
Rio mengusap kasar wajahnya. Dugaannya ternyata benar. Satu orang yang dipercayanya ternyata menghianati kepercayaannya.
"Kita musti gimana, Bang?" tanya Raka yang duduk di hadapannya.
"Jangan gegabah, Bang. Kita bakal selalu ada di deket Arya buat ngawasin pergerakan dia," lanjut Raka.
"Apa kalian yakin kalau Alan nggak tahu masalah ini?" tanya Rio.
"Kalau itu kita masih belum bisa memastikan, Bang. Kemungkinan dia juga tahu, karena dia yang paling deket sama Arya," jawab Devan.
"Aku pesen, kalian hati-hati. Temen kalian satu itu udah gak waras kayaknya. Untuk sementara Biar Zakia aman di rumah orangtuanya. Kalian awasi dua orang itu," pinta Rio.
"Iya, Bang."
******
Zakia tengah menikmati suasana kamarnya yang beberapa minggu ini ia rindukan. Meski di rumah Rio ia sangat dimanjakan, tapi, rumahnya sendirilah yang paling nyaman.
Saat gadis itu tengah asik memandang langit-langit kamarnya, ibu dari gadis itu datang menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Mama," ucap Zakia.
"Gimana, Nak? Apa kamu betah tinggal sama calon mertuamu?" tanya sang mama.
"Lebih nyaman di rumah sendiri, Ma. Tapi, Mama Rossa baik banget sama aku, Ma," cerita gadis itu.
"Nak, Mama ingin, kamu sudahi saja hubunganmu dengan Rio," ucap Mama Zakia.
"Maksud Mama apa?"
"Mama khawatir dengan keselamatan kamu, Nak."
"Apa Mama mendapatkan ancaman dari seseorang?" tanya Zakia.
"Tidak, Nak. Mama hanya khawatir. Kita berada di kalangan yang berbeda dengan Rio."
"Mama jangan bohong. Mama bilang sama aku. Apa ada orang yang mengancam Mama dan papa?"
"Beberapa hari lalu, mama mendapatkan kotak kado di depan rumah. Ini isinya," Mama Zakia mengulurkan sebuah surat dan boneka yang sudah di potong-potong.
__ADS_1
Jauhkan anakmu dari Rio dan Haikal atau dia akan pulang seperti keadaan boneka itu!
Zakia menangis ketakutan membaca surat ancaman itu. Sang mama segera memeluknya.
"Mama harap kamu memikirkannya lagi, Nak. Mama takut terjadi sesuatu yang buruk pada kamu dan juga keluarga Rio." Sang mama mengusap punggung Zakia.
"Iya, Ma. Ayo kita pergi aja dari sini Ma, ayo, Ma," ucap Zakia terisak.
"Iya, Nak. Lebih baik kita pergi dari kota ini untuk sementara. Lebih baik kita tidak mengabari keluarga Rio untuk sementara."
"Kenapa Mama baru bilang sekarang kalau dapat teror, Ma?" tanya Zakia meminta penjelasan.
"Mama tidak ingin membuatmu resah dan khawatir. Mama juga tidak mungkin menyampaikannya pada Bu Rossa. Mama sengaja menunggumu pulang, Nak. Sebenernya papamu telah menyiapkan keberangkatan kita ke Solo. Ke rumah papamu yang ada di sana. Secepatnya kita berangkat kalau kamu ke sini. Kamu mau kan Nak?"
"Iya, Ma. Aku mau. Secepatnya kita pergi, Ma. Sejujurnya aku juga merasa sangat tidak pantas untuk Rio, Ma. Aku sudah seperti ini, aku malu dengannya, Ma. Dia terlalu baik untukku."
Ibu dan anak itu berpelukan saling menguatkan.
Setelah obrolannya dengan sang mama. Malam itu juga, Zakia dan keluarganya berangkat menuju kota kelahiran sang papa.
Ia sengaja menonaktifkan nomor ponselnya dan memblokir semua orang yang mengenalnya. Malam itu, keputusannya telah bulat. Demi kebaikan Rio, keselamatan keluarganya ia memutuskan untuk sementara waktu pergi dari kehidupan Rio.
*****
"Yo, diem dulu ngapa. Duduk dulu sana. Zakia nggak akan pergi ke mana-mana. Kamu sendiri kan yang mengantarkannya ke rumah orangtuanya?" tegur Ega.
"Tapi masalahnya dia gak bisa dihubungi, Ga! Nomornya gak aktif. WA cuma centang satu dari tadi sore."
"Mungkin paketannya habis, atau di sana sudah sinyal. Positif thinking aja lah, malah dirimu yang keliatan kayak orang gila kalau seperti ini."
"Iya aku emang berasa gila kalau Kia gak bisa dihubungi," sahut Rio dengan emosi.
Ega hanya diam membiarkan lelaki itu. Sepertinya memang dia tidak butuh nasehat untuk saat ini. Dia hanya butuh teman untuk sekedar menemani. Bukan untuk menasehati.
"Gak biasanya dia kayak gini. Ini beneran perasaanku juga gak enak, Ga. Aku kepikiran sama teror-teror yang dia dapat beberapa hari ini. Aku takut dia kenapa-napa," ucap Rio resah.
"Dia aman bersama orangtuanya. Yakinlah itu. Orangtuanya juga pasti akan menjaga anaknya dengan baik," ucap Rio menenangkan.
"Besok pagi coba kamu ke sana kalau masih tidak bisa dihubungi," usul Ega.
__ADS_1
Rio mendudukkan dirinya di sofa di hadapan Ega. Menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya sejenak.
"Aku tadi bertemu dengan Raka dan Devan," ucap Rio masih tetap dengan memejamkan mata.
"Ada info soal peneror itu?" tanya Ega tertarik.
"Ya. Dan dugaanku benar, salah satu dari mereka berempat pelakunya. Dan Devan tidak sengaja mendengar obrolan Arya dengan cewek yang membantu meneror Kia," ungkap Rio.
"Maksudmu Arya dan pacarnya?"
"Bukan. Dia cewek yang menyukai cowok b*jingan yang udah nidurin Kia. Kamu tahu kan, si b*jingan itu akhir-akhir ini juga mengejar-ngejar Kia."
"Percintaannmu sungguh rumit. Untung saja aku dan Zahra tidak serumit dirimu. Hanya saja kakak sepupumu itu masih memiliki sekat yang masih belum bisa kulewati."
"Entahlah. Berurusan dengan anak-anak seperti mereka menbuatku ingin menghajarnya saat ini juga. Bahkan sekuat hatiku aku berusaha menahan diri agar tak menghajar b*jingan kecil yang meneror Kia."
"Ya. Aku salut padamu bisa menahan diri meski udah tahu siapa pelakunya. Lebih baik segera kumpulkan bukti untuk menjebloskan mereka ke penjara."
"Hem."
Kedua lelaki itu terlarut pada pikiran mereka masing-masing. Memikirkan kisah cinta mereka masing-masing. Merenungi kejadian-kejadian yang telah mereka lalui.
*****
"Sudah ya, Nak. Jangan menangis lagi. Ini keputusan terbaik untuk kita saat ini," ucap mama Zakia pada anaknya.
"Kalau kamu berjodoh dengan Rio, pasti kalian akan dipertemukan lagi suatu hari nanti. Untuk saat ini keselamatan kamu dan keluarga Rio yang lebih penting," lanjutnya.
"Iya, Ma. Aku akan berusaha melupakan Rio," jawab Zakia sesekali mengusap lelehan air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Perjalanan kita masih jauh, lebih baik kamu istirahat dulu," ucap sang papa yang mengendarai mobil membelah jalanan kota.
"Mungkin besok pagi kita akan sampai kalau tidak ada halangan," lanjut beliau.
"Jangan memaksakan ya, Mas. Kita bisa istirahat di rest area atau di SPBU kalau Mas capek nyetir," ucap mama Zakia.
"Iya. Lebih baik kalian istirahat saja. Perjalanan kita masih jauh."
Semua penumpang mobil itu terdiam tak ada yang berbicara lagi. Bergulat dengan pikiran-pikiran yang entah sama atau tidak.
__ADS_1
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Sesekali Zakia terisak dalam diam. Memandang ke luar jendela menyaksikan suasana sepi malam hari.
Di dalam hatinya tak henti-hentinya ia mengucapkan permintaan maaf pada Rio dan Mama Rossa. Ia merasa berdosa meninggalkan mereka. Ia merasa seperti perempuan yang tidak tahu terimakasih pada mereka berdua.