Belum pada habis nih makanan," tanya Raka.
"Ini, cowok aku mau jemput," jawabku dengan menekankan kata cowok dengan memandang Alena. Aku ingin dia tahu, kalau tak sedikitpun aku tertarik pada Arya. Karena hanya Rio yang bisa mencuri hatiku.
Dering ponselku berbunyi cukup nyaring. Membuat mereka semua yang duduk mengitari meja menghentikan obrolannya dan melihat ke arahku.
"Halo, Yang," jawabku setelah mengangkat telepon dari Rio.
"Aku di depan," ucap Rio di telepon.
"Kamu masuk bentar ya, Yang. Ini aku masih beresin barang-barang aku," kataku. Memperhatikan mimik wajah Alena yang makin sinis padaku.
Ku lihat Rio masuk ke dalam kafe. Aku melambaikan tanganku padanya. Dia pun menghampiriku. Menyalami teman-teman laki-lakiku, juga Alena.
Lihatkan, Alena? Pacarku lebih keren dari Arya, ejekku padanya melalui tatapan mata.
"Gabung sini, Bang. Buru-buru amat kayaknya," ucap Devan.
Mereka semua kenal dengan Rio. Karena mereka sering main di bengkel pacarku. Aku dan Rio terpaut beberapa tahun. Makanya Devan memanggilnya dengan sebutan 'Bang'.
"Next time aja ya. Kerjaan banyak. Prinncess minta dijemput," jawab Rio.
"Gak ikhlas ih jemputnya," gerutuku.
"Ikhlas dong, Sayang. Ayo," jawabnya dengan tangan yang juga ikut mengacak rambutku.
Setelah aku mengemasi buku-buku tebal di meja, aku berdiri dan berpamitan pada semuanya. Mengulurkan buku-buku paketku pada Rio dan menggandeng tangannya.
__ADS_1
Sebelum benar-benar pergi aku berikan senyum terindahku pada Alena yang terlihat jelas wajah masamnya.
Mau apa? Bahkan pacarku dengan suka rela membawakan barang-barangku, ejekku melalui mimik wajah.
Aku menceritakan semuanya pada Rio saat itu. Selama perjalanan mengantarku pulang, dia mendengarkan semua kekesalanku.
Mulai dari ancaman yang diberikan Alena, hingga kesengajaanku bermanja-manja padanya di hadapan mereka semua.
Aku senang Rio selalu suka mendengarkan ceritaku. Dia juga selalu menceritakan kegiatannya setiap hari. Bahkan dia juga menceritakan tentang kakak sepupunya, Zahra.
Setelah kejadian di kafe itu. Beberapa hari aku sengaja menyibukkan diri agar tak bertemu dengan Alena maupun Arya.
Bukan menghindar, aku hanya tak ingin membuat masalah atau menambah musuh. Sudah cukup aku menunjukkan pada Alena kalau aku tak akan merebut kekasihnya.
Kuakui, berteman dengan para most wanted itu sungguh menguras emosi jiwa. Belum lagi cibiran dari fans mereka yang lain.
Tapi aku tak peduli. Karena aku mengenal mereka lebih lama. Dan aku juga tahu, salah satu dari mereka ada yang menyukai aku.
Di lain waktu aku juga pernah mendapat ancaman dari Alena. Aku ingat, saat sebelum aku menerima musibah yang menghancurkan masa depanku, beberapa minggu lalu Alena mengajakku hang out bersama Arya dan yang lainnya juga.
Entah kebetulan macam apa, saat itu Rio tidak bisa menemani. Dia pergi ke desa tempat Mbak Zahra tinggal. Mengantarkan laki-laki yang saat ini resmi menjadi kekasih Mbak Zahra.
Waktu itu Alena mengajakku dan lainnya pergi ke sebuah kafe dua puluh empat jam yang berada di pusat kota. Ada tiga orang perempuan lain yang ikut bersama. Mereka semua teman satu geng Alena.
Aku merasa seperti orang tersesat berada di antara mereka. Bagaimana tidak? Mereka seakan berpasang-pasangan dihadapanku. Alena dan teman-temannya seolah mengejekku, karena teman-temanku lebih tertarik pada perempuan modis seperti mereka.
Apa sih yang mereka sebut modis itu? Apa dengan memakai baju kurang bahan di tempat umum itu modis? Memakai make up yang tebalnya melebihi cat tembok itu juga modis? Suka cari perhatian dan terkesan agresif pada laki-laki ganteng itu juga modis?
Aku tak mengerti dengan mereka yang ada di hadapanku saat itu. Mengumbar tubuh mereka menjadikan fantasi liar para laki-laki berotak mesum. Sungguh aku malu sendiri melihat mereka saat itu.
Ingin pulang, tapi Rio tak bisa menjemput. Tetap tinggal rasanya muak melihat tingkah menjijikkan mereka.
Akhirnya saat itu aku putuskan untuk pulang ke kosan sendiri dengan ojek online. Terlalu lama bersama mereka aku takut terkontaminasi tingkah mereka yang tidak tahu malu itu.
__ADS_1