
Zahra keluar dari rumah sakit hari ini. Ditemani oleh kedua orang tuanya ia menaiki mobil yang dikendarai ayahnya. Hanya bertiga di dalam mobil bersama kedua orang tuanya saja membuatnya melamun sepanjang jalan.
Meski keadaan pendengarnya tak ada perubahan yang berarti, tetapi kondisi tubuhnya tidak menunjukkan seperti sedang sakit sehingga dokter memperbolehkan pulang dan melakukan penjadwalan untuk pemeriksaan rutin.
Keadaannya masih sama. Ia tak dapat mendengar suara apapun, sering kali ia merasa hanya mendengar dengungan hingga membuatnya pusing dan mual. Kata dokter hal tersebut wajar dialami seseorang yang mengalami kerusakan gendang telinga.
"Bunda, aku pengen ketemu Ega. Gimana keadaan Papa Adnan?" tanya gadis itu pada orangtuanya.
"Iya, kita ke sana hari ini. Tapi kita pulang dulu ya," ucap Bu Ratih.
"Bunda, aku nggak dengar suara Bunda," ucap Zahra sedih.
Bu Ratih mengetikkan kata-kata yang baru saja ia ucapkan pada ponsel pintarnya dan menunjukkan pada anak gadisnya. Rasa sedih kembali menyelimuti perasaan ibu dua anak itu.
Memikirkan kemungkinan terburuk jika pendengaran anaknya tidak dapat kembali lagi.
"Kita ke sana sekarang saja, Bun, Yah, kasihan Ega nggak ada temannya jagain Papa Adnan," pinta gadis itu.
Kedua orang tuanya saling berpandangan meminta pendapat. Dalam hati mereka juga membenarkan apa yang dikatakan oleh anaknya. Akhirnya Ayah Zahra mengangguk menyetujui permintaan anaknya.Lelaki paruh baya itu melajukan mobil yang dikendarainya melewati gapura perumahan tempat mereka tinggal.
Di kursi belakang, Zahra berkali-kali melihat ponselnya. Berharap ada pesan balasan dari Ega yang sejak semalam tidak lagi membalas pesannya setelah memberi kabar bahwa papanya masih menjalani operasi di RSSA kota Malang.
Satu jam berlalu sampailah mereka di rumah sakit. Karena tidak dapat menghubungi Ega, mereka memutuskan untuk bertanya pada bagian informasi.
"Pasien atas nama Adnan berada di ruang ICU." Begitu ucap petugas informasi yang mereka tanyai.
Ketiganya segera bergegas menuju bagian utara rumah sakit di mana ruang ICU itu berada. Sesampainya di sana, mereka tidak menemukan Ega di sana.
Bu Ratih kembali bertanya kepada bagian informasi yang berada di sana untuk menanyakan keberadaan Pak Adnan.
"Permisi, Suster, mau tanya. Apa benar ada pasien bernama Adnan yang di rawat di ruang ICU?"
"Sebentar, Ibu. Kami cek dahulu," jawab petugas itu ramah.
"Nama lengkap pasien?" tanya petugas itu.
"Kami tahunya hanya Adnan aja, Sus. Beliau baru masuk tadi malam. Korban kecelakaan," jelas Bu Ratih.
__ADS_1
"Oh. Iya Ibu, benar. Pasien baru saja kembali menjalani operasi beberapa saat lalu."
"Maksudnya, Suster?"
"Pasien sedang menjalani operasi lanjutan. Karena karena ditemukan gumpalan darah di bagian belakang kepalanya. Saat ini pasien berada di ruang operasi."
"Tempatnya di mana, Sus?"
"Dari sini, Ibu langsung lurus saja. Ada persimpangan Ibu belok kanan. Di sana ruangannya. Ibu bisa mencari anggota keluarga yang menemani di sana."
"Terimakasih, Sus."
Setelah mendapatkan informasi itu, mereka bertiga segera mengikuti arahan yang telah diberikan. Menyusuri lorong rumah sakit yang lengang membuat suasana yang mereka rasakan sedikit tidak nyaman.
Dari kejauhan, orang yang mereka cari tengah duduk di kursi tunggu. Di sampingnya ada seorang wanita yang menemani. Membuat Zahra yang berjalan di samping bundanya menghentikan langkahnya.
"Ayo," ajak sang bunda sedikit menarik lengannya.
Semakin dekat, semakin terlihat jelas, perempuan yang bersama Ega tengah memeluk pundak lelaki itu. Pemandangan itu tak luput dari pandangan kedua orang tua Zahra.
"Nak Ega," sapa Bu Ratih.
"Bunda, Ayah ..." Ia berdiri dan menyalami mereka berdua.
Terlihat dengan jelas raut wajah Ayah Zahra yang menahan emosi. Ia menolak menerima uluran tangan dari lelaki yang berstatus tunangan putrinya itu.
"Apa kalian ...," ujar Bu Ratih menggantung ucapannya.
Wajah kecewanya terlihat sangat jelas. Baru kemarin ia meminta lelaki itu untuk tidak melukai perasaan putrinya. Sekarang yang ia lihat justru lelaki itu tengah bersama perempuan lain.
"Ayah, Bunda, jangan salah paham. Dia sekretaris saya di kantor. Namanya Mila," ucap Ega gugup melihat perangai kedua orang dihadapannya. Dan seorang lagi yang menatapnya dengan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
"Zahra," panggil lelaki itu pada tunangannya.
"Maaf, Pak, Bu, apa yang kalian lihat sepertinya salah paham. Saya hanya ingin memberikan support untuk Pak Ega yang mengalami musibah. Sama sekali tidak ada niatan lain," ucap Mila dengan gugup.
Ega berjalan mendekati Zahra yang berada sedikit di belakang bundanya. Sedikit memaksa gadis itu untuk masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kamu udah sehat? Kenapa ke sini? Maafin aku nggak bisa nemenin kamu, Sayang," ucap lelaki itu dengan mendekap Zahra dengan erat.
"Zahra pulang dari rumah sakit hari ini. Dia minta langsung ke sini menemuimu. Dia mengkhawatirkan kamu," ucap Bu Ratih datar.
"Benarkah? Maafkan aku, Sayang." Ega mencium kening tunangannya. Membuat gadis itu tak mampu lagi membendung buliran kristal yang terjun bebas dari kedua matanya.
Rasa sesak melihat bayangan Ega dipeluk perempuan lain membuatnya kian merasa tak pantas untuk lelaki itu. Serta perlakuan Ega yang membuatnya takut sewaktu-waktu akan berubah karena keadaan dirinya yang tak lagi bisa mendengar.
Di belakang Ega, Mila terdiam melihat pemandangan itu. Sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaannya agar tidak ada yang tahu. Menangis di sini sangatlah tidak mungkin. Melihat lelaki yang dicintainya memeluk wanita lain.
"Jangan menangis," pinta Ega.
"Zahra pasti merasa sedih karena tidak bisa menemani dan memberimu semangat disaat kamu mendapat musibah," ucap Bu Ratih.
Ega memperhatikan dia orang tua didepannya. Mematikan kebenaran apa yang diucapkan wanita itu.
"Benar begitu, Sayang?" tanya lelaki itu memegang bahu Zahra dengan lembut.
"Bagaimana keadaan papamu, Nak?" tanya Bu Ratih meski dengan nada yang terdengar tidak bersahabat.
"Masih belum tahu, Bunda. Doakan papa lancar menjalani operasinya."
"Iya."
"Silahkan duduk, Ayah, Bunda," lanjutnya mempersilahkan calon mertuanya untuk mengambil tempat yang tadi ia duduki.
Jadi dia tunangan Pak Ega? batin Mila.
Diam - diam ia menilai dari ujung atas hingga ujung bawah untuk mencari kekurangan darinya.
Cantik juga nggak begitu. Standar lah. Terus apa yang disukai Pak Ega dari perempuan itu? Badan juga kurus begitu, ucap Mila dalam hati.
Merasa tak dianggap di sana, membuat perempuan itu merasa tak nyaman. Sehingga ia memutuskan untuk berpamitan dan segera pergi dari tempat itu.
"Saya ... pamit kembali ke kantor lagi, Pak Ega," ijinnya pada atasannya.
"Iya. Silahkan.Terimakasih, Mila," jawabnya.
__ADS_1
Mila dengan canggung berpamitan pada mereka yang ada di sana. Sesaat setelah kepergian Mila, pintu ruang operasi Pak Adnan terbuka dan seorang dokter keluarga membawa kabar untuk mereka yang sedari tadi telah menunggu.