Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
101. Kunjungan Tak Terduga


__ADS_3

Kondisi Zahra masih belum stabil. Setiap malam ia selalu demam tinggi membuat keluarga yang menjaganya diliputi rasa khawatir.


Bu Ratih yang menunggui Zahra sendirian di rumah sakit diliputi rasa cemas saat kondisi anaknya kembali demam tinggi.


"Dokter, kenapa dengan anak saya?" tanya beliau setelah dokter memeriksa keadaan Zahra.


"Kami akan melakukan tes darah ulang, hasil tes darah kemarin kondisinya baik tidak ada penyakit yang di temukan. Sebentar lagi suster akan mengambil sampel darah untuk tes ulang," ucap dokter itu.


"Tolong sembuhkan anak saya, Dokter."


"Kesembuhan hanya milik Tuhan, Bu. Kami sebagai dokter hanya perantara Tuhan. Mintalah pada Tuhan yang Ibu percayai," ucap dokter itu sebelum pergi meninggalkan ruangan.


"Bunda," panggil Zahra lemah.


"Ya, Sayang?" jawab Bu Ratih berusaha terlihat tegar di hadapan anaknya.


"Maafin aku, Bun. Selalu nyusahin Bunda. Selalu bikin khawatir Bunda."


"Nggak, Sayang. Sama sekali enggak seperti itu. Kamu anak Bunda. Sudah sepantasnya Bunda menjagamu sampai kamu menikah dengan calon suamimu."


Tangisan gadis itu pecah tatkala tak mampu menangkap apa yang tengah dibicarakan sang ibu. Dengan sabar Bu Ratih mengusap derai air mata putrinya. Mengusap pucuk kepalanya dengan penuh kasih.


"Bunda. Dengan keadaan aku yang seperti ini. Pasti aku jadi beban buat ayah dan Bunda. Maafin aku, Bunda."


"Nggak, Sayang, jangan bicara seperti itu," ucap Bu Ratih tak mampu membendung tangisannya. Beliau menangis mendapati putrinya tengah dalam kondisi percaya dirinya yang menurun.


"Anak Bunda pasti sembuh ya, Sayang. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Pikirkanlah kamu harus sembuh."


Ibu dan anak itu saling memeluk. Menangis saling mendekap. Menyalurkan rasa kasih yang mereka miliki. Kasih tulus seorang ibu kepada anaknya.


"Istirahatlah, cepat sembuh," ucap Bu Ratih membimbing Zahra untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Maafin aku, Bunda. Apa yang Bunda ucapkan aku sama sekali tidak mendengarnya."


"Gak papa, Sayang. Nggak papa." Bu Ratih berucap dengan memberikan isyarat gelengan kepala.


"Permisi," ucap seorang suster yang masuk membawa peralatan medisnya.


"Ya, Suster, silahkan," jawab Bu Ratih dengan mengusap sisa air mata yang masih mengalir di pipinya.


Suster itu tersenyum maklum. Ia sering menjumpai hal semacam itu tiap kali menjalankan tugasnya.


"Pinjam tangannya sebentar ya, Bu. Saya mau ambil sampel darahnya untuk tes ulang," kata suster meminta ijin.


Ia mengambil tangan Zahra yang tidak diinfus. Melakukan prosedurnya untuk mengambil sampel darah yang dibutuhkan. Setelah tugasnya selesai ia segera berpamitan pada Zahra dan ibunya.


...****************...


"Bapak, hari ini ada tamu dari Singapura. Mereka baru saja datang dan sedang menuju ke kediaman Anda," ucap Mila memberi tahu.


"Kolega papa?"

__ADS_1


"Iya, mereka baru saja mengkonfirmasi kalau baru tahu papa Anda telah berpulang," ucap Mila memberi tahu.


"Baiklah, saya akan segera pulang."


"Mohon maaf, Pak. Saat jam istirahat nanti saya ijin terlambat kembali ke kantor. Ada keperluan mendesak," kata Mila sebelum kembali ke tempatnya.


"Ya."


"Terimakasih, Pak. Permisi."


Ega segera merapikan mejanya dan mengambil tas kerja yang tergeletak di samping mejanya. Tak membuang waktu lama ia pun pergi meninggalkan ruangannya.


"Mil, mungkin saya tidak akan kembali ke kantor," ucapnya saat hendak melewati meja sekretarisnya.


"Apa Bapak mau menjenguk, Bu Zahra?" tanya perempuan itu memastikan.


"Ya, setelah menemui tamu papa. Tolong urus kantor." Ia berlalu meninggalkan Mila yang berdiri di ruangannya.


"Baik, Pak."


Setelah yakin atasannya telah pergi, Mila pun bergegas keluar kantor. Ia berpesan pada salah satu karyawan yang berada satu ruangan dengannya kalau ia ada urusan mendesak dan sudah meminta ijin pada atasannya.


"Tolong ya, kalau ada berkas yang harus ditandatangani Pak Ega, kamu terima dulu kalau aku belum kembali," pintanya pada karyawan itu.


"Baik, Bu."


"Saya pergi sebentar."


Mila segera meninggalkan gedung kantor. Ia memesan ojek online yang akan mengantarkannya ke tempat tujuannya.


Ia berjalan menyusuri bangunan yang luas itu. Menuju sebuah kamar rawat yang telah ia ingat sedari kemarin.


"Permisi." Mila mengetuk pintu ruang rawat itu.


"Ya silahkan," jawab orang yang berada di dalam ruang rawat itu.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Bu Ratih.


"Maaf, Bu. Saya teman Zahra, saya ingin menjenguk Zahra," ucap Mila sopan menyalami tangan Bu Ratih.


"Teman Zahra dari mana?" selidik Bu Ratih.


"Dari kantor, Bu," jawab Mila sedikit gugup. Ia berharap semoga jawabannya tidak menimbulkan pertanyaan lain.


"Masuklah. Apa kamu teman baik anakku?"


"Bisa dibilang begitu, Bu. Saya mendapat kabar Zahra dirawat jadi saya menyempatkan ke sini," tutur Mila.


Bu Ratih membimbing Mila ke arah tempat tidur Zahra. Terlihat di sana gadis itu tengah bersandar dengan keadaan yang cukup memprihatinkan.


"Zahra sakit apa, Bu?"

__ADS_1


"Hasil tes kemarin menunjukkan dia terkena typus. Dan juga, pendengarannya masih bermasalah. Saya takut dia jadi terbebani dengan hal itu. Ibu minta tolong beri dia dukungan moral, semangati dia ya, Nak," tutur Bu Ratih.


"Iya, Bu. Akan saya lakukan," jawab Mila.


Pantas saja kemarin dia terlihat aneh. Tidak bisa mendengar rupanya. Akan lebih mudah membuatnya pergi meninggalkan Ega, batin Mila.


"Mumpung ada kamu, bisakah Ibu minta tolong temani Zahra sebentar. Ibu mau beli kebutuhan dia dan beberapa makanan," pinta Bu Ratih.


Mila mengangguk sebagai jawaban. Bu Ratih pergi meninggalkan Mila dan Zahra di ruangan itu.


"Zahra," panggil Mila.


"Benar-benar tuli ya?" ucapnya tertawa sinis.


"Kamu...," ucap Zahra memperhatikan Mila.


Mila mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan mengetikkan kata-kata untuk ditunjukkan pada Zahra.


Aku sekretaris sekaligus kekasih Ega di kantor.


"Tidak mungkin," ucap Zahra tak percaya dengan apa yang ia baca barusan.


Aku ke sini hanya ingin membaritahumu. Kalau Ega sudah tidak mencintaimu lagi. Dia tak tega mengatakannya sendiri padamu. Makanya aku yang mengatakan padamu.


Dia malu memiliki calon istri cacat sepertimu. Aku sarankan sebaiknya kamu pergi dari kehidupan Ega.


Zahra membekap mulutnya menahan tangis. Ia tidak percaya dengan apa yang ia baca.


"Kamu bohong," lirih gadis itu.


Dengan menahan kesal, Mila kembali mengetikkan kata-kata di ponselnya dan menunjukkan pada Zahra.


Aku hanya menyampaikan apa yang ingin dikatakan Ega padamu. Dan dia berpesan agar kamu mengatakan pada orangtuamu kalau kamu ingin membatalkan pertunangan. Jaga nama baik Ega.


Katakan dengan alasan yang tepat. Jangan sampai kamu mengatakan Ega yang ingin berpisah denganmu karena sudah memiliki kekasih lain.


Kalau kamu tidak bisa melakukannya, aku yang akan membantumu. Bagaimana?


Zahra tak mampu lagi menahan rasa sesak di dadanya. Ingin sekali ia tidak mempercayai perkataan perempuan itu.


Cepat pergilah dari kota ini. Dan jangan pernah muncul lagi di kehidupan Ega. Karena kamu hanya akan mempermalukannya dengan kondisimu yang cacat.


Ingat! jangan katakan apapun tentangku yang mengatakan ini, atau kamu akan menderita.


Suara pintu di buka membuat Mila segera memeluk Zahra yang tengah menangis. Ia berpura-pura menghibur Zahra dengan memberikan pelukannya.


"Kenapa dengan Zahra?" tanya Bu Ratih khawatir.


"Maafkan saya, Bu. Zahra menangis karena saya memintanya untuk tetap semangat untuk sembuh, dia berpikir kalau dia tidak akan sembuh," jawab Mila pura-pura bersedih.


"Sejak kemarin dia seperti kehilangan semangat untuk sembuh," ucap Bu Ratih juga ikut bersedih.

__ADS_1


"Zahra juga bilang ingin mengakhiri hubungannya dengan tunangannya, karena ia cacat, Bu. Saya ikut bersedih atas keadaan Zahra, Bu."


...****************...


__ADS_2