
Selamat membaca readersku β₯οΈβ₯οΈπ Yang mau numpang promo saya persilahkan untuk promo di gc saya. Promo di kolom komentar yang sewjarnya saja ya.. dan jangan lupa pencet like dong, jangan cuma numpang promoπ€π€
mohon maaf dan terimakasih ππ»ππ»π€π€π€
********
"Cepetan, elah. Tadi mereka ngomong apaan?" tanya Raka yang penasaran.
"Aku dengernya nggak begitu jelas sih, cuma temennya si Alena, itu si Vina, tadi bilang misi gagal gitu sambil bawa-bawa nama Zakia," ucap Devan.
"Serius? Kamu nggak asal-asalan kan?" tanya Raka memastikan.
"Yakin gak yakin sih. Mereka ngomongnya pake bisik-bisik. Ngga begitu kedengaran."
"Kita harus cari bukti segara. Ayo balik," Kata Raka.
"Nggak jadi makan?" tanya Devan mengingatkan.
"Ya makan dulu. Udah laper ini," jawab Raka.
"Ya udah ayo. Jangan dilewati lagi warungnya."
Mereka membelokkannya langkah menuju warung Mak Ti. Memesan menu makan siang mereka dengan memilih sendiri lauk yang tertata rapi di dalam etalase.
"Benar-benar nggak nyangka aku, ternyata Arya seperti itu," ucap Devan setelah Raka menceritakan apa yang mereka bicarakan di dalam rumah.
"Terus, apa kamu juga akan seperti dia buat dapetin Kia?" lanjut Devan.
"Tidak. Dia udah bahagia sama Bang Rio. Aku akan berusaha melupakannya," jawab Raka tenang.
Meski tergambar jelas di wajahnya kekecewaan yang mendalam. Ia berusaha untuk tetap menjaga persahabatan mereka agar tidak terjadi kesalah pahaman.
"Aku mendukungmu. Jangan seperti Arya. Rasanya aku tidak mengenali dia saat kamu cerita tadi," ucap Devan.
"Lupakan saja cerita tentang perasaanku. Yang penting sekarang kita mesti segera bantu Bang Rio," kata Raka.
"Iya."
********
Hari ini Zahra sudah diperbolehkan pulang. Kedua orangtuanya menolak permintaan Uti Salma untuk beberapa hari ke depan Zahra tetap di rumah Ega. Dengan alasan Efelin harus segera kembali karena ada beberapa kegiatan yang harus diikuti di sekolah meski sedang liburan.
Maka mereka memutuskan untuk singgah sebentar di rumah Ega. Sekaligus membahas tentang lamaran yang diajukan oleh Ega beberapa waktu lalu.
"Mungkin momennya tidak tepat ya, Pak Adnan. Kami sekeluarga mohon maaf sebelumnya," ucap Ayah Irawan mengawali obrolan.
Saat ini mereka tengah duduk santai di ruang tamu. Sambil menikmati suguhan cemilan ringan yang disuguhkan keluarga Ega.
"Tidak papa, Pak Ir. Seharusnya kami yang meminta maaf. Karena keteledoran Ega, anak bapak jadi terluka," ujar Papa Adnan merasa bersalah.
__ADS_1
"Semoga kejadian itu tidak menghalangi niat kita untuk berbesanan ya, Pak, Bu," lanjut Papa Adnan.
"Hehehehe. Pak Adnan bisa saja. Insyaallah, tidak, Pak. Asal Zahra bersedia rencana kita jadi besan aman," gurau Ayah Irawan.
"Sebenarnya, selain menjemput Zahra ada hal lain yang mau kami sampaikan pada keluarga Pak Adnan dan juga Ibu." Ayah Adnan coba mengerjakan.
"Silahkan, monggo, Pak," jawab Papa Adnan.
"Perihal lamaran Nak Ega kemairn, insyaallah anak gadis saya menerima pinangan anak Bapak," ucap Ayah Irawan.
Di samping papanya, Ega terlihat kaku tegang. Menunggu saat-saat di mana ia tengah menanti jawaban atas lamarannya.
Begitu Ayah Irawan berkata bahwa lamarannya diterima ia bisa bernafas lega. Meski ia optimistis lamarannya diterima, tetapi, ia teringat ucapan Rio beberapa hari lalu saat mereka bertemu.
Kini ia bisa memamerkan pada lelaki itu kalau dirinya akan segera resmi menjadi sepupu iparnya. Ia tersenyum sendiri membayangkan dapat mengejek Rio yang masih belum ada jawaban dari Zakia.
"Alhamdulillah," ucap papa lega.
"Ee, ada yang tegang toh dari tadi," ucap Papa Adnan pada Ega.
Lelaki itu hanya tersenyum menanggapinya.
"Untuk masalah hari pernikahan mereka, kami serahkan pada pihak laki-laki, monggo kita manut saja," ucap Ayah Irawan.
Para orang dewasa itu melakukan penghitungan menurut hari lahir dan weton menurut perhitungan Jawa untuk menentukan tanggal pernikahan Zahra dan Ega.
(Author kaga paham meski asli orang Jawa, jadi nggak dijelaskan mendetail ya. Daripada salah. Hehehehe, intinya seperti itu di tempat author kalau mau nikah.)
"Bagaimana? Kira-kira kamu bisa tidak menunggu setahun lagi?" tanya sang papa.
"Bisa, Pa," jawab Ega mantap. Ia tersenyum pada gadis yang duduk di sebelah bundanya.
"Bagus! Papa yakin kamu lelaki yang bertanggungjawab. Jangan sampai mengecewakan Papa dan mertua kamu," pesan sang papa.
"Baiklah. Nak Ega, Ayah minta kamu bersabar ya. Kalau sudah menentukan hari pernikahan begini, biasanya cobaan akan semakin banyak. Entah itu dari diri kalian masing-masing, ataupun dari luar. Ayah harap kamu bisa menjaga putri kesayangan Ayah dengan sebaik-baiknya," pesan Ayah Irawan untuk Ega.
Mereka melanjutkan obrolan seputar pernikahan. Kebahagiaan jelas terlihat pada wajah-wajah mereka.
"Permisi, ngapunten (maaf), Tuan, ada tamu di depan mencari Den Ega di luar," ucap Pak Udin menginterupsi obrolan mereka.
"Siapa, Pak?" tanya Ega yang merasa tidak mengundang siapapun.
"Tadi bilangnya namanya Desi, Den. Temen kantornya Aden katanya," ucap Pak Udin menjelaskan.
"Bilang saja, Pak. Saya sibuk tidak menerima tamu, tolong Pak Udin suruh dia pergi aja," pinta Ega.
"Baik, Den," jawab Pak Udin. Lalu ia berlalu pergi dari ruangan itu.
"Siapa Desi?" tanya sang Papa.
__ADS_1
"Temen kantor, Pa," jawab Ega.
Ia merasa tidak enak pada kedua orang tua Zahra. Begitu juga pada gadis itu. Pandangan mereka bertiga seperti menuntut penjelasan siapa gerangan yang mencarinya.
"Coba kamu temui dulu, Nak. Mungkin ada hal penting yang sampai membuat temanmu itu datang ke sini mencarimu," ucap Uti Salma.
Ega mengangguk. Ia mengajak Zahra untuk menemui temannya itu. Ia tak ingin gadisnya berpikir macam-macam jika ia menemui Desi sendirian.
Mereka berdua berjalan menuju keluar rumah. Di sana masih terlihat perempuan yang memaksa masuk tetapi dihalangi oleh Pak Udin.
"Maaf, Den. Ini mbaknya mau maksa masuk," ucap Pak Udin saat melihat kedatangan Zahra dan Ega. Lelaki itu mengangguk sebagai jawaban.
"Ada perlu apa?" tanya Ega tanpa basa-basi.
"Apa kamu tidak mempersilahkan aku masuk? Dan siapa perempuan itu?" tanya Desi memperhatikan Zahra dari ujung atas hingga bawah dengan pandangan menilai yang membuat gadis itu risih dan merapatkan tubuhnya pada Ega.
"Calon istriku," jawab Ega singkat.
"A-apa? Kamu hanya bergurau kan? Tidak mungkin," jawab Desi sama sekali tidak percaya.
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Ega.
"Nggak-nggak, kamu pasti bohong sama aku," ucap Desi masih tidak mau mempercayai ucapan Ega.
"Lihat! Kami sudah cukup lama bertunangan, kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja pada sekretarisku. Sebaliknya silahkan pergi kalau tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan," ucap Ega tanpa hati pada perempuan itu.
Desi yang malu sekaligus tidak percaya memilih meninggalkan mereka berdua. Tatapan kecewa dan tidak percaya bahwa Ega telah memiliki tunangan tergambar jelas di wajahnya.
Perempuan itu memasuki mobilnya yang terparkir di bahu jalan. Dalam hatinya ia terus menyangkal apa yang ia lihat saat ini.
"Tunggu, saja. Aku akan memisahkan kalian," ucap perempuan itu tersenyum culas.
******
sambil nunggu up selanjutnya, mampirin yuk novel baru author.. barang kali suka yang berbau pelakor-pelakor, hehehe cus kepoin.
atau yang suka tentang pendekar-pendekar,. cus nih ada novel keren punya kakak online aku
yang kangen sama Keyla sodaranya Ega, wkwkwkwk. cus mampir juga. Ini novel authornya kembaran aku, wkwkwk.
atau ini, cerita tentang artis yang terjerat skandal dan akhirnya pada jatuh cinta.Ada di novel kakak online aku juga, cus kepoin.
__ADS_1
ada juga ini novel temen online aku, cus kepoin. hehe