Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
84. Patah Hati


__ADS_3

"Bunda," panggil Zahra sendu pada sang bunda yang tengah duduk sambil menikmati acara gosip di siang hari.


"Apa sih?"


"Ega masih marah, Bun. Mesti gimana dong?"


"Ya jelaskan duduk masalahnya."


"Ya tapi kan dia nggak mau denger aku ngomong, Bun."


"Setiap hubungan itu, pasti ada aja batu kerikil yang mengganjal. Kamu harus lebih dewasa menyikapinya. Jelaskan baik-baik, ambil hatinya dulu, baru setelah itu kamu jelaskan. Mungkin dia masih emosi sesaat. Ya mana ada sih lelaki yang gak marah calon istrinya didekati lelaki lain? Belajarlah untuk bersabar," nasihat Bunda Ratih.


"Apa aku susulin dia aja ya sekarang?"


"Bunda nggak masalah. Tapi kamu ke sama gimana? Tangan masih sakit gak sembuh-sembuh gitu. Makanya kalau dikasih tahu itu jangan ngeyel. Kalau kamu manut sama Bunda nggak bakal itu luka sampe hampir seminggu belum sembuh."


Zahra cemberut mendengar ceramahan dari sang bunda. Memang, dalam hatinya ia juga merasakan, kalau dirinya sering tidak mendengar nasehat sang bunda.


"Ndak usah mecucu-mecucu ngunu lambemu. Prasane lucu ngunu tah nek diseneni mecucu ngunu?," ejek Bunda Ratih.


(Jangan mengerucutkan bibir gitu. Kamu pikir lucu gitu kalau dimarahi cemberut?)


"Bunda, ih! Ngeselin!"


Gadis itu beranjak meninggalkan sang bunda dengan perasaan dongkol. Ia berjalan menuju halaman samping rumah yang terdapat kursi santai di sana.


******


Ega tengah sibuk dengan pekerjaan barunya di kantor sang papa. Mulai hari ini ia telah resmi bekerja dengan sang papa. Berita ini masih belum ia sampaikan pada tunangannya.


Kekesalan lelaki itu pada sang tunangan yang sebenarnya hanya salah paham membuatnya enggan untuk menghubungi Zahra. Ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan barunya dan mempelajari berbagai hal mengenai perusahaan Papa Adnan.


Dering ponselnya yang begitu nyaring membuatnya melirik sekilas benda pipih itu. Tertera di sana nama kontak "My Love" yang tak lain adalah Zahra.


Sengaja ia mengabaikan panggilan itu. Merubah model panggilan menjadi senyap. Agar ia tak terganggu dan tergiur untuk mengangkat panggilan itu.


Namun, lama kelamaan ia tak tahan mengabaikan panggilan dari tunangannya yang selalu membuatnya rindu. Dengan berusaha tetap mempertahankan mode kesalnya ia mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Apa?" ketus Ega.


Lelaki itu tersenyum mendengar jawaban dari Zahra. Entah apa yang membuat lelaki itu tak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya. Meski begitu ia tetap menjawab dengan singkat dan ketus pada gadis yang di seberang sana.


****


"Ma, doakan aku biar bisa membawa Kia kembali ke sini ya," ucap Rio pada sang mama yang tengah menangis dalam pelukan anak semata wayangnya.


"Bawa mantu mama kembali, Nak. Mama akan selalu mendoakanmu."


"Aku berangkat dulu. Kalau tidak ada halangan aku akan sampai sana sekitar tengah malam atau dini hari. Mama yakin di sini saja? Aku bisa mengantar mama ke rumah Mbak Zahra, biar mama gak kesepian."


"Mama di sini saja, jangan khawatir. Kamu cepat pulang ya, harus sama Kia. Hati-hati ya, Nak, jangan memaksakan diri. Kalau kamu lelah carilah tempat istirahat. Mama mau kamu pulang dengan selamat."


Mamanya Rio melepas kepergian anaknya ke kota orang untuk menjemput Zakia. Dalam hatinya ia mendoakan semoga anaknya selamat sampai tujuan dan bisa kembali beserta dengan calon menantunya.


Mobil yang dikendarai lelaki itu membelah jalanan kompleks yang sepi di siang hari. Dengan bantuan dari teman adik dari Zakia yang kemarin ditemuinya, akhirnya dia mendapat alamat tempat tinggal Zakia di kota itu.


******


"Hai, Kak Rey," sapa Efelin sok imut pada lelaki yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kakakmu ada?" tanya lelaki itu tanpa basa basi.


"Kakak nyari Mbak Zahra? Ada apa?" tanya gadis itu dengan perasaan kecewa.


Dalam hatinya ia berharap laki-laki pujaannya itu datang untuk menemuinya. Namun, ia harus menelan kecewa lantaran lelaki itu justru mencari sang kakak.


"Dia ada?"


"Ada sih ... tapi ..." ucap Efelin menggantung.


"Kenapa?" tanya Rey penasaran.


"Mbak Zahra lagi istirahat. Kalau udah di kamar dia gak bisa diganggu," jelas Efelin yang sebenarnya hanya membuat alasan.


"Gitu ya, kalau gitu aku minta nomor ponselnya," pinta Rey.

__ADS_1


"Chat aku aja, Kak. Mbak Zahra nggak suka berhubungan dengan nomor yang gak dikenal," tolak Efelin.


Sebisa mungkin gadis kecil itu menghalangi sang pujaan hati untuk mendekati kakaknya. Ia tak rela orang yang disukai mendekati saudaranya.


"Oh, oke," jawab Rey kecewa.


Rey berpamitan pulang, meninggalkan gadis kecil yang tengah kecewa. Baru saja ia merasakan jatuh cinta, belum sempat ia merasakan indahnya cinta. Namun, telah merasakan patah hati.


Gadis kecil itu masuk ke dalam rumah dengan perasaan kecewa. Ia berusaha menahan genangan air yang hendak meluncur dari balik mata indahnya.


"Fel, kenapa?" tanya sang bunda yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Gak papa, Bun." Ia mengelak tak berani memandang sang bunda.


"Ke kamar dulu, Bun," ucapnya.


Ia berjalan cepat menuju lantai dua kamarnya. Tak kuasa menahan sakit di hatinya yang baru pertama kali ia rasakan.


Rasanya kok sakit begini ya, batin gadis kecil itu. Bulir-bulir bening mengalir deras membasahi pipinya.


Kenapa Kak Rey malah mau deketin Mbak Zahra? Apa aku gk cantik? Apa aku gak boleh suka sama cowok? Kenapa semuanya selaku Mbak Zahra?


Apa-apa selalu Mbak Zahra. Sekarang pun udah punya Kak Ega masih aja cowok deketin dia. Apa bagusnya sih dia? Sok lemah, sok kalem**.


Dalam tangisannya gadis kecil itu merasa iri dengan apa yang didapat sang kakak. Banyak sekali cowok-cowok ganteng yang hilir mudik mendekati kakaknya sedari jaman sekolah dulu.


Dari sekolah dulu selalu punya temen cowok banyak. Ganteng-ganteng. Orang kaya semua. Sekarang aku suka sama satu cowok aja malah aku udah sakit hati duluan. Kenapa rasanya gak adil banget.


Gadis kecil itu menjerit tertahan dalam tangisnya. Ia memukul-mukul bantalnya menyalurkan amarahnya. Ia benar-benar kecewa dengan keadaan saat ini.


Gadis kecil itu terus menangis hingga matanya membengkak. Tak terasa juga dirinya terlelap setelah menangis sangat lama.


Menjelang sore, ia terbangun dengan keadaan yang berantakan. Wajah yang terlihat membengkak di bagian matanya dan hidungnya juga memerah.


Dengan malas gadis kecil itu berjalan menuju kamar mandi. Ia menuju wastafel berniat untuk melihat keadaan wajahnya.


Ia begitu terkejut melihat keadaan dirinya yang sangat mengerikan. Bagaimana bisa ia akan keluar dengan keadaan seperti itu, pikirnya.

__ADS_1


Dari dalam kamar mandi samar-samar ia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Tak begitu jelas, sehingga ia mengabaikannya. Ia memilih membersihkan dirinya dan mengabaikan orang yang di luar sana.


Terserah mau ngetuk pintu sampai tangannya patah, aku malas buka.


__ADS_2