
"Yok opo? Ono halangan gak?" tanya seseorang di sambungan telepon.
(Bagaimana? Apa ada halangan?)
"Yo aman ta bro. Aku otw nang arah Bromo. Umak kapan nyusul?" jawab Brian yang masih mengemudikan mobil Zahra.
(Ya aman dong bro. Aku perjalanan menuju arah Bromo. Kamu kapan menyusul?)
"Oyi. Tenang mariki aku nyusul rono. Umak ngerti kan omah e?"
(Oke. Tenang. sebentar lagi aku menyusul ke sana. Kamu tahu kan rumahnya?)
"Aku ngetutno GPS sing umak kek i. Bener kan iki GPS e? Aku wes ndek daerah Poncokusumo."
(Aku mengikuti GPS yang kamu kirim. Benar kan ini GPS-nya? Aku sudah di Poncokusumo.)
"Oke. Bener iku. Tutno ae GPS e. Mariki aku nyusul. Arek e yok opo? Wes sadar gurung?" ucap orang di seberang telepon sana menanyakan keadaan Zahra.
(Oke. Itu sudah benar. Ikuti saja GPS-nya. Sebentar lagi aku menyusul. Bagaimana keadaannya? Sudah sadar belum?)
"Gurung. Yowes tak pateni sek yo bro. Aku tak mlaku cepet. Cek ndang teko." Brian melirik Zahra yang masih terlelap di sampingnya.
(Belum. Ya sudah ku matikan dulu ya bro. Agar aku cepat sampai.)
Ia memutuskan sambungan teleponnya. Mempercepat laju mobil yang di kendarainya menuju villa yang di sewa Bian di ujung pegunungan Tengger.
****
"Dim, Zahra belum balik?" tanya Rio pada Dimas yang tengah duduk memperbaiki motor pelanggan.
"Belum, mobilnya ngga ada," jawab Dimas.
"Kok lama banget ya dia keluar. Sampai hampir tutup gini. Masa iya dia langsung balik ke rumah."
"Mungkin aja. Coba kamu telpon. Tanyain sana," kata Dimas dengan tetap fokus pada pekerjaannya.
"Masalah e nomer e arek iki gak aktif. Mangkane aku male kuawtir, Dim," ujar Rio mengggunakan bahasa Jawanya.
(Masalahnya nomornya ini anak tidak aktif. Mangkanya aku jadi khawatir, Dim.)
"Dungaren arek iku hapene gak aktif, Takok o Ega. Ambe Ega paling arek e." Dimas mengusulkan. Ia mulai khawatir juga dengan Zahra.
(Tumben sekali ponsel anak itu tidak aktif. Coba kamu tanya Ega. Mungkin dia lagi sama Ega.)
"Iyo, sek tak cobak e." Rio mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Ega.
(Iya. Sebentar. Aku coba dulu.)
"Ga, Zahra sama kamu?" tanya Rio to the poin begitu nada sambung terhubung.
__ADS_1
"Enggak. Tadi dia bilang lagi belanja. Aku balik ke kantor ini. Ada apa?" tanya Ega balik. Ia langsung tegang dan pikirannya mulai berfikir yang tidak-tidak.
"Dia belum balik sampe sekarang. Nomornya ga aktif aku hubungi. Ya udah kabari aku ya kalo dia ngasih kabar kamu,"
"Oke. Aku segera balik lah kalo gitu. Aku liat dia di rumahnya."
Rio mematikan sambungan teleponnya. Dimas menantikan kabar Zahra pada Rio. Namun, lelaki itu menggeleng sebagai jawaban untuk Dimas.
"Tumben sekali Zahra keluar sampai lama begini. Nggak biasanya," guman Dimas.
"Ya udah, bentar lagi kita tutup aja. aku buru-buru balik mau lihat Zahra di rumah," titah Rio.
"Oke. Aku selesaikan ini dulu. Aku ikut kamu," Dimas buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Rio mengangguk dan meninggalkan Dimas menuju ruangan Zahra.
Lelaki itu duduk di kursi yang biasa ditempati Zahra. Ia menerka-nerka ke mana kakak sepupunya itu pergi. Ia juga mengirimkan pesan pada Niena dan Dea menanyakan keberadaan gadis itu.
Kedua gadis yang dihubunginya itu menjawab bahwa Zahra tidak bersama mereka. Hal itu membuat Rio semakin khawatir.
Ia memutuskan untuk menelepon Efelin untuk menanyakan apakah Zahra sudah pulang atau belum.
Lagi-lagi jawaban yang diterimanya membuatnya semakin khawatir. Zahra belum sampai rumah begitu kata adiknya. Lalu ke mana gadis itu pergi? Ia menerka-nerka sendiri dengan perasaan yang semakin khawatir.
"Yo. Ayo!" ajak Dimas yang sudah selesai beres-beres.
"Zahra gak ada di rumahnya," kata Rio memberi tahu.
"Kamu yakin?" Dimas memastikan.
Dimas duduk di kursi depan Rio. Lelaki itu juga mengkhawatirkan Zahra. Kedua laki-laki itu terdiam memikirkan ke mana ia pergi. Tidak biasanya gadis itu pergi lama seperti ini.
Rio pun sama. Ia menyesal tidak menemani kakaknya pergi hari ini. Dan ia bertanya-tanya kemana gadis itu pergi. Kedua teman akrabnya juga tidak tahu keberadaannya.
"Kamu ke mana, Mbak? Gak biasanya kamu pergi lama begini. Mana HP ga aktif lagi," ucap Rio gusar mengusap kasar wajahnya.
"Kita cari ke mana gitu. Siapa tau mobilnya mogok HP-nya habis baterai," usul Dimas.
"Ayok lah. Daripada kita diam di sini."
Mereka berdua keluar ruangan. Menutup semua gerbang bengkel karena semua pegawai telah pulang. Rio juga menghubungi Ega jika ia dan Dimas mencari Zahra keliling kota.
****
Di rumah Zahra, Efelin dan sang bunda tengah duduk di ruang tamu menantikan Zahra pulang. Tidak biasanya anak gadisnya belum sampai rumah hingga larut malam begini.
Seharian ini pun, perasaan sang bunda sangat tidak enak. Ia benar-benar khawatir dengan anak sulungnya. Ditambah lagi Efelin memberi kabar pada jika tadi sore Rio menelepon dirinya menanyakan keberadaan Zahra.
"Coba, Nduk, kamu telepon Rio lagi. Tanyain kakakmu di mana," perintah sang bunda.
"Iya, Bun," gadis itu mencari nomor ponsel Rio dan menghubunginya. Menunggu beberapa saat hingga panggilannya di angkat.
__ADS_1
"Kak Rio, udah sama Mbak belum?" tanya gadis itu.
"Belum Fel. kita lagi nyari ini. Tadi Mbak mu pamitan mau belanja, jadi kita muterin kota siapa tau dia mobilnya mogok atau gimana," jawab Rio di ujung sana.
"Segera kabarin ya, Kak. Aku dari tadi neleponin engga aktif nomornya."
"Iya Fel. Bilang sama tante kita lagi nyusulin Zahra sekarang."
"Iya Kak. segera kabarin ya."
Efelin mematikan sambungan telponnya. Sang bunda di sampingnya menantikan dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Kak Rio lagi nyariin Mbak, Bun. Kita tunggu aja ya," kata Efelin.
Ia memeluk sang bunda. Saling menguatkan. Sang bunda tak kuasa menahan tangisnya. Kemana anak gadisnya pergi. Tidak pernah Zahra pergi sampai selarut ini jika sendirian.
"Telpon ayahmu, Nduk, suruh ayah pulang hari ini juga. Perasaan ibu sungguh tidak tenang," ucap sang bunda di sela-sela tangisnya.
"Kamu kemana, Nduk?" Bunda menangis tersedu-sedu. Berkali-kali ia mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti.
"Halo, Ayah, Assalamualaikum." suara Efelin terdengar serak di seberang sana.
"Waalaikumsalam. Ada apa nduk? kamu menangis?" tanya sang ayah khawatir.
"Ayah pulang sekarang bisa? Bunda minta ayah pulang," kata Efelin tanpa memberi tahu masalah yang sebenarnya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Ayah akan pulang sekarang."
Sambungan telepon terputus begitu saja. Di sana sang ayah yang seharian ini juga merasakan feeling tidak enak semakin merasa khawatir. Takut terjadi sesuatu pada keluarga kecilnya.
Lelaki paruh baya itu segera bersiap kembali ke kota Malang. Tanpa pikir panjang ia memacu mobilnya di jalan kota Surabaya yang masih ramai.
"Bagaimana, Nduk?" tanya bunda.
"Ayah langsung pulang, Bun. Ini kak Rio perjalanan ke sini," Efelin menunjukkan pesan WhatsApp dari Rio.
Tak lama suara mobil berhenti di depan rumah. Kedua orang yang berada di ruang tamu itu buru-buru berlari keluar rumah, berharap orang yang di tunggunya pulang.
Namun mereka harus kecewa. Ega turun dari mobilnya dengan tampang kusut dan berantakan. Ia menyalimi bundanya Zahra. Melihat perempuan paruh baya itu menangis membuatnya tak tega.
"Zahra ke mana, Nak? Zahra mana?" Ibu paruh baya itu menangis histeris di hadapan Ega. Tak kuasa Ega mendekap ibu pujaan hatinya itu.
"Saya juga gak tahu, Tante, saya udah keliling kota nyariin dia," di dekapnya wanita itu.
Efelin tak kuasa melihat bundanya yang tidak berhenti menangis di pelukan Ega. Ia masuk ke dalam rumah. Duduk di sofa dan menyembunyikan wajahnya di atas lututnya. Gadis belia itu juga menangis.
Hingga tengah malam suasana di rumah Zahra masih sama. Terlihat jelas di sana kekhawatiran dari setiap wajah yang duduk di ruang tamu. Bahkan Ega, Rio, dan Dimas masih tetap di sana hingga Ayah Zahra tiba.
"Ada apa?" tanya lelaki paruh baya itu melihat suasana di dalam rumahnya yang tegang, melihat anak dan istrinya menangis. Juga ia tidak mendapati anak sulungnya di sana.
__ADS_1
"Zahra, Mas! Zahra belum pulang. Dia gak ada di bengkel dari tadi siang," wanita itu kembali menangis di pelukan suaminya.