
"Bangs*at! Si*lan! Ke mana kamu bawa Zakia pergi, hah?" Tak henti-hentinya Rio memukuli Arya hingga wajahnya babak belur.
"Bang, tahan!" Raka dan Devan berusaha memisahkan Rio yang sedang emosi.
Arya yang sudah tidak berdaya segera disingkirkan dari hadapan Rio yang saat itu tak bisa lagi menahan emosinya.
"Aarrrgghhh!" teriak Rio mengacak rambutnya.
"Kita bakal bantu Abang nyari Kia," ucap Devan berusaha menenangkan Rio.
Tidak menanggapi omongan remaja itu, rio berbalik meninggalkan Devan sendirian. Ia segera menuju motor sport-nya yang terparkir sembarangan di halaman kontrakan Raka dan yang lainnya.
Dipacunya motor itu dengan sangat kencang meninggalkan halaman rumah kontrakan. Tak tentu arah lelaki itu membelah jalanan yang sepi di malam hari.
Pikirannya yang kacau membuatnya menyusuri jalanan tak tentu arah. Jalanan yang sepi ia gunakan untuk memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Tak terasa ia sampai di depan rumah Zakia yang tampak sepi. Lelaki itu terdiam memandangi bangunan rumah sederhana berpagar hitam itu dengan tatapan kosong.
"Permisi, Mas, cari siapa ya?" tegur seorang pemuda yang sepertinya sedang melakukan ronda malam.
"Oh, maaf-maaf," ujar Rio terkejut.
"Kamu mau berbuat hal-hal yang tidak baik di kampung sini ya?" tuduh pemuda itu.
"Jangan salah paham dulu, Mas. Aku ke sini nyari Zakia. Apa kamu tahu keluarganya pindah ke mana?" tanya Rio berusaha se sopan mungkin.
"Ngapain nyari Zakia malam-malam?" cerca pemuda itu masih berusaha mengintimidasi Rio.
"Aku Rio, tunangannya Zakia. Dia menghilangkan tanpa kabar sejak kemarin. Dari kemarin aku ke sini tanya-tanya ke warga tapi, tidak ada yang tahu keluarganya pindah ke mana," ucap Rio menjelaskan.
"Coba buktikan kalau Zakia memang tunanganmu!" tantang pemuda itu.
Rio menghela napas kasar berusaha meredakan emosinya yang kembali tersulut. Ia mengambil ponselnya di saku dalam jaket yang ia kenakan.
Dibukanya galeri dan menunjukkan foto mereka berdua yang diambil beberapa waktu lalu saat mereka berlibur ke kota Batu.
"Percaya?" tanya Rio pada pemuda itu.
__ADS_1
"Ya, aku percaya sekarang. Pertanyaanku sekarang, bagaimana bisa kamu yang tunangannya tidak tau Zakia pergi ke mana?"
"Karena dia tidak memberitahu, dan semua akses aku menghubunginya terblokir. Apa kamu tahu info tentang Zakia dan keluarganya?"
"Kenalkan, aku Alfan, temannya adiknya Zakia," ucap pemuda yang bernama Alfan mengulurkan tangannya pada Rio.
Lelaki itu menyambut uluran tangannya dan memperkenalkan dirinya.
"Jadi, apa kamu tahu sesuatu tentang Zakia atau keluarganya?"
Pemuda itu mengangguk sebagai jawaban. Ia menceritakan pada Rio kalau beberapa waktu lalu adik Zakia yang tak lain teman sekolah Alfan bercerita padanya kalau keluarganya mendapatkan teror dari seseorang.
Teror itu berisi potongan boneka yang sengaja dimutilasi dan diletakkan di dalam kotak kado. Selain boneka itu juga ada surat yang isinya ancaman dari orang agar Zakia menjauhi seorang laki-laki.
"Jadi, maksudmu ada orang yang sengaja meneror keluarganya Zakia?" tanya Rio memastikan.
"Ya. Zidan hanya bercerita seperti itu padaku, dan udah dua hari ini juga dia tidak masuk sekolah. Dengar-dengar dia mau pindah sekolah," lanjut Alfan.
"Pindah ke mana?"
"Solo," ucap Alfan.
"Ya. Aku yakin. Karena guru TU sendiri yang berbicara waktu itu."
"Apa aku bisa meminta bantuanmu?" tanya Rio penuh harap.
"Aku bantu apa?"
"Tolong hubungi Zidan. Tanyakan padanya di mana dia dan keluarganya saat ini. Dan aku minta tolong jangan sampai dia curiga dengan pertanyaanmu. Aku harap kamu bisa mendapatkan alamatnya di Solo itu."
"Akan aku coba. Tapi tidak gratis," ucap Alfan.
"Apapun akan kuberikan asalkan kamu bisa membantuku," ucap Rio mantap.
Setelah melakukan negosiasi dengan Alfan, mereka berdua bertukar nomor ponsel untuk memudahkan komunikasi.
Lelaki itu memacu motornya kembali ke kota. Meninggalkan rumah Zakia yang tampak sepi dan gelap.
__ADS_1
*******
Di tempat lain, di sebuah desa yang berada di kota Solo, seorang gadis tengah melamun menghadap kaca cendela kamarnya. Menikmati malam yang terlihat cerah dengan bintang-bintang yang bertaburan menghiasi pekatnya langit.
Pikirannya jauh menerawang ke belahan kota di berbeda propinsi dengan tempat tinggalnya sekarang. Memikirkan seorang lelaki yang selalu ada untuknya.
Tak terasa buliran kristal bening satu persatu terjun dari pelupuk matanya. Rasa bersalah telah meninggalkan lelaki itu mendominasi dirinya.
Ingin sekali gadis itu menghubunginya, tapi, keberaniannya tak cukup untuk melakukan hal itu. Bayangan kejadian-kejadian yang menimpa dirinya dan orang-orang di sekitarnya membuatnya mengurungkan niat itu.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah melihat foto-foto kebersamaan mereka. Dan setiap saat memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya.
Sejak keberangkatannya ke Solo, ia telah mengenakan cincin pemberian dari Rio. Bukti bahwa dirinya telah menerima lamaran lelaki itu. Sayangnya, pasangan cincin itu masih bertengger manis sebagai bandul kalung yang ia kenakan.
Zakia memandangi cincin itu kembali. Cincin yang ukurannya sesuai dengan jari manisnya. Buliran bening dari pelupuk matanya kembali mengalir deras.
Rasa rindu pada pemilik hatinya kian menusuk dan menyiksa jiwa dan raganya. Solah tak berdaya untuk melawan segala rasa yang bercokol dalam dirinya.
"Aku rindu," ucap gadis itu di sela tangisannya.
"Jika kamu tahu aku telah memakainya, apa kamu bahagia?" tanyanya tanpa menerima jawaban.
"Apa kamu mencariku? Apa kamu juga merindukanku?"
"Atau kamu malah bahagia bisa lepas dari perempuan kotor sepertiku?" rancau Zakia.
Gadis itu menangis tanpa henti, ia benar-benar merindukan Rio. Semakin lama suara tangisannya semakin mengeras. Hingga penghuni rumah itu terbangun dan mengetuk pintu kamarnya.
Tak menghiraukan ketukan yang semakin mengeras, justru gadis itu kian histeris. Membuat orang-orang yang berada di luar kamar berusaha membuka paksa pintu kamar itu.
Dentuman-dentuman keras dari arah pintu akhirnya mampu menjebol pintu yang terkunci rapat itu. Begitu melihat keadaan Zakia yang sungguh menyedihkan membuat sang ibu tak kuasa dan menghambur membawa anak sulungnya dalam pelukannya.
Zakia menangis dalam pelukan sang ibu, pun dengan wanita paruh baya itu juga menangis melihat keadaan anaknya yang sangat memprihatinkan.
"Bertahanlah, Nak. Demi Mama dan Papa. Kuatkanlah dirimu, Sayang. Mama selalu ada di sampingmu," ucap sang ibu dengan derai air mata yang jatuh begitu deras.
"Aku gak kuat, Ma. Aku ingin menyerah. Aku gak sanggup hidup seperti ini," ucap Zakia sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Mama tahu kamu memikirkan dia. Kalau memang kalian berjodoh. Sejauh apapun kamu pergi, tempatmu pulang hanyalah dia, Nak. Berjuanglah untuk itu, Nak."
Sang ibu membimbing Zakia untuk menaiki tempat tidur. Menuntun anaknya agar beristirahat sejenak. Dengan setia sang ibu menemani gadis rapuh itu.