Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
62. Keluarga yang Sesungguhnya


__ADS_3

Hari ini Zahra kembali mengunjungi Zakia di rumah sakit, bersama Rio dan juga mamanya. Gadis itu rela berangkat dari Tumpang meski mendapat omelan dari Ega.


Kini mereka bertiga tengah mengelilingi tempat tidur Zakia. Gadis itu sudah terlihat lebih baik dari beberapa hari lalu saat bertemu dengan Zahra.


Berita baiknya, ia juga sudah tidak menolak saat Rio datang menjenguk. Hal itu membuat Rio sangat bahagia.


Berita baiknya lagi, dokter bilang Zakia sudah boleh pulang. Dengan catatan harus check up satu minggu sekali.


Bu Rossa mengajak kedua orang tua


pada keluarga Zakia untuk sementara tinggal di rumahnya dulu.


"Bagaimana, Bu, Pak?"


"Bukannya kami menolak, Bu Rossa. Lebih baik kami pulang ke desa saja. Kami sangat menghargai tawaran, Ibu," jawab Pak Ramlan, Papa Zakia.


"Apa Bapak dan Ibu tega menghentikan pendidikan Zakia?"


"Tidak seperti itu, Bu. Justru saya sangat ingin dia mencapai gelar sarjananya," jawab Bu Ira, Mama Zakia.


"Jadi kalian akan membiarkan Zakia kembali ke kosannya? Bahkan akan lebih aman dia berada di rumah saya, Pak, Bu."


"Kalau Bapak dan Ibu memikirkan hubungan di antara kita, saya merestui mereka berdua. Kalau perlu nikahkan mereka sekarang. Saya tak masalah."


"Saya sama hancurnya seperti kalian. Melihat anak semata wayang saya setiap hari pulang dengan keadaan mabuk. Karena penolakan dari Zakia. Saya tidak menyalahgunakan anak Bapak dan Ibu. Saya sangat memahami keadaannya. Lebih baik saya menikahkannya dengan Zakia daripada saya melihat Rio tersiksa," tutur Bu Rossa tak kuasa menahan air matanya, mengingat keadaan anaknya akhir-akhir ini.


"Kita tanyakan saja padanya, Bu. Saya tidak mau memaksa anak saya. Biarkan dia yang memilih," jawab Pak Ramlan akhirnya.


Mereka bertiga kembali masuk ke dalan ruang rawat Zakia. Melihat senyum di wajah Rio membuat beban dan pikiran yang selama ini dipikirkan Bu Rossa hilang seketika.


"Kia, kita pulang ke rumah Mama, ya," ajak Bu Rossa.


Zakia memandang ibu dari kekasihnya itu. Tersirat tanda tanya pada raut wajahnya.


"Bagaimana? Kamu mau kan, Nak?" tanya Bu Rossa lagi.


"Ma? Pa?" tanyanya pada kedua orangtuanya.


"Mama dan papa mengijinkan, Nak. Demi kebaikanmu. Mama khawatir kalau kamu kembali ke kosan," jawab Bu Ira.

__ADS_1


"Tapi, aku sama Rio-."


"Kalian akan segera menikah," potong Bu Rossa.


Semua orang di sana terkejut kecuali kedua orang tua Zakia. Karen sebelumnya Bu Rossa telah mengutarakan niatnya untuk menikahkan mereka berdua.


"Mama serius?" tanya Rio.


"Ya. Cepat atau lambat kalian pasti akan menikah. Mama ingin kalian berdua bahagia. Kebahagiaan Mama adalah kebahagiaan Rio. Kalau Rio bisa bahagia dengan Zakia Mama akan lakukan apapun untuk itu," ujar Bu Rossa.


"Mama," lirih Rio.


Ia menghambur memeluk sang mama. Memohon maaf pada wanita yang telah melahirkannya itu.


Ia bersimpuh di kaki sang mama. Menggumankan kata maaf berkali-kali. Ia merasa sangat berdosa pada wanita itu. Telah membuatnya menangis dan kecewa karena perbuatannya.


"Sudah, Nak. Bangunlah. Mama sudah memaafkamu, mama hanya ingin kamu bahagia. Dan tidak ada lagi kesalahan seperti kemarin," ujar Bu Rossa membimbing anak semata wayangnya berdiri.


Wanita itu tak kuasa menahan isak tangisnya. Mereka yang berada di ruangan itu juga tak kuasa menahan keharuan ibu dan anak itu.


Zakia terdiam di atas tempat tidurnya. Menyaksikan adegan haru di depannya membuat gadis itu juga ikut menangis. Ia bertekad akan membahagiakan orang-orang yang selalu menyayanginya.


"Ma, Pa. Kia udah memutuskan. Kia mau tinggal sama Mama Rossa," ucapnya.


Hal itu membuat Bu Rossa semakin bahagia. Rio yang mendengar itu, langsung mendekati gadisnya dan hendak memeluknya. Namun, sayangnya Zakia yang masih belum sepenuhnya menerima keadaannya refleks mendorongnya.


"Maaf, maaf. Aku terlalu bahagia," ucap Rio.


"Maaf, aku belum bisa," ucap Zakia lirih.


"Sabar. Butuh waktu buat dia menerima sentuhan lawan jenis," ucap Zahra yang sedari tadi menyaksikan keharuan di antara mereka semua.


"Baiklah. Ayo kita pulang ke rumah Mama," ajak Bu Rossa.


Mereka membereskan barang-barang Zakia yang akan di bawa pulang. Setelah semua selesai. Tinggal menunggu cairan infus habis, ia sudah bisa pulang.


Dua mobil berjalan beriringan melaju membelah jalanan kota menuju kediaman Bu Rossa yang terletak di Bukit Tidar. Mobil pertama milik Rio yang di isi dirinya dan Zahra, mobil kedua milik Pak Ramlan yang di isi istrinya, Zakia dan Bu Rossa.


Saat memasuki gapura komplek perumahan kedua orang tua Zakia dibuat terpukau dengan deretan rumah-rumah mewah di sana.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak menyangka kalau keluarga Rio sekaya ini. Memiliki rumah mewah di komplek perumahan elit.


"Ini rumah calonnya Zahra. Nanti enak kalau mau main sama Zahra gak jauh-jauh ke Tumpang," ucap Bu Rossa saat mereka melewati rumah Ega.


"Bu Rossa, saya kok jadi minder ya kalau berbesanan sama Ibu," ujar Bu Ira.


"Kenapa, Bu?"


"Kami cuma keluarga biasa, Bu. Rasanya kayak ndak pantas anak saya bersanding sama anak Ibu," jawab Bu Ira lagi.


"Saya tidak memandang harta, Bu. Harta yang saya miliki nantinya juga tidak akan saya bawa mati. Sekarang, yang saya miliki hanya Rio. Apapun akan saya lakukan untuk kebahagiaan dia."


"Oh iya, Pak, Bu. Selama Zakia dalam masa rawat jalan, sebaiknya kalian juga tinggal di sini. Agar lebih memudahkan kalian mengantar Zakia check up," lanjut Bu Rossa.


"Bagaimana, Pa?" tanya Bu Ira pada suaminya.


"Kami pulang ke desa saja, Bu. Kami akan datang saat Zakia jadwalnya check up. Kasihan adiknya di sana dititipkan di rumah budenya," tolak Pak Ramlan.


"Kami titip Zakia ya, Bu. Kami percaya Bu Rossa dan Nak Rio pasti akan menjaga dia dengan baik," lanjut Pak Ramlan.


"Itu, Pak. Rumahnya yang di depan.


Mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah bercat dan berpagar putih. Hampir sama mewahnya dengan rumah Ega di komplek yang sama.



Pak Ramlan memarkirkan mobilnya di garasi rumah mewah itu. Mereka semua turun dari mobil.


Bu Rossa mempersilahkan para tamunya masuk. Menuntun Zakia untuk segera duduk di sofa empuk di ruang tamunya.


Tak berselang lama, deru mobil lain terdengar di halaman rumah. Rio masuk sendirian dan ikut duduk di sana.


"Akhirnya anak mama pulang. Kalau mama gak bawa Zakia pulang ke rumah, belum tentu kamu pulang, Nak," ujar Bu Rossa terang-terangan menyindir anaknya.


Lelaki itu tidak merespon ucapan sang mama. Ia lebih memilih diam dan membenarkan di dalam hati apa yang dikatakan sang mama.


"Lho, Zahra mana?" tanya Bu Rossa.


"Tadi minta turun di rumah Ega," jawabnya singkat.

__ADS_1


Mereka bercengkrama mengakrabkan saling mengakrabkan diri antar orang tua. Berkali-kali kedua orangtua Zakia menitipkan anak gadisnya pada Bu Rossa. Hingga menjelang sore akhirnya mereka pamit undur diri kembali ke desa.


__ADS_2