
Zahra tengah duduk manis di ruang tamu rumah kontrakan Ega. Menatap intens pada lelaki yang tengah duduk dihadapannya.
"Kenapa gak pulang?" tanyanya pada lelaki itu.
Di sampingnya ada Ega yang sedari tadi mengusap pundaknya. Berusaha meredakan emosi gadisnya yang sepertinya sudah sampai di ubun-ubun.
"Jawab, Rio! Kamu kena setan apa sih? Seumur-umur aku nggak pernah lihat kamu kayak gini. Kamu bikin banyak orang kecewa! Apalagi mama kamu! Kamu mikir gak sih?"
Zahra menumpahkan kekecewaannya pada adik sepupunya itu.
"Udah seminggu lebih kamu di sini! Kamu gak mikir apa, mama kamu sendirian di rumah! Masalah apa yang bikin kamu jadi kayak gini? Kenapa kamu gak cerita sama aku, Rio?"
"Kamu nggak ngerti, Mbak! Gara-gara aku terlalu fokus sama kamu, Zakia juga ngalamin hal yang sama kayak kamu!" teriak Rio di depan kakak sepupunya.
Zahra benar-benar terkejut atas perkataan Rio. Tidak menyangka dengan apa yang membuat Rio seperti ini.
"Terus Zakia gimana?" tanya Zahra yang masih shock.
"Dia sakit. Dia gak mau aku temuin. Dan yang harus kamu tahu, dia diperk*sa cowok b*jing*an! Aku harus gimana, Mbak?"
Lelaki itu menundukkan kepalanya. Di depan kakaknya dan sahabatnya itu Rio menangis.
"Antar aku ke Zakia," pinta Zahra saat itu juga.
"Ini udah malem, Sayang. Besok aja ya," bujuk Ega.
"Nggak, Ga. Aku mau ketemu dia sekarang. Kamu gak tahu rasanya hancurnya perasaan aku waktu itu. Aku mau ketemu sama Zakia sekarang." Zahra masih ngotot dengan kemauannya.
Rio menganggukkan kepalanya. Ia berdiri diikuti sang kakak dan juga Ega. Mereka bertiga berjalan menuju mobil sedan Ega yang terparkir di halaman.
"Dia dikosannya?" tanya Zahra.
"Di RSPN," jawab Rio singkat.
Mobil melaju ke arah RSPN kota Malang. Membelah jalanan malam kota yang masih ramai.
Zahra melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
Jam tujuh lewat sedikit. Semoga jam besuk belum habis, batinnya.
Bangunan tinggi rumah sakit telah terlihat jelas. Ega memarkirkan mobilnya di parkiran samping rumah sakit.
"Ayo," ajak Rio. Ia memimpin jalan menuju ruang Rawat Zakia.
Sampai di depan ruangan itu. Ada seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Om," sapa Rio menyalami orang itu. Diikuti juga oleh Zahra dan juga Ega.
"Waalaikumsalam. Kamu baru saja pulang kenapa ke sini lagi, Nak?" tanya orang itu yang tak lain papa dari Zakia.
"Teman-teman Zakia mau jenguk, Om," jawab Rio.
"Kamu tahu sendiri kan, Nak. Zakia gak mau ketemu siapapun," jawab Papa Zakia dengan perasaan sedih yang tergambar jelas di wajahnya.
"Maaf, Om. Boleh om sampaikan saya ingin bertemu dengan dia?" mohon Zahra.
Gadis itu sudah tak bisa menahan lagi rasa sedihnya. Membayangkan dirinya pernah berada diposisi Zakia saat ini.
"Baiklah. Akan saya tanyakan dulu padanya."
Papa Zakia masuk ke dalam ruang rawat anaknya. Memberitahukan bahwa di depan ada Zahra.
Beberapa saat kemudian, Papa Zakia keluar bersama dengan istrinya.
"Tante," ucap Zahra langsung memeluk perempuan itu, tak kuasa melihat wajah Mama Zakia yang bersedih.
"Kamu masuk saja. Dia ingin bertemu denganmu," ucap Mama Zakia melepas pelukan Zahra.
Zahra masuk sendirian ke dalam ruang rawat Zakia. Dilihatnya gadis itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit.
"Kia," panggil Zahra lirih.
Zahra menghambur memeluk gadis lemah di atas tempat tidur itu. Mereka berdua menang sesenggukan bersama.
"Mbak, aku malu. Aku udah dinodai orang jahat, Mbak. Aku takut nanti aku hamil, Mbak. Aku malu sama Rio," ucap Zakia sesenggukan di dalam pelukan Zahra.
"Rio sama hancurnya sepertimu. Dia juga terpuruk, Kia. Dia bener-bener kayak orang gila. Dia merasa gagal jaga kamu. Dia cinta banget sama kamu, Kia," lirih Zahra.
Gadis itu merasa hancur. Karenanya Zakia dan Rio jadi seperti ini.
"Maafin aku, Kia. Maafin aku. Kalau Rio kemarin gak fokus sama aku aja, pasti kamu enggak bakal kejadian kayak gini. Ini semua salah aku, Kia," ucap Zahra lagi.
"Kenapa kamu juga ngerasain kayak gini juga, Kia. Harusnya aku aja. Jangan kamu. Maafin aku Kia."
"Kamu, harus cepet nikah sama Rio. Harus, Kia."
"Enggak, Mbak. Aku udah nggak pantas buat dia, Mbak. Dia laki-laki baik. Sedangkan aku, mbak tahu sendiri. Aku udah kotor, Mbak."
"Kamu inget kan, Kia. Kamu yang bilang sama aku, aku nggak boleh berkecil hati. Kita harus mikirin orang-orang yang sayang sama kita juga, Kia. Papa mama kamu, Rio, aku, temen-temen kamu yang lain. Semua menyayangi kamu, Kia."
Hening tak ada suara yang terucap di antara keduanya. Hanya isakan-isakan kecil dari mereka berdua.
__ADS_1
"Rio gimana, Mbak?" tanya Zakia lirih.
"Kamu pingin tahu keadaan dia?" tanya Zahra.
Zakia menganggukkan kepalanya.
"Dia ada di luar sama Ega. Kamu mau ketemu dia?"
"Enggak, Mbak. Aku belum siap ketemu sana dia. Tolong Mbak kasih tau aku kesadaran dia gimana," pinta gadis itu.
"Dia nggak baik-baik saja. Terakhir dia pulang seminggu yang lalu kata mamanya, itu pun mereka bertengkar. Karena setiap hari Rio pulang dengan keadaan mabuk. Sekarang dia tinggal di kontrakan sama Ega. Ega bilang, tiap hari dia suka ngelamun. Kadang juga masih mabuk."
Zakia menangis lagi, mendengar perkataan Zahra. Tidak menyangka Rionya seperti itu karenanya. Sampai bertengkar dengan mamanya juga.
"Dia cinta banget sama kamu, Kia. Kamu harus semangat demi orang tua kamu, demi Rio. Kita pernah sama-sama merasakannya. Kita harus bersyukur ada laki-laki yang tetap mencintai kita disaat kita terpuruk. Kamu cepet sembuh ya. Aku usahain sering main ke tempatmu."
"Iya, Mbak. Makasih ya, Mbak. Tolong bilangin sama Rio, aku minta maaf. Aku masih butuh waktu sebelum ketemu dia."
"Iya. Nanti aku sampaikan ke dia. Cepet sembuh. Kasihan orang tua kamu. Kasian Rio."
"Iya, Mbak. Makasih."
Mereka kembali berpelukan. Zahra pamit karena sudah terlalu malam. Ia harus pulang ke Tumpang. Kasihan Ega yang mengantarkannya.
Zahra keluar dengan mata yang sembab. Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Ega. Kembali menangis di dada lelaki itu.
"Om, Tante, kami pamit ya," pamit rio yang duduk di samping orang tua Zakia.
Ega menuntun Zahra untuk berpamitan pada kedua orang tua Zakia. Gadis memeluk erat Mama Zakia saat berpamitan.
Mereka bertiga berjalan beriringan meninggalkan ruang rawat Zakia menuju lift.
Begitu pintu lift terbuka, tak disangka mereka bertemu lagi dengan teman lama mereka di sana.
"Zahra," panggil lelaki yang baru saja keluar dari lift.
Ega langsung mengeratkan rangkulannya pada pinggang Zahra. Memberi kode tersirat pada lelaki yang tengah mandangnya sinis.
"Permisi, Dokter. Kami mau masuk," ucap Ega.
Dokter Arga menepi memberikan jalan untuk mereka bertiga masuk lift.
"Dunia sempit banget ya. Kenapa ketemu sama dia lagi," guman Ega.
"Sudah. Jangan dipikirkan," balas Zahra.
__ADS_1
Mereka bertiga segera menuju ke parkiran. Dari RS mereka langsung meluncur ke Tumpang. Mengantarkan Zahra pulang.
*****