Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
95. Kecelakaan


__ADS_3

"Nak Ega mau menginap di sini?" tanya Bu Ratih saat malam menjelang.


"Iya, Bunda. Saya mau temani Zahra. Besok pagi saya kembali ke kota," jawab lelaki itu.


"Bunda mau bicara sebentar sama kamu bisa?" tanya Bu Ratih.


"Ada apa Bunda?"


"Sebentar saja, biar Zahra di temani Efelin sebentar."


Lelaki itu mengangguk mengiyakan permintaan calon ibu mertuanya.


"Sebentar ya, Sayang," pamitnya pada Zahra.


Ia segera mengikuti Bu Ratih Keluar ruangan. Dilihatnya beliau telah duduk di kursi tunggu depan ruangan.


"Ada apa, Bunda?" tanyanya sesaat setelah ia duduk di dekat Bu Ratih.


"Jika hal buruk terjadi pada putriku, apa kamu akan tetap menikahinya, Nak?"


"Apa maksud Bunda bicara seperti itu? Zahra pasti sembuh, Bun." Ega menatap wajah tua di depannya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


"Saya akan melakukan apapun untuk Zahra, Bunda. Akan saya carikan dokter spesialis yang terbaik buat dia," ujar lelaki itu mantap.


"Bunda takut. Kemungkinan terburuk pasti ada, Nak. Jika dia tidak bisa mendengar lagi. Apa kamu masih tetap mencintai anak Bunda seperti sekarang?"


Cukup lama lelaki itu terdiam. Membuat wanita paruh baya di depannya menebak-nebak isi kepala calon suami anaknya itu.


"Bunda jangan khawatir. Saya akan melakukan apapun untuk kesembuhan Zahra." Ia menggenggam kedua tangan Bu Ratih untuk meyakinkan.


"Bunda mohon. Jika kamu tidak mencintainya lagi. Jangan memberikan harapan lagi untuk anak Bunda."


"Kenapa Bunda berbicara seperti itu?"


"Karena Bunda ndak ingin dia semakin terluka di kemudian hari."


"Percayalah, Bunda. Saya mencintainya. Apapun yang terjadi padanya saya akan tetap mencintainya."


Getaran ponsel di saku celana Ega menjeda obrolan mereka.


"Maaf, Bunda. Saya angkat telepon dulu," pamitnya pada Bu Ratih.


Ega berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Bu Ratih.


"Halo, Pa, ada apa?" tanyanya saat mengangkat telepon dari sang papa.


"Di mana? Saya segera ke sana."


Dengan wajah panik dan cemas Ega menghampiri Bu Ratih yang masih duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


"Bunda, papa saya kecelakaan. Saya harus segera ke sana. Tolong sampaikan ke Zahra," pamitnya.


"Hati-hati, Nak. Semoga Pak Adnan baik-baik saja."


Bu Ratih melepas kepergian Ega dengan perasaan cemas. Karena terlihat sekali lelaki itu panik setelah menerima telepon.


Wanita paruh baya itu kembali masuk ke dalam ruang rawat Zahra. Ia menghampiri anaknya yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur.


"Ega mana, Bun?" tanya Zahra dengan suara pelan.


"Dia barusan dapat telepon papanya kecelakaan," jawab Bu Ratih.


"Yang bener, Bun? Kecelakaan di mana?" tanya Efelin.


Zahra hanya bisa menebak-nebak apa yang mereka berdua bicarakan. Dengan melihat gerakan bibir bunda dan adiknya. Sayangnya ia tak bisa menemukan apa yang mereka bahas.


Efelin yang melihat kebingungan kakaknya segera mengambil ponselnya dan segera mengetikkan apa yang diucapkan oleh bunda mereka.


"Kecelakaan di mana? Gimana keadaan Papa Adnan?" tanya gadis itu setelah membaca tulisan adiknya.


Masih belum tahu. Kakak coba chat Kak Ega buat nanyain keadaan Om Adnan. Efelin kembali mengetikkan kata-kata untuk dibaca kakaknya.


Zahra segera mengambil ponselnya dan melakukan apa yang disarankan oleh Efelin.


******


Ega memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah RSSA tempat yang diberitahukan oleh penelepon tadi.


Sampai di perbatasan kota dan kabupaten jalanan mulai ramai sehingga Ega memperlambat laju mobilnya. Tak henti-hentinya ia berharap semoga tidak terjadi hal buruk pada sang papa.


Setelah sampai di rumah sakit ia segera menuju bagian informasi untuk menanyakan keberadaan sang papa. Begitu tahu papanya masih berada di IGD ia segera menuju ruangan yang berada di bagian utara ruang informasi.


Ia juga mencoba menghubungi nomor ponsel papanya untuk menanyakan keberadaan orang yang menolong papanya.


"Bapak di mana? Saya di dekat IGD," ucap Ega saat sambungan telepon terjawab.


"Oh. Ya, saya melihat Bapak. Baik. Saya ke sana."


Ia segera menghampiri lelaki berjaket kulit yang menjawab teleponnya barusan.


"Saya Ega. Bagaimana keadaan papa saya?"


"Saya dari kepolisian. Kondisi Pak Adnan cukup serius sekarang masih dalam penanganan dokter," ucap orang itu yang mengaku dari pihak kepolisian. Bersamaan dengan itu ia juga mengembalikan ponsel Papa Adnan pada Ega.


"Terimakasih. Bisa saya tahu bagaimana kronologinya?" tanya Ega berusaha untuk tenang.


"Mobil papa anda di tabrak oleh truk dari arah berlawanan. Dugaan kami supir truk sedang mengantuk dan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dan akhirnya menabrak mobil papa anda. Bagian depan mobil papa anda ringsek parah. Dan korban terjepit sehingga mengalami luka cukup parah," jelas polisi itu.


****

__ADS_1


Zahra, Efelin dan Bu Ratih harap-harap cemas menunggu kabar dari Ega. Mereka juga ikut khawatir dengan keadaan Pak Adnan yang mengalami kecelakaan.


"Mbak, udah di bales belum?" tanya Efelin pada kakaknya.


Zahra memperhatikan gerakan bibir adiknya berusaha untuk menebak apa yang dikatakannya.


Efelin yang lupa dengan keadaan kakaknya segera mengetikkan apa yang dia katakan barusan.


Setelah membaca tulisan adiknya di ponsel, Zahra menunjukkan ponselnya sendiri dengan tatapan sendu.


"Bun, telinga aku berdengung, dari tadi. Lama-lama bikin aku pusing dan mual," keluh gadis itu memecah keheningan ruang rawatnya.


"Sebentar, Bunda panggilkan dokter," jawab sang bunda dan segara memencet tombol darurat di dekat tempat tidur Zahra.


Tak berselang lama, seorang dokter masuk ke dalam ruang rawat Zahra.


"Dokter, anak saya mengeluh telinganya berdengung dan mual," ucap Bu Ratih memberi tahu dokter.


"Baik, saya periksa dulu ya," jawab dokter itu dan segera melakukan pemeriksaan.


*****


Suara panggilan dari pengeras suara terdengar oleh mereka berdua yang mengumumkan panggilan di tujukan kepada keluarga Bapak Adnan.


Ega dan polisi itu segera mendatangi sumber suara. Rasa cemas mendominasi perasaan Ega. Dalam hatinya ia tak henti-hentinya merapalkan doa supaya papanya baik-baik saja.


Kembali suara pengeras suara terdengar memanggil keluarga Pak Adnan. Membuat Ega semakin diliputi rasa cemas.


"Saya keluarga pasien atas nama Adnan," ucap Ega begitu sampai di ruang IGD.


"Pasien harus segera melakukan operasi karena ditemukan penggumpalan darah di dalam paru-paruku," ucap dokter yang menangani Pak Adnan.


"Lakukan Dokter. Selamatkan papa saya," ucap Ega kalut.


"Selamatkan papa saya dokter. Tolong sembuhkan papa saya," pinta lelaki itu.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk papa anda. Mohon segera diurus administrasinya." Dokter itu berjalan meninggalkan Ega yang terkulai lemah. Dibantu oleh polisi tadi Ega berjalan menuju kursi terdekat.


"Papa..." lirih Ega tak kuasa menahan kesedihannya.


Ia menundukkan kepala dalam-dalam menyembunyikan kesedihannya.


"Sebaiknya anda segera urus administrasi papa anda agar segera ditangani," ucap polisi itu mengingatkan.


"Jika anda berkenan, saya bisa membantu menguruskan," tawar polisi itu.


"Terimakasih, Pak. Saya bisa sendiri," jawab Ega dengan suara serak menahan tangisnya.


Polisi itu tak tega untuk meninggalkan Ega sendirian di sana. Ia memutuskan menemani lelaki itu beberapa saat lagi sebelum kembali ke kantornya.

__ADS_1


******


__ADS_2