Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
20. Usaha


__ADS_3

Happy reading...


****


Kedua insan yang berbeda gender itu duduk saling bersisian. Keduanya sama-sama merasakan degup jantung mereka yang masih berdegup kencang.


Kecanggungan muncul setelah kejadian Ega yang menggoda Zahra dengan ending lelaki itu mencium kening Zahra.


"Aku mau mandi," kata Zahra berpamitan pada Ega. Ia tak mau berlama-lama berada di suasana canggung itu.


Ega merutuki kelakuannya barusan. Ia masih bersyukur tidak lepas kontrol mencium bibir Zahra. Entah ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis itu jika hal itu terjadi.


Dua puluh menit lebih Zahra tak kunjung kembali menemui Ega. Hal itu membuat perasaan Ega campur aduk. Ingin menghampiri namun ia segan. Mengingat tidak ada orang di rumah ini. Akan tetapi ia khawatir dengan keadaan gadis itu.


Di tengah kegalauannya, Zahra muncul dari dalam ruang tengah dengan wajah yang segar dan rambut setengah kering. Ega merasa lega karena gadis itu baik-baik saja.


"Kenapa?" tanya Zahra melihat tingkah Ega yang sepertinya tegang.


"Gak papa. Aku khawatir, kamu lama banget ngga keluar. Mau nyusulin tapi ngga enak. Di sini ngga ada orang selain kita berdua," tutur Ega.


Zahra tersenyum mendengar penjelasan lelaki di sampingnya. Ia duduk bersisian dengan Ega. Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi.


"Aku gak papa," jawabnya.


Zahra tersenyum menghadap Ega. Hal itu membuat lelaki itu semakin lega. Ia mendekatkan duduknya dengan gadis itu. Memegang kedua tangannya yang masih dingin sehabis mandi.


"Dingin banget sih," komentarnya dengan meletakkan kedua tangan Zahra di kedua pipinya. Gadis itu tersenyum di perlakukan seperti itu.


"Ga," panggil Zahra.


"Hem?" Ega memandang tepat di kedua manik mata Zahra.


Keduanya saling berpandangan. Ega merasa seperti ada yang hendak di utarakan oleh Zahra, namun terlihat ragu-ragu.


"Ada apa?" tanyanya.


"Apa kamu pernah berpacaran? Sebelum kembali ke sini?" tanya Zahra ragu. Ia menunduk membiarkan kedua tangannya tetap dalam genggaman Ega.


"Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" tanya Ega penasaran.


"Aku takut. Di saat nanti kita maju lebih serius, tiba-tiba ada orang lain yang mengaku dia pacar kamu atau tunangan kamu, atau bahkan istri kamu," ucap Zahra menunduk.


Ega mengangkat dagu Zahra. Membuat mereka saling berhadapan. Ia tersenyum menenangkan untuk gadis itu.


"Dengerin aku. Selama aku di Singapura, aku nggak pernah pacaran. Fokus aku saat itu hanya mama dan kuliahku. Memang ada beberapa teman mahasiswa yang mendekatiku. Tapi aku nggak pernah menanggapi mereka. Kamu bisa percaya?"


"Apa kata-kata mu bisa dipercaya?"


"Aku berani bersumpah. Di hatiku hanya kamu, sampai mati nanti, cuma kamu yang aku mau, cuma kamu yang aku cinta. Kamu mau jadi pacar aku?"

__ADS_1


Zahra diam tak menjawab ungkapan cinta dari Ega. Ia tersenyum untuk Zahra. Senyum yang menenangkan.


"Aku ngga minta kamu jawab sekarang, pasti ini terlalu cepat buat kamu. Aku hanya ingin kamu tau. Aku sungguh-sungguh dengan perasaanku."


Ega menarik kedua tangan Zahra. Mendekatkan dirinya, agar bisa memeluknya. Ia melingkarkan tangannya ke bahu gadis itu, dan tangan satunya lagi mengusap rambut lurusnya. Sesekali ia mengecup pucuk kepalanya.


"Kayak gini gapapa kan?" tanya Ega.


Gadis itu menggelengkan kepala. Ia merasa nyaman dalam pelukan Ega kali ini.


Zahra mendorong sedikit pelukan Ega. Memperhatikan paras tampan lelaki di hadapannya.


"Ra," panggil Ega.


Keduanya masih dalam posisi berpelukan dengan Zahra yang sedikit mendongak dan Ega sedikit menundukkan wajahnya agar mereka berdua bisa saling bertatap muka.


"Hem?" Zahra menatap manik mata Ega.


Tapi pandangan mata Ega tertuju pada bibir tipis Zahra yang berwarna merah muda.


"Boleh nggak?" tanya Ega meminta ijin.


"Aku takut," jawab Zahra menunduk.


"Hey, kenapa? Kamu masih takut aku ninggalin kamu setelah ini?" Zahra mengangguk sebagai jawaban.


Ia mendekatkan wajahnya. Seketika gadis itu merasa gugup dan gelisah dan Ega menyadarinya.


"Aku nggak akan kemana-mana. Aku akan selalu di sismu."


Ega menyatukan kening mereka.


Perlahan-lahan ia melabuhkan bibirnya di atas bibir Zahra. Tanpa pergerakan, hanya menempel. Menikmati sengatan listrik yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya saat bibirnya menempel di bibir Zahra.


Zahra merasa campur aduk. Ada gelenyar aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia memilih memejamkan mata. Meresapi perasaannya yang sesungguhnya pada lelaki yang sedang menciumnya.


Pelan-pelan Ega sedikit ******* bibir Zahra. memberinya kecupan-kecupan lembut. Meskipun tidak mendapatkan balasan dari gadis itu.


Ega melepaskan pagutannya pada Bibir Zahra. Jantungnya berdebar kencang tak karuan.


Zahra membuka matanya. Bersitatap dengan pandangan Ega membuatnya malu dan merona. Ega tersenyum di buatnya.


"Makasih ya, Sayang," ucap Ega dengan menyentuh bibir Zahra.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Ega memastikan keadaan Zahra.


Ia mengangguk sebagai jawaban. Ia membenamkan wajanya di dada bidang Ega.


Dengan erat lelaki itu memeluk Zahra. Ia bahagia. Setidaknya ia tau, Zahra tidak menolaknya.

__ADS_1


"Aku lapar," ucap Zahra masih menyembunyikan wajahnya. Ega tersenyum di buatnya.


"Mau makan di luar?" tawar Ega.


"Liat di dapur dulu, bunda masak apa," ucap Zahra.


Ia melepas pelukannya, beranjak menuju dapur. Di belakangnya Ega membuntuti.


Sampai di dapur, Ega menuju kamar mandi yang ada di pojok dapur. Sementara Zahra mengecek makanan di dapur.


Begitu keluar dari kamar mandi Ega langsung memeluk Zahra dari belakang.


Zahra berjingkat merasakan tubuhnya mendadak di peluk.


"Kamu ngagetin aku. Jangan bikin aku senam jantung terus," geruru Zahra yang masih merasakan jantungnya berdegup kencang.


"Maaf. Hari ini aku seneng banget. Padahal rencana aku tadi cuma mau ngajakin kamu keluar, kalau kamu ga mau aku mau numpang tidur. Tapi malah aku dapet hati kamu juga. gimana aku gak seneng."


"Ya udah lepasin dulu. Aku laper loh ini. Kamu gapapa kan makan sama ini? Bunda bikin tumis kacang, ada sambel ikan asin sama telur dadar "


"Gak papa. Ayo makan."


Ega melepaskan pelukannya dan duduk di salah satu kursi.


Dengan telaten Zahra mengambilkan makanan untuk Ega. Setelah itu mengisi piringnya sendiri.


"Nanti kalo kita udah nikah, tiap hari aku pasti dilayani sama kamu kayak gini ya," celetuk Ega.


Zahra tersipu malu mendengar perkataan Ega. Dalam lubuk hatinya ia juga menginginkan apa yang di harapkan lelaki yang memang dicibtainya. Tapi ia memilih diam dan memakan makanannya. Mengabaikan lelaki itu yang masih berandai-andai.


*****


Seandainya hidupku seperti novel yang ku tulis, ketemu lelaki yang kaya Ega.


hehehehe


ngehalu terus ini aku.. otak lagi encer dan mood lagi bagus buat nulis..


terima kasih sudah membaca...


tinggalkan komentar yaaa


jan lupa jempolnya jugaa..


semoga aku up gak molor molor. wkwkwk


salam sayang


kiki rizkiπŸ€—πŸ€—πŸ’žπŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2