Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
19. Minggu Pagi yang ...


__ADS_3

Di ruang tengah, tiga wanita beda generasi tengah menonton televisi bersama-sama. Wanita paruh baya duduk di sofa dengan anak gadisnya yang pertama. Sedangkan anak gadis yang kedua memilih tidur di karpet dengan bantal sofa. Mereka bertiga, - bunda - Zahra - Efelin - tengah menikmati waktu luang mereka dengan bersantai.


"Bun," panggil Zahra. Sang bunda menoleh pada anak pertamanya.


"Aku udah mikirin baik-baik. Aku tetep di sini sama bunda," ucap gadis itu sambil menunduk memainkan bantal sofa yang ada di pangkuannya.


Sang bunda tersenyum kepada anaknya. Ia memeluk pundak Zahra. Gadis itu bersandar di pundak sang bunda.


"Bunda seneng dengan pilihanmu, Nduk. Semoga kamu ndak berubah pikiran. Bunda yakin apapun masalah kita, bagaimanapun setiap masalah yang datang pada kita bukan untuk dihindari. Masalah yang datang pada kita bisa menjadikan kita lebih kuat, lebih tegar, lebih sabar. Kita harus pandai mengambil sisi positif dari setiap masalah. Jangan jadi pengecut dengan lari dari permasalahanmu," tutur sang bunda dengan mengusap rambut lurus Zahra.


"Bagaimana dengan kamu dan Ega?" tanya sang bunda.


"Kami biak-baik aja, Bun. Aku udah coba melupakan yang dulu. Aku juga mencoba ngasih kesempatan buat dia. Buat aku sendiri juga."


"Alhamdulillah. Kalau memang kalian berjodoh, kemanapun kamu pergi pasti juga akan kembali padanya. Jalani saja dulu. Jangan memaksakan sesuatu. Kalian sudah dewasa. Bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."


"Bunda kepengen aku nikah sama Ega?"


"Bunda bisa melihat, Nak, dari mata kalian sangat terlihat jelas. Hanya saja kamu masih ragu. Bunda bener, Nak?"


"Entah, Bun. Aku masih ingin memastikan dulu. Aku nggak mau terburu-buru. Lagian kita juga udah lama ngga ketemu. Aku takut suatu hari tiba-tiba ada wanita yang datang pada Ega dan mengaku pacarnya, tunangannya, atau bahkan istrinya."


"Halaah. Kebanyakan baca novel sampean, Mbak," ucap sang adik yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka.


"Novel kan juga terinspirasi dari dunia nyata," bantah sang kakak.


"Dasar tukang halu. Kebanyakan menghayal sampean!" ejek sang adik.


Zahra melemparkan bantal yang ada di pangkuannya ke arah adiknya. Efelin seketika duduk dan mengambil bantal yang mengenai badannya. Di balasnya sang kakak dengan melempar bantal itu kembali ke kakaknya. Jadilah mereka lempar-lemparan bantal. Sang bunda hanya tersenyum menyaksikan kedua anaknya.


****


Minggu pagi ini setelah salat subuh Zahra memilih kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Sebenarnya ia ada janji dengan Niena dan Dea. Berhubung Dea tidak libur kerja, akhirnya mereka akan bertemu nanti sore selepas Dea bekerja.


Tok! Tok! Tok!


"Ya!" Zahra menjawab ketukan pintu kamarnya.


"Mbak, ada yang nyariin di bawah," kata sang adik dari balik pintu.


"Siapa?" tanya Zahra yang masih enggan membukakan pintu sang adik.


"Ya liat aja sendiri," setelah mengucapkan kata itu Efelin meninggalkan kamar kakaknya yang masih terkunci.

__ADS_1


Dengan malas-malasan Zahra keluar kamar menemui orang yang bertamu pagi-pagi begini. Ia menuruni tangga, melewati ruang tengah. Di ruang tamu duduk seorang lelaki berpakaian kasual sedang memainkan ponselnya.


Sudah terlanjur ia turun mengenakan pakaian tidurnya yang minim bahan. Hendak berbalik pun lelaki itu sudah terlanjur pula mengetahui keberadaannya yang tengah berdiri di pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang tamu.


"Kamu ngapain pagi-pagi ke sini? Tunggu sebentar aku ganti baju dulu," ucap gadis itu.


Ia benar-benar malu menemui Ega hanya mengenakan hotpant dan kaos tipis kebesarannya.


Ega menundukkan kepalanya menghindari pemandangan indah yang terpampang di depannya. Ia tiba-tiba merasa gerah melihat penampilan Zahra yang sangat menggoda.


Gadis itu buru-buru kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan. Ia juga mengambil ponselnya yang ia letakkan di tempat tidur. Setelah itu ia kembali menemui Ega yang masih menunggunya.


"Kenapa gak bilang-bilang mau ke sini?" omel gadis itu tanpa mau memandang Ega. Ia duduk di hadapan Ega dengan menunduk memainkan ponslelnya.


"Surprise aja sih sebenernya. Tapi malah aku yang dapet surprise," goda Ega.


"Ih. Nyebelin. Ada apa?" tanya Zahra lagi.


"Gak ada. Cuma mau main ke sini aja. Bosen di kontrakan sendirian. Yang lain pada keluar soalnya. Kan weekend."


"Oh. Terus mau ngapain?"


"Ya kalo kamu mau jalan-jalan sih ayo, atau di rumah aja gapapa."


Dari ruang tengah bunda dan Efelin keluar dengan pakaian rapi. Bunda membawa nampan berisi kopi dan cemilan untuk Ega.


Zahra melirik cangkir berisi kopi dan sedikit menahan senyum. Ega tidak suka kopi. Pasti dia tidak akan menghabiskan kopi itu.


"Ndak papa. Kalo nunggu Zahra yang bikin kelamaan," sindir bunda.


"Bunda mau kemana sama Efel? Kok udah rapi aja?" tanya Zahra memperhatikan sang bunda dan saudaranya.


"Bunda mau ke rumah budemuu. Sepupumu Maya kena musibah. Nanti saja ceritanya. Bunda berangkat dulu," bunda dan Efelin jalan beriringan keluar rumah.


Sekarang hanya tinggal mereka berdua di ruang tamu. Keduanya saling terdiam tanpa ada yang memulai obrolan.


"Kopinya kamu yang minum ya," kata Ega memulai obrolan.


"Ogah. Aku belum sarapan," jawab Zahra.


"Udah jam sembilan loh kamu kok belum sarapan. Sana sarapan dulu."


"Lagi males, nanti aja sekalian. Belum mandi juga."

__ADS_1


"Astaga. Jadi ini kamu belum mandi?" Ega berdecak tak percaya gadis di depannya masih belum mandi.


"Ya kan kamu liat sendiri tadi! Kan aku turun masih pake baju tidur," sungut Zahra.


Ega mengusap wajahnya mendadak ingat kejadian beberapa menit yang lalu. Ia masih terbayang-bayang tubuh Zahra.


"Awas ya kalo kamu mikir macem-macem! Dasar cowok semuanya mesum!"


"Siapa yang mikir macem-macem. Cuma satu macem kok," kilahnya.


Ega memperhatikan Zahra yang wajahnya memerah.


"Satu macem apaan?"


"Mau tau?" Ega berpindah duduk di samping Zahra. Reflek Zahra menggerser tubuhnya.


"Apa an sih! Jangan deket-deket!"


Zahra berusaha mendorong Ega agar berpindah.


"Aku kan pengennya deket sama kamu terus."


"Nggak mau! Aku belum mandi. Bau."


Zahra masih mendorong Ega yang masih tak berpindah posisi.


"Coba sini aku cium bau apa nggak?" goda Ega dengan mencondongkan badannya ke arah Zahra.


"Egaaaa!" Zahra makin gugup didekati Ega dengan posisi ia terhimpit tangan kursi dan tubuh Ega.


"Boleh cium nggak?" yang Ega dengan masih mencondongkan tubuhnya.


Posisi mereka membuat keduanya bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Bahkan Zahra merasakan detak jantungnya. Begitu pun Ega. Jantungnya terasa melompat-lompat dengan posisi yang begitu dekat.


Zahra mematung mencerna pertanyaan Ega. Kedua manik mata mereka saling bersitatap. Ega menelusuri setiap inci wajah Zahra. Ia makin mendekatkan wajahnya. Zahra yang gugup malah memejamkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang lembut menempel di keningnya.


*****


terima kasih sudah membaca..


semoga kalian suka


pencet jempol yaa buat Zahra & Ega

__ADS_1


salam sayang


kiki rizki 💞💞😘


__ADS_2